Menikahi Kakak Tertua Sahabatku

Menikahi Kakak Tertua Sahabatku
Kakak ipar saingan cintaku


__ADS_3

Pagi hari sekali gia sedang melakukan sekolah online nya, sedangkan kemal sedang berolahraga. Tiba-tiba terdengar oleh gia suara bell beberapa kali, gia pun segera membukakan pintu.


“Dokter alena,” ucap gia begitu membuka pintu dan ternyata alena lah yang ada disana.


“Hai gia, apa kabar?, apa ghani ada dirumah?,”


“Baik dok, ada kok nanti aku panggilkan yaa, soalnya dari pagi kak ghani belum keluar kamarnya, silahkan masuk dulu dokter,”ajak gia.


“Ada siapa sayang?,” Tanya kemal yang langsung menghampiri gia dan memeluknya dengan hanya menggunakan celana panjangnya tanpa memakai baju.


“Lepas kak, ada dokter alena duduk di sana dia pasti melihat kita, dan cepet tutupin tubuh kak kemal pakai handuk itu, awas kalau keliatan,”


Kemal pun segera melepaskan pelukannya dari gia. “Aku ke kamar dulu yaa,” ucap kemal dan langsung pergi ke kamarnya dengan menutupi tubuhnya dengan handuk, lalu begitu melihat dokter alena kemal hanya mengangguk dan langsung masuk ke kamarnya.


 “Kak ghani, kak,”panggil gia pada ghani sambil mengetuk pintu kamar ghani.


“Ada apa gi?, apa kamu merasa gak enak badan?, atau kamu perlu sesuatu?,” tanya ghani yang segera membukakan pintu dan menghujani gia dengan banyak pertanyaan.


“Gia gak apa-apa kak, itu ada dokter alena nyari kak ghani,”


“Alena?, oh iyahh aku ada janji dengannya kemarin, baiklah makasih yaa gi,” ucap ghani.


 “Sedekat itukah hubungan kakak dan adik ipar ?, kenapa aku merasa ghani sedikit berlebihan pada gia, apa jangan-jangan gia adalah gadis yang ghani cintai?, yang sampai membuatnya pergi ke german,” gumam alena dalam hatinya yang tanpa sengaja mendengar percakapan ghani dan gia.


 “Hai alena, maaf menunggu lama,”


“Gak apa-apa kok aku belum lama,”


“Ah yasudah aku siap-siap dulu yaa, tunggu sebentar,” ucap ghani lalu pergi ke kamarnya.


“Dokter alena mau minum apa?, biar aku buatkan,” ujar gia


“Gak usah repot-repot gi, aku gak akan lama ko, kita mau menghadiri acara seminar, lebih baik kita mengobrol saja disini sekalian menunggu ghani,”ajak alena


“Oh yaa, baiklah,”


“Gia, kamu belasteran yaa?,”


“Iyah kak, mamah ku orang italy, ayahku indonesia, dokter alena juga kan?,”


“Iyah kalau aku malah terlalu beragam, kakek ku german nenek ku indonesia, dan papahku menikah dengan mamah yang chinese, hahaha bingungkan gi,”


“Wahh iyah sangat beragam, pantas saja dokter alena sangat cantik,” ucap gia

__ADS_1


“Kamu bisa saja, aku malah kecewa aku mirip mamah gak mirip papahku banget kaya kamu,”


“Dasar dokter alena ini bisa saja,”ucap gia lalu tertawa bersama alena.


 “Kalian akrab sekali,” ucap ghani yang sudah selesai bersiap


“Iyah dong,” jawab alena dan gia bersamaan


“Wahh bahkan sudah kompak juga,” ujar ghani lagi.


Alena dan gia pun tersenyum mendengar ucapan ghani.


 “Yasudah gi, kakak pergi dulu yaa, kalau nanti kamu mau sesuatu kamu telepon kakak ajah yaa, tapi jangan titip cake coklat kesukaan kamu itu, disini gak ada,” ucap ghani sambil tersenyum lembut pada gia.


“Dasar kak ghani, iyah dong gia tau, tapi kalau ada yang mirip-mirip beliin yaa, gia jadi mau kan, kak ghani sih ngingetin,”


“Baiklah tuan putri nanti aku belikan yaa, ahh iyah bilang kak kemal yaa aku berangkat dulu,”


“Siap kak,” ucap gia.


“Aku rasa dugaan ku benar, gia lah gadis itu, kenapa aku ini?, kenapa hatiku sakit melihat mereka?, bagaimana ini tuhan, ternyata selama ini saingan cintaku adalah kakak ipar ghani sendiri,” gumam alena dalam hati.


Setelah kepergian alena dan ghani gia segera masuk ke kamarnya, dan melanjutkan tugas sekolahnya di kamar sambil menyender ditempat tidur.


“Kak diem dulu gia lagi tanggung ngerjainnya, jangan ganggu ok,”


“Iyah-iyah,” ucap kemal kecewa.


“Sayang boleh aku tanya?,”


“Tanya apa?,”


“Tadi kenapa kamu marah aku harus tutupin tubuhku?, kamu cemburu yaa karena ada dokter alena?,” tanya kemal


 Gia langsung menoleh dan menatap tajam pada suaminya itu.


“Apa harus ditanyakan?, tentu saja iyah, kak kemal kan punya gia, badan kak kemal yang berotot ini juga cuma punya gia jadi gak boleh ada yang lihat-lihat siapapun,” ucap gia dengan ketus.


 “Ya ampun, aku sungguh tidak tahan melihat kamu begini, kamu menggemaskan sekali sayang, aku sangat senang,” ucap kemal sambil mencubit kedua pipi istrinya itu.


“Sakit kak ikhh, udah sana gia mau lanjut belajarnya belum selesai,”


“Iyah, kamu belajar ajah aku disini gak ganggu kan,”

__ADS_1


Gia pun lanjut mengerjakan tugasnya itu.


 “Kamu kenapa alena?, kok diem terus, bukankah biasanya sangat cerewet,” ucap ghani pada alena yang memang hanya diam selama perjalanan mereka.


“Gak apa-apa ko, hanya sedang memikirkan sesuatu,”


“Memikirkan apa?, sampai wajah kamu serius begitu?,”


“Aku sedang memikirkan kamu,"


“Aku?, aku kenapa?,”


"Boleh aku tany sesuatu sama kamu ghani?,"


"Tentu saja, tanyalah,"


“Gia adalah gadis itu kan?, dulu waktu kamu menolak cinta cheryl kamu bilang kamu belum bisa melupakan seorang gadis yang kamu cintai, tapi gadis itu tidak akan pernah bisa kamu miliki. Gadis itu gia kan ghan?, kamu tidak akan pernah bisa memiliki gia karena gia kakak ipar kamu sendiri,” ucap alena dengan mata berkaca-kaca.


Ghani tidak bisa menjawab pertanyaan alena karena itu memang benar adanya. Selama di german ghani memang sangat dekat dengan alena hingga dia tak sengaja menceritakan hal itu pada alena.


 “Alena aku gak bisa bohong sama kamu, iyah gia adalah gadis itu,”


Deghhhhh,!!! Hati alena bak tertusuk duri yang sangat tajam mendengar pengakuan ghani. Walaupun alena sudah tau kalau itu benar tapi mendengar dari mulut ghani sendiri rasanya lebih menyakitkan.


Alena tidak bisa lagi menahan air matanya dan ghani yang melihatnya menjadi sangat bersalah, ghani pun menepikan dulu mobilnya ke samping jalan.


“Alena please kamu jangan menangis, kamu membuatku merasa sangat bersalah, maafkan aku,” ucap ghani.


Selama ini ghani tau alena mencintai nya, karena alena pernah menyatakan cintanya pada ghani, tapi karena alena adalah teman terdekat ghani dan orang yang selalu membantu ghani selama di german, walaupun menolak tapi ghani sangat berhutang budi pada alena makanya ghani tidak menjauhkan diri dari alena seperti pada cheryl yang dulu sempat mengajak ghani berpacaran.


“Sudahlah ghan, ayo kita jalan, aku ga apa-apa kok,” ucap singkat alena sambil mengusap air matanya.


Ghani yang bingung harus berkata apa hanya bisa menurut menjalankan mobil nya dan bergegas pergi ke tempat seminar dilangsungkan.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2