
"Akhirnya aku pulang juga. Aku kangen dengan rumahku." Gerutu Yeri. Dia berjalan pelan. Kedua mata berkeliling melihat suasana rumahnya yang masih sangat sama. Rumah yang tak begitu megah baginya. Bisa di bilang hanha cukup ubtuk hidup dua orang. Karena memang sangat sempit. Tapi, Yeri menikmatinya. Dia segera kembali menuju ke kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya fi ranjang empuk miliknya.
Yeri merentangkan kedua tangannya. Menaik turunkan ranjangnya. "Aku pasti sangat merindukan kamar ini," ucap Yeri.
Drrtt.. Drrt..
Suara getaran keras ponsel Yeri dari salam sakunya membaut dia terdiam sejenak. Menggerutu kesal.
"Siapa yang mengangguku!" Yeri segera mengambil ponselnya. Dan, ternyata sebuah chat dari Arga. Kedua nata Yeri menyipit seketika. Membaca setiap huruf yang tertera.
"Bersiaplah, aku akan jemput kamu nanti malam. Kamu harus sudah bereskan semuanya. Bawa barang-barang yang menurut kamu penting."
Yeri melebarkan kedua matanya sempurna. "Apa? Dia akan datang?" Yeri menoleh ceoat menatap ke arah jam dinding di dinding samping kanan. Jarum jam sudah menunjukan pukul 2. Seketika Yeri menghela napasnya panjang.
"Tenang saja, aku masih punya waktu. Sekarang lebih baik aku istirahat saja. Jika sudah waktunya saja baru aku bersiap," kata Yeri. Yeri perlahan mulai memejamkan kedua matanya. Dia merasa sangat lelah hari ini.
"Lebih baik aku tidur saja." ucap Yeri. Sekujur tubuhnya hang begitu lelah. Perlahan Yeri mulai tertidur pulas.
**
Jarum jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Yeri masih terbaring di ranjangnya. Dia memeluk bantal miliknya. Seakan enggan enyah dari ranjangnya.
"Permisi tuan, apa anda yakin jika Yeri ada didalam?" tanya Hans.
"Kamu meragukanku?" tanya Arga. Melirik sekilas ke arah Hans. Membaut laki-laki itu bergidik takut. Dia menundukkan kepalanya. Dan, segera melangkah satu langkah di belakang Arga.
"Kamu tunggu saja, aku akan kedalam,"kata Arga. Dia memegang gagang pintu, memutarnya perlahan. Dan, ternyata pintu itu benar tidak di kunci oleh Yeri.
"Dia tidak mengunci pintu rumahnya. Apa dia sengaja membaurkan terbuka agar maling bisa masuk ke dalam dan melecehkannha nanti," gerutu Arga. Arga berjalan tanpa ragu masuk kedalam rumah Yeri. Dia berjalan dengan santainya. Menatap setiap sudut ruangan. Hingga pandangan matanya tertuju pada satu kamar yang ada di rumah itu. Arga segera membuka pintunya. Berjalan masuk ke dalam. kamar itu.
Kedua mata Arga tertuju pada Yeri yang tertidur terlentang di atas ranjang. "Apa yang di lakukan wanita ini," ucap Arga. Wajahnya terlihat sangat dingin. Berjalan mendekati Yeri. Kedua mata itu menyipit, melihat wajah Yeri yang snagat cantik saat tertidur. Bibir yang begitu menggoda. Membaut Arga tidak tahan ingin sekali menyentuhnya.
Arga menelan ludahnya. Dia berjalan pelan lebih dekat. Dia duduk di pinggiran ranjang itu. Ibu jari Arga tidak bisa menahan untuk menyentuh bibirnya. Ibu jari Arga meneh tuh ujung bibir Yeri memutar, hingga bibir bawah.
Arga perlahan mendekatkan bibirnya penuh dengan keraguan. Dia memberikan kecupan pada Yeri tanpa dia sadari.
__ADS_1
Yeri menarik tangan Arga hingga tertidur di sampingnya. Wajah Arga memerah malu. Wajah itu terlihat lebih merah dari kepiting rebus. Saat Yeri memeluk erat tubuhnya.
"Apa yang aku lakukan?" tanya Arga. Dia mengurungkan niatnya untuk melirik Yeri.
Tubuh Arga perlahan sangat hangat. Entah kenapa sekarang Yeri bahkan lebih agresif dari pada dirinya. Tangan kanan Yeri menyentuh dada bidang Arga.
"Baru menandatangani perjanjian dia sudah melanggarnya." ucap Arga.
"Em.. Gerah!" ucap Yeri, melepaskan palukannya. Tanpa sadar Yeri membuka kancing bajunya. Terlihat sekilas bagian belahan di dalam yang terlihat sangat menonjol. Kedua mata Arga melotot seketika. Dia meneguk wanitanya beberapa kali. Melihat pemandangan yang luar biasa di depannya. Terbungkus beberapa helaian benang yang menutupinya.
"Apa yang dia lakukan? Dia sengaja menggodaku," Yeri kembali memeluk tubuh Arga. Arga tidak bisa lagi tahan. Naluri laki-laki ya mulai bangkit. Dia mana bisa tidak menatap hal yang seharusnya tidak bisa di lewatkan. Kali ini bahkan menempel di lengannya.
"Yeri," Ucap Arga. Dia menyentuh perlahan. Dia merasakan keaslian benda kenyal besar di sampingnya.
"Apa ini," ucal Arga. Tubuh Arga semakain gerah. Dia tidak bisa menahan apa yang menjadi keinginan hati dan otaknya. Yeri memegang kedua tangannya Yeri. Membalikkan tubuh Yeri terlentang. Arga berasa teoat di atas tubuh Yeri hang masih memejamkan mata.
"Dia tidur atau mati, kenapa dia tidak sadar sama sekali." ucap Arga lirih. Jemari tangan Arga menyelinap dari balik rok di atas lutut milik Yeri yang tersingkap ke atas. Merasa ada gerakan aneh. Membuat tubuh Yeri menggeliat. Yeri membuka kedua matanya. Dia melihat Arga sudah ada di atas.
"Em... Arga.. Em, apa yang kamu lakukan?" Yeri menahan rasa nyaman. Tubuh wanita itu menggeliat seketika. Ini pertama kali baginya.
"Bentar, temani aku!" bisik Arga. Suara serak itu membaut bulu romance berdiri. Hembusan napas yang terasa melewati ujung hidungnya sangat sensitif.
"Bukanya kamu menggoda, menunjukan ??milikmu."
"Arga.."
"Emm... Arga, lepaskan!"
"Lepaskan atau lanjutkan. Dari wajahmu kamu sangat menikmatinya."
"Lanjutkan!" ucap lirih Yeri. Dia mengigit bibir bawahnya.
Astaga apa yang terjadi pada otakku. Kenapa aku ingin bicara lanjutkan.m tanpa aku sadari.
Arga tersneyum tipis. "Kamu mendalami peranmu untuk jadi istriku," kata Arga. Dia terus melanjutkan aksi jemari tangannya. Hingga membuat Yeri basah. Arga memberikan kecupan di belahan Yeri.
__ADS_1
"Kamu akan mengingatnya, jika kamu ingin lagi. Dagang ke kamarku nanti. Tapi, ingat. Jangan menyentuhku lebih dulu. Sesuai perjanjian." kata Arga mengingatkan Yeri.
"Dasar mesum!" pekik Yeri. Dia seketika menyadarkan dirinya Dari pengaruh buruk Arga. Dia mendorong sekuat tenaga tubuh Arga hingga terjatuh di ranjang tepat terbaring di sampingnya.
"Mesum, apa yang kamu lakukan disini?" Geram Yeri.
"Kamu menyentuhku!" Yeri beranjak duduk, segera. Menarik bajunya hang masih terbuka, agar bisa tertutup.
"Lagian kenapa kamu menggodaku?" tanya Arga. Dia menarik salah satu alisnya. Dan, segera beranjak dari ranjang.
"Mana kamar mandimu?" tanya Arga.
"Mau ngapain?" tanya Yeri bingung.
"Mau ajak kamu mandi." kata Arga datar.
"Apa?" Yeri melebarkan matanya. "Gak mau! Aku bisa mendi sendiri." kesal Yeri.
"Lagian siapa yang mau ajak kamu. Aku mau cuci tangan," jawab santai Arga tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
"Depan kamu itu kamar mandi." jawab jutek Yeri.
"Makasih!" ucap Arga. Tak lama keluar dari kamar mandi. Yeri duduk di atas ranjangnya sembari mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Apa yang terjadi padaku, kenapa aku bisa terbuai dengan senyumannya. Otaknya ternyata mesum juga. Aku pikir dia baik," ucap Yeri.
"Kamu bilang apa?" tanya Arga yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Mesum!" pekik Yeri.
"Kamu sudah bersiap? Jika belum aku akan minta Hans membantumu," Arga menghiraukan Yeri. Wajahnya tampak dingin. Dan, segera berjalan keluar. Dari kamar Yeri.
"Aku tunggu kamu di luar. Kau beri waktu kamu 20 menit untuk beberes." kata Arga.
Apa Arga mulai tertarik dengan Yeri di awal? Nayla dia sudah memberikan sinyal cintanya?
__ADS_1