Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Merayu Manja 2


__ADS_3

Sontak Yeri menoleh, menatap Arga sudah berdiri di belakangnya. "Argaa…."


"Apa? lagian kamu lama." ucap Arga dengan santainya. Dia berjalan melewati Yeri. Ia menutup kelambu putih menghubungkan dinding kaca shower dan bathup. Arga melepaskan bajunya dan mulai berendam di atas bathup.


Sedangkan Yeri. Segera memakai dalemannya dan pergi meninggalkan kamar mandi. Tak hentinya di terus menghentakkan kakinya kesal.


"Aku tidak mengintipmu." ucap Arga, memejamkan matanya, menikmati air hangat di dalam bathup.


"Gak mungkin jika kamu tidak melihatnya." ucap Yeri tak percaya.


"Terserah kamu, percaya atau tidak padaku."


"Tidak." Yeri membuka pintu kamar mandi. Dan beranjak keluar. menutup kembali pintu kamar mandi sangat keras. Membuat bunyi nyaring.


Dasar laki-laki nyebelin. Kenapa dia seenaknya masuk ke dalam kamar mandi. Apalagi aku… Ah… Aku gak bisa bayangkan lagi. Saat dia melihatku tadi. Dasar nyebelin! Nyebelin! Nyebelin!


Yeri mengacak-acak rambutnya frustasi. dia tak bisa bayangkan begitu malunya tadi. Saat Arga sekilas lewat di sampingnya. Oh, tidak! Matanya pasti sudah lihat kemana, mana.


Yeri menarik napasnya dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan hatinya. Ia beranjak duduk di sofa. Tak henti Yeri mengusap wajahnya malu. Pikirannya melayang saat Arga menyentuh dadanya.


Laki-kaki dingin itu selalu dapat kesempatan untuk menyentuhku. Atau aku yang terlalu bodoh.


 


Arga yang baru saja selesai mandi dia segera memakai bajunya. Dan beranjak duduk santai di sofa dalam kamarnya. Melihat Yeri duduk sendiri di depan. Membuat dia merasa malas jika berhadapan dengan wanita bodoh. Membuat otaknya jadi ikut bodoh saat di depannya.


Yeri yang dari tadi menunggu Arga, dia ingin mengajaknya pergi ke rumah oma. Tapi sudah hampir satu jam. Bahkan dia belum juga keluar dari kamarnya. Merasa sangat penasaran, Yeri berjalan menuju ke kamarnya. Langkahnya terhenti saat melihat Arga sedang duduk santai, dengan ke dua tangan dan matanya fokus dengan ponselnya.


Yeri menarik napasnya dalam-dalam dan mencoba untuk memberanikan dirinya berjalan mendekati Arga.


Semoga saja dia tidak menolaknya. Aku sudah pertaruhkan wajahku. Kalau dia menolakku lagi, aku yang teramat sangat malu kesekian kalinya. Gumam Yeri, mengatur napasnya kembali.


“Hai...” sapa Yeri berjalan menghampiri Arga yang duduk santai di atas sofa. Mendengar suara Yeri, Arga meletakan ponselnya di atas meja. Ia mengubah posisi duduknya. Dengan tangan kiri di atasnya dan dia duduk santai menyandarkan punggungnya.


“Apa lagi?” tanya Arga sedikit kesal. “Atau kamu mau menuduh aku mengintip kamu lagi?” lanjutnya.


Yeri tersenyum, dia bersemangat Arga menjawabnya. Memang sedikit jutek. Tapi itu kebiasaan dirinya. Yeri duduk di samping Arga menatap ke arahnya malu-malu.


“Jangan dekat-dekat.” Pinta Arga.


“Memangnya kenapa?” tanya Yeri sedikit kesal.


“Sudah, jangan dekat-dekat aku bilang.” Arga menarik tubuhnya sedikit ke kiri.


“Kamu nyebelin! Aku itu gak bahas soal di kamar mandi” ucap Yeri mencoba menjelaskan.


“Nyebelin bagaimana?” tanya Arga. “Dan aku gak tanya soal itu.”


“Oke.. Oke.. Baiklah, sekarang langsung saja pada intinya.” Ucap Yeri, menarik napasnya dalam-dalam. “Emm.. Apa kamu sibuk?” Yeri mencoba menggeser duduknya, mendekati Arga.


“Entah, memangnya ada apa?” tanya Arga jutek, sembari menggeser tempat duduknya sedikit jaga jarak dengan Yeri.


“Bentar-bentar, kamu sudah mandi?” tanya Arga lagi, ia mengerutkan hidungnya.

__ADS_1


Yeri terdiam, ia mencoba mengingat kembali. Apa dia sudah mandi atau belum. Bahkan dirinya saja lupa, apalagi orang lain.


Ia tersenyum tipis menunjukkan gigi putihnya, menatap ke arah Arga. “Hehe.. Sepertinya belum..” gumam Yeri.


“Gak sepertinya lagi! Memang kamu sekarang belum mandi. Baunya saja sudah sampai ke hidungku.” Sambung Arga. “Sudah sekarang mandi sana, sebelum bicara denganku.” Arga mengerutkan hidungnya


“Tapi... aku bicara dulu sekali saja.” Ucap Yeri tak mau beranjak dari duduknya.


“Memangnya kamu mau bicara apa, lagi?” tanya Arga.


“Kamu hari ini ke rumah oma atau tidak?” tanya Yeri sedikit gugup. Dia takut Arga marah atau menolak ke rumah oma. “Emmm Hari.. ini..kan, hari libur kerja,”


“Aku sudah tahu, kalau hari ini libur kerja. Memangnya kenapa kalau libur kerja. Aku juga gak mau pergi ke rumah oma dulu.” Jelas Arga.


Yeri mengedipkan matanya berkali-kali. Ia merasa sangat aneh. Baru kali ini dia mendengar Arga menjelaskan panjang lebar. Biasanya selalu datar. Bahkan wajahnya lebih dingin daripada es.


“Tapi.. aku ingin jenguk ayahku.” Humam Yeri menundukkan kepalanya. “Aku sudah beberapa hari tidak melihat dia.”


“Mandilah!” pinta Arga.


“Jadi kamu mau?” tanya Yeri antusias.


“Sudah, cepat mandilah!”


Yeri tersenyum senang, dia bangkit dari duduknya. “Iya.. Iya.. aku akan mandi sekarang.. “ ucap Yeri, dia segera berlari pergi meninggalkan Arga. “Dan kamu, jangan pergi kemana-mana. Tetaplah di situ.” Ucap Yeri. Sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.


Merasa sudah tak ada Yeri lagi. Arga hanya diam, a menghela napasnya. “Benar-benar membuat aku pusing. Kenapa aku bisa menikah dengannya.” Gerutu Arga.


Ke dua mata Arga melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja. “Apa aku harus menghubungi dia?” gumam Arga. Dia mulai duduk tegap, lalu sedikit menunduk ke depan, dengan ke dua siku menempel di atas lututnya. Antara ingin mengambil dan tidak. Tangannya merasa maju mundur jika ingin menghubungi wanita itu.


Dalam satu tarikan napasnya, Arga meraih ponselnya. Dan segera mencari kontak nomornya. Meski sebenarnya Arga sudah tahu lama kontak nomornya. Dia sama sekali tak pernah menghubunginya. Ataupun berbicara dengannya. Dan sekarang ia juga tidak tahu, nomornya masih aktif atau tidak. Yang di miliki Arga itu adalah nomor lama.


Arga mencoba menghubunginya, lama tak ada jawaban. Membuat laki-laki itu sedikit kecewa. Hingga panggilan itu hampir selesai.


“Haloo... ini siapa?” suara lembut Cia menggetarkan hati Arga. Meski hanya beberapa kata, membuat hatinya merasa sudah terobati.


“Hallo... Ini siapa? Apa Anda kenal denganku? Hey... kenapa kamu hanya diam?” ucap Cia beruntun.


“Ya, sudah kalau kamu gak mau bicara. Dasar aneh!” lanjut Cia sedikit kesal, di ujung seberang sana.


Cia aku mendengar suara kamu saja sudah tenang. Aku ingin melihat kamu, dan memastikan jika sekarang kamu baik-baik saja. Tetapi entahlah, aku bingung sekarang. Hatiku merasa sangat sakit, masih sakit jika mengingat kejadian waktu itu.


Arga segera mematikan panggilan teleponnya. Dia menoleh menatap ke arah kamarnya. Melihat Yeri yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Arga segera beranjak dari sofa. Dan berjalan keluar dari apartemen miliknya. Dan kebetulan Lucas ada di sana, baru saja datang. Dia masih berdiri tepat di depan pintunya.


“Pagi, tuan!” sapa Lucas menundukkan badannya.


“Iya.. pagi.” Jawab Arga datar.


“Apa kamu di suruh oma datang ke sini?” tanya Arga.


“Iya, tuan. Dan sekarang saya ingin jemput Anda, dan non Yeri.”


“Baiklah, kamu tunggu saja dia. Sekarang wanita itu masih mandi. Dan aku mau berangkat lebih dulu. Bilang sama oma, jika aku nanti sedikit telat. Ada urusan yang harus aku kerjakan.”

__ADS_1


“Tapi.. tuan..”


“Gak usah tapi, tapian. Bilang saja apa yang aku perintahkan.” Tegas Arga, dan langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Lucas yang masih berdiri tepat di depan apartemennya.


Dan Arga melangkahkan ke parkiran mobil. Dia segera masuk ke dalam mobilnya. Dan melaju dengan kecepatan sedang menelusuri jalanan. Entah apa yang ingin dia cari, jika mencari Cia juga gak mungkin. Dia pasti naik mobil kemanapun dia pergi. Dan gak akan mungkin jalan kaki.


Lima belas menit perjalanan Arga menatap ke arah seseorang yang sedang berlari terbirit-birit dikejar para fans fanatiknya. Dia mengetuk bomper mobilnya. Membuat Arga seketika menghentikan mobilnya. Dia tahu, pasti itu Artis yang sedang di buru para wartawan.


Tanpa banyak tanya wanita itu segera masuk ke dalam mobil. Menghindari kejaran para wartawan dan para Fans yang dari kemarin memang sengaja selalu mengikutinya.”


“Cepat jalankan mobilnya.” Ucap wanita itu.


“Tapi kamu mau kemana?” tanya Arga.


“Nanti saja aku jelaskan. Sekarang jalankan dulu mobilnya.” Ucap wanita itu panik. Ia memalingkan wajahnya, ke belakang Agar para wartawan tidak melihat ke arahnya


Arga segera menjalankan kembali mobilnya. Melaju dengan kecepatan sedang.


Wanita itu mencoba mengatur napansya yang masih ngos-ngosan. Ia mengusap dadanya, saat dirinya merasa lega. dan sudah merasa aman, mereka tidak tahu di mana dia sekarang. Wanita itu segera membuka kaca mata hitam miliknya, syal dan jaket yang menutupi tubuhnya dan ke dua matanya.


Arga yang penasaran, ia melirik sekilas ke arah wanita di sampingnya. Seketika dia, melebarkan matanya saat melihat siapa wanita yang kini duduk di sampingnya itu. Rambut panjang, lurus itu terurai sangat indah. Wajah cantiknya terlihat sangat jelas di depan matanya.


“Cia..” pangil Arga gugup.


Wanita itu belum sadar jika mobil itu adalah milik Arga. Perlahan dia menoleh, saat Arga memanggilnya, Cia tak kalah terkejut saat melihat Arga pemilik mobil itu.


“Arga?” ke dua mata mereka saling tertuju. Dan Arga seakan terbius dengan tatapannya. Dia yang semula marah kini perlahan mulai luluh. Ke dua mata indah itu terlihat meneteskan air matanya. Dengan cepat Arga mengangkat tangan kirinya. Mengusap air mata di pipinya dengan ibu jarinya. Arga masih tak bisa melihat wanita yang di cintainya menangis.


“Jangan menangis.”


“Kenapa?” tanya Cia, mencoba untuk tersenyum bahagia. Namun dia tetap saja gak bisa, dan hanyalah air mata kebahagiaan yang keluar dari ke dua matanya.


“Aku bilang jangan menangis. Dan kamu masih saja tetap menangis. Kamu bandel sekarang tidak menurut padaku.” Ucap Arga, menahan air matanya. Dia mencoba untuk tetap tenang. Arga mulai menghentikan laju mobilnya.


“Kenapa kamu selalu menghindar dariku, Arga?” tanya Cia, menatap ke arah Arga.


“Karena aku gak sanggup melihat kamu. Kamu tahu, rasa sakit ini masih membekas di hatiku.”


Cia mengerutkan keningnya. “Rasa sakit apa? Apa aku telah menyakiti kamu? Apa aku telah menabur duri dalam hatimu?” tanya Felicia tak terima.


“Iya, duri yang kau taburkan masih menancap dalam di hatiku.” Wajah Arga terlihat datar kembali. Ia menatap ke arah Cia sekilas. Lalu mulai menjalankan mobilnya.


“Tunggu.” Ucap Cia, menarik tangan Arga agar mobilnya tidak melaju lebih dulu.


“Ada apa?” tanya Arga tanpa menatap ke arah Cia.


Cia menarik tangan Arga agar menatap ke arahnya. Wanita itu melayangkan sebuah kecupan lembut di bibir Arga. Membuat Arga terkejut. Ke dua mata mereka saling tertuju. Dan Cia memainkan bibir Arga, mengulum bibirnya. Tanpa balasan Dari Arga. Laki-laki itu hanya diam menatap apa yang di lakukan oleh Cia. Saat Arga ingin membalas kecupan itu, dia teringat kembali di mana saat Cia berada di sebuah club malam di America. Bahkan saat dia ingin menemuinya. Ternyata wanita itu sedang berciuman dengan beberapa laki-laki yang bersamanya. Melihat itu, sekarang dia punya panggilan baru untuk wanita yang di kenalnya dulu sangat polos.


Arga memanggil namanya dengan wanita ******. Dan kejadian itu membuat dia terpuruk sampai sekarang. Dia selalu ganti nomor jika Cia tahu nomor telfonya.


Arga memegang ke dua bahu Cia. “Apa yang kamu lakukan ******.” Pekik Arga, mendorong tubuh Cia menjauh darinya.


“Duduklah dengan tenang. Dan aku akan antar kamu pulang.” Tegas Arga, yang mulai menjalankan mobilnya. Tanpa menatap ke arah Cia yang terlihat kecewa padanya.

__ADS_1


__ADS_2