
“Jadi kita hanya sebatas status, tidak menikah sungguhan, kan?” tanya Yeri memastikan.
“Tentu saja tidak!!” Arga duduk kembali di meja menatap wajah Yeri yang masih menatap surat perjanjian itu.
“Dan kita akan tidur satu kamar!!” Arga menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.
“Apa kamu bilang?” Yeri terkejut “Gak mau!!” lanjutnya tegas, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak bisa bayangkan jika tidur berdua dengan laki-laki nyebelin seperti dia.
Arga mengusap pipi kanan Yeri, “Dengarkan dulu kalau aku bicara!!” Arga menatap tajam mata Yeri. “Kamu dan aku tidur terpisah. Aku tidak mau jika tidur seranjang dengan wnaita murahan seperti kamu!!”
Brakkk…
Yeri sontak kesal mendengar kata wanita murahan lagi, dia melemparkan map itu di atas meja.
“Kalau kamu anggap aku murahan, kenapa kamu tidak cari wanita lain untuk menjadi istri kamu. Kenapa harus aku…” umpat Yeri menggebu.
Arga memegang pundak Yeri, mendorongnya ke bawah untuk duduk kembali. “Jangan emosi dulu!! Kamu pikirkan lagi jika ingin menolakku.”
“Apa kamu mau ayah kamu tidak bisa sembuh dan tetap di rumah sakit, dan kamu terus banting tulang mencari uang untuk biaya perawatannya.” kata Arga.
Yeri berdengus kasar, dia menguntupkan bibirnya, sembari menajamkan pandanganya.
Kalau bukan karena kesembuhan ayah aku. Aku gak akan mau untuk menjadi istrinya.
“Em… Oke tidak masalah!! Asalkan kamu memenuhi semua kebutuhan ayah aku!!” Yeri mendongakkan kepalanya menatap Arga, dia menarik ke dua alisnya ke atas.
“Dan ingat! Kamu juga tidak boleh sembarangan menyentuhku. Dan kamu harus jaga jarak denganku!!”
“Tidak masalah!!” jawab Arga.
“Sekarang kamu pulanglah dulu, nanti aku akan jemput kamu di rumah!!” Arga beranjak berdiri, memasukan ke dua tangannya di saku celananya.
“Dan ingat! Kamu harus menyudahi pekerjaan kamu. Dan ingat jangan dekat dengan laki-laki lain. Karena status kamu adalah istri aku!!” jelas Arga.
“Iya!!” Yeri beranjak berdiri, meninggalkan ruangan Arga.
“Dasar wanita!!” Arga duduk di kusi kerjanya, menyandarkan punggungnya sembari mendorongnya agak ke belakang, dia mendongakkan kepalanya membayangkan wajah Yeri yang terlihat lucu saat dia marah.
-------
__ADS_1
Di rumah kecil milik Yeri, seorang wanita cantik dengan rambut berombak. Dia menyiapkan semua barang-barangnya. Dan tak lupa foto keluarganya. Yeti menatap foto ibunya, dia menghisapnya beberapa detik, lalu memeluknya sangat erat, air matanya tak kuasa menetes saat melihat foto ibunya yang sudah lama meninggalkannya.
“Ibu, hari ini aku akan masuk ke dalam rumah singa. Berkatilah aku ibu, agar aku bisa melawan ganasnya singa itu.” ucap Yeri tersedu-sedu.
“Ibu tahu gak, kalau singa itu nyebelin, galak, kasar lagi.” curhat Yeri pada foto ibunya.
“Siapa singa itu?” suara berat seorang laki-laki membangunkan Yeri dari bayangannya tentang ibunya. Dia melepaskan pelukannya.
“Siapa?” tanya Yeri, tanpa menoleh ke belakang. Dia mengusap ke air matanya dengan punggung tangannya.
“Kamu lupa dengan suami kamu!!” suara lembut sedikit serak itu terngiang dekat di telinganya.
Yeri sontak menoleh cepat ke belakang, melihat Arga yang sudah berdiri di belakangnya.
“Kenapa kamu sudah sampai di sini?” tanya Yeri bingung.
“Lagian aku gak ada kerjaan di kantor.” jelas Arga, berjalan mendekati Yeri, menarik foto dalam pelukanya.
“Kamu menangis hanya karena melihat foto ibu kamu?” ejek Arga, meletakkan kembali foto itu di tempatnya.
“Jangan ikut campur!”
“Kenapa?”
“Siapa juga yang mengejek ibu kamu.” Arga duduk di kursi kecil sampingnya.
“Kalau sudah meninggal tidak perlu di tangisi lagi! Dan kamu juga gak perlu banyak tanya atau apapun. Kenapa aku bilang begitu!!”
“Kamu gak tahu gimana rasanya di tinggalkan orang yang paling kita syang!!” ucap Yeri mendorong tubuh Arga hingga dia terjatuh dari kursinya, tersungkur ke lantai.
Arga menarik bibirnya tipis, seakan dia menyembunyikan kesedihan yang mendalam pada dirinya. “Cepat bersiap sekarang kita akan pergi untuk foto pernikahan.” Arga beranjak berdiri, mengibaskan kendua tangan kanan dan kirinya bergantian. Lalu menatap ke dua mata Yeri yang masih berkaca-kaca.
Wajahnya menunjukan jika dia menyembunyikan sesuatu.
“Jun! Bawa semua barang-barang dia, masuk ke dalam mobil, tetapi yang di perlukan saja” ucap Arga menoleh ke belakang, Asistennya Jun sudah berdiri di depan pintu, siap menerima perintah tuannya.
“Sekarang ikut aku!!” Arga menarik tangan Yeri.
Kenapa dia tidak marah sama sekali denganku? Padahal aku sangat kasar dengannya. Tidak seperti tuan Arga yang nyebelin pertama kali bertemu.
__ADS_1
Yeri terus menatap wajah Arga dari samping, dia hanya diam. Tanpa melirik sama sekali ke arahnya. Wajah Arga sangat dingin kali ini.
Tak berani bertanya pada Arga, Yeri hanya duduk di sampingnya. Menutup mulutnya rapat-rapat dari pada bertanya dan akan membuatnya marah. Kali ini yang terpenting dalam otaknya adalah kesembuhan ayahnya. Ia ingin ayahnya cepat sadar dari komanya yang sudah bertahun-tahun.
Suasana dalam mobil nampak sangat hening, Arga bahkan masih tetap diam, tanpa melirik ke arah Yeri. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Raut wajahnya berubah murung dan diam, saat Yeri mendorong tubuh Arga tadi.
Mereka sampai di sebuah rumah sakit, Dan Arga yang masih diam, menarik tangan Yeri keluar dari mobilnya. Dia menariknya semakin kasar berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Yeri menarik napasnya, mencoba menahan amarahnya kali ini. Dia menatap wajah Arga yang berdiri di sampingnya.
“Apa tadi kamu sakit?” tanya Yeri bergidik takut.
“Gak!!”
Nih orang kenapa, sih. Dia tiba-tiba cuek? Apa dia gak waras?
Yeri menghela napasnya, dia mencoba untuk tetap sabar menghadapi laki-laki di sampingnya itu.
“Ada yang terluka tidak,” Yeri mencoba melihat tangan Arga, dia memuat tubuhnya ke kiri, meraih tangan Arga, dan langsung di tepis oleh Arga.
“Tidak ada!!”
“Emm… Maaf!!” Yeri menundukkan kepalanya, menghentikan langkahnya, dia mulai memasang wajah cemberut dan lugunya.
“Kenapa minta maaf?”
“Aku salah! Aku telah mendorong kamu tadi” ucap lirih Yeri. “Emm. Tapi aku tadi gak sengaja,” Yeri mendongakkan kepalanya. “Aku tadi terlalu emosi,” Jelasnya sembari menundukkan kepalanya. Dia menarik tangannya dari cengkeraman tangan Arga, ke dua telunjuknya saling menusuk-nusuk dengan bibir sedikit menguntup seperti anak kecil.
“Apa kamu gak mau maafkan, aku!!” ucapnya.
“Cepat pergi temui ayah kamu!!” pinta Arga, dengan nada cueknya.
“Tapi kamu mau maafkan aku?” tanya Yeri memegang ke dua lengan Arga, sembari mendongakkan kepalanya, mengedip-ngedipkan matanya.
“Pergilah cepat!!” Arga menepis tangan Yeri.
“Waktu kamu hanya 15 menit saja.” lanjutnya.
“Emm. Oke baiklah!! Kalau kamu gak mau memaafkan aku. Oke. Aku gak akan pernah minta maaf padamu. Lagian hanya gitu saja marah!!” ucap Yeri meninggikan suaranya lalu perlahan mulai rendah.
__ADS_1
Dia segera pergi masuk ke dalam ruangan tempat di rawat ayahnya. Duduk di samping sembari menegang tangan ayah kesayangannya. “Ayah hari ini aku benar-benar sial, aku bertemu dengan laki-laki yang nyebelin!!” Yeri menempelkan tangan ayahnya di pipi kirinya.
“Tau gak yah, dia itu seperti seekor singa yang kelaparan kalau marah. Dan dinginnya melebihi es. Aku ingin sekali mengajar dia, menjambak-jambak rambutnya, mencubit semua bulunya. Biar dia merasakan sakitnya,” umpat kesal Yeri pikirannya sangat liar membayangkan adegan itu.