
Ghani yang sedari tadi ternyata terus mengikuti alena tanpa sadar mengikuti alena dan teman lelakinya itu dengan mobilnya, karena tadi ghani melihat alena naik mobil pria tersebut.
Setelah lama mengikuti alena ghani pun berhenti melihat mobil pria itu sedang terparkir didepan apartemen alena, Alena hanya tinggal sendiri di apartemen nya, dia terpaksa harus menyewa apartemen karena rumah orang tuanya jauh dari tempat dia bekerja.
Sekarang terlihat oleh ghani alena dan pria itu sedang berdiri dan berbincang tapi tidak lama, lalu pria itu memegang dan mencium tangan alena, lalu dia pun pergi masuk ke mobilnya alena pun hanya tersenyum malambaikan tangannya pada pria itu.
“Apa yang dia lakukan?, kenapa dia membiarkan pria asing itu mencium tangannya?,” gerutu ghani sambil memukul setir mobil nya.
Setelah mobil pria yang mengantarnya pergi, alena pun memasuki apartemen nya.
“Aduh badanku cape sekali, kakiku juga sangat pegal, mungkin terlalu lama berdiri dengan heels ini,” ucap alena sambil berjalan menuju apartemen nya
Begitu selesai membuka kunci alena tiba-tiba didorong masuk ke apartemen nya itu oleh seseorang yang dia belum tahu siapa.
“Hei,, ada apa ini, siapa kamu?,” sentak alena begitu dia masuk apartemen nya dan membalikkan badannya untuk melihat siapa yang mendorongnya itu.
“Ghani...” ucap alena pelan begitu melihat ghani yang juga berbalik menatapnya setelah menutup pintu apartemen alena.
“Ada apa kamu kesini?, dan kenapa kamu mendorongku begitu?,” seru alena dengan kesal.
“Kamu yang kenapa alena?, kenapa kamu membiarkan laki-laki asing itu mencium tanganmu ?,”
“Apa maksud kamu ghani?,”
“Apa mungkin seorang dokter alena yang sangat pintar ini tidak mengerti perkataanku?,” jawab ghani dengan wajah yang semakin kesal
“Aku tidak mengerti dan tidak mau mengerti terserah kamu mau bicara apa, aku lelah sekali aku ingin tidur, kamu sudah tahu kan pintunya disana,”
Ucap alena sambil berbalik dan ingin berlau ke kamarnya.
Melihat alena yang hendak meninggalkannya ghani pun segera menarik tangan alena.
“Jawab dulu aku alena?, kenapa kamu membiarkan dia mencium tangan mu ?, dan kenapa kamu mau diantar pulang oleh pria asing itu?,”
“Kenapa aku harus jawab?, itu bukan urusan kamu ghani, lagi pula dia bukan pria asing bagiku, dia adalah teman sekelas ku dulu, kebetulan dia anak dari teman papah kamu,”
“Karena dia teman lama mu makanya kamu membiarkan dia mencium tangan mu itu?, bukankah kamu bilang kamu menyukaiku alena dan kenapa kamu selalu mengindariku akhir-akhir ini?,"
“Sekali lagi, ini bukan urusan kamu, pulanglah aku ingin istirahat, satu hal lagi ghani, aku sudah memutuskan untuk menyerah soal perasaanku padamu,” ucap alena lalu berbalik hendak menuju kamarnya.
Ghani yang sangat kesal mendengar jawaban alena lalu menarik tangan alena dengan kasar, hingga tubuh alena menubruk tubuhnya, tapi badan alena yang mungil itu tidak membuat ghani bergeming.
Ghani menatap alena dengan penuh amarah, alena sangat bingung melihat ghani yang seperti ini.
__ADS_1
Tangan ghani menarik tengkuk alena kemudian tanpa berkata apapun lagi ghani mencium bibir alena. Alena sangat kaget, dia pun berusaha mendorong dada ghani, tapi ghani malah semakin dalam menciumnya dan mengeratkan pelukannya.
Alena benar-benar tidak terima diperlakukan seperti itu oleh ghani, walaupun dia mencintai ghani tapi jika tanpa alasan apapun ghani melakukan hal seperti ini tentu alena merasa terhina sebagai seorang gadis.
Sekuat tenaga alena mencoba mendorong ghani darinya, terlebih sekarang tangan ghani sudah berani menyentuh punggungnya yang memang sedang memakai baju back less itu. Alena bisa merasakan tangan ghani yang sedang bergerilya di punggungnya, alena merasa semakin emosi dibuatnya.
Tangan alena berusaha memukul dan mencubit ghani tapi tidak berhasil, alena pun menjambaķ rambut pendek ghani sekuat tenaga nya berharap ghani kesakitan dan melepaskan tapi bukannya kesakitan tindakan alena malah semakin membuat ghani menggila.
Ghani sebenarnya juga tidak tau apa yang membuatnya begitu menikmati apa yang dia lakukan sekarang. Ghani sangat tidak ingin menghentikan aksinya itu, malah sekarang dia mendorong tubuh alena untuk menuju ke kamar. Setelah sampai dikamar ghani menjatuhkan dirinya dan alena di tempat tidur.
Merasa ghani melepaskan ciumannya alena segera berteriak, “Pergi kamu ghani, apa yang kamu lakukan?, jangan menyentuhku lagi,” teriak alena pada ghani.
“Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu?, bukannya tadi dia juga boleh menyentuhmu,"
Alena berusaha bangkit dari kukungan ghani. “Cukup ghani, aku tidak mau berdebat denganmu, pergilah aku mohon,” ucap alena sambil mendorong tubuh ghani.
Kali ini alena berhasil mendorong tubuh ghani dia pun segera bangkit dari tempat tidur.
Ghani pun berdiri dari posisinya sebelumnya, “Pergilah ghani,”
“Kamu sangat tidak sabar mengusirku alena, bagaimana jika pria tadi yang ada disini, apa kamu akan mengusirnya juga?,”
“Bukan urusanmu, aku mau mengusir atau menyuruh orang menginap disini,” ucap alena dengan asalnya.
“Apa menginap?, apa pernah ada laki-laki yang menginap disini alena ?,”
“Ghani kenapa malam ini kamu senang sekali bertanya masalah orang lain, bukakah kamu biasanya tidak pernah mau tau soal apapun,”
“Jangan selalu menguji kesabaranku alena, kamu jawab saja apa ada pria yang pernah menginap disini?,”
“Iyah tentu saja ada, bukan kah aku masih termasuk wanita eropa, dan pernah memiliki pacar, hal yang wajar kan kalau pacarku menginap disini,” jawab alena dengan kesal sehingga mengatakan hal-hal diluar kenyataannya.
“Apa benar yang dia ucapkan?, aku rasa alena bukan gadis seperti itu,”gumam ghani dalam hati lalu kembali mengejar alena yang sudah meninggalkannya.
“Jawab aku dengan benar alena,” tanya ghani lagi sambil menarik lagi alena kepelukannya.
“Itu sudah jawaban yang sebenarnya, pergilah,”
"Alena aku bertanya untuk yang terkahir kalinya padamu, jawab aku dengan jujur, apa ucapanmu itu benar?,"
"Iyah aku mengatakan yang sebenarnya," jawab alena yang berharap dengan kebohongannya itu bisa membuat ghani jijik padanya dan segera pergi dari apartemennya tapi ternyata alena salah.
“Apa yang kamu lakukan ghani lepaskan aku?, pergilah sekarang juga, kamu mau apa?,” teriak alena yang begitu kaget ghani langsung mengangkat tubuhnya begitu dia menjawab pertanyaan nya itu.
__ADS_1
Ghani melemparkan alena kembali ke tempat tidur, lalu dia menindihnya. Alena sangat takut dan kaget melihat sikap ghani malam ini.
“Kamu mau apa ghani?, jangan menyentuhku lagi, aku tidak mau, pergilah,” ucap alena begitu ghani mulai menciumi lehernya.
“Diamlah alena, bukankah tadi kamu bilang, kalau pacar mu pernah menginap disini, kenapa sekarang kamu bersikap seperti gadis yang tidak pernah melakukan semua ini, atau kamu berbohong padaku alena?,”
“Aku tidak berbohong, aku hanya tidak mau melakukannya dengan mu ghani, lepaskan aku,”
Ghani semakin emosi mendengar semua perkataan alena, dengan paksa ghani membalikkan tubuh alena, hingga kini terlihat oleh ghani punggung putih dan mulus alena dengan gaun yang dipakainya itu. " Ghani kamu mau apa?, lepaskan aku ghani," teriak alena tapi dia tidak bisa melepaskan diri karena ghani menindih dan memegang tangannya.
Ghani sangat terpesona melihat tubuh indah alena, dia pun semakin tidak bisa menahan emosi dan hasrat nya yang sudah sampai dipuncaknya itu. Ghani menciumi punggung alena, menelusuri setiap inchi punggung alena yang terekspose itu dengan bibirnya.
"Ini hukuman untukmu karen sudah memakai baju seperti ini, dan kamu tidak mendengarkan aku untuk menutupnya," ucap ghani lalu melanjutkan aksinya itu.
Darah alena seakan membeku dengan perlakuan ghani itu, jantungnya pun berdetak sangat kencang.
“Ghani kamu...kenapa kamu melakukan ini padaku?, hentikan ghani aku mohon,” pinta alena yang sudah sangat lemah dari tadi melawan dan berdebat dengan ghani.
Tanpa mendengarkan alena ghani terus melakukan hal-hal yang ingin dia lakukan terhadap tubuh indah dihadapannya itu. Ghani pun membuka gaun yang dikenakan alena, dengan membuka pengait di leher alena, sekarang bagian atas gaun itu pun terbuka dan terlihatlah oleh ghani tubuh bagian atas alena tanpa penghalang apapun.
Alena seketika terperangah dan kemudian memejamkan matanya, entah apa yang dia rasakan saat ini.
Ghani semakin hilang akal melihat tubuh alena, sekarang ghani melepaskan satu tangannya yang sedang menekan tangan alena, tapi walaupun kedua tangannya hanya di tekan oleh sebelah tangan ghani tetap tidak bisa melepaskan tangannya itu.
Dengan sebelah tangannya ghani membelai lembut kedua dada alena secara bergantian lalu sesekali juga dia meremas keduanya. Tak puas hanya menyentuhnya kini ghani menciumi juga menyesap keduanya secara bergantian. Alena yang terus meronta hanya bisa memejamkan matanya, walaupun sebenarnya dia enggan tapi tidak alena pungkiri alena merasakan kenikmatan atas apa yang dilakukan ghani padanya.
Alena terus saja berusaha melawan, apalagi sekarang alena melihat ghani tengah membuka seluruh pakaiannya. “Ghani jangan, jangan lakukan ini padaku, jangan aku mohon,” lirih alena tapi ghani sudah tidak bisa berhenti apalagi mengingat kalau alena pernah melakukan semua ini dengan kekasihnya itu semakin mendorong ghani ingin melakukannya.
Ghani membungkam mulut alena dengan menciumnya, sementara dia mulai melakukan penyatuannya pada alena. Alena membelalakan matanya merasakan sesuatu yang menyakitinya, air mata sudah mengalir di matanya itu, tangan kanan nya yang terlepas dari genggaman ghani pun sekarang mulai mencakar tubuh ghani, seakan meminta ghani menghentikan semua tindakannya itu.
“Kamu berbohong padaku alena, kamu belum pernah melakukan ini sebelumnya,” bisik ghani di telinga alena di tengah percintaan paksanya itu. Setelah menuntaskan keinginnanya itu ghani menatap alena.
“Maafkan aku alena, aku tidak tau kenapa aku begini, aku sungguh sangat emosi mendengar kamu pernah melakukan hal ini dengan kekasihmu,” ucap ghani pada alena.
“Pergi dari sini ghani, pasti kamu sudah puas sekarang kan, pergilah sekarang juga,” ucap alena tanpa menatap ghani.
“Tidak, aku akan menemani mu malam ini alena,” ucap ghani lalu berbaring di samping alena dan memeluk tubuh alena.
“Maafkan aku,”
Alena sungguh tidak mengerti akan kejadian malam ini, kenapa ghani melakukan hal ini padanya sedang dia tidak mencintai alena, bahkan yang lebih menyakitkan lagi, setelah semuanya terjadi hanya maaf yang ghani ucapkan bukan kata cinta seperti yang alena harapkan.
“Maafkan aku alena, aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku ini, tuhan maafkan kesalahan ku ini,” gumam ghani dalam hati yang tengah menyesali semua perbuatannya itu.
__ADS_1