
Di sebuah mall, gia sedang sibuk menyantap hidangan yang sudah dia pesan.
“Sayang pelan-pelan makannya,” ucap kemal yang melihat gia makan dengan terburu-buru.
“Aku harus cepet kak, kan mau belanja,”
“Iyah ga apa-apa sayang, ini kan masih siang,”
“Yasudah baiklah,”
“Ok, pelan-pelan ajah yahh gadis cantikku, aku ke toilet bentar yaa sayang, kamu jangan kemana-mana, kamu makan ajah disini ok,”
“Ok,” jawab gia sambil terus mengunyah makanannya.
Kemal pun pergi ke toilet, sedang gia masih asik makan, tapi di sela-sela gia makan, ada seorang anak kecil menghampiri gia.
Anak itu berbicara pada gia, tapi menggunakan bahasa german, gia sama sekali tidak mengerti.
Gia pun berusaha menjelaskan menggunakan bahasa inggris, kalau dia tidak mengerti bahasa german.
Anak itu ternyata sangat pintar, dia bisa berbahasa inggris, walaupun masih agak campur dengan bahasa germannya, tapi setidaknya kini gia sedikit mengerti.
“Ohh, sayang kamu lapar?,” tanya gia
Anak kecil itu pun menganggukkan kepalanya.
Gia merasa sangat tidak tega melihat anak itu, gia pun mengajak anak itu duduk di meja nya dan memberikan makanannya untuk anak kecil itu, karena kebetulan gia memesan banyak makanan.
“Kamu ke sini dengan siapa sayang?,” tanya gia.
“Mommy,” jawab anak itu sambil terus makan.
“Lalu dimana mommy kamu?,”
“Mommy bertemu temannya,”
Gia jadi heran, bagaimana seorang ibu bisa membiarkan anaknya lapar, sedang dia bersama temannya.
“Yasudahlah sayang makanlah yang banyak,”
“Makasih yaa kak,”
Gia menatap anak laki-laki itu, “ Ya ampun anak ini menggemaskan sekali, siapa si ibu nya, main tinggalin ajah, apa mau aku culik nih anaknya,” ucap gia , kemal yang baru datang pun mendengar ucapan istrinya itu.
“Mau culik siapa kamu sayang?, loh ini anak siapa?,” tanya kemal
“Gak tau kak, tadi dia bilang lapar yaudah gia kasih makan, katanya sih ibunya lagi ketemu sama temannya di sini,”
“Apa dia hilang dari ibunya?, yasudah kalau dia selesai makan kita antar ke bagian informasi,” ucap kemal
“Iyah kak,”
Anak itu terperanjak begitu melihat kemal, “Sayang tenanglah ini suamiku,” ucap gia pada anak itu.
“Suami ?,” tanya anak itu dengan wajah polosnya yang tampak heran.
“Iyah dia suamiku,”
Anak itu tetap menatap heran pada kemal.
“Aku kira dia ayahmu,”
“Apa ?!!!!,” teriak kemal sambil mengertakkan giginya.
Anak itu pun ketakutan melihat kemal, gia segera menghampiri anak itu.
“Kak, jangan bikin dia takut dong,” ucap gia sambil menahan tawanya.
“Sayang gak apa-apa kok, suamiku orang baik,”
“Dia tidak baik, kakak tenang ajah kalau aku sudah besar aku yang akan jadi suami kakak,”ucap anak itu, kemal yang pencemburu dan tidak pandang bulu pun semakin geram.
Kali ini gia bergegas menenangkan suaminya,
“Kak jangan marah yaa, dia cuma anak kecil,”ucap gia sambil mengelus tangan suaminya.
“Sudahlah, ayo kita pergi,”ucap kemal dengan marah.
__ADS_1
Gia pun segera menuntun anak kecil itu bersamanya untuk menuju ke pusat informasi.
Begitu sampai mereka segera mengumumkan tentang anak itu, yang ternyata bernama jacob dan berumur enam tahun.
Setelah di umumkan, tak berselang lama datang seorang pria, mengaku kerabat jacob dan ingin menjemputnya.
Ketika ditanya oleh pegawai informasi, Jacob pun mengakui mengenal pria itu, akhirnya jacob pergi dengan lelaki itu.
Pria itu pun mengucapkan terimakasih pada kemal dan gia.
Sebelum pergi jacob berbisik pada gia. Gia pun tertawa lalu melambaikan tangannya ketika bocah itu berjalan pergi.
“Apa yang dia katakan sayang?,”
“Sudahlah kak kemal gak usah tahu, itu kan hanya celohan anak kecil kak,”
“Celotehan apa sayang?, ayo katakan padaku,”
“Ikhh, penasaran sekali sihh, Cuma masalah sepele doang,”
“Kalau berkaitan dengan kamu, gak ada masalah sepele,”
Gia pun menggelengkan kepalanya melihat sikap posesif suaminya itu.
“Dia bilang, kakak tunggu aku yaa, aku akan menikahi kakak nanti,”
“Benar-benar kurang ajar anak itu,”
“Dasar,, sudahlah ayo kita belanja kak,” ucap gia sambil tertawa lalu menggandeng lengan kemal.
Di rumah ghani yang baru saja sampai segera menuju ke kamarnya, ghani memutuskan untuk mandi dulu sebelum dia mulai membereskan baju yang akan dia bawa ke rumah alena.
Setelah semuanya beres, ghani pun terduduk di sofa kamarnya, ghani memutuskan untuk menunggu kakaknya dan gia pulang ke rumah, ghani ingin berpamitan, juga ingin mengatakan soal pernikahannya.
Setelah beberapa saat ghani menunggu, akhirnya ghani mendengar suara pintu terbuka, ghani pun segera bangun dan menuju ke luar untuk menemui kemal dan gia.
“Kak ghani,” seru gia
“Hai gi, kak, maaf aku mengagetkan kalian,”
“Kak, kak ghani, gia ke kamar dulu yaa,”ucap gia sambil menepuk tangan kemal.
Gia berusaha memberi ruang dan waktu pada kedua kakak beradik itu untuk berbicara satu sama lain.
“Kak, maafkan aku,” ucap ghani memecah keheningan diantara mereka.
“Kamu tidak salah padaku ghani,”
“Aku sudah menikah kak,”
“Aku sudah tahu,”
Ghani pun kembali diam, ghani tahu sebenarnya kalau kemal pasti sudah tahu.
“Bagaimana wajahmu?, maafkan aku,”
“Aku sudah gak apa-apa kak, aku pantas menerimanya,”
“Seandainya kamu menyadari dari awal perbuatanmu itu, aku tidak akan pernah memukulmu ghani,”
“Kenapa kak, bukankah perbuatanku tidak bisa dimaafkan?,”
“Karena aku pun pernah melakukannya,”
“Apa?!!,”
“Iyah aku pernah melakukannya pada gia, sampai dia ingin bercerai dariku,”
Ghani pun termenung mendengarkan kemal, “Aku tidak pernah tahu ada kejadian seperti itu, mungkin masalah ini yang dulu di maksud nora, kalau danny membantu kemal,” gumam ghani dalam hatinya.
“Tapi aku berbeda darimu, aku melakukannya setelah kami menikah, dan aku sadar itu aku lakukan karena aku terlalu mencintainya,” ucap kemal.
“Aku tidak pernah tahu ada kejadian itu kak,”
“Iyah kamu kan sedang berada disini,”
“Ghani, kamu tahu, tidak ada yang bisa kamu sembunyikan dariku, kamu pun tahu aku tidak pernah mempermasalahkannya,” ucap kemal
__ADS_1
Ghani tahu maksud dari ucapan kemal adalah soal perasaannya pada gia. Ghani pun hanya bisa diam mendengarkan kakak nya berbicara.
“Tapi mulai sekarang, cintailah masa depan mu sebaik yang kamu mampu, aku percaya kamu sangat mencintainya saat ini, semoga kalian selalu bahagia bersama,”
“Terima kasih kak, sekali lagi maafkan aku untuk semuanya kak,” ucap ghani
“Aku sudah bilang kamu tidak perlu meminta maaf padaku, kamu tidak salah apapun, ah iyah dimana istrimu?, kamu tidak membawanya kemari?,” tanya kemal
“Enggak kak, justru aku yang akan pergi ke rumahnya,”
“Apa ?, kenapa?, owhh aku tahu, kamu pasti ingin bebas kan, aku mengerti kok aku juga pernah merasakannya, malah sampai sekarang aku selalu merasa bersemangat untuk hal itu,” ucap kemal sambil tersenyum pada ghani.
Ghani pun hanya tersenyum mendengar ucapan kemal, karena ghani merasa ucapan kakak nya itu benar, baru dua kali merasakannya saja, rasanya ghani sudah mulai ketagihan.
“Benarkan, yasudah sana pergilah, tapi ghani,”
“Tapi apa kak?,”
“Kalau nanti aku harus pulang dulu ke jakarta, aku harap kamu dan alena bisa menemani gia disini,”
“Oh, iyah kak tentu saja,”
“Baguslah kalau begitu, sudah sana pulanglah, istri mu pasti sudah menunggumu,” ucap kemal
“Iyah kak, aku ambil baju-baju ku dulu di kamar,”
“Baiklah,”
Setelah ghani pergi kemal pun masuk ke kamarnya, tampak gia yang ternyata baru selesai mandi, hanya menggunakan bathrb ditubuhnya. “Kak, sudah bicara sama kak ghani nya ?,” tanya gia.
“Sudah sayang, kamu sedang apa ?,”
“Aku lagi milih baju yang tadi kita beli buat aku pakai sekarang, yang mana yaa?,”
“Kalau gak usah pakai baju ajah gimana?,” ucap kemal yang segera memeluk istrinya itu.
“Kak, ada kak ghani jangan macem-macem,”
“Ghani udah pergi,”
“Pergi kemana ?, bukannya kalian sudah baikkan?,”
“Tentu saja pergi ke rumah istrinya,”
“Istrinya ?,”
“Kemarilah sayang, aku mau bicara,” ujar kemal sambil menarik lengan gia dan mendudukan gia di pangkuannya.
“Ghani dan alena sudah menikah sekarang,”
“Menikah ?, benarkah kapan?,” seru gia
“Tadi pagi,”
“Owhh syukurlah,” ucap gia sambil tersenyum.
“Kamu gak merasa kaget dan aneh sayang?,” tanya kemal.
“Kenapa mesti aneh, di keluarga kita memang sudah biasa terjadi hal aneh,”
“Maksud kamu?,”
“Kak kemal gak ngerasa, kita pasangan yang lebih aneh, kak ghani dan kak alena wajar-wajar ajah kalau menikah, Cuma tinggal resepsi, kalau kita ?,”
“Kita kenapa memangnya?,”
“Ya ampun masih ajah gak sadar, kak kita itu yang baru aneh, kak kemal nikahin gia yang masih kelas dua sma, dan sekarang gia diam-diam lagi hamil,”terang gia sambil mengelus perutnya yang sudah besar sambil tertawa kecil.
“Dasarr kamu ini,” ucap kemal lalu ikut mengelus perut gia.
“Udah dulu, gia mau pakai baju,” ujar gia lalu bangkit dari pangkuan kemal.
Dengan cepat kemal kembali mendudukan gia di pangkuannya.
“Jangan, nanti saja pakai bajunya,” ucap kemal dengan tatapan yang sangat amat gia mengerti.
“Kenapa dia selalu melakukan ini saat aku baru selesai mandi, aku kan jadi harus mandi lagi nanti,” gerutu gia dalam hati tapi tidak bisa menolak suaminya yang kini sudah menggendongnya ke tempat tidur.
__ADS_1