Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Pelakor beraksi


__ADS_3

Sedangkan Arga dia masih di dalam ruangannya. Dia terus berjalan mondar mandir di depan meja kerja. Bahkan sampai suara pintu terbuka dia hanya diam.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku menerima penjelasan dia? Atau aku hanya diam saja. Aku gak bisa melihat dia sakit hati? Ataupun menangis. Hatiku rasanya masih saja sakit.


"Tuan, apa anda tidak makan dulu." tanya Jun yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.


"Enggak. Nanti saja. Sekarang kamu tahu di mana Felicia?" tanya Arga.


"Gak tahu, tuan. Apa anda ingin cari tahu di mana dia sekarang?"


"Gak usah! Biarkan saja. Nanti kalau dia datang lagi. Berikan ini." Arga mengambil sapu tangan di saku celakanya. Dan di berikan pada Jun.


Jun semula terdiam, dia mengambil sapu tangan itu. "Ini untuk apa tuan?" tanya Jun bingung.


"Sudahlah, kamu berikan saja padanya. Saya kamu bertemu dengan dia nantinya.


"Baiklah! Nanti akan saya cari di mana dia sekarang tuan."


"Gak usah di cari. Nanti dia juga ada sendiri. Aku yakin dia pasti ada di sini." gumam Arga.


"Baiklah, tuan"


"Oh, ya. Di mana Yeri sekarang?" tanya Arga yang mulai ingat lagi tentang istri bawelnya itu.


"Sepertinya dia bersama dengan temannya di kantin tuan." ucap Jun. Dia memang semula melihat Yeri bersama temannya berjalan menuju ke kantin.


"Baiklah, aku akan ke sana." Arga menghela napasnya. Ia merapikan jas hitam miliknya. Lalu menarik dasinya sedikit ke atas. Membuat dia terlihat lebih elegan dan dingin.


Wajah tampan itu terlihat lebih keren jika di jalur dengan jas hitam.


 


Setelah selesai makan, Yeri masih diam di kantin kantor.. Ia dengan matanya terus menatap ke depan. Ia sepertinya melihat sesuatu yang tak mungkin di katakan. Yaa, itu adalah Felicia. Wanita cantik yang sedang diam duduk di kantin sendiri. Terlihat wajahnya begitu sedih. Meski dia terlihat tidak mengeluarkan air mata dari ke dua matanya.


Merasa tak bisa melihat wanita bersedih sendiri. Yeri beranjak dari duduknya. Dan berjalan meninggalkan Angel. Sedangkan wanita di sampingnya itu hanya diam, ke dua matanya menyipit dengan bibir menganga tak percaya dengan apa yang di lakukan Yeri. Dia begitu beraninya mendekati seorang artis terkenal itu.


"Apa dia benar-benar gila? Tapi atau mungkin dia juga penggemar beratnya kali ya?" gumam Angel. Tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya. Ia tetap diam, menatap temannya dari kejauhan.


 

__ADS_1


"Hai…." sapa Yeri tepat di depan Felicia.


"Iya.. Ada apa?" tanya Felicia, mengangkat kepalanya menatap Yeri berdiri di depannya. Seketika ke dua matanya mengkerut. Mencoba mengamati wajahnya.


"Bukanya kamu istri Arga?" tanya Felicia sedikit tak suka.


Yeri hanya tersenyum tipis. Sebagai jawaban dari pertanyaan Felicia. "Aku boleh duduk di sini?" tanya Yeri, mengalihkan pembicaraan.


"Duduk aja." ucap jutek Felicia.


"Memangnya ada apa kamu di sini. Atau kamu mau pamer jika Arga sekarang jadi suami kamu?" tanya Felicia, menarik sudut bibirnya sinis.


"Aku gak mau pamer pada siapapun tentang suami aku. karena dia juga sudah jadi milikku."


"Kalau gak pamer, kenapa juga kamu bilang begitu. Atau kamu sekarang mau tunjukkan pada dunia. Jika kamu bisa menikah dengan seorang bos." ucap Felicia sinis, dengan nada naik turun, ia mendekatkan wajahnya ke depan.


"Jangan pikir aku gak tahu kita busuk kamu menikah dengan kekasihku. Kamu hanya ingin uangnya. Ya, kan." lanjutnya sedikit mengeraskan suaranya. sekaan sengaja membuat, semua orang menatap ke arahnya.


Pandangan mata pegawai lain menatap tak suka ke arah Yeri. Dia terlihat jelek di mata mereka. Mungkin ada yang menyebutnya sebagai perebut calon suami orang. Dan ada juga yang memang sudah tak suka dengan Yeri dari awal.


"Kau gak seperti itu. Aku ke sini mau bilang. Jangan pernah terluka lagi. Aku akan bantu kamu nanti."


"Kamu salah paham.."


"Apa? sudah, deh. Gak usah menusuk sekarang. Oke. aku sekarang memang kalah dari kamu. Tapi soal hati aku yang akan menang. Dan lihat saja, gimana Arga akan perlakukan kamu seperti sampah." tegas Felicia.


Ke dua mata Felicia tertuju pada Arga yang berjalan menuju ke arahnya. Dia terlihat begitu tampan membuat pandangan matanya tak beralih kemanapun.


"Apa aku boleh jatuh cinta lagi ke dua kalinya dengan dia." gumam Felicia dalam hatinya.


Yeri… Ternyata kamu di sini. Aku mencarinya sekarang." ucap Arga. Meraih tangan Yeri. Sekilas dia melirik ke arah Felicia yang dari tadi terus menatapnya.


Felicai… Kenapa kamu melihatku dengan mata itu. Mata yang tak bisa aku lupakan.. Gumam Arga dalam hati. Dia menarik tangan Yeri berdiri.


"Memangnya mau kemana?" tanya Yeri bingung.


"Pergi."


"Kemana?" tanya Yeri yang masih penasaran.

__ADS_1


"Kamu lupa? Kita sekarang mau bertemu dengan client." jelas Arga.


"Memangnya kamu mau ajak aku ke sana?" tanya Yeri bingung.


"Memangnya siapa lagi kalau bukan kamu?" tanya Arga. Mendekatkan wajahnya.


Felicia yang melihatnya hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam. Dan mencoba untuk bersabar, dan lebih menahan hatinya untuk tetap tenang.


"Aku… Tapi aku.. Belum siap? Kenapa kamu gak ajak Felicia saja?" tanya Yeri, tersenyum menatap ke arah Felicia sekilas, lalu kembali menatap Arga.


"Aku hanya mau dengan kamu." tegas Arga, menarik pinggang Yeri mendekat ke arahnya. Ke dua mata mereka tertuju. Bahkan semua pegawai yang melihat mereka begitu senang. Dia terlihat sangat romantis membuat semua orang iri melihatnya. Meski di balik layar tak sama dengan kenyataan.


"Sekarang kamu ikut aku." Arga mendorong dahi Yeri dengan telunjuk tangannya.


Bukanya senang Arga memperlakukan dirinya dengan baik. Tapi dia malah merasa sedih. Saat melihat wajah Felicia terus berpaling dari Arga.


"Arga.. Tolong lepaskan tangan kamu." Yeri mendorong tubuh Arga menjauh darinya.


"Kenapa?" tanya Arga.


"Gak apa-apa,"


"Udah ayo pergi." Arga menarik lagi tangan Yeri.


"Bentar, aku kau bilang pada temanku dulu. Dia dari tadi menungguku." Yeri menatap ke arah di mana Angel duduk. Dan dia tak mendapati dirinya ada di sana.


Yeri tersenyum menatap ke arah Arga.


"Sepertinya dia sudah pergj." Yeri menoleh, seketika wajahnya terkejut saat melihat wajah Arga tepat ada di depannya. Ke dua mata mereka saling tertuju. Perlahan Yeri terlihat gugup. Ia menelan ludahnya berkali-kali hingga melegakan ternggorokannya.


"Kamu mau coba, coba berbohong padaku?" tanya Arga, menarik ke dua alisnya bersamaan.


"Enggak!!" Yeri menggelengkan kepalanya.


Braakkk….


Felicia merasa kesal. Dari tadi Arga dan Yeri selalu menunjukan kemesraannya di depan matanya. Membuat hatinya merasa terbakar api cemburu. Dia menggebrak meja dengan kerasnya. Dan berjalan pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun.


Yeri menatap ke arah Felicia pergi. Dan merasa kasihan dengannya. Ia tahu gimana rasanya sakit hati. Gimana rasanya dikhianati. Itu pasti sangat sakit. Bahkan sakitnya membuat semua yang ada di depannya serba salah padanya. Dan itu tak begitu mudah di lupakan bagi seorang wanita yang sudah terlanjur sakit hati. Rasa itu akan terus membekas di hatinya.

__ADS_1


"Udah, ayo pergi." ucap Arga. Menarik keras tangan Yeri segera beranjak dari kantin. Dan, mata Yeri seolah tak mau berhenti menatap Felicia yang berjalan menjauh. Wajahnya penuh raut kekecewaan yang mulai membakar hatinya.


__ADS_2