
Keesokan harinya.
Yeri yang masih terbaring di ranjangnya, menikmati ranjang empuk yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ranjangnya dulu terlalu keras, membuat tidurnya tak senyaman sekarang.
Arga yang sudah bangun lebih dulu, dia berjalan ringan membuka kelambu yang menutupi sinar masuk ke ruangan kamarnya.
“Eh… Pergi, jangan ganggu aku tidur!!” teriak Yeri, menutup wajahnya dengan bantal dari silaunya matahari yang menembus langsung ke wajahnya.
Arga berdengus kesal, dia melirik jam tangan di pergelangan tangannya menunjukan pukul 7 pagi.
“Cepat bangun!! Atau aku siram kamu pakai air, ini jam berapa. Bukanya kamu mau pergi?” ucap Arga dengan anda kerasnya. “Mau lihat kondisi ayah kamu tidak?” tanya Arga, menarik selimut yang masih membungkus tubuh wanita di depannya.
Mendengar nama ayah, Yeri beranjak bangun, duduk tepat di depan Arga. “Apa ayah aku ada di siji?” tanya Yeri, sembari mengusap matanya.
“Enggak ada?” Arga menggelengkan kepalanya.
“Pantas kamu gak dapat kerja, kebiasaan kamu selalu bangun siang, dan telat!!” sindir Arga.
Yeri menguntupkan bibirnya, “Bukan urusan kamu!!” jawabnya singkat, menarik sudut bibirnya tipis.
Arga mencengkeram ke dua pipi Yeri di antara jari telunjuk dan ibu jarinya. Sedikit menekannya manja. Membuat bibir gadis itu sedikit manyun bergerak-gerak ke depan.
“Kamu jangan banyak bicara, sikat gigi sana. Bau tau” ucap Arga, melepaskan tangannya, lalu mengusap ujung kepala Yeri.
Ini cowok kenapa ya? Apa dia sudah gak waras? Atau memang dia lagi punya kelainan? Aneh banget, tiba-tiba sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat.
“Cepat mandi!! Aku tunggu kamu di luar,!!” Arga beranjak berdiri, dan bergegas keluar dari kamar Yeri.
Hah… Dasar cowok, kalau lagi ada maunya saja baik. Gumam Yeri, membaringkan tubuhnya lagi dnegan ke dua tangan terlentang.
“Aku harus segera bersiap? Lagian ini jadwal aku untuk bertemu ayahku. sudah dua hari aku tidak melihatnya. Semoga saja ayah aku sudah sadar sekarang!!” Yeri bangkit dari ranjangnya, beranjak menuju ke akar mandi, membasuh tubuhnya yang terasa lengket itu.
Selesai mandi, Yeri langsung bersiap untuk memakai baju yang sudah di siapkan Arga di atas ranjangnya.
"Kapan cowok itu bawa baju ini? Tadi perasaan dia datang gak bawa apa-apa. Ah… entahlah, aku pakai dulu saja. Lagian aku juga gak ada baju lagi.
Sesuai pakai baju, ia berjalan keluar menuju ke meja makan, menghampiri Arga yang sudah dari tadi menunggunya. “Makanlah dulu!!” ucap Arga.
__ADS_1
“Iya…” Mereka segera makan
Kelunting… Ting…
Suara ponsel Yeri yang terdengar sangat aneh, membuat Arga tertegun sejenak, dai mengusap bibirnya dengan sapu tangan.
Yeri segera mengambil ponsel di tas miliknya, dia tersenyum lebar saat melihat orderan baru untuknya. Ada yang menyewa jasanya untuk menemaninya pergi ke acara keluarga di luar kota.
“Apa yang kamu lihat?” Arga yang berdiri di belakang Yeri segera meraih ponsel Yeri, dan beranjak menuju tong sampah di dapur. Laki-laki itu membuang ponselnya, dan kembali menarik tangan Yeri untuk bergegas pergi.
“Lepaskan aku!!” ucap Yeri, menarik tangannya dari cengkeraman Arga.
“Kamu masuk sekarang, dan ikut aku!!”
“Kemana?” jawab Yeri kesal, dia mengusap tangannya yang terasa sakit.
“Itu ponsel aku juga kenapa kamu buang, itu sumber uang aku!!”
“Aku akan berikan yang kamu mau,” Arga memegang lengan Yeri menariknya masuk ke dalam mobil.
Arga hanya diam dan bergegas masuk ke dalam.mobilnya, tanpa menjawab ucapan Yeri, dia mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju ke kantornya.
Sampai di kantor Yeri yang masih kesal dari tadi di diemin laki-laki yang membuatnya kesal itu.
Arga menarik tangan Yeri kasar, berjalan cepat masuk ke dalam kantornya.
“Selamat pagi, tuan!!” sapa beberapa pegawai yang sedang lalu lalang berjalan masuk ke kantornya.
“Kamu bisa pelan gak jalannya,” ucap kesal Yeri.
“Diam!!”
“Tuan ada apa?” Jun berjalan mendekati Arga yang terlihat kesal, wajahnya mencuram menahan emosi entah sejak kapan dan kenapa dia emosi.
“Kamu sudah siapkan apa yang aku minta?” tanya Arga tanpa menatap ke arah Jun.
“Sudah tuan, ini!!” Asisten pribadinya itu menyerahkan sebuah lembaran kertas di map biru.
__ADS_1
“Baik, makasih!!” ucap Arga segera menarik tangan Yeri kembali masuk ke dalam ruangannya.
Hah… Lebih baik nurut saja, setelah itu minta uang untuk beli ponsel baru, lagian ponsel aku itu sudah jelek, kalau soal pelanggan aku bisa cari lagi. Gumam Yeri, menarik dua sudut bibirnya. Pikirannya melayang membayangkan hidupnya bersama dengan Arga yang di penuhi banyak uang, minta ini itu di berikan.
“Dasar gadis aneh!!” ucap Arga, beranjak duduk. Lalu melemparkan amplop itu ke depan Yeri kasar.
Brakk.
Suara keras iti sontak membuat Yeri terjingkat, dia menatap kesal wajah laki-laki yang kini lebih bengis dari sebelumnya.
“Eh… Sekarang aku gak bisa di perlakukan seperti ini terus,” ucapnya sembari menepuk meja kerja Arga. “Kamu memang punya uang
. tapi jangan seenaknya kasar dengan wanita, aku gak suka kamu ikut campur urusan aku,” jelasnya.
“Dan ingat, aku bukan wanita gampangan yang bisa kamu manfaatkan begitu saja.”
“Sudah bicaranya, sekarang aku ingin kamu baca itu. Jika kamu mau ayah kamu bisa dapat pengobatan terbaik!!”
Yeri menutup mulutnya rapat, wajahnya yang semula menyala penuh kemarahan, kini perlahan mulai redup, dia duduk di kursi mengambil map di depannya.
“Apa yang di katakan kemarin malam benar? Kalau memang iya, aku beruntung selali bisa menikah dengannya? Eh… bentar-bentar tapi aku gak mau menikah dengannya. Aku akan lebih fokus saja pengobatan ayah aku.” pikir Yeri lirih, tersenyum tipis sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
Arga beranjak berdiri, duduk di atas meja tepat di samping Yeri. Dia mendekatkan wajahnya dan berbisik. “Kalau kamu gak nurut, jangan harap kamu bisa keluar dari belenggu hasratku!!”
Yeri hanya diam, dia membuka lembar pertama surat perjanjian itu. Yang intinya dari surat itu bahwa dia akan menjadi suami istri selama satu bulan, namun tanpa resmi menikah. Dan Arga bilang jika Yeri tidak boleh mrnyentuhnya, dan tidak boleh tidur seranjang harus pisah ranjang. Karna status bukan istri sah, tapi palsu dan hanya sebatas bayaran. Dan dia akan mendapatkan uang sebesar yang dia mau jika selama 1 bulan bisa membuatnya berubah.
Arga berdiri, melangkah dua langkah dan berdiri di belakang kursi Yeri, dia meletakkan tangannya di atas pundaknya, lalu mendekatkan kepalanya, dan mengigit telinga kanannya.
“Shittt…” spontan wanita itu, menarik tubuhnya sedikit serong, dia menoleh cepat seakan sudah siap menghujani pukulan bertubi-tubi.
“Kamu harus mau…” ucap Arga, “Jika kamu mau ayah kamu cepat sembuh,”
“Jika kamu mau cium aku!!” lanjutnya.
Ucapan Arga seketika membuat Yeri berdengus kesal, ingin sekali menghujani dia sebuah pukulan tepat di wajahnya, tapi dengan sekuat hati dia menahannya.
Ini demi ayah… Demi ayah… Gumamnya.
__ADS_1