Menikahi Kakak Tertua Sahabatku

Menikahi Kakak Tertua Sahabatku
Menginap


__ADS_3

"Gi, makasih yaa cakenya kemarin," ucap nora pada gia yang sekarang sedang berada di kelas mereka.


"Sama-sama nor, udah kamu habiskan cake nya?,"


"Enggaklah, emang kamu yang segitu sukanya sama cake itu,"


"Hehe iyah aku habis satu setengah,"


"Apa, kamu emang bener-bener yaa gi, untung ajah badan kamu gak jadi gendut,"


"Yahh enggak dong nor, kan aku gak makan tiap hari juga, kalau lagi pengen doang hehe,"


"Lagi ngomongin apa kalian sepertinya seru?," tanya anne yang baru dateng.


"Lagi ngomongin cake," jawab gia.


"ishh gak seru, kirain lagi bergosip,"


"Kamu mah gosip mulu yang dipikirin," seru nora.


"Eh pulang sekolah nanti kita main ke nora yuu," ucap dianna yang baru saja datang.


"Apa'an sih luh na, dateng-dateng dah langsung ngajakin main ajah," seru anne.


"Ini aku dapet voucher makan, nominalnya lumaya gede, tadi cuma untuk hari ini doang,"


"Wahh beneran?," seru anne


"Giliran makan ajah luh cepet," toyor nora pada temannya itu.


"Hehe,"


"Terus kalau daper voucher makan apa hubungannya ama rumah gue na, bukannya kita harus ke restonya ajah," tanya nora


"Nah itu masalahnya, kita pake seragam sekolah, gak boleh kesana pake seragam sekolah, jadinya mendingan kita take a way ajah, terus kita makan bareng dirumah loh, gimana?," jelass dianna.


"Deal," ucap nora


"Ok, horee makan banyak kita," seru anne.


"Kamu ko dieum ajah gi, kamu ikut kan?," tanya dianna. "Iyah aku ikut ko, tapi tolong kabarin kak kemal dulu yaa nor jangan jemput aku, aku mau pulang ke rumah kamu bareng kak shani ," jawab nora.


"Emmhhh susah yaa yang udah punya suami, ribeut kemana-mana izin mulu," ucap dianna, yang sebenernya ada betulnya itu membuat gia mati gaya gak bisa ngomong apa-apa lagi.

__ADS_1


"Iyah tar aku telponin kak kemalnya gi," ujar nora


"Lagian gi, kenapa kamu gak pake handphone lagi sih, abis handphone loh ilang, kaya ga bisa beli lagi ajah," ucap anne.


"Iyah, jadi susah kan kalau mau minta izin suami, hehe," sambung dianna.


"Apa'an sihh kalian ini, aku males ajah,"


"Yasudahlah jangan ribut lagi, duduk ditempat masing-masing bentar lagi gurunya dateng," sela nora yang sebenarnya tau kenapa gia tidak mau lagi megang handphone setelah kejadian di paris.


Sepulang sekolah keempat sekawan itu pun pergi ke sebuah restoran untuk mengambil pesanan makanan mereka, nora pun sudah memberitahu kemal agar jangan menjemput gia.


"Loh kok kalian pada kesini gak ngabarin mamah, tau gitu mamah masakin yang enak-enak untuk kalian," ucap alice begitu nora gia dan yang lainnya masuk kerumah.


"ga apa-apa tante, hari ini kita ada yang traktir," ucap anne.


"owhh yahh siapa yang traktir,"


"bukan traktir tanten, dianna hanya dapet voucher makan dari salah satu resto, tapi sayangnya anak sekolah gak boleh masuk, yasudah kita take away ajah kita mau makan disini rame-rame bolehkan tante?," jawab dianna.


"Tentu saja boleh sayang, biar tante siapin camilannya yaa, buat nanti sesudah makan,"


"tante emang paling pengertian sama kita hehe," celetuk anne.


"iyah bener biar seru,"


Tak terasa setelah acara makan-makan yang panjang di rumah nora, hari pun sudah semakin gelap, satu persatu sahabat nora sudah pulang tinggal sekarang gia yang sedang dibujuk mamah alice untuk menginap saja.


"Enggak mah, nanti kapan-kapan gia menginap disini, besok bukan hari libur soalnya mah,"


"Yasudahlah sayang, tapi bener yaa nanti hari libur kamu menginap disini,"


"Iyah mah, nanti hari libur gia nginep disini,"


"Sekarang kamu mau pulang sama siapa sayang? Shani sudah pulang, papah belum dateng juga lagi," ucap alice.


"Sama kemal mah, biar kemal yang anter gia pulang,"jawab kemal yang tiba-tiba datang, dari tadi di kantor kemal berusaha mempercepat pekerjaannya agar bisa mengantar gia pulang dari rumah mamahnya, sekalian dia juga pulang ke apartementnya.


"Owhh iyah, kebetulan sekali sayang, mamah jadi lega,"


"Iyah, yasudah ayo gi, aku anterin pulang," ajak kemal pada gia.


"Gia pulang dulu ya mah, nora aku pulang dulu yaa,"

__ADS_1


"Iyah hati-hati yaa gi dijalan,".


Kemal pun segera mengantarkan gia pulang, begitu mendekati rumah gia, kemal melihat kerumunan orang yang menghalangi jalannya, kemal pun membuka kaca mobilnya untuk menanyakan apa yang terjadi.


"Ada apa pak, rame-rame begini?,"


"Ini mas barusan ada yang kemalingan, orang rumahnya ditodongin senjata untung saja tidak sampai jatuh korban, karena keburu ada satpam yang keliling, tapi maling nya berhasil kabur,".


"Owhh, apa daerah sini gak aman pak?,"


"Aman-aman ajah sih mas dulu nya, tapi sekarang memang sedang musim pembobolan rumah,"


"Oh sasudah makasih ya pak,"


"Sama-sama mas,"


Gia yang mendengarkan percakapan kemal menjadi sedikit takut, apalagi rumah yang kedatangan pencuri itu tak jauh dari rumah nya.


Begitu sampai dirumah gia, kemal merasa sangat berat meninggalkan istrinya itu, kemal khawatir akan adalagi pencurian disitu.


"Gi," kemal pun memanggil gia yang hendak masuk kerumahnya.


"Apa aku boleh menginap disini?," tanya kemal begitu berbalik.


"Hah menginap?," jawab gia kaget.


"Iyah, aku gak bisa ninggalin kamu gi, aku khawatir nanti ada pencurian lagi, atau bagaimana kalau pencuri itu ternyata masih disekitar sini,"


"Gak bisa kak, gak usah, gak akan apa-apa kok, nanti gia minta pak satpam buat jagain sekitar sini,"


"Engga gi, aku mohon, kalau pulang pun aku gak akan tenang, aku bisa ko tidur di teras ajah, aku ga akan masuk ke rumah, aku janji," pinta kemal.


"Aku serius gak usah kak, apa kata orang nanti, gak ada yang tau siapa kak kemal di daerah sini dan rumit untuk dijelaskan, pulanglah kak, ini sudah malam dan sepertinya akan turun hujan," mohon gia pada kemal


"Engga gi, aku akan tetap disini,"


Gia semakin kesal oleh sikap kemal, gia memang takut tapi gak usah sampai kemal menginap segala kan.


"Terserah kak kemal ajah, gia mau masuk," ucap gia lalu pergi meninggalkan kemal ke dalam rumah.


Benar saja apa yang gia katakan, hujan pun turun dengan deras malam itu, kemal tidur di teras rumah gia, tanpa bantal ataupun selimut.


Suara petir yang kencang membangunkan gia, yang ternyata sudah tertidur, gia pun teringat akan kemal, apakah kemal jadi tidur diteras atau pulang.

__ADS_1


Segera gia turun ke bawah, gia pun mengintip dibalik gorder rumahnya, "Ya Allah kak kemal, kenapa dia benar-benar menginap dan tidur di teras, aku kira dia pulang tadi," ucap gia yang kaget melihat kemal benar-benar tidur diteras rumahnya.


__ADS_2