Menikahi Kakak Tertua Sahabatku

Menikahi Kakak Tertua Sahabatku
Tidur bersama


__ADS_3

☀️☀️☀️


"Sayang, dimana nora, kok belum datang buat sarapan?, biasanya kalian ke meja makan bareng-bareng," tanya mamah Alice pada Nora


"Gimana mau datang bareng, orang kita juga ga tidur bareng semalem," jawab nora sambil cengengesan


"Maksud kamu apa sayang?,"


"Iyah itu, Gia ga balik ke kamar nora pah semalem, seperti nya Gia tidur sama kak Kemal,"


Semuanya kaget dan terdiam mendengar ucapan Nora,


#Flashback On#


Kemal pun memutuskan untuk menggendong Gia dan mengantarkan nya ke kamar nora.


"Eh aku ini kenapa repot sekali, gia kan istriku kenapa harus cape-cape nganterin gia ke kamar nora,"


Akhirnya Kemal pun menidurkan nora di tempat tidurnya dengan hati-hati agar nora tidak terbangun.


"Tidurlah disini gadis cantik, ini tempat tidur suami mu,"


Gia yang tertidur pulas malah merasa nyaman pindah ke kasur Kemal dia pun menggeliat dan langsung memeluk guling di dekatnya.


"Eh,, ko suami mu ada disini malah meluk guling sih, ga sopan," ujar kemal yang kemudian dengan hati-hati mengambil dan melempar guling yang di peluk Gia.


Kemal pun membaringkan diri disebelah Gia,. Gia yang kehilangan gulingnya langsung memeluk kemal yang tiba-tiba tidur disebelahnya.


"Nah begini baru benar, kamu peluk suami mu bukan guling,"


Kemal tersenyum melihat gia yang terus memeluk nya, "kenapa aku ini, bisa bahagia sekali berdekatan dengan nya, apa aku jatuh cinta sama anak kecil ini?,"


Pikiran kemal terus menerka-nerka sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya, karena dia bisa senang sekali melihat dan berdekatan dengan Gia.


Tapi lamunannya semakin berubah menjadi ketegangan kala posisi Gia memeluknya semakin meresahkan, Gia tanpa sadar meraba-raba tubuhnya menggosokkan wajah didada bidangnya.


Kemal semakin meremang," tuhan cobaan apa ini, ternyata benar aku jatuh cinta dengan gadis ini, aku tidak pernah seh**ny ini disentuh wanita,"


Kemal terus merutuki keputusan nya untuk tidur bersama Gia,


kemal memang sudah pernah melakukan hubungan s** dengan pacar atau mantan nya, tapi tidak pernah merasakan sensasi seperti saat ini.


Hubungan kemal yang sebelum-sebelum nya hanya sebatas memenuhi hasrat nya saja sebagai laki-laki dewasa, ditambah kemal sedari sekolah menengah atas memang sudah tinggal di luar negeri, jadi terbawa gaya hidup barat.


#Flashack Off#


Ghani yang mendengar Gia tidur dengan kemal, merasa tidak karuan perasaan nya, sakit sudah pasti, apalagi ghani tau seperti apa kakak nya.


Kemal selalu mengganggap wanita seperti bisnisnya hanya untuk keuntungan semata, kemal tidak pernah menganggap wanita-wanita nya. Wanita hanya hiburan sesaat dari kepenatan pekerjaan untuk kemal.


"Mah kenapa kamu jadi melamun?," tanya Daud pada istrinya yang juga malah melamun mendengar Gia tidur dengan kemal


"Ga apa-apa pah, aku hanya jadi terpikir, Gia memang seharusnya bersama dengan Kemal bagaimana pun mereka suami istri sekarang,"


"Iyah kamu benar, kalo Gia terus dengan nora, kita jadi seakan tidak menganggap serius pernikahan mereka,"


"Iyah seperti itu, tapi mamah juga berharap kemal tau batasannya terhadap Gia,"


"Batasan apa mah?, mereka sah suami istri secara hukum dan agama, ga ada batasan bagi mereka," sela Daud


"Mamah ngerti pah, tapi Gia masih sekolah, itu pun baru kelas dua, "


Daud terdiam memang benar yang istrinya katakan, Gia baru kelas dua sma kalo sampai hamil dan sebagainya akan berpengaruh pada sekolah nya.


"Sudahlah mah gausah dipikirkan sekarang, hal-hal yang belum terjadi,"


Di kamar kemal.


Gia akhirnya bangun setelah tidur nya yang sangat nyaman semalaman sambil memeluk guling hidupnya.


"Kenapa gulingku besar sekali," pikir gia yang belum membuka matanya.


"Aaaaaaaaaaaa....Kak kemal kenapa tidur disini?," jerit Gia begitu sadar yang dia peluk erat adalah Kemal


"Ini kamarku Gia, emang salah kalo aku tidur di kamar ku sendiri?," kemal dengan entengnya malah balik tanya,


Kemal masih mengantuk, semalam dia tidur larut sekali, karena menahan sesuatu dibawah sana akibat kelakuan tidur istrinya.


Gia lalu memeriksa pakaiannya yang masih utuh dan tidak merasakan ada yang aneh,. Setelah itu dia langsung berlari pergi ke kamar nora untuk mandi dan bersiap-siap ke kantor ayahnya.


Selesai mandi Gia pun berdandan, kebetulan baju dan perlengkapan dia untuk ke kantor sudah disiapkan oleh Alice dari kemarin, karena mendengar dari suami nya kalo Gia akan pergi ke perusahaan nya bersama kemal.

__ADS_1


Kemal yang sudah duluan siap, pergi ke kamar nora untuk melihat apa istrinya itu sudah siap atau belum, tapi ternyata Gia sudah lebih dulu selesai dan sekarang sedang bejalan didepannya.


"Gia,." Panggil Kemal


Gia pun menoleh, dengan memasang wajah jutek pada kemal, Gia masih kesal kenapa kemal tidak membangunkan nya semalam, malah membiarkan dia tidur di kamarnya.


"Kenapa pagi-pagi udah cemberut gituh?, emang ga takut dosa sama suami,"


"Abisnya kak kemal semalem kenapa ga bangunin Gia sihh,"


"Ayo bicara nya sambil jalan, aku kasian liat kamu tidur pules jadi ga berani bangunin,"


Kemal berjalan sambil memengang tangan Gia, gia berusaha menepis karena malu, tapi kemal tidak mau melepaskan genggamannya.


"Kak, lepasin malu nanti,"


"Gausah malu-malu mulai sekarang biasakan untuk nerima aku sebagai suami mu,"


Kemal berkata seperti itu bukan tanpa alasan


setelah kejadian semalam, kemal yakin kalo dia memiliki perasaan lain terhadap Gia, karena dia belum pernah merasakannya sebelumnya kepada wanita manapun.


Kemal pun memutuskan untuk benar-benar menjalani pernikahan ini, dan dia tidak akan melepaskan Gia selamanya.


"Ehemm,,ehemm,,pengantin baru pagi-pagi udah pegangan tangan ajah,," nora mulai menggoda sahabatnya itu


Alice dan Daud hanya tersenyum melihat anak dan menantu nya itu, dalam hati mereka sangat senang dan tidak menyangka, secepat itu Kemal yang dingin terhadap wanita bisa luluh oleh Gia.


Mereka juga bahagia bahwa Gia lah yang jadi menantu pertama mereka bukan gadis lain yang belum mereka kenal.


"Mah, pah kemal dan gia pergi ke kantor dulu yaa,"


"Loh kok ga sarapan dulu sayang?," sahut mamah Alice


"Nanti di kantor ajah mah, takut telat soalnya jarak dari rumah ke kantor Gia lumayan jauh,"


"Owhh yasudah, kalo gituh hati-hati yaa,, kamu jagain menantu mamah yang cantik ini yaa, awas kalo ada apa-apa,"


"Pasti mah," jawab kemal


"Mah, pah gia berangkat dulu yaa, Asalamualaikum," pamit Gia sambil mencium tangan kedua mertua nya itu


Kemal pun kembali menggandeng tangan Gia dan bergegas menuju mobilnya.


Sesampainya di PT. Adiratama, semua karyawan mengangguk hormat kepada Gia, mereka memang sudah sangat mengenal Gia, karena tidak jarang Gia ke kantor untuk bertemu ayahnya.


"Gia, kamu langsung saja ke ruang rapat ya, aku ada sedikit urusan dulu, nanti langsung menyusulmu,"


"Iyah kak,"


Diruang rapat semua pemegang saham menatap Gia dengan tatapan meremehkan, bagaimana bisa seorang gadis kecil memimpin mereka, itulah yang ada dipikiran mereka semua.


Terlebih Reno adik Adam, yang memang tidak suka dengan Gia,


"Selamat pagi semuanya?," sapa Gia dengan berusaha tegas sesuai apa yang sudah Kemal ajarkan padanya.


Gia mencari sosok Danny kakaknya, tapi tidak tampak disana, hanya perwakilannya lah yang sepertinya datang mewakili.


"Saya tau, kalian semua tidak berkenan saya menempati posisi ini, sehingga kalian pun sampai tidak mau membaca dengan teliti berkas-berkas yang kalian sudah miliki masing-masing,"


"Tapi baik kalian berkenan atau pun tidak, dengan 50% saham yang sekarang saya miliki, Otomatis posisi ini adalah milik saya,"


"Tapi suatu perusahaan harus dipimpin oleh orang yang mengerti dan sudah berpengalaman, bagaimana seorang anak yang bahkan belum lulus sekolah bisa memegang posisi ini?," seru reno dengan ketusnya dan dibenarkan oleh semuanya yang ada disitu


"Anda tenang saja tuan Reno, saya cukup tau diri saat ini, untuk itu silahkan kalian semua membaca berkas yang ada ditangan kalian masing-masing,"


"Di dalam wasiat ayahku Adam Adiratama pendiri dan juga pemilik dari 50% saham PT.ADIRATAMA ini, sudah ditentukan akulah Gia Daniella Adiratama sebagai penerusnya,"


"Itu tidak bisa dirubah, tapi sebelum saya layak, Tuan Adam Adiratama, sudah menunjuk seorang Wali dan juga pengganti sementara untuk saya diperusahaan ini,"


"Siapa dia nona Gia," tanya salah satu dari mereka


"Aku, akulah pengganti Gia," Jawab Kemal yang memasuki ruangan rapat, kemal sedari tadi menunggu menguping dibalik pintu, mendengarkan penampilan berani istrinya itu.


Semua yang ada diruang rapat tercengang, melihat seorang Kemal Adnan yang memasuki ruangan dan mengaku sebagai pengganti Gia.


Bagaimana tidak Kemal sudah sangat dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses, dan bahkan memimpin perusahaan Adnan yang lebih besar dari Adiratama sendiri.


"Aku Kemal Adnan, adalah wali resmi yang ditunjuk secara hukum oleh Tn Adiratama, dan juga Pemimpin sementara disini, sampai Gia mampu menduduki posisi Ayahnya,"


"Apakah ada yang keberatan?,"

__ADS_1


"Tentu saja tidak tuan, bagaimana kami bisa keberatan,"


"Benar-benar tentu saja kami sangat setuju,"


Semuanya membenarkan kecuali Reno yang tampak tidak senang,


"Aku keberatan, bagaimana pun anda adalah orang luar, dan apakah ada jaminan bahwa Adnan tidak akan mengambil keuntungan dari segala proyek Adiratama,"


"Maaf tuan Reno, bagaimana bisa anda sebagai seorang pengusaha sangat tidak teliti, lihatlah di dalam berkas itu, sudah dijelaskan proyek-proyek Adnan dan Adiratam saya pastikan tidak akan ada hubungan nya,"


"Terlebih dengan tidak bermaksud merendahkan, nilai proyek kita sangat jauh berbeda, tapi saya pastikan suatu saat saya juga akan mendapatkan tender-tender yang lebih besar untuk Adiratama,"


Reno tidak dapat berkata lagi, dia kalah telak dari kemal, dia sangat malu bahkan semua orang diruang rapat itu tampak tersenyum mentertawakan nya didalam hati mereka.


"Kalo semua nya sudah jelas saya tutup Rapat ini, Untuk peresmian pengalihan posisi ini akan di adakan suatu acara resmi hari sabtu malam nanti, saya harap kalian semua bisa datang, terimakasih,"


"Tentu sajah Tuan kemal kami pasti akan menghadiri acara itu,"


Setelah itu kemal menggandeng Gia untuk pergi keruangan presiden direktur, yang ditinggalkan Adam.


Gia jadi sangat sedih melihat ruangan Adam, dia teringat bagaimana dia sering menunggu ayahnya bekerja dari sofa yang dia duduki sekarang, tanpa terasa air mata nya mulai deras memikirkan saat - saat itu.


Kemal yang menyadari istrinya menangis langsung berjongkok didpan Gia sambil memegang tangan istrinya itu.


"Kenapa,.?"


"Ga apa-apa kak, Gia cuma inget sama ayah ajah,"


Kemal pun langsung memeluk istrinya itu dengan erat, gia pun membalas memeluk kemal dan terisak didadanya.


Tak berselang lama terdengar suara ketukan pintu dari luar, gia pun langsung melepaskan pelukan nya dari kemal.


"Masuklah,"


"Pak, ini makanan yang anda pesan tadi," ucap seorang office boy yang mengantarkan makanan yang memang tadi sudah kemal pesankan untuk nya dan Gia.


"Taruh di sini saja,"


"Baik, silahkan pak,"


"Terimakasih,"


Office boy itu pun segera berlalu.


"Ayo Gia, kita sarapan dulu,"


"Gia gak lapar kak, nanti saja sarapannya,"


"Gak bisa gitu ayo makan, ga bagus melewatkan sarapan, atau kamu mau nya disupin?"


"Ahhh..apa..engga kok kak engga" jawab gia terbata-bata dengan ucapan kemal.


Gia memang masih selalu gugup bila berhadapan dengan kemal.


"Kalo gitu, ayo makan, nanti selesai makan aku antar pulang,"


"Iyah kak,"


Gia dan kemal pun telah menyelesaikan sarapan mereka.


"Kak aku pulang sendiri ajah yaa, nanti kaka cape kalo harus bolak-balik,"


"Engga kok, ga apa-apa aku yang antar ajah, aku juga bakal langsung ke kantorku, nanti sore baru kesini lagi,"


Jawab kemal pada Gia padahal, didalam pikirannya, dia mana rela membiarkan istri kecil nya itu pulang dengan orang ga dikenal, bisa-bisa ada yang bawa kabur, apalagi gaya Gia saat ini tidak seperti anak SMA.


"Owhh gitu, yaudah deh kalau gitu kak,"


"Ayo," seru kemal sambil menggenggam tangan Gia.


"kak, kenapa dari tadi harus pegangan tangan terus," tanya gia yang heran dengan sikap kemal.


Kemal menatap Gia dengan dalam,lalu mendorong tubuh Gia sampai rapat dengan tembok ruangan itu, jantung Gia terasa akan meledak dibuatnya, " Ya ampun kenapa sihh nih cowok, mau bikin aku sakit jantung apa," batin Gia.


"Gia, seperti yang tadi pagi aku bilang, biasakan lah menerima aku sebagai suami mu, pernikahan ini nyata bukan permainan, apa kamu mengerti?,"


"iii..iyahh kak Gia ngerti,"


"Bagus kalo gitu, ayo,.." kemal kembali menggenggam tangan Gia.


Setelah mengantarkan gia ke rumah kemal pun segera pergi ke kantornya,karena masih menumpuk pekerjaan.

__ADS_1


__ADS_2