
"Arga…. Di mana?" gumam Yeri. Kedua matanya melebar seketika saat Arga tak ada di sampingnya. Kelopak mata Yeri yang masih enggan terbuka, ia memiringkan tubuhnya, mengangkat tangannya ke depan, mengusap matanya. Mencoba untuk mencari tubuh Arga di sana. Namun, sepertinya dia tak mendapati sama sekali sosok Arga.
"Ahh…. di mana, sih.. Dia?" gumam Yeri. yang masih enggan untuk membuka matanya. Ia mencoba membuka matanya. Mengusap ke dua matanya yang masih terasa lengket.
"Arga…" panggil Yeri berkali-kali. Dan sosok laki-laki itu belum juga muncul.
Merasa tak ada yang seorang pun yang mendekat ke arahnya. Yeri bangkit dari ranjangnya, ia menarik kedua tangannya ke atas, merenggangkan otot otot tubuhnya yang masih terasa kaku. Seharian bisa tidur pulas. Tanpa harus di ganggu oleh laki-laki dingin itu.
Wanita cantik dengan rambut yang masih berantakan itu, tetapi masih saja terlihat sangat cantik natural. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak mendapati sosok Arga. Yeri beranjak berdiri, sesekali ia menguap sangat lebar, dengan tangan menutupi bibirnya.
"Sepertinya dia sudah pergi pagi-pagi sekali." gumam Yeri. Dia beranjak menuju ke kamar mandi. Membasuh wajahnya, dan tak lupa menyikat giginya. Dengan rambut yang masih berantakan, Yeri berjalan keluar dari kamar mandi. Ke dua mata yang semula masih ngantuk, kini sudah terbuka sangat lebar.
Yeri berhenti menatap wajahnya di cermin. Ia memegang pipinya, membalik balikkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. "Apa aku cantik?" tanya Yeri.
"Tapi aku cantik dilihat dari mana, Ya? Ah.. entahlah.. Tapi aku suka seperti ini." gumam Yeri.
Yeri berjalan menuju ke dapur. Dia segera membuat teh hijau. Setelah beberapa menit selesai membuat teh hijau. Ia melangkahkan kakinya menuju ke balkon apartemen mewahnya. Di beberapa apartemen yang ada di sana. Hanya beberapa Apartemen yang langsung terhubung dengan balkon di kamarnya. Oma, memang memilihkan yang terbaik untuk ke dua cucunya itu. dan Yeri sudah di anggap cucu oma saat menikah dengan Arga. Untuk memulai hal yang romantis sebagai pasangan suami istri. Tetapi tetap saja, tak ada yang romantis sama sekali hubungan mereka.
Yeri menyedu teh miliknya. Meletakkan di atas meja, ia segera duduk menikmati udara pagi yang masih terasa sangat sejuk. Yeri memejamkan matanya, merentangkan ke dua tangannya ke samping. Ia menghirup udara dalam-dalam, lalu mengeluarkan perlahan. Yeri tak mau menghilangkan kesempatan ini. Untuk menghirup udara pagi, yang belum pernah dia rasakan, sebegitu segarnya. masuk ke dalam penciumannya.
Lagian jika Ada Arga. Dia selalu bangun kesiangan. Gimana tidak, setiap.malam dia selalu menggodanya. Membuat tidurnya tak bisa nyenyak.
Manusia es itu kemana? Apa dia lagi sakit? Atau dia pergi jalan-jalan sendiri tidak memberitahuku? Padahal ini hari libur kerja. Harusnya dia itu ajak jalan-jalan istrinya. Aku juga ingin melihat ayahku. Dan sekarang aku di sini sendiri.
__ADS_1
Tok…Tok…Tok..
Suara ketukan pintu itu membuat Yeri segera membuyarkan lamunannya. Yeri berdengus kesal. "Siapa dia? Kalau dia Arga. Aku akan kasih dia pelajaran." geram Yeri. Bangkit dari duduknya. Berjalan dengan langkah cepat dia segera membuka pintu apartemennya.
"Heh.. manusia es... Kamu dari mana saja? Apa kamu gak tahu kalau aku ada di sini? Menunggu kamu, dan yang paling penting sekali sekarang dia harus ajak aku jalan-jalan. Aku bosan di sini" Yeri terus berbicara tak ada hentinya. sembari membuka pintunya.
"Haii…" suara seorang wanita. Membuat Yeri mengangkat kepalanya. Ke dua matanya melebar saat melihat sosok cantik di depannya. Ya, dia adalah Felicia. Wanita cantik yang saat ini sedang ada di depan matanya. Meski penampilannya tertutup. Yeri mengenali suaranya.
"Kamu?" gumam Yeri, ia mengerutkan keningnya. Menatap ke belakang, melihat apa Arga ada bersamanya atau tidak.
"Ada apa?" tanya Yeri.
"Apa Arga ada?" tanya Cia.
"Arga gak ada di sini. Mungkin sekarang dia masih pergi."
"Ooo… Pergi kemana?" tanya Cia memastikan lagi.
"Emm… Mana aku tahu. Aku saja dari tadi mencari dia." gumam Yeri sedikit kesal.
"Kalau kamu mau menunggu dia. Sekarang masuklah." Yeri menarik tangan Cia untuk segera masuk ke dalam. Meski menggunakan kacamata hitam, jaket tebal dan syal yang melingkar di lehernya, agar bisa menutupi sebagian wajahnya. Ia juga menggunakan topi. Agar tak ada paparazi yang tahu tentangnya. Dan akan menyebarkan gosip untuknya.
Sementara Yeri sudah tahu dari awal jika dia Felicia. Suara lembutnya itu masih terdengar dan terngiang ngiang di telinganya, saat dia pertama kali bertemu dengan Arga di kantornya.
__ADS_1
Yeri segera menuntun Cia untuk duduk di sofa. "Kamu mau minum apa?" tanya Yeri.
"Air putih aja." ucap Cia. Sembari membuka kaca mata. Jaket tebal dan syal yang menutupi tubuhnya. Ia membuka topinya, terlihat rambut panjang terurai begitu indahnya. Tak hanya wanita yang manatap kagum ke arahnya. Wanita saja melihatnya juga iri dengan kecantikan wajahnya. apalagi para laki-laki, dia mungkin bisa pingsan di tempat.
Yeri tak hentinya terus menatap kagum. Kulitnya benar-benar sangat mulus. Putih, seputih salju. Ke dua matanya biru, dengan bulat putih di dalamnya. Dia memang sempurna.
Gimana bisa wanita secantik dia di tolak oleh Arga. Apa Arga buta mata? Wanita secantik dia? di sia-siakan olehnya.
Yeri segera menyadarkan lamunannya. Ia teringat jika wanita itu meminta air putih. Dengan segera Yeri berjalan ke dapur. Mengambilkan satu gelas air putih untuknya. Di suguhkan tepat di depannya.
Cia segera mengambil air putih itu, menyeduhnya perlahan. Lalu meletakkan kembali gelasnya di atas meja.
"Sejak kapan kamu menikah dengannya?" tanya Cia menatap ke arah Yeri yang duduk di sampingnya, dengan kursi yang berbeda.
"Aku baru beberapa minggu menikah denganya?"
"Oo.. Apa oma tahu?" tanya Cia.
"Iya… Dia tahu," Yeri mengangguk anggukan kepalanya.
"Jadi dia yang menyetujui, kalau kalian menikah?" tanya Cia seperti wartawan yang sedang mencari berita.
"Iya.. dia tahu, dia yang mendukung pernikahan kita. Agar segera di lakukan. Dan sekarang, masih dalam proses untuk buat anak." ucap Yeri asal ceplas ceplos. Membuat Cia di depannya terdiam seketika. Ia mengalihkan pandangan matanya. Ia mencoba sekuat tenaganya membendung air mata yang dari tadi ingin sekali keluar. Ia juga tak mau terlihat cengeng di depan Yeri. Dan Cia bersikap sebaik mungkin, agar tak terlihat jika dia sedang terluka..
__ADS_1