
Malam nya kemal sudah terbangun sebelum gia ke kamarnya.Kemal terbayang akan gia yang memcium keningnya ketika dia tidur, "itu mimpi atau bukan yaa, akhh sudahlah mau mimpi mau nyata aku tetap bahagia," ucao kemal.
Kemal pun begegas membersihkan diri dan turun ke bawah menemui istrinya itu.
Kemal melakukannya dengan cepat karena khawatir keburu gia ke kamarnya lagi, godaan gia sungguh tidak bisa dia tahan lagi, lebih baik dia menghindari gia agar aman.
Kemal sangat takut lepas kendali pada gia, nanti gia marah lagi padanya. Setelah selesai semuanya kemal yang sudah sangat segar pun segera keluar dari kamarnya.
Gia yang sedang memasak sangat kaget dengan kedatangan suaminya itu. "Kak, kok kak kemal udah kesini, emang udah baikan kak?,".
"Udah sayang, karena kamu yang urusin, jadi aku sembuhnya cepet,".
"Oh Alhamdulillah syukurlah," ucap gia.
"Iyahh syukurlah nak, kalau kamu sudah sembuh," ucap mamah alice.
"Kak kemal tunggu dulu disana, jangan didapur, gia sama mamah masih masak,"
"Gak apa-apa aku tunggu disini ajah aku mau deket-deket sama kamu," ucap kemal lalu memeluk gia dihadapan mamahnya.
"Kak, malu kan ada mamah, kak lepasin ikhh, gimana gia bisa masak,"
"Wahh-wahh adegan apa ini mah, peluk-pelukan didapur gini," seru nora yang baru saja tiba didapur.
"Entahlah, si bucin lagi berulah kayanya,"
"Kak, udah lepas ada nora juga sekarang," bisik gia tapi kemal tetap saja memeluk gia malah tambah erat.
"Kak, inget janji kak kemal sama gia apa,"bisik gia kali ini, membuat kemal segera melepaskan pelukannya.
"Ayo tunggu diruang tv, nanti gia panggil kalau sudah siap,".
"Iyah-iyah baiklah, pelit sekali cuma peluk doang," gerutu kemal.
"Anak itu, percis sekali dengan bapak nya," ucap mamah alice dalam hatinya.
Setelah selesai makan malam, seperti biasa gia menyiapkan obat untuk kemal minum tapi kemal menolaknya, "sayang aku sudah sembuh gak usah diminum lagi kan,"
"Kak obatnya harus dihabiskan, supaya kak kemal bener-bener sembuh, kalau gak diminum nanti malam kambuh lagi gmana,"ucap gia pada suaminya itu.
"Yasudah iyah deh aku minum,"
"Nak gituh dong,"
Kemal pun meminum obat-obatnya tanpa berbicara lagi.
Daud dan alice yang melihat mereka tersenyum, lucu sekali anaknya itu biasanya sulit sekali kalau dibujuk, kemal sangat keras kepala dari kecil, tapi dia bisa luluh oleh gia, dan dapat dibujuk dengan gampangnya.
"Sayang temani aku ke taman yahh, nanti aku janji anterin kamu ke kamar nora," ajak kemal begitu melihat gia akan pergi ke kamar nora setelah mereka sekeluarga selesai makan malam.
Gia pun hanya mengangguk dan mengikuti suaminya itu.
"Ada apa kak, ngajak gia kesini?,"
__ADS_1
"Sayang ada hal yang mau aku katakan sama kamu,"
"Soal apa kak?,"
"Sayang apa kamu benar-benar sudah memaafkan aku ?,"
"Iyah kak, gia udah maafin kak kemal,"
"Syukurlah, lalu apa kamu masih menganggap aku suami kamu?,"
"Tentu saja kak, kenapa bertanya pertanyaan aneh gitu sih,"
"Kalau begitu, apa kamu bersedia tinggal lagi bersamaku gi, dan pindah lagi kerumah kita?," tanya kemal pada gia.
Deghhh pertanyaan kemal itu langsung membuat jantung gia shock, gia bingung harus jawab apa.
"Apa kak kemal bisa ngasih gia waktu untuk memikirkannya kak?,"
"Sayang kalau kamu masih belum siap tinggal lagi denganku, berarti kamu masih belum ikhlas memaafkan aku,"
"Kak bukan nya begitu, tapi gia...,"
"Kenapa sayang, apa yang membuat kamu ragu?,"
"Kalau kamu masih punya persyaratan lain aku pasti akan berusaha penuhi semuanya, asalkan kamu mau tinggal lagi sama aku gi,"
Gia semakin bingung oleh kata-kata kemal, seharusnya gia langsung mau, seorang istri harus menurut pada suaminya kan, tapi gia kenapa masih ragu, apa ego gia masih tetap ada.
Gia pun jadi merenung sejenak, untuk apa lagi dia bersikap begini, kan dia sudah memaafkan kemal.
"Benarkah sayang, akhirnya kamu setuju juga aku sangat senang, baiklah besok kita ke rumah mu dulu aku juga mau bertemu dengan danny aku akan izin dan berterimakasih padanya," ucap kemal sambil memeluk gia.
"Kak gia ke kamar nora dulu yaa,"
"Iyah sayang, ayo aku antar,"
Mereka pun berjalan bersama ke kamar nora, setelah mengatar gia, kemal bergegas menelpon orang apartement agar ada yang ditugaskan membersihkan dan menata lagi apartementnya.
Pagi ini keluarga daud seperti biasa sedang sarapan bersama di meja makan kemal pun menggunakan kesempatan ini untuk memberitahu kedua orang tuanya akan rencana kepindahannya dan gia ke apartement kemal.
"Sayang, kamu masih menginap disini kan malam ini?, biar besok kamu berangkat sekolah dari sini saja," tanya mamah alice pada gia, tapi kemal cepat-cepat menjawab pertanyaan mamahnya itu.
"Engga mah, gia mau pulang kerumahnya sekarang sama kemal, oh iyah mah pah, nanti hari senin gia bakalan ikut kemal pindah lagi ke apartement kemal,"
"Benarkah?, syukurlan sayang mamah senang mendengarnya," ucap alice.
"Benar papah juga senang, semoga kalian bahagia terus, dan ingat kemal jangan macam-macam sama istri kamu lagi," tambah papah daud pada puteranya itu.
"Iyah pah, pasti,"
Setelah makan malam, kemal dan gia pun pulang menuju rumah gia dan danny.
"Kamu disini kemal?," sapa danny begitu dia turun tangga untuk menyambut adiknya pulang dari menginap tau-tau ada kemal juga disana.
__ADS_1
"Iyah dan, aku mengantar gia pulang, sekalian aku mau bicara sama kamu,"
"Owhh bicara apa duduklah, gia sayang bawakan suami kamu ini minum,"
"Iyah kak,"
"Aku mau minta izin sama kamu untuk membawa gia pindah lagi ke apartementku dan,"
"Ohh yahh, kapan?, besok, besok kami akan pindah,"
"Kamu tidak usah meminta izinku kemal, gia adalah istri mu, kamu berhak membawa gia kemana pun yang kamu mau, yah walaupun sebagai kakak aku pastinya sedih berpisah dengan adikku, tapi itu memang sudah kewajibannya,"
"Iyah, tapi kamu kakak nya satu-satunya dan, aku juga sangat berterimakasih sama kamu, kamu sudah banyak membantuku, dan lagi kamu sudah membantuku menjaga gia selama kami berpisah,"
"Gia adikku, aku senang bisa menjaganya, aku selalu mendukung kamu dan adikku, karena kamulah laki-laki yang dipilih ayah kami kemal, jadi aku harap jangan lagi kamu membuat kesalahan yang membuat gia sedih,"
"Pasti dan, aku tidak akan lagi begitu, aku akan menjaga istriku dengan sebaik-baiknya, dan bisakah kamu membantuku sekali lagi?,"
"Apa, kamu ini banyak sekali mau nya,"
"Kamu pasti bisakan membuat aku menginap disini malam ini, agar besok aku sekalian mengantar gia pergi sekolah, aku masih kangen sama istriku,"
"Dasarr kamu ini, baiklah,"
"Kamu memang kakak ipar terbaik didunia ini danny,"
"Awas saja semuanya aku perhitungkan,"
"Tidak masalah aku pasti membayarnya,"
Tak lama gia pun datang membawa minuman hangat untuk kemal dan danny,
"Sayang, malam ini biarkan suami kamu menginap disini yaa, biar besok kamu juga bisa sekalian diantar ke sekolah sama kemal,"
"Terserah kakak ajah, gia mau tidur duluan yah, gia sudah mengantuk, kak kemal gia duluan ke kamar yaa, kak danny gia tidur dulu yaah,"
"Iyah sayang,"
Sebelum ke kamarnya gia memanggil bi rani dulu.
"Bi tolong siapkan kamar tamu yaa, kak kemal mau menginap disini malam ini, nanti tolong bibi tunjukan kamarnya," ucap gia pada bi rani.
"Baik non,"
Danny yang mendengar ucapan gia berusaha menahan tawanya, apalagi melihat ekspresi kecewa kemal.
"Hahahahah,,," begitu gia sudah jauh danny pun segera mengeluarkan tawanya.
"Kemal-kemal bukannya adikku sudah memaafkan mu?,"
"Iyah, tapi gia memang masih gak mau berdekatan denganku, bahkan aku cuma diizinkan menciumnya satu kali sehari,"
"Hahahha benarkah, lebih sedikit dari meminum obat dong," danny semakin tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Sudahlah, cepat pergi ke kamar tamu sana, itu masih lebih baik dari pada di teras kan, hahaha," lanjut.
Kemal pun hanya pasrah mendengarkan ejekan danny, karena itu memang benar.