Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Telfon dari pelakor


__ADS_3

Melihat hal itu. Dia buru-buru keluar dari sana. Ia mulai teringat tentang temannya. Dia yakin jika temannya itu pasti sangat sakit hati saat melihat itu semua.


"Pantas saja dia nangis kemarin. Mungkin dia juga melihat mereka bermain. Gumam Angel. Segera beranjak pergi.


Langkah nya semakin cepat. Dia tidak berhenti terus menggerutu kesal. Hingga tanpa sadar menabrak seorang laki-laki dari lawan arah.


Bukkk....


Angel hampir saja terjatuh. Laki-laki itu bukanya menarik tangannya seperti film- film romantis. Dia memegang kerah bajunya. Mencengkramnya sangat erat. Sekaan jijik memegang tubuhnya.


"Kalau jalan lihat-lihat dulu." ucap laki-laki itu.


Angel yang semula memejamkan matanya. Perlahan ia mulai membuka matanya. Ke dua matanya membulat. Melihat Lucas berdiri tepat di depannya. Ke dua mata yang tak berhenti berkedip. Rasa kesal yang di rasakannya tiba-tiba hilang di gantikan rasa gugup yang luar biasa. Ke dua mata Angel tak mau lepas menatap pada wajah tampan Lucas di depannya.


"Heh.... " panggilnya kasar.


Dan Angel masih belum menyadarkan dirinya dari lamunannya. Merasa kesal dan Lucas terlihat sangat terburu-buru. Dia melepaskan kerah Angel dan beranjak pergi. Membiarkan Angel terjatuh ke lantai.


"Aw--" rintih Angel. Mengusap pinggulnya yang terasa sakit.


"Eh... Lucas. Kenapa malah aku di turunkan di sini." gerutu Angel kesal.


"Tapi sepertinya dia terburu-buru. Apa aku ikuti saja ya. Lagian tugas hari ini juga sudah selesai." gumam Angel. Dia tersenyum tipis. Dan segera beranjak bangkit dari duduknya. Dan melangkahkan kakinya pergi mengikuti setiap langkah cepat Lucas.


Hingga dia berhenti tepat di depan kantor Arga.


Aku harap dia menegur tuannya itu. Dan melaporkan pada oma. kalau mereka sedang bermesraan. Jangan sampai tuan Arga punya wanita seperti dia. Udah, jual diri. Malah sekarang jadi semakin kurang ajar semuanya gratis.


Angel semakin mendekatkan telinganya saat melihat Lucas masuk ke dalam ruangan Arga.


"Maaf, tuan. Oma sudah menunggu anda." ucap Lucas menundukkan kepalanya. Arga segera beranjak dari duduknya. Menyingkirkan tumbuhnya Cia lebih dulu dari jangkauannya.


"Baiklah! Memangnya oma di mana sekarang?" tanya Arga.


"Oma di kantin. Sebenarnya dia ingin pergi mencari Yeri. Tapi kenapa Yeri tidak masuk kerja." ucap Arga.


"Iya... Aku akan bilang pada oma. Kamu pergilah lebih dulu." gumam Arga.


"Baiklah!" Lucas berjalan keluar dari ruangannya. Sesekali dia melirik ke arah Cia yang berdiri membenarkan bajunya.

__ADS_1


Kenapa dia masih saja ada di sini. Kalau seperti ini. Lebih baik oma harus tahu. Jangan sampai dia bisa menguasai Arga lagi. Oma pasti akan marah nantinya.


"Arga... Kenapa kamu hanya diam saja sekarang." ucap Cia.


"Nanti bicara pada oma tentang hubungan kita." gumam Cia.


"Diamlah!" pinta Arga meninggikan suaranya.


"Kenapa kamu malah membentakku?" ucap Cia kesal.


"Karena kamu gak tahu diri. Lagian sudah tahu jika aku itu merahasiakan ini. Tapi kamu malah ikut campur. Apa kamu mau cari masalah pada oma?" umpat kesal Arga. Dan Cia mengerutkan bibirnya. Dia beranjak pergi menghentakkan kakinya kesal, dan keluar dari ruangan Arga. Dia terus berjalan hingga dirinya bertemu dengan Angel.yang berdiri di balik dinding. Ia meliriknya sekilas. Menajamkan matanya. Lalu kembali melangkahkan kakinya lagi pergi.


Angel terkekeh kecil seketika. Saat melihat Arga marah padanya. Lagian salah sendiri jadi wanita gatel banget. Udah tahu suami orang masih saja di ganggu. Gumam Angel. Tertawa penuh dengan kebahagiaan. Akhirnya temannya bisa mendapatkan kesempatan denganya.


-----


"Arga.. Melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruanganya. Dia berjalan dengan langkah cepat menuju ke kantin. Dan oma sudah menunggunya di sana. Duduk santai menunggu Arga.


"Oma." sapa Arga.


"Duduklah!!" pinta Oma. Dan Arga langsung saja duduk.


"Di mana Yeri?" tanya Oma.


"Kenapa dia tidak bekerja hari ini. Apa kamu mengeluarkan dia?" tanya Oma.


"Enggak oma, katanya dia capek. Mungkin karena malam kemarin kita sudah....."


"Sudah apa? Apa kalian benar sudah ikut program hamil?" tanya oma antusias.


"Iya.. Oma. Bukanya semua juga demi oma juga. Katanya mau segera gendong cucu lagi." gumam Arga mencoba membuat oma percaya dengannya.


"Baiklah! Kalau begitu, oma ingin pergi ke apartemen kamu." ucap Oma.


"Gak usah! Oma, kenapa mau pergi ke apartemen aku segala?" tanya Arga.


"Aku ingin melihat Yeri."


"Oma, besok saja. Lagian sekarang pasti dia masih istirahat. Dan oma jangan ganggu dulu. Kasihan dia baru melewati malam pertama, oma." ucap Arga.

__ADS_1


"Oo.. Ya, sudah. Besok oma akan kembali lagi. Dan ingat, bilang sama dia. Lekas sembuh. jangan sampai sakit. Nanti aku akan berikan tiket bulan madu untuk kalian."


"Bulan madu, oma? Kapan? Dan dimana?" tanya Arga memastikan.


"Besok, kalian berangkat. Ke New Zealand. Nikmatilah pemandangan indah di sana. Bersamaan dengan Yeri. Dan pastinya jangan sampai kalian jaga jarak lagi."


"Tapi oma.."


"Kamu gak boleh nolak." tegas oma. Memberikan tiket itu pada Arga.


"Dan besok oma yang akan mengantarkan kamu sendiri ke bandara. Jadi oma pasti akan menuju ke apartemen kamu." ucap oma. Beranjak berdiri.


"Baiklah, oma." dengan terpaksa Arga harus menerimanya. Padahal dia besok ada janji dengan Cia. Tapi sepertinya janji itu harus di tunda dulu.


Setelah oma pergi dari kantornya. Arga segera masuk ke dalam ruangannya lagi. Dan menghubungi Cia. Dan kebetulan langsung di angkat olehnya.


"Ada apa? Kamu masih pedulikan aku? Aku malas dengan kamu. Kalau kamu seperti ini terus. Kapan hubungan kita bisa go publik." ucap Cia menyela pembicaraan lebih dulu. Dengan nada naik turun penuh emosi.


"Sekarang kita gak usah bahas itu dulu." ucap Arga.


"Kenapa? Kamu gak suka? Kalau memang kamu gak mau niatan menikahi aku. Aku tidak masalah." ucap Cia kesal. "Udah, aku masih banyak urusan." lanjutnya.


"Cia dengarkan aku dulu. Besok aku gak bisa pergi bersama kamu." ucap Arga.


Cia tak jadi mematikan ponselnya dia terdiam seketika. "Apa maksud kamu?" tanya Cia.


"Aku tidak jadi menemani kamu. Dan sepertinya kamu harus pergi sendiri nanti."


"Memangnya kenapa?" tanya Cia mematikan. Meski dirinya sedikit kecewa dengan Arga.


"Aku ada janji dengan seseorang. Dan mungkin besok kita akan menjalankan bisnis baru." ucap Arga beralasan.


"Bisnis? Apa tidak bisa ditunda?" tanya Cia meninggikan suaranya.


"Tidak! Tidak bisa di tunda." ucap Arga tegas.


"Baiklah kalau begitu. Mungkin aku memang harus pergi sendiri. Tapi aku akan terus menunggu kamu di sana. Sampai kamu datang. Dan aku akan tetap menunggu kamu. Setidaknya singgah sebentar temani malamku di sana hanya beberapa hari." ucap Cia.


"Baiklah! Aku akan pikirkan cara lagi. Kamu jangan khawatir." ucap Arga.

__ADS_1


Cia segera mematikan telfonnya tanpa mendengar penjelasan Arga lagi. Atau, menjawab pertanyaannya. dia yang merasa kesal segera melemparkan ponselnya di kiri belakang mobilnya.


"Arga..." teriak Cia di dalam mobilnya. Dia mencengkeram erat setir mobilnya. Ke dua matanya menajam penuh dengan amarah yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya.


__ADS_2