Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Rayuan pelakor


__ADS_3

“Arga... kamu di mana?” panggil Yeri, berjalan keluar dari kamar mandi. Ke dua matanya melotot seketika saat tak mendapati Arga di kamarnya.


“Kemana dia?” gumam Yeri. Sambil berjalan ke lemari, tangan kanannya membuka lemari, mengambil salah satu baju. Pandangan matanya tak berhenti berkeliling menatap sekitarnya.


Apa dia benar-benar gak ada di sini? Kemana dia pergi? Atau jangan-jangan dia pergi sendiri ke rumah oma. Dan aku, sekarang aku di tinggal sendiri di sini. Terus gimana aku nanti pergi ke sana? Apalagi aku sudah tidak bawa uang. Dan semua uang yang pernah aku bawa ketinggalan di rumah oma. Gerutu Yeri, menutar bibirnya. Mencoba berpikir cara bagaimana dia bisa pergi ke rumah oma.


Yeri dengan cepat segera memakai bajunya. Suara langkah kaki ringan terdengar jelas berjalan ke arahnya.


“Arga... Apa itu kamu?” tanya Yeri was-was. Ia mencengkeram hansuknya yang masih menutupi tubuhnya.


Tok... Tok.. Tok...


“Non, Yeri. Anda sudah selesai mandi?” tanya Lucas yang sudah berdiri tepat di depan pintu kamarnya.


“Siapa kamu? Apa kamu Jun?” tanya Yeri memastikan.


“Bukan, non, saya Lucas. Asisten oma.”


“Dimana Arga? Apa dia sekarang di luar?”


“Maaf, Non, sebelumnya. Tuan Arga sekarang sudah pergi duluan. Dan dia yang meminta saya membawa non Yeri pergi ke rumah oma.”


Yeri menguntupkan bibirnya kesal. “Sialan laki-laki itu, dia bilang aku suruh mandi. Dan dia pergi ninggalin aku sendiri. Awas.. saja nanti kamu Arga. Aku gak akan tinggal diam. Aku akan membantu kamu agar di marahin itu, sama oma.” Gumam Yeri, mengepalkan tangannya.


“Lucas.. Apa kamu tahu, di mana Arga pergi? Apa dia lansgung ke rumah oma? Atau dia sedang pergi ke suatu tempat?” tanya Yeri sembari memakai bajunya.


“Saya tidak tahu, non. Yang pasti katanya dia masih ada urusan.”


“Ooo...Ya, sudah. Bentar, kamu tunggu aku dulu. Aku masih bersiap.”ucap Yeri. Dia segera merias dirinya di depan cermin. Kali ini dia ingin menunjukan wajahnya. Ia tak mau kalah dengan penampilan Felicia.


“Kenapa wajah aku berbeda? Felicia terlihat sangat cantik bersih. Emmm... Dia, kan artis. Apa mungkin dia perawatan?” gumam Yeri, ia memegang pipinya, menatap pipi kanan dan kirinya bergantian.


“Apa sepertinya aku juga harus pandai merawat diri. Agar terlihat lebih cantik lagi.” Gumam Yeri tersenyum sumringah tepat di depan cermin.

__ADS_1


Yeri megangguk anggukan kepalanya pelan. Ia teringat sesuatu. “Oh, ya! Bukannya aku masih punya cek 100 jt itu. Dari pada tidak terpakai. Bagaimana kalau aku suruh Lucas cairkan uang itu. Dan aku minta dia antarkan aku pergi perawatan.” Gumam Yeri tertawa kecil.


“Hah... Sekarang aku sudah tidak bingung lagi. Semua biaya ayahku sudah di tanggung oma. Dan sekarang aku harus pintar merawat diri.”


“Non, apa masih lama?” tanya Lucas.


“Iya, bentar! Bentar!” Yeri segera mencari cek itu. Ia mengobrak-abrik tasnya. Melihat cek itu masih di dalam tas, seketika dia merasa sangat lega.


Yeri menghela napasnya, mengusap dadanya. “Baru kali ini. Aku akan melihat uang banyak.” Gumam Yeri. Ia melangkahkan kakinya, membuka pintu kamarnya. Dan menyambut Lucas yang masih berdiri di depannya.


“Ayo,,, jalan!” pinta Yeri. Yeri berjalan lebih dulu keluar dari apartemen dan di susul Lucas yang berjalan di belakangnya.


“Lucas, apa kamu pernah cairkan uang?” tanya Yeri.


“Uang? Buat apa?” tanya Lucas


“Uang di kertas itu.”


“Oo.. Cek?” tanya Lucas.


“Kamu pernah?” tanya Yeri.


“Iya, aku pernah. Memangnya non Yeri, punya cek.” Tanya Lucas.


“Punya. Nanti kamu bantu aku cairkan cek itu di bank. Dan aku tunggu di mobil.” Gumam Yeri.


“Baiklah!” gumam Lucas. “Memangnya buat apa, Non?”


“Udahlah! Nanti kamu juga tahu.”


Lama berbincang berdua, Yeri dan Lucas sampai di mobilnya. Lucas membukakan pintu untuk Yeri. Dan mempersilahkan dia masuk.


“Aku gak mau duduk di belakang, aku duduk di depan.” Gumam Yeri, beralih, melangkah ke depan. Dengan terpaksa Lucas menutup kembali pintunya. Dan membukakan pintu untuk Yeri di kursi depan.

__ADS_1


Meski dia sedikit kesal. Tapi gimanapun dia adalah istri dari anak bosnya. Dan dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


 


Sedangkan Cia dan Arga mereka masih di dalam mobil. Suasana mobil nampak sangat hening. Hanya hembusan ac, dinginnya sampai masuk ke dalam pori-porinya Arga sama sekali tidak melirik ke arahnya. Dan lebih fokus pada jalan di depannya.


Dan Cia tak hentinya terus menatap ke arah Arga. Dia bingung kenapa Arga sebegitu kecewanya pada dirinya. Dia saja tidak tahu apa salahnya, apa dulu dia selingkuh? Atau dia tahu sesuatu yang tidak di ketahui olehnya. Bahkan sekarang dia tak mau menatapnya sama sekali. Membuat dirinya merasa gundah, tak bisa tidur beberapa hari ini.


Begitu banyak pertanyaan menghantui dirinya. Dia merasa tak bisa tenang jika dia masih marah padanya. Arga sekarang berbeda dengan Arga yang dulu. Dia yang selalu membuat dia tersenyum. Selalu memanjakannya. Dan tidak sama sekali membuat perasaannya tersakiti, meski hanya sedetik saja.


Sekarang Arga terlihat sangat cuek, bahkan dia sama sekali tak tersenyum di setiap bertemu dengannya. Wajahnya lebih dingin dari pada Es. Sifatnya lebih angkuh, dan selalu acuh tak acuh padanya.


“Arga...” panggil Cia ragu, memecahkan keheningan di antara mereka. Ia melirik ke arah Arga yang masih fokus mengemudi mobilnya. Cia tak bisa terus diam jika bersama dengan Arga.


“Ada apa?” tanya Arga jutek.


“Apa kamu tahu rumahku?” balik tanya Cia


“Enggak!”


“Emm.... Aku bisa kasih tahu kamu nantinya.”


“Gak perlu.” Ucap Arga. “Kalau kamu mau bilang, juga silahkan bilang. Kalau kamu gak bilang, bagaimana aku bisa tahu alamat rumah kamu.” Ucap Arga. Membuat Cia tersenyum tipis.


“Ingat, jangan pernah menyentuhku.” Pekik Arga, nada suaranya sedikit meninggi.


Lalu Cia terdiam seketika, mendengar nada suara Arga begitu keras membuatnya gemetar takut. Mau bicara dengannya saja harus buka tutup mulutnya.


“Baiklah!” Cia mulai menjelaskan di mana arah menuju ke rumahnya. Tetapi bukannya menuju ke rumahnya, Arga yang tak terlihat konsen saat berkendara. Pikirannya sedang melayang. Ia mengikuti saja setiap arahan yang di katakan Cia. Tanpa tahu, arah itu menuju ke sebuah danau di mana mereka selalu menghabiskan waktu bersama dulu.


Ke dua mata Arga mengkerut seketika, saat melihat sebuah danau di mana dia pertama kali bertemu dengan Cia. Dan di situ juga mereka selalu bermain bersama. Menghabiskan waktu masa kecilnya, bahkan sampai dia SMA. Danau itu jadi tempat favorit dirinya dan Arga saat ini.


Dan Arga juga diam-diam datang ke danau sendiri. Hanya untuk menghilangkan rasa kangennya terhadap Cia selama ini. Danau itu jadi saksi kesedihan Arga. Beberapa tahun, dia meluapkan marahnya, kesedihan hatinya pada air danau di sana.

__ADS_1


Arga segera menghentikan laju mobilnya, di pinggir jalan. Ia menatap tajam ke arah Cia di sampingnya. Dan Cia hanya tertunduk takut.


“Kamu mau bawa aku ke sini?” tanya Arga.


__ADS_2