Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Jangan Sentuh!


__ADS_3

Sabar semoga bisa aku hidup di sini. Apalagi bersama singa menyebalkan seperti dia. Yeri menarik bibirnya sinis. Ia terdiam beberapa detik. 


"Tapi, kalau di pikir-pikir lagi. Aku juga beruntung menikah dengannya. Aku bisa tinggal di rumah mewah yang aku impikan sejak dulu. Aku punya keluarga baru. Dan, meskipun hanya palsu. Tapi, setidaknya aku tidak merasa kesepian." Yeri tersenyum bahagia. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang atau kehangatan dalam keluarga. Dia ingin punya keluarga lagi. Meskipun banyak pertengkaran. Dia dia rindu suasana seperti itu. 


Yeri menghela napasnya. Mengangkat kepalanya memutar pandangan matanya melihat sekelilingnya. Rumah yang begitu luas dengan nuansa serba warna keemasan. Dan tangga lantai dua berwarna coklat pekat, dan lampu yang menjulang dari atas sampai ke bawah.


Kedua mata itu tidak berhenti terus menatap kagum. Mulutnya menganga tak percaya. Ini bagaikan mimpi baginya. Tinggal di rumah yang begitu megah. 


Ini rumah apa istana, Benar-benar luas. Kalau aku tinggal di sini. Bagaimana dengan keluarga disini? Apa mereka menerimanya dengan baik?


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Arga, melirik tajam ke arah Yeri. Disambut dengan tatapan tak mau kalah dari wanita itu. 


Yeri mengangkat kepalanya, "Memangnya penting buatmu," ejek Yeri. "Yang penting aku tidak sama sekali memikirkanmu," lanjutnya. Menarik salah satu alisnya. Sembari menarik sudut bibir. 


"Aku yakin suara saat kamu akan memikirkan aku. Kamu pasti suatu saat tergila-gila denganku. Lagian aku tampan, tidak ada wanita yang tidak suka denganku," jawab datar Arga. Dengan penuh percaya diri.


"Enak saja! Gak akan pernah!!" sambung Yeri tegas.


"Yakin?" Arga sedikit membungkukkan badannya. Mendekatkan wajahnya tepat Di depan wajah Yeri. Salah satu alis tertarik ke atas.


"Sangat yakin!"


"Tapi aku sangat yakin, jika aku tidak akan pernah suka!"  jawab Yeri ragu. Gak mau kalah, Yeri menatap kedua mata Arga. Mendekatkan wajahnya. Kedua mata mereka saling tertuju. 


"Terserah kamu kalau kamu gak yakin, dan aku gak akan pernah suka denganmu," tegas Yeri sambil bergidik geli membayangkan bagaimana jika mereka berdua pacaran. Tapi, bagaimanapun juga sudah satu malam dengannya. 


Arga dia menarik bibirnya sinis, "Kalau gitu cepat jalan, dan duduklah di ruang tamu,"


"Aku hanya ingin sebentar di sini. Bertemu dengan pemilik rumah ini sebenarnya terus pergi," ucap Yeri. 


"Aku pemilik rumah ini!" Arga tersenyum simpul. Dia memasukan kedua tangannya di saku celana. Berdiri dengan kedua mata masih memandang Yeri. 


"Nggak mungkin, aku yakin kamu kaya karena orang tua kamu," sindir Yeri.


Mendengar kata orang tua, Arga memalingkan pandangannya. Dia tidak bisa berkata apapun. 


"Duduklah!!" pintanya.


"Gak mau!!" Yeri menggelengkan kepalanya. 


"Kenapa kamu gak mau duduk, atau sofa ini kurang bagus?" tanyanya.


"Wajahmu yang kurang bersahabat denganku,"  jawab Yeri.


"Mau kamu apa?" tanya Arga tanpa memandang ke arahnya. Dia berdiri membelakangi Yeri. 

__ADS_1


"Kamu tatap aku, aku ingin melihat apa kamu menangis?" tanya Yeri. 


Arga mengerutkan keningnya semakin masuk ke dalam, terlihat sedikit garis halus di keningnya. Dia bingung gimana bisa Yeri tahu kalau dia sedih saat membahas orang tuanya. Itu hal yang paling tidak dia sukai. Dibalik sifatnya yang Arrogan, playboy, dan dingin. Tapi dia begitu lemah jika mengingat orang tua. 


"Tak perlu tahu!"


"Aku ingin tahu," Yeri mencoba melihat wajah Arga, tetapi Arga terus memutar tubuhnya saat Yeri mendekatinya dan berdiri di depannya.


Yeri menarik lengan kiri Arga. "Ih.. Kamu kenapa, aku hanya ingin lihat sebentar;"


"Jangan sentuh aku!!" Arga menepis tangan Yeri.


"Oke.. Kalau begitu.  Aku akan pergi. Batalkan perjanjian kita," ancam Yeri. Melipat kedua tangannya di dada, sambil melemparkan pandangan matanya berlawanan arah.


Arga menatap wajah Yeri, kedua matanya saling tertaut. Mereka saling menatap sengit. Seperti aroma pertengkaran akan terjadi. Arga melangkahkan kakinya semakin mendekat, dia meraih pergelangan tangan Yeri, menariknya masuk ke dalam dekapannya, dengan tangan kiri memegang pinggang rampingnya.


Deg!


Deg!


Jantung Yeri berdetak tak karuan, hembusan napasnya semakin sesak, pandangan mata Arga semakin tajam ke arahnya, wajah cantiknya mulai memucat.


Apa yang akan dia lakukan? Kenapa aku merasa nyaman seperti ini dengannya?


Tatapannya menakutkan! Membuat tubuhku gemetar sesaat. Aura mencengkam terasa di sekitar tubuhku. Perasaan apa ini yang tiba-tiba sekilas muncul dalam benakku?


Vina menekuk kedua tangan nya untuk menyeka dada Arga yang tiba-tiba menempel padanya nanti.


"Jangan bergerak!!" bisik Arga, semakin mendekap erat tubuh wanita itu, membuat tangan Yeri memegang punggung Arga.


"A-apa yang kamu lakukan?" tanyanya gugup. Mengangkat kepalanya menatap wajah Arga yang jauh lebih tinggi darinya.


Arga melekatkan tubuhnya semakin masuk dalam dekapan hangatnya, jemari tangan kanannya mengusap lembut wajah Yeri, jangan terlalu bergerak. Aku tahu jika kamu gugup," bisik Arga, suara serak khas lembutnya membuat tubuhnya bergetar. Hasratnya sebagai wanita tiba-tiba tertarik seakan seperti magnet yang ingin sekali terus menempel pada lawan jenisnya itu.


Hatinya bergetar, merasakan setiap sentuhan lembut jemari tangan laki-laki di depannya.


"Kenapa kamu membuat aku tertarik?"


Yeri mengerjapkan matanya, tak paham dengan apa yang dikatakan laki-laki di depannya. Wanita itu mendorong tubuh Arga menjauh darinya. "Sesuai perjanjian, dilarang menyentuhku," ucapnya, sembari mengusap sekujur tubuhnya bekas pelukan Arga.


Dalam perjanjian tidak ada larang aku menyentuhmu. Tapi kamu tidak boleh menyentuhku,"


Yeri mengangkat kepalanya, kedua matanya mengernyit tak paham, "Apa maksudmu?" desah Yeri.


Arga menarik sudut bibirnya tipis, "Kamu wanitaku sekarang. Jadi kamu turuti apa katamu. Jika kamu ingin ayah kamu cepat sembuh. Jika tidak, pergilah. Dan aku akan pastikan jika ayah kamu tidak akan sembuh,"

__ADS_1


Yeri mengangkat tangannya, seakan ingin sekali menampar wajah Arga, dan hanya dibalas dengan kedua mata tertarik ke atas oleh Arga.


"Ih.... Kamu... Arghh.."  Yeri berdecak kesal, dia membanting tanganya kasar ke bawah. "Awas saja jika kamu berani mendekatinya, atau menyentuh ayah aku, bahkan menyakitinya. Aku tidak akan segan-segan juga menyakitimu,"


Yeri menggertakkan giginya, sembari berdengus kesal, menahan amarah yang ingin sekali keluar.


"Lakukan sesukamu," ucap Arga. Memasukan kedua tangannya di saku celananya, dan berjalan pergi dengan langkah khas miliknya yang terlihat sangat cool jika di lihat dari belakang.


Tuh.. Orang ngeselin banget. Kenapa aku merasa dia itu harus di periksa ke dokter kejiwaannya. Gumam Yeri menarik bibirnya sinis.


"Eh.. Bentar! Kenapa dia ninggalin aku sendiri. Sekarang aku harus kemana?" tanyanya panik.


"Kamu istri Arga," suara khas seorang wanita paruh baya terdengar jelas di belakangnya, sontak Yeri membalikkan tubuhnya ke belakang.


"Maaf! Anda siapa?" tanya Yeri lirih.


"Saya oma Arga, maafkan cucu aku yang paling bandel itu. Dia memang seperti itu, jarang sekali dekat dengan wanita," ucap Oma berjalan mendekati Yeri, meraih kedua tangannya.


Emmm.. Jadi Arga itu hanya tinggal dengan omanya, tapj adiknya di mana? Laki-laki itu pasti di sini juga. Gumamnya dalam hati.


"Sudah ayo masuk, oma sudah siapkan kamar buat kamu dan Arga. Da semua baju kamu juga sudah oma siapkan." ucap Oma menuntun Yeri berjalan menuju ke kamarnya, tepat di lantai dua.


"Apa aku satu kamar dengan.. Arga?" tanyanya ragu.


"Iya, jelas. Bukanya kalian suami istri. Meski belum ada acara pesta pernikahan secara resmi tidak masalah. Asalkan kalian sudah sah suami istri," Oma tersenyum bahagia mendengar jika anaknya sudah menikah. Meski dia tidak bisa melihat pernikahannya.


Oma sangat baik, tapi kenapa laki-laki itu membohongi Oma. Gimana jika oma tahu kalau aku tidak pernah menikah dengan cucunya.


"Aku gak bisa seperti ini, gak bisa!!" ucap Yeri sedikit keras.


"Maksud kamu?" tanya oma.


Yeri mengernyitkan wajahnya malu, haduh! Apa yang aku katakan!


"Emm.. Maksud aku tadi, aku mungkin gak bisa tinggal di kamar mewah ini Oma," ucap Yeri beralasan.


"Sudah jangan sungkan-sungkan. Ini kamar baru kamu. Arga sudah cerita banyak tentang kamu. Jari oma tidak permasalahkan status kamu. Asal oma mendengar cucu oma menikah oma sudah bahagia," ucapnya mengusap punggung Yeri.


"Iya, oma tapi apa kamar ini tidak terlalu besar buat aku," tanyanya, berjalan dengan langkah ringan kedua bola matanya berbinar ketika melihat kamar yang begitu luas, bahkan 4 kali lipat kamarnya sendiri di rumah.


"Ini kamar yang didesain khusus Arga buat istrinya nanti. Dan karena kamu sudah jadi istrinya. Oma minta kamu tidur disini," Oma berjalan mendekati Yeri, dan berbisik padanya.


"Oma juga minta jika kalian segera punya cucu,"


"Apa? Anak?" Yeri menekankan nada suaranya. Kedua mata seketika terbuka lebar, seakan bola matanya mau melompat keluar dari kerangkanya,  Yeri menelan ludahnya kasar. Memasukan kedua bibirnya ke dalam, sembari berdesir lirih.

__ADS_1


__ADS_2