Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
part 2. Kenapa dia marah?


__ADS_3

Yeri kali ini hanya tertunduk. Dan mendengarkan setiap ucapan Angel. Memang ada benarnya apa yang di katakan Angel padanya. Membuat dia perlahan mulai sadar. Jika dia tak perlu menangisi hanya karena masalah hati.


"Orang yang tulus mencintai kamu. Tidak akan pernah bercabang. Dan bingung memilih." ucapan terkahir Angel membuat Yeri mengerutkan keningnya.


"Maksud kamu?" tanya Yeri.


"Aku tahu masalah kamu. Aku tadi melihat Felicia datang dengan baju seksinya. Masuk ke dalam ruangan Boss. Dan kamu tiba-tiba di panggil Jun pergi ke ruangannya. Kamu pasti melihat semuanya. Dan aku harap. Kamu sadar."


"Laki-laki tulus tidak akan pernah menduakan istrinya. Atau bahkan kekasihnya. Apalagi jika dia tidak bisa memilih. Dia bukan orang yang pantas untuk di pertahankan lagi. Pergilah! Biar suatu saat dia sadar. Siapa yang pantas bersanding dengannya. Dan siapa yang pantas untuk menjadi pigorannya." jelas Angel. Mencoba untuk tersenyum di depan Yeri. agar wanita di depannya itu tersenyum sepertinya.


"Yeri.. Bangkitlah! Jangan terpuruk hanya karena satu cinta. Masih banyak cinta yang menunggu kamu. Tinggal kita yang jalani saja kehidupan ini. Karena semua sudah di atur." ucap Angel. Dan di ajak dengan senyum tipis oleh Yeri.


"Nah.. Gitu.. Akhirnya kamu bisa tersenyum juga. Kamu tahu gak. Aku merasa sedih jika kamu gak senyum sama sekali. Apalagi kamu teman kerjaku. Tempat kerja kita berdampingan. Kalau kamu cemberut terus gak ada yang di ajak bercanda." gerutu Angel.


Yeri tersenyum tipis.


"Iya.. Kamu teman kerjaku paling bawelnya minta ampun. kamu tahu gak dari tadi kamu ngomong panjang lebar, tanpa jeda. Kalau nanti ceramah kamu itu masuk telinga kanan keluar telinga kiri, gimana?"


"Makanya di cerna bisa bisa merasa di otak kamu." ejek Angel.


"Aku udah paham.. Bawel." ucap Yeri dan segera duduk. Kalu ini Angel berhasil mengembalikan senyum Yeri. Meski entah dalam hatinya. Setidaknya dia tak terlihat bersedih lagu.


"Yeri.. Satu lagi. Jangan dengarkan ocehan orang yang iri padamu. Mereka hanya ingin berada di posisi kamu tapi tahu diri kalau levelnya standart." sindir Angel. Ia melihat beberpa pegawai yang menatap ke arahnya dan Yeri. Hati mereka merasa berdiri dengan perkataan Angel yang langsung menusuk hatinya. Tanpa banyak basa basi lagi.


"Biarkan kecoa itu berlarian mencari tempat singgah. Tapi pada ujungnya dia akan di injak juga pada orang yang tak suka melihatnya."


Yeri tesenyum melirik ke samping. Memang benar ada beberapa pegawai yang memang selalu cari informasi tentang dirinya.


"Kamu tahu gak… Kemarin ada orang yang telinganya pecah?"

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Angel penasaran


"Karena dia suka cari tahu berita orang lain. Dan menejelek-jelekan di belakangnya."


"Memangnya azab." gumam Angel terkekeh kecil.


"Tapi ada benarnya juga. Siapa tahu itu bibir dan telinga bisa kena azab kali ya. Kalau suka mengatakan keburukan lain."


"Pertama begitu." ucap Angel. Tak hentinya dia terus terkekeh kecil.


Merasa tersindiri oleh Yeri dan Angel. Para pegawai itu menghentikan kakinya kesal dan pergi dari sana. Angel dan Yeri tertawa terbahak seketika melihat ekspresi mereka tadi.


 


Sedangkan Arga dia hanya diam duduk memegang kepalanya. Pikirannya mulai kacau. Dia tak tahu apa yang di lakukannya tadi benar-benar gila. Nafsunya membuat otaknya merasa tak sadar. Gimana bisa dia making love dengan dua orang wanita sekaligus. Sungguh di luar dugaannya. Rasa kecewanya pada mereka membuat otaknya tak bisa berjalan.


Tapi memang aku lebih memilih Cia. Tapi aku juga tak bisa melihat Yeri menangis. Entah kenapa denganku. Kenapa tiba-tiba hatiku tersentuh saat melihat dia menangis di depanku.


Drrttt… Drrttt..


Suara dering ponsel membuat Arga tersadar dari lamunannya. Ia melirik ponsel di atas kerjanya. Sebuah nama yang tertera di layar ponselnya.


"Felicia?" ke dua mata Arga membulat seketika. dia takut jika Cia marah dengannya tadi. Atas apa yang di dikatakannya. arga meraih ponselnya dan segera menerima panggilan telfon darinya.


"Arga.. Lain waktu temani aku jalan-jalan ke luar negeri. dan ingat hanya kita berdua." ucap Cia,, menyela pembicaraan lebih dulu.


"Kita berdua?" Tanya Arga. "Memangnya kamu mau kemana?" lanjutnya.


"Aku mau syuting film. Dan sekalian aku ingin ajak kalau jalan-jalan nantinya. Dan atau lagi. Aku ingin melihat kamu tersenyum Dan soal tadi. Aku sudah melupakannya. Mungkin kamu lagi banyak pikiran." ucap Cia dari suaranya dia tidak terlihat marah sama sekali.

__ADS_1


"Baiklah!" ucap Arga.


"Kamu mau?" tanya Cia memastikan lagi. Dengan suara bahagianya.


"Iya… Aku mau. Aku akan temani hari kamu. Tapi aku gak bisa lama. Mungkin hanya 2-3 hari. Dan kita berangkat sendiri-sendiri. Kamu berangkat duluan. Aku akan menyusul nantinya." ucap Arga.


"Baiklah. Satu minggu lagi aku berangkat. Aku ingin secepatnya kamu menyusul. Aku sudah sewa satu kamar buat kita."


"Kenapa tidak dua kamar? Apa kamu mau jika ketahuan media?" tanya Arga.


"Tenang saja. Tidak akan ada yang tahu. Dan aku ingin kamu menemani tidur aku selama 3 hari."


"Puaskan aku." ucap lembut Cia sedikit menggoda. Dan Arga hanya diam tersenyum tipis. Dia tak bisa menolaknya kali ini. Ia mematikan ponselnya bersamaan dengan Cia. Lalu meletakkan kembali di atas meja kerjanya.


"Mungkin benar. Jika Cia hamil. Aku bisa menikah dengannya. Setidaknya bisa bahagia dengannya. Dan oma tidak akan bisa mengaturku lagi." gumam Arga dalan hatinya.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu memikirkan tentang istrimu?" tanya Cia.


"Tidak, sayang. Aku hanga memikrikan tengangmu. Tidak ada wanita lain," kata Arga. Membelai lembut rambut panjang Cia.


"Kamu yakin tidak memikirkannya? Bukanya kamu sempat dekat denganya. Apa kamu tidak punya rasa lagi padanya." Tanya Cia mencoba untuk menggoda.


Arga tersenyum tipis. Dia menberikan kecupan lembut di kening Cia. "Sayangku hanya untukmu. Sejak kamu datang dalam hidupku. Aku merasa tidak ada wanita lain yang bisa menggantukan kamu di hatiku. Sekarang, jangan malu kengungkapkan pada media siapa kekasihmu." Arga menatap kedua mata Cia. Tatapan mata utu sangat dalam. Di sambut dengan sentum tipis di hinir Cia.


"Aku sangat mencintaimu. Aku ingin bilang pada media. Jika kita tinggal bersama. Dan, kamu akan menikah denganku."


"Soal, oma. Kita bisa pikirkan belakangan. Aku yakin Oma juga pasti akan suka lagi padaku." lanjut Cia. Arga memeluk tubuh Dia sangat erat. Mengusap punggungnya beberapa kali. Perlahan pelukan itu semakin erat.


"Jangan tinggalkan aku!" ucap Arga sedikit memohon.

__ADS_1


__ADS_2