Menikahi Kakak Tertua Sahabatku

Menikahi Kakak Tertua Sahabatku
Cincin pernikahan


__ADS_3

Seakan melayang ke udara hati kemal kini sangat bahagia mendengar kata-kata gia.


Kemal merasa tidak pernah sebahagia ini bersama dengan seorang wanita.


Kemal tak henti-hentinya menatap gia, lalu dia membuka kotak yang tadi dia bawa,


"Ini untuk mu sayang, ini adalah cincin pernikahan kita, jangan pernah kamu lepas sampai kapan pun," ujar kemal sambil memakaikan cincin itu pada gia.


"Cincin nya sangat cantik kak,"


"Tapi kalau sekolah aku boleh ga pakai kan kak?,"


"Loh kenapa, mau cowok-cowok itu tetep pada naksir kamu?,"


"Kakak ikhh ngomong sembarangan banget, bukan gitu, tapi ini cincin nya terlalu mewah buat gia pakai sekolah kak,"


"Gak..gak bisa pokoknya tetap harus dipakai, kalau kamu lepas, berarti kamu melepaskan hubungan kita gia, paham?,"


"Iyah deh iyah kak, ga akan gia lepas" ucap gia sambil bingung didalam hatinya tapi tidak bisa lagi menolak kemal.


"Sekarang giliran kamu," kemal menyodorkan tangannya pada gia untuk dipakaikan cincin.


Gia pun memakaikan cincin yang satunya pada kemal.


"Kakak juga jangan melepasnya yaa, apalagi kalau bertemu wanita-wanita cantik, kakak harus tunjukin cincin ini,"


Kemal pun tertawa kecil mendengar kata-kata gia, " Senang sekali rasanya, gadis kecilku ini sudah mulai cemburuan, tapi ngapain aku tunjuk-tunjukin cincin sayang?,"


"Tuhhh kan kak kemal ikhhh,"


"Maksudnya ngapain aku tunjuk-tunjukin cincin, tinggal bilang ajah kalau aku udah nikah, gampang kan," jawab kemal sambil mencubit kedua pipi gia, yang dari tadi sudah dibusungkan karena kesal.


Gia pun tersenyum mendengar penjelasan kemal.


Kemal membelai lembut pipi gia, lalu mendaratkan ciuman yang penuh cinta pada gia, cukup lama mereka berciuman gia sudah mulai belajar membalas ciuman kemal, yang membuat kemal semakin ingin menciumnya.


Tak lama gia mendorong dada kemal,


"Kakak...mau sampai kapan cium gia nya?,"


Kemal tersenyum mendengar suara manja istrinya itu.


"Sampai besok kalau bisa,"


"Dasarrr,, ayo pulang kak, besok gia masih sekolah,"


"Aku hampir lupa, kalau istriku ini anak SMA," ucap kemal sambil tertawa dalam hati.


"Yaudah ayo sayang kita pulang,"


"Iyah kak,"


Mereka pun segera menuju lift untuk pulang, gia memegang tangan kemal, terpancar aura kebahagian dari keduanya, setelah saling mengungkapkan perasaan masing-masing tadi.


"Kak Danny,"


Gia mencengkram erat tangan kemal, kejadian di acara peresmian itu kembali gia ingat.


"Ada apa sayang?,"


"Kak, aku lihat kak Danny di lobby,"


Pandangan kemal pun mengikuti arah pandang gia dan ternyata benar, ada danny disana.


"Ada aku sayang, ayo jangan takut, dia tidak akan berani macam-macam lagi,"


Gia dan kemal pun terus berjalan tanpa memperdulikan danny.


"Gia," sapa danny yang kini sudah melihat keberadaan gia.


"Gia maafkan kakak, maafkan kakak soal kejadian waktu itu," Danny terus memohon dan hendak menyentuh tangan gia tapi kemal dengan cepat menepis nya.


"Jangan berani-beraninya kamu menyentuh gia,"


"Kak, sudahlah ayo kita pulang," pinta gia pada kemal, sambil menarik lengan suaminya itu, gia takut kemal tersulut emosi lagi.


Seakan tak memperdulikan kemal, danny hanya melihat kearah gia.


"Kak, gia mohon jangan pernah ganggu lagi hidup gia," ucap gia pada danny dan segera gia menarik tangan kemal untuk pergi cepat-cepat dari tempat itu tanpa mendengarkan danny yang terus memanggil namanya.


Begitu sampai di dalam mobil, kemal tampak masih emosi, "si brengsek itu, untuk apa ada di sini juga," ucap kemal sambil memukul stir mobilnya.

__ADS_1


"Sudahlah kak, bukan kah kak kemal bilang gia ga diizinkan memikirkan laki-laki lain selain kak kemal?,"


"Jadi sekarang sebaiknya kita anggap saja pertemuan tadi dengan kak danny tidak pernah ada," ucap gia yang sebenarnya hatinya masih sakit mengingat danny, gia betul-betul kehilangan sosok kakak yang benar-benar gia sayangi.


"Iyah betul sayang, maafkan aku, ayo kita pulang,"


Sesampainya di rumah kemal mengantarkan gia sampai kedepan pintu kamarnya seperti biasanya.


"Kak, makasih yaa buat malam ini, gia sangat senang, ini adalah malam yang sangat indah buat gia," ucap gia lalu mendekati wajah kemal dan berjinjit.


"Cupppp...good night kak, " gia mencium pipi kemal lalu berlalu masuk kamar tanpa menunggu jawaban kemal yang masih dalam mode melongo mendapatkan ciuman pertama dari gia walaupun hanya dipipi tapi itu pertama kalinya gia berinisiatif duluan mencium nya.


"Sayang kamu sangat nakal, sekarang bagaimana aku bisa tidur," seru kemal sambil berjalan menuju kamarnya dan terus memegang sebelah pipinya yang dicium oleh gia.


Benar saja kemal yang sudah membersihkan diri dan sebagianya sekarang sedang berguling-guling dikasur terus mengingat ciuman gia itu hingga rasanya susah sekali mengantuk. Entahlah jam berapa kemal akhirnya tertidur.


Dipagi hari gia tampak semangat membuat sarapan, gia sangat bahagia hari ini dia akan pulang kerumah mamah alice.


"Pagi kak," sapa gia yang sebenarnya malu melihat kemal karena sudah berani mencium pipi kemal semalam.


"Pagi sayang,cupp" jawab kemal lalu mengecup singkat bibir gia.


Gia hanya bisa menggelengkan kepala, sepertinya gia harus terbiasa mulai sekarang dengan sikap kemal itu, karena itu pasti akan kemal lakukan setiap hari.


Kemal dan gia pun sarapan bersama.


"Kak, hari ini kita pulang ke rumah mamah kan?,"


"Iyah sayang tapi kita pulang dulu yaa,"


"Owhh ok kak,"




"Gi kamu ke rumahku kan sekarang?,"


"Iyah nor, tapi aku mau pulang dulu, paling nanti sebelum makan malam aku ama kak kemal kesana,"


"Owhhh, ok deh, tar dirumah kamu tidur di kamar kak kemal atau di kamar aku gi?,"



"Yaa kirain kalian udah mulai sekamar gitu,,hehe,"


"Engga belum,"


"Emang mau kapan rencananya sekamarnya?,"


"Aku gatau nor, aku masih sekolah, tapi sebenernya aku suka merasa bersalah juga sama kak kemal,"



"Kalau kamu jadi aku bakal gimana nor,"


"Kalau aku?, jangan tanya, aku sih kalau cowok nya ganteng dan cinta sama aku, sikat ajah,urusan nanti yang lain nya mah,"



"Kamu ini dasar,"


"Loh memang bener kan, laki-laki itu apalagi di usia sudah matang pasti memiliki kebutuhan biologis yang harus tersalurkan, makanya kalau aku dah nikah yah aku mah sikat ajah dari pada tar suami gantengku diambil cewek lain,"



"Nora ikhh, kamu kok bikin aku takut ajah,"


"Emang gitu gi kenyataan nya," tambah nora, bukan tanpa alasan nora menasihati gia seperti itu, tapi karena dia sudah punya kesepakatan dengan kakak nya kemal, nora jadi ketagihan membantu kakak nya, kemarin sudah dapat hp keluaran terbaru, sekarang rencananya nora mau minta tiket liburan pada kemal.



"Maafkan aku ya gi, aku malah bantu kakak aku bukan sahabat aku sendiri, tapi ini juga demi kemajuan hubungan kalian kan, hehee" ucap gia dalam hati.



"Ngobrol apa kalian serius banget?," tanya anne yang baru datang dengan diana.


"Keppo ajah nih anak," ketus nora


__ADS_1


"Wahhh-wahhh sebentar-sebentar gi,"


"Gi, sebenernya kita udah sangat tau kamu ini anak orang kaya, tapi gi,"



"Tapi apa, kamu ngomong apa sih ann?,"


"Tapi itu gi, apa perlu juga kamu pake cincin berlian segede gaban begitu kesekolah,"


Gia langsung malu mendengar ucapa anne soal cincin nya itu tapi mau bagaimana lagi kemal melarang gia melepas cincin nya.



"Mana coba lihat," ucap diana dan nora sambil menarik tangan gia.


"Wah bener, hahhaha" ketiga sahabat gia itu sekarang mentertawakan gia bersamaan.


"Dari tadi aku ga engeuh loh kamu pakai cincin begitu gi, hahha, dapet dari mana kamu gi?," tanya nora yang masih tertawa



"Dari kakak kamulah dari mana lagi," jawab gia yang mulai kesal jadi bahan tertawaan sahabat-sahabatnya itu.



"Gila kak kemal emang hebat, kamu dilamar gi?," tanya anne


"Engga,ini cuma hadiah ajah dan dia larang aku lepas, jadinya aku pake deh,"



"Yasudahlah, walaupun segede gaban tapi cincin nya cantik ko, dan yang penting hubungan kalian sekarang jadi lebih serius, kita ikut seneng," ucap diana


"Makasih yaa, kalian emang my best friends,"



Siangnya diperjalanan pulang ke apartement, gia hanya terdiam, membuat kemal bingung.


"Sayang kenapa, kok dieum ajah?,"


"Ga apa-apa kak,"


"Beneran?, atau kamu masih mikirin danny semalam?,"



"Engga kok kak, bukan gia gak mikirin kak danny, ga ada apa-apa kok kak,"


Jawab gia berbohong, sebenarnya gia kepikiran kata-kata nora tadi disekolah tentang kewajiban nya sebagai istri dan juga hak kemal sebagai suami yang belum juga gia berikan.



"Yaudah, syukurlah kalau begitu,"


Sesampainya di apartement kemal izin pada gia untuk merebahkan tububnya sebentar, karena kemal semalam memang tidur larut akibat ciuman gia, jadi sekarang kemal ingin istirahat sebentar sebelum pergi kerumah mamah nya.



Sudah pukul setengah tujuh malam kemal masih belum keluar kamar juga, akhirnya gia mengetuk kamar kemal, tapi masih tetap tidak ada jawaban.



Gia pun membuka pintu kamar kemal yang memang tidak dikunci, setelah masuk gia melihat kemal yang masih pulas tidur dikasurnya, dengan masih menggunakan setelan kerjanya lengkap.



"Kasian sekali suamiku ini, pantas saja mau pulang dulu, mungkin dia kelelahan" ucap gia dalam hati sambil mengelus rambut kemal.



Gia pun akhirnya memutuskan untuk berangkat ke rumah mamah alice besok pagi atau siang saja, karena gia tidak tega membangunkan kemal, toh acara makan bersama nya besok malam, gia pun menelpon Alice untuk mengabari, Alice pun mengerti dan alice sangat senang karena ternyata gia mengurus kemal dengan baik.



Setelah menelpon mamah alice gia pun membuatkan makan malam untuk kemal, setelah selesai gia membawa makanan itu ke atas lagi, dan kemal masih juga tertidur, kali ini gia memberanikan diri membangunkan kemal, karena gia tidak mau kemal sakit karena belum makan.



"Kak, kak kemal, bangun kak, kak kemal," suara lemah lembut dan elusan halus tangan gia di wajah kemal malah membuat kemal semakin nyaman dan tidak bangun-bangun, akhirnya gia memutuskan untuk menunggu kemal bangun sendiri saja.

__ADS_1


__ADS_2