
Sudah dua hari Yeri belum bertemu dengan Arga. Dan hari ini hari ke tiga di mana kejadian itu sudah berlalu. Arga bahkan tak pernah menghubunginya. Ataupun mengirimkan kabar dirinya. Yeri tidak tahu apa dia marah dengannya. Atau dia pergi sibuk dengan pekerjaannya. Karena larangannya untuk keluar membuat dia terpaksa harus diam di rumah. Dan Jun yang selalu mengantarkan makanan untuknya.
Yeri seakan hidup dalam penjara yang membuat dia terus terpuruk secara perlahan. Namun, Yeri tak pedulikan itu. Entah kenapa dirinya masih merasa cemas pada Arga. Dia ingin mencarinya keluar. Tapi dia sadar dan takut jika Arga akan marah padanya. Dan sekarang yang dilakukannya hanya demi ayahnya.
Setelah kejadian itu. Yeri merasa sangat kesepian. Dia merindukan setiap belaian sentuhan tangan Arga. Tetapi itu tak mungkin. Hanya bayangannya yang selalu menemaninya selama dua hari. Di saat dia merasa cemas, dirinya hanya mondar mandir di dalam apartemennya. Sesekali dia membaringkan tubuhnya. Merasakan nikmatnya saat dia bercinta dengan Arga.
Pelukan hangat Arga masih terasa di tubuhnya. Meski lebam dan bekas merah itu masih memenuhi tubuhnya. Yeri tak masalah akan hal itu. Dan itu membuat dirinya menjadikan sebuah kenikmatan tersendiri.
Kali ini Yeri duduk di ranjangnya. Lalu berdiri lagi, duduk lagi. Bahkan sampai berkali-kali melakukan gak sama. Sembari meremas jemari tangannya yang semakin khawatir dengan Arga.
"Arga...Kamu di mana? Kenapa kamu sama sekali tidak menghubungiku. Apa kamu lupa denganku?" gumam Yeri pada dirinya sendiri. Dia berjalan menuju ke balkon kamarnya. Melihat luar apartemennya. Dirinya terus berharap jika Arga akan pulang. Menemuinya lagi.
Yeri melirik jam tangan coklat miliknya. Jarum jam sudah menunjukan pukul 8 pagi. Dan hari ini pasti Arga sudah berangkat kerja. Tetapi dia bermalam di rumah siapa? Apa di rumah oma? Atau menginap dengan wanita itu.
Pikiran Yeri semakin cemas saat mengingat kembali tentang Cia. Wanita itu yang membuat hubungannya dengan Arga perlahan mulai renggang.
"Semoga saja dia tidak bermalam dengannya." gumam Yeri.
Tok... Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu itu menyadarkan Yeri dari lamunannya.
"Apa itu Arga?" gumam Yeri. Segera berlari membuka pintunya penuh semangat. Raut wajah kebahagiaan itu perlahan mulai hilang dalam hitungan detik wajah Yeri cemberut seketika. Saat melihat laki-laki yang berbeda dari yang diinginkan.
"Jun?" gumam Yeri mengerutkan keningnya.
"Aku ke sini hanya memberikan makanan ini. Dan tuan Arga ingin kamu segera menghubunginya. Dia memberikan kamu ponsel. Aku taruh di dalam sekalian." ucap Jun memberikan makanan pada Yeri sesuai dengan kebutuhannya setiap pagi, siang dan malam.
"Oh, ya. Sekalian cepat hubungi Tuan, jika kamu sudah bisa memakai ponselnya." ucap Jun.
Tangan Yeri merasa ragu menerima itu semua. Yang dia inginkan sekarang hanyalah sosok Arga di depannya. Bukan sosok lain.
Kenapa dia tidak datang sendiri ke sini. Dia kenapa selalu Jun, yang mengantarkan makanan ke sini. Apa dia memang tidak mau bertemu denganku? Apa.hanya gara-gara dia tahu aku pernah di sentuh laki-laki lain. Gumam Yeri.
Tanpa banyak bicara lagi. Jun berjalan menjauh dari Yeri. Semakin melangkah jauh. Yeri yang baru sadar dari lamunannya. Ia melihat Jun sudah pergi dari depannya.
Jun sudah pergi semakin jauh dan jauh.
"Tunggu, Jun!" teriak Yeri. Laki-laki itu tak mendengarnya. Dia semakin berjalan menjauh, dan jauh dari pandangan matanya.
Yeri hanya diam di depan pintu. Dia ingin sekali mengejar Jun. Tapi dirinya juga takut jika Arga tahu dan marah padanya.
Yeri segera masuk ke dalam apartemennya. Dia meletakkan makanan. Diatas meja makan. Dan segera menuju ke kamar tidurnya membuka ponsel yang di berikan Arga padanya. Dengan segera dia menyalakan ponselnya. Gak lama ponsel itu mulai menyala. Dia mencoba mencari kontak nama Arga. Dan ternyata masih kosong. Seakan Arga memang sengaja tak memberikan nomor-nomor penting di sana.
__ADS_1
Ke dua mata Yeri mengkerut saat melihat sebuah lembaran kertas di dalam kardus ponselnya. Yeri melihat sebuah nomor tertera di sana.
"Ini pasti nomornya." gumam Yeri. Dia segera mencatat di ponselnya lalu menghubungi.
"Ada apa?" suara berat khas Arga terdengar di telinganya. Suara jutek itu sudah bisa menghilangkan rasa rindu nya .
"Makasih!" ucap Yeri. "Tapi kenapa kamu tidak memberikanku ponsel lama?" tanya Yeri lagi.
"Itu lebih baik." ucap Arga jutek.
"Tapi yang lama juga masih bisa di gunakan."
"Nurut saja. Tinggal pakai jangan banyak komentar." gumam Arga.
"Syaang... Siapa? " suara perempuan dari balik ponsel itu membuat Yeri terdiam seketika.
"Kamu di mana?" tanya Yeri memendam kekesalannya.
"Di kantor."
"Apa Yeri?" suara perempuan itu terdengar lagi.
"Cia... Sudahlah jangan bicara dulu. Nanti saja menggodanya. Lagian besok kita juga bersama. Jangan melakukannya di kantor lagi."
Apa ada Cia di kantornya. Kenapa dia masih saja menggoda suamiku. Ala sebenarnya yang di inginkan wanita itu." gumam Yeri mencengkeram erat ponselnya.
Drrrttt.. Drttt
Sebuah pesan dari seseorang. Yang pastinya dia juga tahu jika itu pasti Arga. Hanya dia yang tahu nomor ponselnya.
"Jangan keluar kemana-mana. Nanti aku akan pulang. Siapkan tubuh kamu." isi pesan itu.
Apa aku hanyalah sebuah dibutuhkan saat dia menginginkan tubuhnya sementara di kantor dia bermesraan dengan wanita lain. Apa hatiku tak merasa terus khawatir jika terus seperti ini. Aku gak sanggup lagi jika harus seperti ini. Tapi aku belum mendapatkan apa-apa. Dan hanya mendapatkan perawatan ayahnya.
Yeri memejamkan matanya. Air mata tak kuasa menetes di pipinya.
Sedangkan Arga masih bercumbu mesra dengan Cia di kantornya. Seakan sudah jadi kebiasaan setiap harinya seperti itu. Dia memuaskan Cia hanya making love. Merasa puas. Cia juga segera pergi dari sana. Sebelum omanya tahu tentang semuanya. Tetapi sepertinya Arga tak mengijinkannya.
"Sayang, emm... Sayang.." desah Cia, mengulum bibir Arga. Mereka saling membalas membuat gairah mereka saling beradu. Cia duduk dalam pangkuan Arga.
Tok... Tok.. Tok..
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuat Arga segera membenarkan risleting miliknya. Mendorong tubuh Cia menjauh darinya. "Minggirlah dulu." pinta Arga.
"Masuklah!" ucap Arga.
"Maaf, tuan mengganggu." ucap Angel berjalan masuk ke dalam ruangan Arga. Ke dua matanya membulat saat melihat Cia dengan pakaian yang masih berantakan. Dan dalaman yang masih berceceran di lantai.
"Ternyata benar kata Yeri. Memang dialah dalang semuanya. Dia wanita murahan yang selalu mengganggu suami orang. Wanita menjijikkan. Bahkan tubuhnya sudah sering dijamah laki-laki lain. Sepertinya aku harus cari tahu tentang dia nanti." gumam Angel dalam hatinya.
"Ada apa?" tanya Arga. Membuyarkannya dari lamunannya.
"Maaf, pak. Saya hanya memberikan sisa pekerjaan kemarin." ucap Angel. Ke dua matanya tak lepas saat melihat wajah cantik wanita itu yang kini terlihat sangat menjijikkan.
"Oo. Ya, sudah. Taruh saja di situ. Sekarang kamu cepat pergi!" ucap Arga.
"Di mana?"
"Meja!"
Angel dengan tangan gugupnya. Ia meletakkan ke meja. Bukannya pergi dia hanya berhenti mencoba untuk tanya satu hal lagi padanya.
"Apa, ada lagi?" tanya Arga.
Angel mencengkeram jari-jari tangan nya. Ia terlihat sangat gugup di depan Arga. Bukannya karena dia suka. Tapi karena memang dia takut jika Arga nanti akan marah.
"Kenapa kamu diam? Memangnya ada apa lagi?" tanya Arga.
"Lebih baik kamu pergi. Apa kamu gak tahu aku lagi bermesraan berdua?" sambung Cia.
"Iya.. Aku tahu. Tapi... Aku...Aku ingin... Tanya jika..."
"Cepetan tanya apa? Kenapa kamu lelet gitu." sela Cia tak suka melihat ada wanita yang mengganggu kesenangan nya.
"Maaf... Saya hanya ingin tanya... Yeri... Dia di mana?" tanya Cia yang masih terlihat sangat gugup.
"Oo.. Yeri. Dia masih di dalam Apartamennya." ucap Arah santai.
"Apa dia tidak mau bekerja lagi?" tanya Angel memastikan.
"Tidak! Katanya dia ingin dj rumah "
"Oo.. Ya, udah! Permisi pak, saya keluar dulu."
"Iya.... Cepetan keluar." ucap Cia antusias. Dengan nada sedikit mengusirnya. Angel baru saja depan pintu. Bahkan suara ******* itu masih terdengar sangat jelas. Dia ingin sekali mengintip apa yang dilakukannya lagi. Angel mengintipnya sebelum membuka pintunya. Ia melihat Arga menyentuh tubuh Cia begitu bergairah.
__ADS_1