Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Kesal


__ADS_3

Sampai di sebuah taman, Arga beranjak turun. Dia terlihat begitu tampan di saat dia baik. Tetapi jika Arga kasar dengannya. Yeri selalu menganggap dia adalah singa jantan yang kelaparan. Wajahnya menyeramkan aura ketampanan bahkan hilang dari wajahnya.


Arga membukakan pintu untuk Yeri, mempersilahkan Yeri untuk keluar. Sembari mengulurkan tangannya. Wanita di depannya itu mengerutkan keningnya bingung. Wajahnya mengkerut dengan bibir sedikit menguntup bingung.


Kenapa dia jadi aneh gini? Apa mungkin tadi kepalanya terbentur pintu? Atau.. Jangan-jangan dia kerasukan hantu. Yeri menghela napasnya, mengusap dadanya berkali-kali.


"Mau sampai kapan kamu melamun? Mau turun gak?" tanya Arga, menatap bingung wajah Yeri yang hanya diam menatap dengan tatapan mata kosong.


"Aku boleh tanya?" ucap Yeri.


"Tanya apa?"


Yeri menerima uluran tangan Arga, beranjak turun dengan langkah sangat hati-hati.


"Kamu gak kenapa-napa, kan? Gak ada yang kebentur kepalamu?" tanya Yeri, memegang kepala Arga mencoba memastikan kondisi Arga.


"Tidak ada yang kebentur, memangnya kenapa?" Arga mencoba menepis tangan Yeri. Mencoba menghindarinya. Namun rasa penasaran Yeri begitu kuat, tak mau berhenti sebelum dia mendapatkan kabar baik jika Arga baik-baik saja.


Kalau kamu gak mau, sudah aku pergi sekarang." gumam Arga, melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Yeri sendiri.


"Eh.. Tunggu!" Yeri berlari mengejar Arga yang sudah beberapa langkah du depannya. Dia mendorong punggung Arga, membuat dia hampir saja terjatuh.


"Yeri!" geram Arga kesal, membalikkan badannya menatap tajam Yeri yang berdiri dengan wajah mengejek di depannya..


"Apa yang kamu inginkan, baby?" ledek Yeri, mendorong lagi bahu Arga, berjalan lebih dulu masuk ke dalam taman luas. Seketika langkahnya terhenti saat melihat beberapa tanaman yang nampak sangat indah. Beberapa macam tanaman terlihat sangat indah.


"Kamu sengaja ajak aku ke sini?" gumam Yeri.


Yeri... Awas kamu, jangan sampai aku menangkapmu. membawamu ke dalam jurang di depan." geram kesal Arga.


"Kenapa kamu bawa aku ke sini, Arga?" gumam Yeri memastikan.


"Iya, apa kamu suka?" tanya Arga.


"Tapi jangan pikir aku ajak kamu ke sini karena kencan, tidak dalam pikiranku ingin kencan dengan kamu. Aku tidak mau kamu terus sedih memikirkan ayah kamu. Lebih baik cari hiburan di luar." jelas Arga, berdiri tepat di samping Yeri.


"Terduga apa katamu!" gumam Yeri, berlari menikmati udara sejuk di sekitar taman. Harum bunga menyeruak masuk ke dalam penciumannya. Sangat segar! Yeri merentangkan ke dua tangannya. Dengan badan sedikit memutar, mengangkat kepalanya mendongak ke atas, sembari ke dua mata tertutup. Mencium harumnya bunga di sekitar.


Arga tersenyum tipis menikmati pemandangan di depannya. Bukan pemandangan taman. tapi wajah cantik yang terlihat sangat bahagia. senyum lembutnya membuat pandangan mata Arga tak bisa bisa berpaling mengagumi kecantikan dirinya.


Hingga sampai tengah malam. Mereka berdua di sana. Menghabiskan waktu bersama sambil tertawa, bercanda bersama seakan hilang rasa benci dari benak Yeri. Dan Arga hatinya terlihat sangat nyaman bersama dengan Yeri. Entah kenapa, dia merasa sangat dekat dengan wanita itu. Sama seperti wanita yang pernah dengannya dulu waktu dia SMA.

__ADS_1


Arga juga tak tahu sekarang di mana dia. Apa kabarnya. Apa dia masih baik-baik saja atau entah, dia juga tidak tahu.


Hingga jam 9 malam Arga mengajak Yeri untuk segera pulang. Karena dia besok sudah janji akan membawa ayahnya pulang ke rumah. Dia sudah menyiapkan beberapa dokter sekaligus perawat untuk memeriksa kondisi ayahnya.


Yeri menyambut kebaikan Arga. Dia memeluk Arga sangat erat, mengecup ke dua pipinya bergantian. Arga yang terkejut dia merasa sangat gembira, kecupan itu akan selalu ia ingat.


***


Dua hari kemudian.


Oma Mely yang sudah kangen berat dengan Yeri. Dia berjalan mencoba mencari dia di rumahnya. Sudah satu hari oma tidak melihat Yeri sama sekali.


Oma Mely, berjalan dengan langkah ringan. Ke dua kakinya seakan sangat berat melangkah. hanya dengan bantuan penopang tubuhnya, sebuah kayu yang terukir, di poles dengan warna hitam. Kain balutan kebaya sedikit gelap itu membuat dia tambah semakin tua, di tambah kerutan wajah yang semakin hari semakin terlihat sangat jelas.


"Arga, di mana Yeri?" oma Arga berjalan mendekati Arga yang sedang sibuk dengan ponselnya. Kakinya yang lemas, tak bisa berjalan jauh. Dia beranjak duduk di samping.


"Yeri, sepertinya di kamar," jawab Arga.


"Panggilkan dia, oma tunggu di sini."


Arga mematikan ponselnya. Meletakkan ke meja depannya. "Memangnya ada oma mau bicara apa dengannya?"


"Gak mau! Kalau oma gak mau beri tahu Arga."


"Panggilkan dia, gak?" oma Melly menggema kesal, ke dua katanya melotot seketika, kemudian memukul punggung Arga dengan tongkat miliknya.


"Ampun, oma. Ampun!" Arga beranjak berdiri. Sifat tegas Arga seakan jadi lembek seketika hanya karena oma-nya. Seakan aura lelakinya hilang.


"Cepat pergi, panggil Yeri. Jika kamu tidak mau. Akan aku pukul lagi lebih keras." ucap oma Mely, mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dan siap untuk melayangkan lagi beberapa pukulan sekaligus.


Arga beranjak betdiri, melangkah di balik sofa. "Iya, oma. Iya, udah aku panggilkan dia dulu." gumam kesal Arga.


"Cepetan!"


"Iya, oma sayang!" Arga mengecup dahi oma Mely dan berlari pergi meninggalkannya. Dia segera berjalan manaiki anak tangga mendekati kamar Yeri.


****


Di sisi lain, Yeri masih berbaring di ranjangnya. Hari ini dia benar-benar sangat capek. Kemarin baru dan bertemu dengan ayahnya. Merawat dia seharian bahkan sampai tertidur dengan posisi duduk di samping ayahnya. Karena Arga tidak ada di rumah seharian. Dia bisa leluasa pergi, lagian Oma Mely tidak pernah melarangnya kemanapun dia pergi.


Tok.. Tok.. Tok...

__ADS_1


"Yeri, cepat bangun!" teriak Arga menggema.


"Hemm.. apa sih, kenapa dia selalu menggangguku. Apa dia gak punya kerjaan lain selain mengganggu tidurku?" gumam Yeri, menarik ke dua tangannya ke atas, mencoba merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Ia mengusap ke dua matanya yang masih terpejam.


"Ada apa?" tanya Yeri lirih.


"Yeri, kalau kamu gak keluar aku seret kamu keluar nanti." umpat Arga.


Merasa sudah sangat kesal Yeri tak kunjung keluar. Meskipun dia mengeluarkan tenaganya untuk teriak-teriak gak jelas. Arga membuka pintu kamar Yeri, seketika ia berdengus kesal saat Yeri masih berbaring lagi di rahangnya. Memeluk guling sangat erat.


"Aku ngantuk, biarkan aku tidur setengah jam lagi."


"Bangun gak?" geram Arga. Berjalan dengan langkah ringan mendekati ranjang Yeri.


"Bentar, aku masih ngantuk." ucap Yeri, malas.


"Baiklah, kalau kamu gak mau pergi. Aku tidak jadi ajak ayah kamu ke sini."


Mendengar kata ayahnya Yeri melompat dari ranjangnya. Seketika ke dua matanya terbuka lebar. Sembari ke dua tangannya mengusap matanya yang masih terasa lengket, di penuhi kotoran di matanya.


"Baiklah, aku bangun sekarang. Tapi kamu cepat bawa ayah aku ke rumah. Aku ingin merawatnya sendiri." ucap Yeri antusias.


"Oke! Baiklah, tapi sekarang kamu mandi dulu. Setelah itu temui oma di bawah. Dia ingin bertemu dengan kamu." ucap Arga acuh tak acuh.


Yeri berdengus kesal, "Ada apa oma mencariku."


"Aku juga gak tahu, kalau aku tanya bisa-bisa di pukul terus." gumam Arga kesal.


Yeri terkekeh kecil. "Apa sosok Arga yang berwibawa, tegas, kalah dengan oma. Dan kenapa kamu jadi lembek tuan Arga." ejek Yeri, beranjak berdiri dari ranjangnya.


"Siapa yang lembek," ucap Arga kesal.


"Sekarang aku tahu kelemahan kamu. Jadi kalau kamu berani denganku. Maka aku akan adukan pada oma,"


"Yeri, jangan macam-macam denganku." ancam Arga tegas.


"Apa? Atau aku akan panggilkan oma sekarang?" Yeri membuka mulutnya, sudah siap berteriak memanggil oma


"Terserah! Udah cepat mandi," Arga melangkahkan kakinya kesal. Dia beranjak pergi meninggalkan Yeri sendiri. Dan wanita itu masih belum bisa berhenti tersenyum saat mengetahui rahasia Arga sekarang.


Pasti dia sekarang merasa sangat malu. Tapi tak masalah, aku akan jaga baik-baik rahasia ini. Dan hanya kamu dan aku yang tahu, Arga.

__ADS_1


__ADS_2