
"Kita mau kemana?" tanya Yeri memastikan.
"Nanti kamu juga tahu, sekarang lebih baik kamu diam saja. Jangan banyak bicara." Pekik Arga. Ia kembali fokus menyalakan mesin mobilnya.
Yeri menatap ke arah Arga. Meski dirinya begitu dingin, tapi setidaknya dia perduli dengannya. "Jangan menatapku seperti itu. Sekarang lebih baik, kamu pakai sabuk pengaman itu."
Yeri mencoba mengatur napasnya. Sejak kapan, ia juga tidak tahu. Tubuhnya semakin gemetar hebat. Dia gugup, atau malu? Bahkan dia sendiri tidak tahu. Apa yang terjadi padanya. Seakan itu bukan dirinya yang sebenarnya. Baru pertama kali dalam hidup Yeri. Dia gugup jika bersanding dengan laki-laki. Di setiap pekerjaannya yang harus dekat bahkan bermesraan dengan laki-laki tak segugup ini.
Pengalaman ini membuat dia bingung. Apa yang sedang dia rasakan. Yeri mencengkeram ujung rok miliknya.
Mungkin ini karena aku belum makan saja, jadinya gugup. Berpikir positif. Tidak mungkin juga aku suka dengannya. Aku lapar belum makan saja. Gumam Yeri dalam hatinya. Ia tersenyum kembali.
"Pakai seat belt, milikmu sekarang."
Yeri membuyarkan lamunannya. Ia menatap ke arah Arga. Semula dia sedikit bingung. Mencoba mencerna apa yang di katakan Arga.
"Sabuk pengaman? Mana? Gak ada," Yeri memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Dirinya yang begitu gugup. Ke dua tangannya gemetaran. Saat mencoba mengambil sabuk pengaman miliknya.
"Sudah diam sekarang!" Arga beranjak, ia segera membenarkan sabuk pengaman menyilang di tubuh Yeri. Sesekali arga mencari kesempatan pada Yeri, menatap wajah cantik wanita itu dari dekat.
Mungkin saat ini yang ada di pikirannya. Yeri begitu menyebalkan. Dan sedikit kampungan. Baru begitu saja sudah gugup.
"Bilang saja kalau kamu mau dekat denganku." gumam Arga ke dua mata Yeri terbuka lebar.
"Tunggu!" ucap Yeri, ia memegang lengan Arga. Membuat laki-laki itu menghentikan gerakannya. Dia menatap ke arah Yeri dengan pandangan mata bingung.
Ke dua mata mereka saling tertuju, terkunci, dan saling beradu satu sama lain. Yeri sontak memegang dadanya. Degup jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Hatinya campur aduk. Antara senang, atau benci, atau dia merasa kesal.
Tatapan mata tajam itu begitu menusuk jantungnya. Meluluhkan hatinya yang semula kokoh. Yeri seketika menelan ludahnya. Mencoba mengatur napasnya kembali. Desisan udara kecil keluar dari bibir mungilnya.
"Apa yang harus aku lakukan." lirih Yeri
"Kamu sengaja menggoda ku."
Entah sejak kapan wajah Arga sangat dekat di depannya. Tak hanya dekat lagi.. Tubuhnya bahkan hampir saja menempel. Yeri yang gugup spontan dia mencoba menarik tubuhnya ke belakang. Baru ingat, ia sedang duduk. Ia tak bisa menghindari tubuh laki-laki di depannya itu.
What… Apa ini? Kenapa jantungku? Apa jantungku ada masalah? Atau dulu aku punya riwayat jantung. Matanya sangat denganku.. Oh.. Tuhan, selamatkan aku dalam posisi ini. Aku gak sanggup lagi.
Yeri memejamkan matanya, mengernyitkan wajahnya, tubuhnya gemetar takut.
"Ada apa?" tanya Arga, mencubit dagu Yeri.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Yeri kesal.
"Aku sudah bilang padamu. Jangan terlalu banyak menatapku. Kalau kamu suka padaku. Aku juga yang repot. "
"Kenapa harus repot?"
Arga menghela napasnya. "Karena kamu sangat menyusahkan."
__ADS_1
"Setidaknya aku bisa lebih baik, kan. Aku tak terlalu menyusahkan kamu."
"Sudah.. duduklah!" Arga beranjak duduk lagi. Mulai mengemudi mobilnya keluar dari parkiran apartemen.
"Jangan bawa aku pergi jauh."
"Sekalian aku bawa kamu ke laut. Buang di sana!" canda Arga.
"Buang? Ke laut?" wajah Yeri terlihat sangat panik seketika. Dirinya menarik tubuhnya menatap ke arahnya.
"Aku gak bisa berenang." gumam Yeri, tertunduk, mengatupkan bibirnya seperti anak kecil.
"Aku tidak suruh kamu berenang." ucap Arga. Ia tersenyum tipis menahan rasa tawa yang ingin keluar dari bibirnya.
"Terus tadi katanya mau membuangku? Kalau kamu melemparkanku ke laut, setidaknya aku belajar berenang dulu. Agar bisa tetap selamat." Canda Yeri, tersenyum tipis.
Arga tersenyum paksa.
"Udah, sekarang kamu diam saja. Bawel."
"Oke, aku diam. Tapi ingat jangan ngebut bawa mobilnya. Aku masih belum punya pacar."
Arga melirik tajam ke arah Yeri. Kali ini dia benar-benar bingung dengan apa yang di katakan Yeri. Dia selalu membuatnya geram, dasar wanita aneh!
"Aku gak tanya kamu punya anak atau tidak, kamu punya pacar atau tidak.Yang, penting sekarang itu, kamu adalah pacarku." tegas Arga. "Sekarang lebih baik diam saja."
"Oke aku diam, jadi jangan ajak aku bicara."
Hampir setengah jam perjalanan. Yeri hanya diam, mulutnya seakan terkunci sangat rapat. Dan sama sekali tak mau terbuka. Pandangan matanya tertuju pada kaca mobil, menatap pemandangan luar. Sesekali ia tak mau melihat wajah Arga sama sekali. Bukanya marah, tapi sesuai perintahnya. Jika dia menatapnya, ingin rasanya selalu mengajaknya bicara. Kalau seperti ini dia bisa diam.
"Yeri.." panggil Arga.
Yeri yang mendengarnya, dia hanya diam. Tak mau membuka sama sekali mulutnya.
"Yeri….."
Arga terlihat sangat marah. Namun, tidak dengan Yeri. Dia terlihat sangat santai. Tak mau perdulikan Arga sama sekali. Ia hanya berdesis pelan, menarik ke dua alisnya ke atas.
"Oma tadi bicara apa padamu?" tanya Arga memulai pembicaraan lebih dulu.
Yeri yang masih diam membuat Arga menggeram. Ia menarik napasnya dalam-dalam mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Udahlah, kalau kamu gak mau jawab. Sekarang lebih baik turun. Aku gak mau bicara sama patung." Arga sudah memelankan laju mobilnya bersiap untuk turun.
Mendengar amarah Arga. Bukannya dia segera berbicara. Yeri terlihat memutar bola mataku dulu, sedikit menatap aneh pada Arga.
Dia ini kenapa? Apa dia sudah lupa apa yang di katakan? Atau jangan-jangan dia hilang ingatan. Ya, gak masalah kalau memang hilang ingatan. Lebih baik seperti itu.
"Eh... Kamu, punya mulut, kan? Atau jangan-jangan mulut gak bisa di buka? Atau kamu sudah gak bisa bicara lagi?" marah Arga.
__ADS_1
Yeri memincingkan salah satu matanya. "Eh.. Kamu lupa, tadi kamu memintaku untuk diam Dan sekarang kamu malah menyuruhku bicara." pekik Yeri tak mau di salahkan. Dia mencoba membela dirinya sendiri. Dari pada laki-laki dingin itu terus marah gak jelas padanya. Rasanya ingin sekali menampar wajahnya. Ya, memberikan bekas tangan di pipinya sepertinya itu lebih baik.
Yeri berdengus kesal. "Menarik tangan Yeri menatapnya semakin dekat. Tanpa banyak bicara, Arga mengecup bibirnya. Lalu mengecup lehernya. Membuat wanita itu terdiam kaku, tubuhnya ingin sekali menolak. Tapi tangan dan kakinya tak bisa menolaknya. Yeri menyentuh bibirnya. Bekas kecupan itu seakan masih terasa di bibirnya.
"Bibir kamu membuat aku kesal, lebih baik sekarang. Kamu jangan ajak bicara denganku lagi."
Ye… Siapa juga yang ajak dia bicara. Padahal dia sendiri yang tadi mengajakku bicara. Semua laki-laki aneh ya, seperti kamu. Bikin kesal, saja.
Yeri memutar matanya malas, mengacuhkan ucapan Arga. Seakan tak perduli lagi apa yang dia katakan.
-----
Sampai di tujuan, Yeri beranjak turun dan di susul Arga turun belakangan. Kedua mata Yeri. Terkejut seketika saat melihat sebuah club malam di depannya.
"Ini? Kita mau ke sini?" tanya Yeri memastikan.
Arga hanya diam, mengangguk anggukkan kepalanya pelan. Ia berjalan masuk lebih dulu. Meninggalkan wanita cantik yang masih ragu untuk masuk. Gimana jadinya dia masuk ke dalam club lagi. Mungkin hal kemarin sebelum kenal dia terulang lagi.
"Sekarang aku masuk atau tidak? Kalau aku gak masuk? Nanti dia? Kalau dia dengan wanita lain gimana? Aku gak bisa bayangkan? Kalau joget-joget sama wanita lain." gumam Yeri, menggaruk kepala belakangnya yang terasa tak gatal itu. Ia mencoba untuk tetap santai.
"Apa yang kamu inginkan, kenapa kamu terlihat begitu polosnya, Yeri. Ini bukan pertama kalinya kamu masuk ke sebuah club malam. Setidaknya aku harus lihat dia, bersama wanita atau tidak. Yeri menarik napasnya dalam-dalam, dan dia siap melangkahkan kakinya masuk ke dalam club malam.
Semua mata tertuju padanya. Yeri hanya diam, tertunduk, bukanya takut, entah kenapa semenjak nikah. Dia merasa tak begitu suka lagi ke club malam. Ya, meski dia tahu, sih. Kalau pernikahan itu hanya sementara.
"Hai.. Cantik…"
"Kamu terlihat sangat sexy, baby." beberapa orang laki-laki menatap tubuhnya dengan tatapan kotor. Tak sedikit yang menggodanya, mencoba mencolek tubuhnya.
"Jangan menyentuhku!" pekik Yeri.
"Kenapa?" tanyanya. Mereka bukanya jera. Para hidung belang itu mendekat ke arahnya, semakin dekat. Dan mulai menggodanya lagi. Menyentuh bajunya. Tubuh seksinya membuat mata laki-laki menatapnya kotor. Perut ramping dengan dada terisi membuat dia terlihat sangat sempurna di mata wanita.
"Jangan sentuh aku," Yeri terus menampik tangan para pria hidung belang itu. Dia menatap tajam ke arahnya. Bukanya berhenti para pria itu semakin ganas menggodanya.
Arga berjalan dengan langkah ringan, mendorong salah satu tubuh laki-laki yang menghalangi jalannya untuk menatap Yeri. Arga meraih tangan Yeri, menariknya pergi dari para gerombolan hidung belang yang meresahkan.
"Eh.. Itu Arga, kan? Sebaiknya jangan cari gara-gara dengannya." ucap salah satu laki-laki penggoda itu.
"Jangan berani ganggu dia. Dia adalah istriku." pekik Arga.
"Maaf, tadi aku kira dia sendiri. Maaf! Saya baru tahu, jika dia istrimu."
Arga hanya diam, menarik sudut bibirnya tipis. Dia berjalan menuju ke sebuah bar, dan memesan beberapa minuman sekaligus.
"Kamu mau minum apa?" tanya Arga.
Setiap langkah Yeri tak hentinya menatap Arga. Dia sangat perhatian tapi cueknya itu tak bisa hilang.
"Apa saja?"
__ADS_1
Ah… Apa yang aku katakan tadi. Bukannya dia tahu kalau aku suka minum. Nanti kalau sampai dia tahu. Bisa mati kutu aku kalau mabuk di depan dia.