
Gia melihat kemal pergi ke kamarnya, jadi bingung bagaimana harus membujuk kemal agar tidak ngambeuk lagi seperti itu.
Jadinya semua orang kena getahnya.
"Kenapa kakak kamu itu, sepertinya dari dateng tadi sore, raut wajahnya sangat menyebalkan begitu," tanya daud.
"Iyah kenapa itu suami kamu gi, mukanya udah kaya kanebo kering begitu," tanya nora pada gia.
"Ishhh kamu ini, biacara sembarangan sama kakak kamu sendiri," ujar alice pada nora.
"Gia juga ga tau, gia liat kak kemal dulu yah mah pah, kak ghani nora aku liat kak kemal dulu yaa," pamit gia.
"Seperti nya kemal begitu karena gia, dan pasti cuma gia yang bisa nyembuhin kemal pah," ucap alice sambil tersenyum.
"Iyah sepertinya kamu benar mah, kemal banyak berubah gara-gara gia, sepertinya kemal benar-benar mencintai gia, sampai-sampai ada masalah sama gia aja, tapi semua kena,"
"Kak, kak kemal boleh gia masuk," gia mengetuk pintu kamar kemal dengan membawa sepiring makanan kesukaan kemal, karena gia memperhatikan kemal tadi gak makan dengan benar, hanya di acak-acak ajah, dirumah pun dia gak makan.
Kemal tak kunjung membukakan pintu kamarnya gia memberanikan diri membuka pintu kamar kemal yang untungnya tidak dikunci.
Kemal sedang tertidur di kasurnya menenggelamkan wajahnya ke bantal.
"Gia tau kak kemal belum tidur,"
"Yaudah terserah kak kemal kalau mau gini terus, gia mulai nanti besok gak ikut kak kemal pulang ke apartement gia mau tinggal ama mamah ama papah lagi ajah,"
Mendengar itu kemal segera bangun.
"Gak bisa, kamu harus pulang denganku,"
Gia pun tersenyum melihat kemal yang sekarang sudah duduk di tempat tidurnya itu.
Gia langsung duduk mendekati kemal.
"Kak, kak kemal itu kenapa sih?, apa bener gara-gara kemarin malem, masa gara-gara ronaldo kak?," tanya gia lembut pada suaminya.
"Masa apa nya?, emang kenapa kalau gara-gara ronaldo?,"
"Suami mana yang mau istrinya itu suka dan mendambakan laki-laki lain,"
Gia sebenernya sangat ingin tertawa mendengar kemal, tapi takut kemal semakin marah gia menahan tawa nya itu.
"Kak, gia gak mendambakan laki-laki lain ko, gia cuma mendambakan kak kemal, gia bilang itu cuma ngefans ga berarti lebih,"
"Terus kalau ronaldo yang lamar kamu, dan kamu gak dijodohkan denganku, kamu mau pilih siapa aku atau ronaldo?,"
"Tuhan semoga aku kuat menahan cobaan ini, aku sungguh tidak sanggup untuk tidak tertawa, bagaimana orang yang terkenal sebagai pengusaha muda sukses bisa sebodoh ini," gumam gia dalam hati.
"Jawab gi, apa kamu bingung?,"
"Gia gak bingung kak, pasti gia pilih kak kemal dong," Jawab gia segera.
"gimana rasanya dilamar ronaldo yaa?, emang jadi bingung kalau itu nyata, tapi harus jawab pilih kak kemal dulu deh biar ngambeuknya berenti hehe," ucap gia dalam hati.
"Beneran gi?, terus aku sama dia gatengan mana?,"
"Gantengan kak kemal dong kak,"
"Nah kalau ini aku ga bohong dan gak ragu kak, emang kak kemal lebih ganteng dari ronaldo, walaupu kak kemal bukan pemain bola," gumam gia dalam hati.
__ADS_1
"Rasanya kamu bohong gi,"
Gia udah mulai kesal dengan kelakuan kemal yang menyebalkan itu, gia berpikir apa yang harus gia lakukan yang kira-kira bikin kemal senang, lalu terpikirlah satu cara yang dibutuhkan keberanian.
"Kamu pasti bakalan pilih ronaldo, kamu kan nikah sama aku gara-ga.....mmmmffffhhh,"
Gia menarik T-shirt yang dipakai kemal lalu mencium bibir suaminya itu dengan lembut.
Ciuman singkat dan lembut dari bibir gia yang membuat jantung kemal seakan jatuh dari tempatnya, sekarang kemal hanya bisa melongo.
"Kak kemal ngerti sekarang, mana cinta dan mana ngefans?," ujar gia sambil menangkup wajah kemal dekat dengan wajahnya.
Gia lalu bangun dan mengambil sepiring makanan yang tadi gia bawa.
"Ayo sekarang makan dulu kak, dari tadi di rumah gia liat kakak makan nya ga bener, gia gak mau kak kemal sakit,"
"Kak, ayo makan, ko bengong terus,"
Sekarang kemal bagai anak anjing yang patuh, dia hanya senyum-senyum dan mengangguk pada gia.
"Kalau dari tadi tau cara menjinakan serigala ini, udah aku lakuin dari rumah," ujar gia dalam hati.
"Ayo dimakan kak,"
"Mau disuapin," ucap kemal manja.
"Owhh yaudah sini gia suapin," gia pun menyuapi kemal sampai makanan itu habis tak tersisa.
"Sekarang kak kemal istirahat yaa, gia mau ke kamar nora,"
Kemal lalu menarik gia sampai gia terjatuh diatas tubuhnya,
"Ok, tapi kak kemal jangan macem-macem yaa," ucap gia yang hanya bisa menuruti kemal agar ngambeuknya hilang.
Gia pun membaringkan diri disisi kemal, menarik selimut sampai ke dadanya.
"Tadi seperti anjing jinak, sekarang sorot matanya menajam lagi, cepat sekali berubahnya," gumam gia dalam hati yang sebenarnya takut kemal macam-macam.
Kemal medekati gia lalu memeluk nya dengan erat, "kak gia gak bisa nafas dong,"
"Maaf sayang," kemal lalu melepaskan pelukannya dan memandangi wajah gia.
"Kenapa kak, ayo tidur, kalau kakak gak tidur-tidur gia pindah ke kamar nora,"
"Iyah sayang aku tidur," ucap kemal lalu memeluk gia lagi dengan kepala ditenggelamkan didada gia,"
"Kak kemal mesuummmm,pindah ga,!"
"Aku gak mesum sayang ini sangat nyaman aku mohon gi,"
Gia pun akhirnya hanya diam yang penting kemal segera tidur, gia pun pengusap-usap kepala kemal, dan benar saja kemal memang tak lama tertidur.
Pagi harinya, posisi kemal masih tidak berubah dia masih memeluk gia dengan kepalanya diatas dada gia, gia pelan-pelan merubah posisinya agar gia bisa pergi ke kamar nora untuk mandi dan berganti pakaian.
"Akhirnya, lepas juga," gia pun segera berlari ke kamar nora.
"Wiiihhh yang tidur bareng semalem, apa keponakan aku udah dicetak?,"
"Ngomong sembarangan,"ucap gia sambil menyentil jidat adik iparnya itu.
__ADS_1
"Giaaaa, udah kaya suami loh ajah main sentil-sentil,"
"Abisnya pagi-pagi ngomong cetak-cetak, emang aku percetakan,"
"Kamu ini udah bangun bukannya mandi, kan kak ghani mau berangkat pagi, gimana sih,"
"Owhh, iyah yaa gi, yaudah kita mandi bareng yaa gi biar cepet,"
"Terserah kamu ajah,"
Gia dan nora pun masuk kemar mandi bersama-sama.
Sedangkan di dalam kamar kemal pun sudah bangun, melihat gia sudah tidak ada, kemal tau pasti gia ke kamar nora, kemal pun segera mandi dan bersiap.
Setelah selesai kemal lalu menuju kamar gia untuk melihat istrinya apa sudah siap.
"Pada kemana gadis-gadis itu, apa sudah dibawah," ucap kemal begitu masuk kamar nora tapi tidak menemukan istri ataupun adiknya.
"Ckklekkk,.." begitu pintu kamar mandi terbuka kemal dibuat terkejut melihat dua gadis yang dia cari keluar bersamaan dengan menggunakan bathrobe.
"Ka..kalian mandi bareng?,"
"Iyah, emang kenapa?, kita sering ko mandi bareng, iyah kan gi," ucap nora.
"Iyah, kenapa memangnya kak, sampai terkejut begitu," tambah gia.
"Kamu ini, aku ajah belum pernah liat kamu mandi gi, apalagi mandi bareng,"
"Jadi kak kemal sirik sama aku?," ledek nora.
"Udah deh kak, jangan macem-macem lagi, kita walaupun mandi bareng ga seperti yang kak kemal pikirin, kita rapi kok mandinya, ga sampai yang gimana-gimana,"
"Iyah awas ajah, kalau nanti sama aku boleh,"
"Kak, jangan mulai, udah tunggu dibawah sana, kita mau pakai baju dulu,"
"Tunggu aku belum morning kiss, cuupppp," kemal pun mencium bibir gia lalu baru pergi.
"Wahhhh kalian sudah semakin maju yaa,"
"Cepet pakai baju,"
Semuanya sudah siap, mereka sekeluarga pun jalan ke bandara, selain kemal dan gia, mereka semua berangkat satu mobil dengan supir.
Mamah alice adalah yang paling berat melepas ghani, dari tadi dia sudah menangis, berat sekali melepas anak yang sedari kecil tidak pernah jauh darinya, tidak seperti kemal yang dari kecil selalu mandiri dan selalu ingin sekolah diluar negeri.
Semuanya bergantian mengucapkan salam perpisahan dan doa untuk ghani, sekarang giliran gia, "sukses disana yaa kak, semoga kak ghani jadi dokter bedah yang paling hebat," ucap gia dan lalu memeluk ghani, gia memang sangat menyayangi ghani dan sudah menganggap ghani kakaknya sendiri, walaupun tidak dengan ghani.
Kemal yang melihat itu segera menghampiri ghani dan meminta gia melepaskan pelukannya.
"Sudah giliranku sayang," ujar kemal padahal dia sedikit tidak nyaman melihat gia memeluk ghani.
"Sukses disana ya ghan, belajar yang benar, kalau ada perlu apapun kamu hubungi kakak,"
"Iyah, makasih kak,"
Ghani pun berlalu meninggalkan mereka semuanya.
"Aku pergi gia, semoga kamu bahagia bersama kakak, dan semoga aku bisa cepat-cepat melupakan perasaanku padamu,"
__ADS_1