Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Tinggal berdua


__ADS_3

Setelah pesta pernikahan kemarin. Yeri pergi ke suatu apartemen yang memang sudah disiapkan oma untuk mereka berdua. Selama 2 bulan, mereka harus tinggal di sana. Tidak boleh pindah atau punya apartemen terpisah. Bahkan oma sudah memerintah Lucas untuk mengawasi Arga diam-diam.


Setelah pernikahan selesai. Arga yang sibuk dengan pekerjaannya dia meninggalkan Yeri sendiri. Dan terbang ke luar negeri untuk bertemu seseorang. Dan tak mau menginap di sana. Laki-laki itu langsung terbang kembali ke Indonesia.


Lagian oma nya pasti akan terus ngomel-ngomel gak jelas jika dia tidak pulang berhari-hari.


Arga langsung menuju ke alamat apartemen yang sudah diberikan oma nya sebelum dia berangkat.


Sampai di depan apartemen. Arga berdiri di depan pintu, menatap detail apartemen yang sudah di siapkan oma nya.


"Apa ini alamat apartemennya?" gumam Arga, menatap kembali nomor apartemen.


"Tuan, anda sudah datang." sambut Lucas, mengambil koper Arga.


"Apa ini apartemen yang di belikan oma?" tanya Arga memastikan. Dia mengerutkan keningnya. Lalu melirik ke arah Lucas. Melangkah dua langkah ke samping. "Apa Yeri ada di dalam?" bisik Arga.


"Sepertinya, Non, Yeri baru saja keluar." ucap Lucas.


"Sama siapa? Dan keluar di mana diam?" tanya tegas Arga.


"Dia pergi dengan tuan, Gio. Dan baru saja keluar."


"Kenapa kamu ijinkan dia keluar berdua. Kamu tahu jika wartawan tahu kalau dia jalan dengan adik aku. Mau di taruh dimana mukaku?" pekik Arga tanpa sela.


Lucas membuka pintu apartemen. Menarik koper Arga masuk ke dalam tanpa pedulikan ucapan Arga.


"Eh… Kamu, bisa dengar tidak apa yang aku katakan?" tanya Arga.


"Dengar, tuan!"


"Kalau kamu dengar, kenapa tidak jawab pertanyaanku?"


"Apa oma tidak kasih tahu, tuan sebelumnya?"


"Kasih tahu tentang apa?" Arga berjalan masuk ke dalam apartemennya.


"Yeri tinggal di sana dulu satu hari. Ada hal yang ingin oma katakan padanya. Dan Tuan, harus berada di sini. Tidak boleh keluar kemana-mana. Dan soal makanan semua sudah saya atur bersama dengan Jun."


Arga menghela napasnya. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


"Baiklah kalau tidak ada dia di sini. Aku bisa tidur dengan nyenyak sekarang." ucap Arga merentangkan kedua tangannya. Ia merasakan nikmatnya tidur di ranjang. Sudah satu hari dia tidak bisa tidur pulas. Tidur di pesawat tak seenak tidur di kamarnya.


"Kasih tahu, aku jika Yeri datang. Dan nanti jika dia sudah pulang. Bilang padanya. Jangan suka pergi dengan laki-laki lain."


"Baik, tuan!"


"Ya, sudah sekarang kamu pergilah. Aku mau istirahat."


"Iya, makanan sudah saya siapkan di meja. Anda tinggal memilih sendiri tuan."


"Baiklah, baik" gumam Arga malas, mengibaskan tangannya, memberi kode pada Lucas untuk segera pergi. Ke dua matanya sudah tak tertahan lagi. Tubuhnya sudah capek berjalan bolak balik tanpa istirahat.


Lucas segera pergi, menutup kembali pintu kamarnya. Dan Arga berbaring di ranjang, sampai dia benar-benar tertidur lelap.


\=\=\=\=


Pov Yeri.

__ADS_1


"Eh… ingat jaga jarak denganku?" sindir Yeri pada Gio yang masih fokus mengemudi mobilnya.


"Kenapa? Lagian kamu kakak iparku. Dan gak ada jarak antara kakak ipar dan adik ipar."


Yeri memicingkan matanya, "Apa yang kamu katakan?"


"Kita dekat lebih dari adik ipar juga tak masalah." goda Gio, melirik ke arah Yeri, menarik turunkan alisnya.


Yeri memutar bola matanya malas, seakan dia ingin muntah mendengar kata itu.


Gak mengerti Meski dia tampan, tapi kalau Arga tahu. Aku bisa jadi perkedel nantinya. Atau aku bisa dicincang jadi seperti daging.


"Apa kamu sudah baca pesan di ponsel kamu yang lama?" tanya Gio memastikan.


"Belum." jawab jutek Yeri.


"Kenapa?"


"Malas!"


Gio meraih tangan Yeri, mengusap lembut punggung tangannya. Dan seketika di tarik oleh Yeri. "Jangan menyentuhku." ucap Yeri tanpa menatap ke arah Gio.


"Siapa juga yang menyentuhmu?" tanya Gio, terkekeh kecil. Dan kembali fokus mengemudi mobilnya.


"Lihatlah tangan kamu, di punggung tangan kamu ada lipstik." ucap Gio, menahan tawanya tanpa menatap ke arah Yeri.


Yeri menarik tanganya, menatap punggung tangan kanannya. Ia teringat jika dirinya tadi coba lipstik saat mencium punggung tangannya.


"Bilang saja, kalau kamu gugup saat dekat denganku."


Yeri menatap ke arah Gio. "Enak saja, lagian kamu gak bilang kalau ada lipstik."


"Udah jangan banyak bicara. Fokus pada jalan di depan kamu."


"Iya, bawel!" ledek Gio.


Sampai di rumahnya. Gio beranjak turun lebih dulu dari mobilnya. Berjalan memutar depan mobil, bukakan pintu mobil untuk Yeri.


"Jangan sok baik," sindir Yeri, beranjak turun berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumahnya. Yeri tersenyum saat melihat oma sudah berada di ruang tamu duduk sendiri di sofa seakan sudah menunggunya dari tadi.


"Oma, ada apa mencariku?" tanya Yeri.


"Duduk, lah. Dulu sayang!" ucap oma menyambut kedatangan Yeri dengan sebuah pelukan.


"Oma, kalau aku peluk Yeri boleh?" tanya Gio, membuat Yeri menoleh menajamkan matanya.


Tak hanya Yeri, oma sudah siap melayangkan tongkatnya. Dan Gio yang sudah tahu itu, melangkah mundur dua langkah.


"Oma, hanya bercanda. Lagian oma bisa peluk dia. Kenapa Gio tidak?" gumam Gio.


"Kamu masih kecil. Jangan seenaknya dengan kakak ipar kamu. Cari pacar saja sana yang benar, jangan ganti ganti pacar lagi."


"Kenapa oma? Lagian mereka semua cantik-cantik, dan tentunya orang kaya oma."


"GIO…." pekik Oma nya, sembari memegang dadanya yang terasa sesak jika harus berhadapan dengan cucunya yang satu ini. Dia selalu membuatnya naik darah. Dan bisa-bisa jantungan.


Yeri memegang ke dua lengan Oma. "Oma, duduklah dulu." pinta Yeri, menuntun oma nya perlahan untuk duduk kembali di sofa.

__ADS_1


Oma Melly menarik napasnya dalam-dalam, mencoba untuk sabar menghadapi cucunya yang lebih bandel lagi dari ada Arga.


"Gio. Kemarilah!" pinta oma.


"Oma, boleh membiarkan aku memeluk Yeri."


"Udah, sini." pinta oma nya lagi.


Gio dengan penuh percaya diri. Ia tersenyum melangkahkan kakinya, telapak kakinya menghantam lantai putih berjalan ringan menuju ke arah oma nya. Dia merentangkan ke dua tangannya, sembari menekankan matanya.


"Udah, Yeri. Sekarang peluk aku." gumam Gio yang terlalu percaya diri.


Yeri memincingkan matanya, menatap ke arah oma nya.


Oma, beranjak berdiri menarik telinga Gio.


Sakit.. Oma, apa yang oma lakukan. Kalau Gio kehilangan ketampanan Gio gimana?" decak Gio, sembari meringis menahan sakit.


Yeri terkekeh kecil melihat keluarga mereka nampak sangat bahagia. Selalu bercanda, membuat Yeri merasa betah tinggal di sana. Seakan dia punya keluarga baru yang sangat perduli dengannya. Meski Arga tak terlalu perduli juga padanya.


"Aku sudah bilang padamu.. Oma pusing melihat ganti wanita setiap hari.. Jangan bikin oma tambah frustasi Gio." pekik Oma semakin menarik telinganya, lalu sedikit memutarnya.


"Ampun! Oma, ampun! Iya, deh aku akan cari wanita yang baik nanti."


"Dan jangan ganggu, kakak ipar kamu lagi."


"Iya.. Iya.. Oma, aku janji.. Aku gak akan ganggu dia, kalau ingat."


"Apa katamu?" pekik oma Melly, menajamkan suaranya.


"Oma, akun hanya ingin akrab saja dengan kakak iparku. Lagian siapa juga yang suka dengan Yeri."


"Oma, tapi lepaskan dulu telingaku. Nanti kalau copot gimana?" rengek Gio.


"Sekalian copot. Biar kamu gak sombong punya wajah tampan."


"Oma, tampan itu anugrah. Tidak boleh menyia nyiakan anugerah." jawab Gio tak mau kalah.


"Anugrah buruk bagimu."


"Oma, ampun, deh! Tolong lepaskan. tangan oma. Telingaku sakit. Nanti kalau almarhum mama tahu tahu, dia marah pada oma gimana. Karena oma sudah menyakiti anak kesayangannya."


Mendengar kata itu, oma terdiam. Mama Gio dan Arga adalah anak oma Melly. Jika mendengar nama itu membuat oma terdiam. Perlahan tangannya mulai melemas. Melihat kesempatan itu Gio segera melangkah ke belakang menjauh dari oma nya.


"Kamu harus jaga Yeri. Jangan sampai dia di sakiti oleh Arga."


"Wah.. Kalau itu, siap oma!" ucap Gio antusias. Dia tersenyum seketika melirik ke arah Yeri menarik turunkan alisnya menggoda.


"Sekarang pergilah. Aku mau bicara dengan Yeri, hanya berdua." ucap Arga.


"Oke! Siap," ucap Gio, mencolek dagu Yeri. Membuat wanita itu menarik tubuhnya sedikit ke belakang, mengusap dagunya berkali-kali.


"Gio.. cepat pergi." tajam Oma Melly. Dia sudah ingin melayangkan tongkatnya ke arah Gio.


"Iya… oma aku pergi." gumam Gio melangkahkan kakinya pergi. Ia menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Yeri, memberikan cium jauh untuknya.


"Dasar aneh," pekik Yeri.

__ADS_1


Melihat Gio sudah pergi menjauh. Oma duduk kembali, di bantu oleh Yeri.


"Oma, mau bicara apa?" tanya Yeri memastikan.


__ADS_2