
Pagi hari sekali gia sudah bangun setelah menyelesaikan segala kewajibannya gia pun segera duduk di sofa lalu membuka laptop untuk mengerjakan tugasnya.
“Bagaimana tugas nya sayang, apa sudah selesai?,” tanya kemal pada gia
“Sedikit lagi kak, jam berapa kita ke bandara kak?,”
“Jam sembilan sayang,”
“Ohh baiklah, gia udah selesai ini, ayo kita sarapan dulu kak,”
“Iyah sayang,”
Gia dan kemal pun segera keluar di meja makan sudah ada kedua orang tua mereka dan juga nora.
“Pagi mah pah nora,”
“Pagi sayangku, kamu hebat sekali sudah selesai membuat sarapan sendirian, kenapa tadi gak bangunin mamah?,”
“Ga apa-apa mah, tadi gia buru-buru juga soalnya ada tugas dari sekolah,”
“Oh iyah, bagaimana sekolah kamu sayang ? Lancar kan?,” tanya daud
“Alhamdulillah lancar pah, gia gak kesulitan kok walaupun harus homeschooling,”
“Syukurlah sayang,”
Mereka berempat pun sarapan bersama setelah selesai mereka bergegas pergi ke bandara.
Di bandara alice serasa enggan sekali melepaskan pelukannya pada gia. “Sayang sudahlah kita harus segera masuk,” bujuk daud sambil memegang pundak alice.
“Sangat berat rasanya untuk pergi pah, disaat perut gia sudah semakin membesar seperti ini, dan dia malah jauh dariku,” ucap alice yang sekarang sudah meneteskan air matanya.
“Mah, mamah jangan nangis, gia jadi sedih juga, bagaimana nanti kalau mamah kesini lagi, sebentar lagi gia dan nora akan ada ujian tengah semester dan setelah itu kita libur cukup lama, mamah nanti langsung ke sini yaa,” bujuk gia.
“Iyah sayang, pasti, kamu hati-hati yaa nak, kalau kamu mau apa-apa bilang suami kamu, kalau ada yang di rasa juga bilang suami kamu, Kemal kamu harus lebih perhatian lagi dengan istri kamu yaa nak, karena gia masih sangat kecil untuk hamil, apalagi sebentar lagi dia akan memasuki trimester tiga, mamah jadi sangat khawatir,”
“Iyah mah, kemal bakalan extra hati-hati dengan gia mah, kemal akan jagain mereka berdua dengan baik, mamah tenang aja,” jawab kemal pada ibunya.
Setelah perpisahan yang cukup mengharukan itu mereka pun berpisah, kini kemal dan gia sudah berada di dalam mobil mereka.
Gia yang mengingat kata-kata kemal tadi pada alice langsung mencubit pinggang suaminya itu. “Kak kemal bohong sama mamah tadi,” ucap gia sambil tangannya terus mencubit kemal.
“Awhh sakit sayang, aku bohong apa?,”
“Apanya yang bakalan extra hati-hati?, semalam saja seperti itu,” sungut gia sambil cemberut.
Kemal pun tertawa mendengar gia, “Sayang bukannya semalam aku sudah sangat hati-hati, kamu tahu kan aku ke kamu bagaimana sebelum kamu hamil sayang,” jawab kemal.
Selintas bayangan-bayangan erotis pun muncul di benak gia, bagaimana dulu dia dan suaminya yang setiap hari melalui malam-malam panas mereka sebelum gia hamil, memang kemal dulu lebih extreme dan biasanya juga bukan hanya malam panas yang mereka lalui karena kemal juga sering meminta melakukannya di pagi, siang atau sore.
Gia kembali mencubit kemal, “Sayang kenapa cubit lagi kamu sudah lupa?,” seru kemal.
“Yah justru karena gia inget makanya gia cubit lagi, kak kemal memang monster mesum,” ucap gia, kemal pun tertawa mendengarnya.
“Jadi aku ini mesin bercinta atau monster mesum sayang?,” tanya kemal masih sambil mentertawakan istri kecil nya yang sangat lucu itu.
“Dua-duanya wee,” jawab gia sambil mengejek kemal dengan menjulurkan lidahnya.
“Sayang kamu tau, kamu kalau seperti itu sudah memanggil monster mesum kamu ini,”
“Kak, sudah ahh, pokonya sekarang sebelum ke mall anterin gia ke dokter alena dulu,”
Begitu kemal mendengar gia ingin menemui alena, kemal sontak memarkirkan dulu mobilnya di pinggir jalan,”Kamu kenapa sayang?, apa ada terasa sesuatu ?,” tanya kemal panik sambil membelai wajah dan perut gia.
Gia pun memegang tangan kemal, “Enggak kak, gia cuma mau check up ajah, sama mau ngomong soal kak ghani sama dokter alena, kasian kak ghani semalam ajah dia gak pulang,” ucap gia.
“Kamu benar sayang, yasudah nanti aku antar kamu kesana, oh iyah kamu lama gak disana sayang? ,"
__ADS_1
"Sepertinya lumayan kak, memangnya kenapa?"
"Aku disuruh papah ketemu temannya untuk urusan bisnis tapi sebentar, mungkin aku akan mengajak nya minum kopi di rumah sakit ajah sambil nunggu kamu,"
"ah iyah kak, ide yang bagus, awas yahh kak kemal jangan jauh-jauh, gia takut soalnya kalau sendirian,"
"Aku yang justru lebih khawatir jauh dari kamu sayang, nanti aku antar kamu sampai masuk ruangan dokter alena setelah itu aku minum kopi dengan teman papah di cafe rumah sakit yaa sayang, ingat jangan sampai ada perawat laki-laki disana yaa sayang,"
“Iyah kak, asisten nyaa dokter alena kan cewek,”
Setelah sampai di rumah sakit tempat alena praktek gia pun segera menuju ruangan alena, karena sudah membuat janji gia pun tidak usah menunggu lama.
“Kamu masuk ke situ dulu ghani, pasien berikutnya adalah kakak ipar kamu gia, pasti dia diantar suaminya kamu memangnya masih mau dihajar sama kak kemal,” seru renata pada ghani yang ternyata sedari pagi mengantar dan menemani alena praktek.
“Baiklah aku sembunyi di ruangan ini, kalau mereka sudah jauh kabari aku,”
“Tentu saja,” ucap alena, ghani pun segera masuk ke ruangan tempat persediaan obat alena.
“Siang dokter...” sapa gia
“Siang gia, kamu sendirian gi ?,”
“Enggak aku sama kak kemal, tapi dia nunggu di depan,” jawab gia
“Oh baiklah, bagaimana kenapa kamu tiba-tiba mau check up?,”
“Aku kesini sebenarnya ada dua alasan dokter, pertama karena memang aku ingin memeriksa kandunganku karena aku khawatir,”
“Khawatir apa gi?”
“Jangan bilang siapa-siapa yang dokter, semalam aku rasa kak kemal terlalu keterlaluan, jadi aku khawatir baby ku kenapa-kenapa,” jawab gia dengan tersenyum malu.
Alena pun membelalakkan matanya bukan karena perkataan gia, alena sebagai dokter kandungan sudah biasa menerima curhatan seperti ini, tapi karena pasti ghani yang berada tak jauh darinya mendengarkan apa yang gia katakan.
Iyah ghani memang mendengar yang di katakan gia. Ghani pun terkejut tapi rasa sakit yang selalu dia rasakan dulu saat mendengarkan kemesraan kakaknya itu sudah tidak seperti dulu, memang ghani masih saja merasa tidak nyaman, mungkin melupakan seorang gadis seperti gia tidaklah mudah. Tapi kini di hatinya juga sudah ada alena jadi ghani hanya merasakan kesal pada kakaknya karena sudah tidak hati-hati pada gia.
Gia pun berbaring dan alena menjelaskan keadaan baby gia dengan terperinci, gia pun senang mendengarkan penjelasan alena kalau semuanya baik-baik saja, bahkan bayinya sudah bertambah besar dari terakhir kali gia check up.
“Alhamdululillah syukurlah dokter,”
“Iyah gia, kamu terlalu khawatir, lagi pula aku yakin suami kamu pasti akan lebih hati-hati dari kamu,”
“Iyah dia juga bilang seperti itu, aku sudah salah tidak percaya sama kak kemal,” ucap gia sambil tersenyum.
“dokter alena, hal kedua yang jadi alasan aku datang kesini adalah, kak ghani, apa kak ghani bersama dokter semalam ?,” tanya gia dengan raut wajah dan nada khawatir.
“iyah gia, dia dirumahku semalam,” jawab alena.
“Apa dokter sudah memaafkan kak ghani?, lalu apa dokter alena menerima lamaran mamah papah?,”
“Iyah gi,” jawab singkat alena
Seketika wajah gia sangat bahgia, “Syukurlah, boleh aku memelukmu dokter, aku sangat senang, terimakasih sudah memaafkan kak ghani,” ucap gia lalu memeluk alena.
Alena hanya tersenyum melihat gia yang sangat bahagia.
“Apa aku boleh panggil dokter kak alena mulai sekarang?,”
Alena seketika terkejut mendengar pertanyaan gia, sebagai anak bungsu, tidak pernah ada yang memanggilnya kakak, tapi sepertinya dipanggil seperti itu sangat menyenangkan.
“Bagaimana, boleh kan kak alena?,” ucap gia bahagia
“Tentu saja,” jawab alena
“Aku sangat senang sekali aku akhirnya punya kakak perempuan, walaupun sebenarnya status ku kakak ipar hehe,”
“Oh iyah kak, dimana kak ghani ? Maafkan kak kemal sudah mukulin kak ghani sampai seperti itu,”
__ADS_1
“Dia pergi ke kampus nya gi,”jawab alena berbohong.
“Lalu bagaimana wajahnya, apa sudah diobati,? “ tanya gia dengan khawatir
“Sudah kok gi tadi pagi aku obati, apa kamu sangat mengkhawatirkan ghani gia?,” tanya alena.
“Tentu saja, kak ghani adalah kakak terbaikku, sejak kecil kak ghanilah yang selalu menjaga aku dan nora, mengantar kami sekolah, membelikan kami makanan juga hadiah, makanya kemarin aku sangat sedih melihat kak ghani dipukul oleh kak kemal, seandainya sekarang ada kak ghani aku ingin minta maaf, tapi kak kemal juga tidak bermaksud seperti itu kak alena,” jelas gia panjang lebar.
“Tapi ghani tidak menganggapmu adiknya gia, dia mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu,” lirih alena dalam hati, entah kenapa hati alena sangat sakit, walaupun tahu gia berkata yang sejujurnya.
“Nanti tolong sampaikan maafku pada kak ghani yaa kak alena,”
“Iyah gia, gia kalau boleh aku tahu bagaimana kamu dan suamimu menikah ?, aku jadi penasaran sekarang,” tanya alena.
“Baiklah berhubung kita adalah keluarga sekarang, aku akan menceritakan semuanya pada kak alena, karena selama ini teman curhatku hanya nora,” ucap gia sambil tersenyum
Alena pun senang gia mau menceritakan kisah cintanya, karena maksud alena adalah agar disana ghani ikut mendengar seperti apa perasaan dan kisah cinta dari gadis yang dia cintai, agar kedepannya ghani bisa lebih pasti pada perasaannya.
“Umur kalian sepertinya beda jauh, aku baca di data pasien kamu, bahkan hampir 16 tahun bedanya gi,”
“Iyah memang, tapi jangan bilang suamiku tua yaa kak alena, dia yang paling tampan di mataku,” ucap gia dengan polosnya membuat alena pun tertawa.
Gia pun mulai menceritakan dari kejadian ayahnya meninggal dan tiba-tiba dia menjadi istri kemal pada alena, alena pun mendengarkan dengan terkejut.
“Jadi awalnya kalian tidak saling mencintai dong ?,”tanya alena
“Kak kemal engga, kalau aku iyah,” jawab gia sambil tersenyum malu.
“Maksud kamu gi ?,” pertanyaa alena benar-benar juga ingin ditanyakan ghani di sana.
“Kak kemal tidak mencintaiku kak alena, bahkan dia baru tau aku ada di dunia ini, tapi kalau aku,”
“Kalau kamu?, ceritanya jangan setengah-setengah aku jadi penasaran,”
“Tapi janji gak ngetawain gia yaa kak alena,”
“Kenapa aku harus ketawa?, udah cepet cerita,”
“Aku udah cinta sama kak kemal dari aku TK, yang bisa dibilang he is my First crush,”
“What...! Hahaha kamu bercanda?,”
“Gia bilang tadi jangan ketawa kan kak,”
“Abisnya, memang ada anak tk jatuh cinta?,”
“Yah gia juga gak ngerti kak, tapi waktu itu gia sama nora baru masuk tk, terus mamah sama papah ngadain pesta untuk kak kemal yang lulus kuliah dari luar negeri waktu itu, aku sama ayah di undang aku liat kak kemal pertama di situ, jangan bilang aku anak kecil yang genit yahh kak alena,”
“Kamu memang benar-benar genit gia, sangat genit, bisa-bisa nya kamu bilang kamu cinta sama suami kamu yang udah lulus kuliah dan saat itu kamu masih tk,” ucap alena sambil tidak berhenti tertawa.
“Tuh kan, tadi kan janji jangan tertawa, lagian aku Cuma genit sama kak kemal doang kok,” ucap gia sambil tersenyum malu.
“Lalu setelah itu?,”
“Setelah itu aku gak pernah liat kak kemal lagi, paling mungkin hanya sekali dua kali kalau lagi ke rumah nora itu pun kalau kebetulan ada kak kemal, tapi kak kemal tidak pernah melihatku,”
“Bagaimana kamu bisa memupuk cinta kamu itu kalau kalian saja tidak pernah ketemu selama bertahun-tahun seperti itu,”
“Asal tahu ajah kak alena, ayahku sangat menyayangi kak kemal, di rumah dia selalu membicarakan kehebatan kak kemal, sampai-sampai kakak ku, kak danny iri dengan kak kemal, jadi aku tumbuh dengan semua cerita ayah tentang kehebatan kak kemal, aku jadinya makin suka sama kak kemal,”
“Owh pantas saja, tapi aku merasa kalau sekarang rasanya suami kamu yang benar-benar bertekuk lutut sama kamu gi,”
“Benarkah ?, padahal aku yang sangat mencintainya, dia suami impianku, tidak pernah ada bayangan laki-laki manapun di pikiranku selain kak kemal," ucap gia sambil tersenyum memikirkan suaminya itu.
Alena pun bisa melihat betapa gia mencintai kemal.
“Ghani aku sangat sedih untukmu, kisah cinta kita ini sungguh rumit, kamu dengarkan ghan?, sedalam itu cinta gia untuk kemal, dan sedalam itu juga cintamu untuknya,”guman alena dalam hatinya.
__ADS_1