
Meskipun terus di tepis oleh Yeri. Gio semakin menarik tubuhnya mendekat. Dan duduk di atas meja tepat di depannya. Ia memegang dagunya lagi, sedikit menariknya ke atas. Dengan mata saling menatap. "Jangan anggap semua itu sia-sia, Yeri."
"Maksud kamu apa?"
"Bukanya kamu sudah baca pesan aku." tatapan mata Gio seakan membiusnya. Dia hanya diam, tubuhnya seketika kaku tak bisa menolaknya. Di sekujur tubuhnya terasa seperti patung yang hanya bisa diam menatap.laki-laki di depannya., tanpa daya Saat ibu jari Gio mengusap lembut bibirnya.
Jangan! Jangan sampai dia bertindak bodoh. Oma pasti marah padaku dan dia nantinya. Apalagi si laki-laki sialan itu. Dia begitu marah jika aku berhubungan dengan orang lain.
"Bibir kamu benar-benar menggoda." gumam Gio. Mengecup bibirnya Yeri kesekian detik. wanita itu spontan mendorongnya menjauh darinya. Hingga dia terpental di atas meja. Membuat semua meja di sana berantakan.
"Maaf, jangan berbuat bodoh. Aku istri kakak kamu." gumam Yeri.
"Tapi apa aku gak boleh memiliki kamu juga?"
"Tidak…" tegas Yeri tajam
"Oke, baiklah! Tapi setidaknya kamu berbuat baik sedikit padaku." gumam Gio, beranjak berdiri. Ia menatap ke kearah Yeri yang terbuka. Ia perlahan mendekatinya, "Apa yang kamu lakukan?" tanya Yeri sembari terus memukul tangannya.
"Diamlah!" Gio memegang kancing baju yag terbuka. Dengan cepat dia membenarkannya lagi.
Yeri menatap was-was penuh curiga.
"Lepaskan!" Ia mendorong tubuh Gio. Bukanya mental ke belakang, Gio yang terus menolaknya, dengan ke dua tangan memegang pundaknya erat. Yeri menarik napasnya ia mengumpulkan semua tenaganya. Mendorong keras tubuh Gio lagi, membuat dia terjatuh. Dan Gio menarik baju Yeri, Gio tak sengaja menariknya, mereka berdua jatuh di atas lantai dengan posisi Yeri di atasnya. Tak sengaja Gio memegang ke dua milik Yeri yang berukuran besar itu.
Gio yang tak tahan, dia mengedipkan matanya. Menatap ke dua tangannya, yang punya kesempatan untuk memegangnya meski hanya sekali. Gio menelan ludahnya, dia begitu gugup mendengarnya. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Gio, Yeri yang baru sadar, ia menatap ke bawah, seketika ia..
"Aaaaaaaa…. Dasar mesum!" pekik Yeri, beranjak berdiri. ia memukul wajah Gio berkali-kali.
"Kurang ajar, laki-laki mesum sepertimu selaku cari kesempatan dalam kesulitan." ucap Yeri memukulinya dengan tas selendang warna hitam yang selalu menemaninya beberapa hari ini.
"Aku gak akan melepaskanmu. Dasar mesum!" teriak Yeri, dia tak hentinya terus memukul lengan Gio.
"Sudah! Sudah! Iya, aku minta maaf. Sekarang lebih baik cepat kerja sana." ucap Gio, meninggikan suaranya.
"Gak jadi, ku gak jadi kerja di sini." ucap kesal Yeri, dengan nada merendah seakan dia sangat susah berbicara seperti itu. Lagian itu perusahaan terakhir yang di pilihnya untuk magang. Tapi yang membuat ia merasa sangat aneh. Kenapa perusahaan sebesar itu di pimpin oleh anak di bawah umur. Dia bahkan masih 18 tahun yang akan datang.
"Kamu lagi mikir apa lagi? Apa kamu gak mau kerja di sini?" tanya Gio memastikan.
"Iya… Aku memilih mengundurkan diri saja." ucap Yeri.
Gio memegang pinggang Yeri, menariknya masuk dalam dekapannya. "Jangan kurang ajar padaku."
"Kamu tahu? kakak aku sering berbagi padaku. Entah tentang hal apapun, dan aku yakin jika dia mau berbagi kamu denganku."
bisik Gio, mengigit telingannya, spontan Yeri menggeliat.
__ADS_1
"Lepaskan tangan kamu." pekik Yeri mencoba mendorong tubuh Gio lagi, ia bersusah payah melepaskan pelukannya yang semakin erat.
Tok.. Tok.. Tok…
Suara ketukan pintu itu membuat Yeri dan Gio spontan di terkejut. Dia melepaskan tangannya dari pinggang Yeri menatap ke arah pintu. Perlahan pintu itu terbuka lebar. Seorang assisten masuk ke dalam, dengan tatapan aneh. Dia melihat baju Yeri sedikit berantakan dan tentunya rok span itu sedikit tertarik.
Padahal sama sekali Berontak berbuat meski. dan itu hanyalah kesalahan teknis saja. Tapi percuma juga jelaskan padanya. pasti dia tak percaya. Wajah asisten pribadi Gio itu terlihat kikuk. Dia menelan ludahnya seakan tatapannya tak mau hilang dari wanita yang di kiranya penggoda.
Yeri yang paham dengan pandangannya. dia segera membalikkan tubuhnya. Merapikan kembali baju dan roknya.
"Maaf, sepertinya saya mengganggu."
"enggak, masuklah." pinta Gio.
"Yeri.. Kamu segera pergi bekerja saja." pinta Gio menatap ke arah Yeri.
Yeri menunjuk dirinya, ia bingung padahal susah bilang mau mengundurkan diri saja. Tapi kenapa dia masih memintaku bekerja? Tapi tak apa, sementara sebelum aku menemukan tempat kerja baru nantinya.
"Oh, ya! Sekalian nanti kamu antar dia ke tempat kerjanya. Dan tunjukan gimana kerja dia." pinta Gio pada wanita cantik di depannya
"Baik, tuan!"
Yeri dan asisten itu segera pergi. Keluar dari ruangan Gio. Mereka sesekali kenalan dan mencoba berbincang berdua di setiap langkahnya. Mereka seakan seperti sudah lama kenal, bicaranya santai seperti sahabatnya sendiri. Iya, Gelica. Bisa di panggil dengan Lyli. Asisten Gio itu sangat cantik dan muda. Mungkin bisa di bilang umur tak jauh beda dengan Gio.
"Oh, ya. Boleh tanya?" ucap Lyli menatap ke arah Yeri.
"Apa kamu kekasihnya?"
Yeri seketika terkekeh kecil mendengar hal itu. Tawa kecil menjadi besar saat mengingat laki-laki kecil yang masih di bawah umur itu.
"Enggaklah, pasti gara-gara tadi. Kamu mengira jika aku itu pacarnya. Tadi aku gak sengaja jatuh. Dan dia menangkapku tapi malah ikut jatuh."
"Terus kamu suapa dia?"
"Kakak ipar, itu lebih tepatnya." ucap Yeri percaya diri.
"Kakak ipar? Jadi kamu… kamu menikah dengan Arga. CEO tampan pemilik Morgan group? Perusahan mewah dan terkenal yang dia bangun sendiri. Dan kamu menikah dengannya?" Lyli memegang tangan Yeri tak percaya. Dirinya begitu bahagia bisa bertemu dengan istrinya laki-laki idamannya. Meski hanya menatapnya kagum.
Kenapa dia terlihat sangat senang? Apa dia gak tahu? Kalu jadi istrinya itu benar-benar tersiksa. Gak hanya cuek, dia sangat dingin, dan terkadang mengerikan.
Tanpa sadar mereka sudah sampai di ruangannya. Yeri bekerja sebagai pegawai biasa. Dan itu sudah sesuai dan cocok untuk perusahaanya. Lagian dia akuntan, tapi belum mahir benar tentang perhitungan. Kalau bukan Gio tahu itu kakak iparnya dia sudah mendepaknya keluar, dan tak mungkin bisa keterima di perusahaannya.
"Oh, ya. Nanti ceritakan lagi tentang kamu ya, aku penasaran kamu begitu beruntung bisa menikahi CEO."
Yeri mencoba tersenyum semanis mungkin. "Hehe.. Iya, baiklah!"
__ADS_1
"Tapi apa kamu punya rahasia juga, kenapa laki-laki kecil itu bisa bekerja di sini."
"Oke, nanti aku akan ceritakan padamu. Setelah jam istirahat. Kita bisa bertukar cerita." ucap antusias Lyli. Dia sekarang punya teman baru yang asyik juga.
\=\=\=\=
Sedangakn Arga, sudah siap untuk menuju ke kantirnya. Meski harus merapikan semua bajunya sendiri tanpa di bantu istri yang tiba-tiba pergi begitu saja. tidak bertanggung jawab dengan segela urusan Arga. Padahal tahu sendiri itu tugas sang istri.
"Tuan, apa anda sudah siap?" tanya Jun, berjalan menghampiri Arga.
"Iya," jawabnya, sembari memakai dasinya.
"Oh, ya. Jangan luoa, nanti kamu kirim seseorang untuk memata-matai Yeri."
"Di mana tuan?"
"Mix."
"Mix?" Jun terkejut mendengar kata itu. "Kenapa dia bisa di sana, tuan?"
"Dia bekerja di sana." Arga meraih jas miliknya. Menggantungkan di lengannya.
"Sekarang juga pergi dulu. Aku akan jelaskan nanti di mobil." ucap Arga. Menepuk pundak Jun, lalu melangkahkan kakinya lebih dulu.
"Tuan, apa adik anda yang menerima dia?" tanya Jun, membukakan pintu untuk tuannya.
"Iya.. Dia menerima istriku bekerja di sana. Kamu tahu sendiri si playboy itu. Karena ini menyangkut reputasiku. Aku berharap dia gak macam-macam dengan istriku." Arga, melangkah masuk ke dalam mobilnya. Duduk di kursi belakang.
"Bukanya anda biasanya berbagi dengan adik anda tuan?"
Arga mengerjapkan matanya, ia memukul kepala Jun seketika. "Berbagi apa? Lihat-lihat dulu. Apa istri juga bagi dua." pekik Arga kesal.
Jun dan Arga sudah sangat akrab dari dulu. Jadi hal semacam itu dia tak canggung lagi. Bahkan Arga sama halnya seperti temannya sendiri. Karena memang mereka seumuran.
Jun meringis. "Aku kira, tuan. Mau berbagi."
"Kalau kamu, apa mau berbagi istri denganku?" tanya Arga balik.
"Enggak tuan, istriku hanya milikku. Tapi, saya juga sepenuhnya akan mengabdi pada tuan." ucap Jun tertunduk. Dia mencengkeram jemari tangannya. Berada tepat di depan kedua pahànya.
Arga menggelengkan kepalanya. "Kamu memang asisten pribadiku. Tapi satu hal, Jun. Jika kamu menikah, layani istrimu dengan baik. jangan sampai pekerjaan kamu terbagi dua denganku. Aku menganggap kamu teman aku sendiri. Jadi jangan sungkan lagi jika butuh sesuatu nanti." Arga yang semula bercanda kini ucapannya sok bijak. Suasana di mobil nampak sangat serius.
Jun tersenyum tipis, ia merasa sangat bangga jadi teman dekat, termasuk orang kepercayaan Arga. Bahkan dia kini menganggapnya sebagai keluarganya sendiri.
"Tuan, bukanya Yeri mau bekerja dengan anda." tanya Jun
__ADS_1
"Itu yang membuatku bingung." jawab Arga, menyandarkan punggungnya.