
Hari ini Yeri lembur lagi. Dan, itu juga karena ulah laki-laki nyebelin itu. Yeri duduk di kursi kerjanya. Dengan bibir yang masih manyun beberapa senti. Tak berhenti Yeri mengumpat kesal beberapa kali. Bahkan dia terus menggerutu tak jelas. Sembari mengerjakan pekerjaan yang menumpuk.
Yeri menghela napasnya. Dia tidak bisa hanya tinggal diam. Dia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir dua jam lembur. Tidak ada orang disana kecuali dirinya. Bahkan salah satu karyawan yang lembur juga baru saja pulang.
"Sialan, tuh, orang!" umpat kesal Yeri.
"Awas saja nanti kalau pulang. Aku tidak akan tinggal diam," Yeri menggerutu kesal.
Sepertinya dia sengaja untuk membuat dia seharian di kantor. Atau, mungkin dia memang sengaja agar dia menemaninya di kantor. Arga juga masih belum keluar dari ruangannya. Pekerjaan yang menumpuk membuat otak Yeri terasa penat.
"Arrggg.." Yeri yang frustasi. Dia mengacak-acak rambutnya beberapa kali. Kepalanya terasa lelah, Yeri meletakkan kepala di atas meja. Sambil menghela napasnya lagi.
"Hufttt.. Sangat, melelahkan!" kesal Yeri
Yeri kembali memulai pekerjaannya lagi. Dia bahkan lebih bersemangat lagi. Hingga satu jam berlalu. Jarum jam menunjukan pukul 8 malam. Yeri akhirnya bisa bernapas lega kali ini.
"Akhirnya selesai juga.. Semoga saja laki-laki itu sudah pulang." gumam Yeri, menarik ke dua tangannya ke atas, merenggangkan otot punggungnya yang terasa kaku terlalu lama duduk di kursi dengan mata yang terus menatap komputer depannya.
Yeri melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Ia menghela napasnya. "Sudah jam 8 malam. Dan sepertinya di luar sudah gak ada orang lagi." gumam Yeri, dia segera membereskan semua yang berserakan di meja.
Ia segera memasukan barang-barang dan ponselnya ke dalam tas. Dengan segera wanita itu keluar dari kantor.
"Awas saja kalau nanti aku bertemu denganmu. Aku akan kasih pelajaran nanti." pekik Yeri menguntupkan bibirnya kesal. Dia tak berhenti mengoceh di setiap langkahnya.
Langkah Yeri terhenti. Dia melirik ke belakang. "Sekarang, apa dia juga lembut?" tanya Yeri dalam hatinya.
"Meski aku dan dia suami istri. Bahkan semua karyawan disini sama. Dia tidak pernah membedakan pekerjaan karyawan satu dan yang lainya," Yeri terdiam, hatinya mulai bersimpati dengan kebaikan hati Arga. Pikiran positif tiba-tiba muncul di otaknya. Dia mengira memang Arga tidak pernah membedakan apapun.
"Bentar, kenapa aku mengingat dia lagi?" gerutu Yeri. Menarik bibir bawahnya lebih maju dari pada bibir atasnya.
"Dia tega dengan istrinya," kesal Yeri. "Bahkan, dia tidak menemaniku sama sekali tadi."
"Arga… Arga… Arga.. Argga… aku ingin sekali memakanmu." gumamnya kesal. Mengepalkan kedua tangannya. Sembari memperagakan bagaimana dja makan daging ayam begitu lahapnya. Sembari menghentakan kakinya kesal.
Yeri melanjutkan langkahnya lagi. Dia segera berjalan keluar dari kantor.
Langkah Yeri terhenti saat melihat tetesan air turun dari atas. "Hah… Hujan" gumam Yeri, mengangkat tangannya, membuka telapak tangannya mencoba cek apa benar hujan.
"Sialan, hujan lagi." gerutu Yeri. "Senangnya dimana Arga, apa dia tega membiarkan istrinya pulang malam sendiri." kesal Yeri.
Yeri terdiam seketika. Saat dia mengingat yang masa lalunya. Dia memejamkan kedua matanya. Perlahan amarah itu mulai hilang dalam dirinya.
"Hujan ini… Benar-benar mengingatkanku pada seseorang." Yeri tersenyum tipis. Ia mengingat masa lalu saat dia masih kecil. Di kisah indah itu masih terbayang dalam pikirannya. Tapi dia juga tidak tahu, di mana orang yang selalu memberikan dia payung saat pulang sekolah. Dan hujan membuat kenangan tersendiri baginya.
Cinta pertama yang membuat dirinya tidak bisa lupa sampai sekarang. Entah dimana dia sekarang. Bagaimana keadaannya. Tapi, kematangan bersama masih melekat dalam pikirannya. Yeri bahkan tidak bisa menghapusnya. Meskipun sudah beberapa kali berusaha menghapus kenangan itu.
Yeri membayangkan lagi. Bagaimana dulu mereka bersama. Penuh dengan canda tawa. Dia yang peduli dengan hal-hal kecil.
#Flashback
Saat pertama kali sekolah di sekolah dasar terdekat dari rumahnya. Baru pertama kali sekolah. Pulang sekolah hujan lebat. Dan ayahnya masih bekerja. Dan gak mungkin memberikan payung untuknya.
"Yeri… Kamu gak bawa payung?" tanya salah satu teman sekolahnya.
"Enggak! Aku di sini saja nunggu sampai hujannya reda," ucap Yeri.
"Tapi hujannya sangat lebat. Kamu gak apa-apa di sini?" tanya temannya gak tega membiarkan Yeri sendiri di teras sekolahan.
"Bagaimana kalau kamu bawa payungku?"
"Gak usah, kalian pergi saja. Lagian hanya menunggu sebentar saja." gumam Yeri.
"Baiklah, kita pulang dulu, ya."
"Iya.. Hati-hati.." teriak Yeri.
Semua teman Yeri sudah pergi meninggalkan Yeri. Dan, Yeri hanya berdiri memeluk tubuhnya sangat erat. Sekujur tubuhnya gemetar seketika. Bibirnya mulai memucat saat, hujan bukannya reda tapi semakin derasnya.
Dari kejauhan seorang laki-laki duduk di belakang jok mobil hitam. Ia menatap ke arahnya dari balik kaca hitam mobilnya. Perlahan mobil itu melaju ke arahnya. Seorang laki-laki menggunakan jaket tebal keluar membawa payung ke arahnya.
__ADS_1
"Pakailah" ucapnya.
"Gak usah."
"Aku yang pinta kamu."
"Gak usah, gak apa-apa, kok." jawab Yeri, sembari memeluk tubuhnya.
"Ambil gak?" geram laki-laki itu.
"Gak usah!"
Laki-laki kecil itu terdiam. Menatap tajam mata Yeri dari balik topi jaketnya yang menutupi wajahnya.
Merasa kesal. Laki-laki itu melempar payungnya. Lalu memberikan jaket yang ada di tangannya, padanya.
"Pakailah!"
"Gak, aku gak bisa menerima bantuan dari orang lain," ucap Yeri.
"Jangan banyak bicara! Pakailah. Di luar sangat dingin. Jangan sia-siakan hidupmu untuk menunggu hujan reda. Bisa-bisa hujan reda kamu yang gak ada." ucap laki-laki itu, berjalan menjauh. Perkataannya membuat Yeri kecil merasa sangat kesal. Ia menggeram kesal, mengepalkan tangannya seakan ingin sekali memukulinya.
Tapi dia baik juga, meski sifatnya sedikit jutek. Lumayan juga, setidaknya dia masih punya hati.
Laki-laki itu masuk ke dalam mobil, dan mobil itu dalam hitungan detik saja sudah melaju menjauh darinya. Belum sempat Yeru berterima kasih padanya. Yeri hanya bisa tersenyum tipis melihat mereka pergi.
"Siapa dia? Aneh?" gumam Yeri sedikit kesal.
--------
Dasar wanita, bukanya pulang malah melamun di depan melihat hujan.
Arga berjalan mendekati Yeri. Dia yang baru keluar dari kantornya. Wajahnya terlihat begitu lelah. Tapi rasa pelan itu hilang saat melihat wajah cantik Yeri berada di depannya.
Ia melepaskan jas miliknya, mengangkat jasnya dengan kedua tanganya menutupi kepala Yeri.
Aneh? Apa hujannya berhenti? Tapi di depan kenapa masih hujan?
"Hujannya sudah reda?" gumam Yeri. Ia tersenyum gembira. Senyuman itu seakan pudar. Saat merasakan hembusan napas berat yang terdengar jelas di telinganya.
Perlahan wanita itu menoleh menatap ke kanan. Seorang laki-laki melepas jas miliknya. Jas hitam itu kini berada di atas kepalanya.
"Arga?" gumam Yeri lirih. Jantungnya berdegup sangat cepat saat Arga perlahan mulai mendekatkan lagi wajahnya.
"Jangan melamun." bisik Arga. Dibalas dengan senyuman tipis.
"Jalanlah!" pinta Arga. "Kebiasaan dimanapun kamu berada, selalu melamun. Jika ada seorang pencuri Barangnya dicuri kamu juga pasti tidak akan tahu,"
Perlahan Yeri mulai melangkahkan kakinya. Ia tak hentinya terus menatap wajah Arga. Baru kali ini dia punya sisi baik juga. Yeri merasa sedikit aneh. Kenapa dia baik, apa ada maunya. Pikiran Yeri terasa begitu kacau. Bagaimana tidak, Yeri merasa dirinya begitu berarti kali ini.
Kedua mata mereka saling menatap. Tersenyum tipis. Hati Yeri terasa tertarik ingin sekali memeluknya. Tubuh kekarnya membuat dia merasa ingin berada di dekapannya. Dia ingin merasakan pelukan hangat seorang laki-laki. Apalagi bisa merasakan roti sobek yang bersembunyi di balik kemeja putihnya.
"Gimana kalau kita lari, sebelum baju kita basah." gumam Arga.
"Baiklah!" Yeri berlari bersamaan dengan Arga. Yeri mengangkat tangannya memegang jas hitam di atas bersama dengan kedua tangan Arga.
Aaww---
Yeri tergelincir. Ia terjatuh dalam dekapan tubuh Arga. Arga menjatuhkan jas miliknya. Membiarkan derasnya air hujan membasahi tubuh mereka. Tanpa sengaja tangan Yeri menyentuh dada bidang Arga. Dia menyentuh roti sobek yang sedikit mengintip di kemeja putih.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Arga.
Yeri merasakan kakinya yang tiba-tiba tidak bisa buat berdiri tegap.
"Gak, kok. Kakiku sakit." gumam Yeri. "Sepertinya kakiku terkilir," gerutu Yeri. Dia segera melepaskan tangannya dari dada bidang Arga Dan, fokus mengecek kakinya yang masih sakit.
Tanpa banyak bicara Arga mengangkat tubuh Yeri. Dan, membawanya masuk ke dalam mobilnya. Tak lupa laki-laki itu memakaikan sabuk pengaman milik Yeri. Menyilangkan di tubuhnya.
Kenapa hari ini dia baik padaku? Apa ada yang salah dengan otaknya? Atau memang dia lagi konslet, atau dia lagi pura-pura baik. Tapi sepertinya, gak, Deh. Aku juga baru kali ini melihat dia tersenyum.
__ADS_1
Kedua mata Yeri terus menatap wajah tampan Arga. Dalam hati dia terlihat begitu bingung. Apa yang harus dilakukan. Bahkan dia juga tidak tahu, harus berbuat apa lagi. Kedua mata mereka saling memandang satu sama lain. Yeri bergumam dalam hatinya. Dia berharap ingin sekali merasakan kehangatan perhatian kecil dari Arga setiap hari.
Yeri tersenyum tipis. Kedua mata itu tidak mau beranjak dari wajah Arga. Tatapan kagum terlihat jelas di wajahnya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Arga.
"Gak apa-apa." ucap Yeri tersenyum. Yeri mengerutkan keningnya sangat dalam. Dirinya bahkan baru sadar jik dari tadi mereka hujan-hujan di luar. Dalam genggaman tangan Yeri juga jas hitam yang semula dipakai oleh Arga. Entah sejak kapan sudah berada di tangannya.
"Kamu segera masuk ke mobil. Di luar bukanya semakin deras."
"Apa kamu mulai khawatir denganku?" tanya Arga. Menatap kedua mata Yeri. Seketika Yeri memalingkan pandangan matanya. Wajahnya mulai memerah malu. Yeri segera menyembunyikan wajah cantiknya.
"Kenapa wajahnya memerah, aku hanya tanya. Jika kamu khawatir padaku. Berarti kamu mulai jatuh cinta padaku?" tanya Arga memastikan.
Yeri menghela napasnya. Dia mulai membrranukanndirjnya lagi. Menatap kedua mata Arga.
"Emm.. Khawatir? Sepertinya tidak." ucap Yeri meringis menunjukan gigi putihnya.
"Yakin," Arga memegang pipi Yeri. Kesekian kalinya kedua mata Yeri langsung bertemu. Arga menatap wajah Yeri mengusap pipinya lembut, perlahan wajah Arga mendekat tepat di depan wajah Yeri.
Kenapa aku gak bisa menghindar darinya? Tubuhnya terasa diikat ribuan tali. Membuat aku tak bisa berkutik sama sekali. Tatapannya membuat bibirku membisu.
Hembusan napas berat mereka saling beradu satu sama lain. Yeri memejamkan matanya, ia menelan ludahnya dalam-dalam. Ia pikir Arga akan memberikan sebuah kecupan padanya.
"Kamu kenapa?" tanya Arga.
Yeri membuka matanya, ia mengedip ngedipkan berkali-kali. Tadi ada coretan bolpoin di pipi kamu." Arga tersenyum, menutup pintu mobilnya dan berlari keluar depan mobil.
Sementara Yeri terdiam wajahnya memerah malu seketika.
Yeri kamu berkali-kali bertindak bodoh. Lagian kenapa tadi kamu memejamkan mata segala. Dan kenapa juga kamu berharap jika Arga menciumku. Oh.. Tuhan.. Jauhkan pikiran kotor ini dari kepalaku.
Arga melirik sekilas ke arah Yeri. Yang terus menggerutu gak jelas. Sembari menutupi wajahnya. Perlahan laki-laki itu menjalankan mobilnya keluar dari parkiran menembus derasnya hujan.
"Yeri…" panggil Arga.
"Ada apa?" tanya Yeri tanpa menatap sama sekali ke arah Arga. Ia masih malu dengan apa yang sudah dilakukannya tadi.
"Kamu kenapa diam?" tanya Arga.
"Gak apa-apa, hanya saja aku ingin melihat hujan."
"Apa bagusnya hujan."
"Gak ada bagusnya. Tapi hujan membawa kebahagiaan tersendiri bagi orang yang punya kenangan terindah dengan hujan."
Arga menarik sudut bibirnya. "Memangnya kamu punya kenangan terindah?" tanya Arga dengan nada sedikit mengejek.
Harusnya kamu yang tanya pada dirimu sendiri. Emangnya orang jutek seperti kamu punya kenangan terindah.
**
Melihat Yeri menggigil kedinginan. bukanya menawari dia jaket. Arga sekilas menatap bagian dada Yeri yang begitu terlihat jelas saat tubuhnya masih basah terkena air. Ingin dia menghindari mata kotornya itu. Tapi itu terlihat jelas. Membuatnya tak segan-segan lagi melihatnya. Lagian juga pemandangan gratis baginya. Melihat istrinya sendiri juga tak masalah.
"Jauhkan matamu." ucap Yeri, bibirnya gemetar pucat. Kedua tanganya menutupi bagian dada Yeri. Memalingkan Tubuhnya ke arah pintu mobil membelakangi Arga. Mengacuhkan dirinya.
"Kenapa kamu menatap ke arah sana?" tanya Arga. "Apa suami kamu kurang tampan?" tanya.
"Memangnya aku di luar lihat siapa? Apa ada laki-laki yang malam-malam keluar hanya untuk hujan-hujan."
"Ya, siapa tahu ada laki-laki lewat. Dan kamu curi pandang dengannya." Arga sedikit jutek. Meski dalam hati ia tak tahu, kenapa juga jadi terlalu over padanya.
"Iya, aku lebih suka curi pandang dengannya. Daripada dengan kamu." pekik Yeri, tersenyum sekilas. dan kembali membelakangi Arga.
"Arga menatap ke samping. Tak ada laki-laki yang melintas di sana. Hanya rintikan hujan yang menghalangi pandangan katamu.
"Kamu sebenarnya lihat apa?" tanya Arga penasaran.
"Lihat hujan." jawabnya jutek.
__ADS_1