Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Masaka yang sangat mematikan


__ADS_3

Sembari menunggu Yeri yang masih mandi. Arga duduk santai di sofa dengan punggung bersandar dan ke dua tangannya berada di atas sofa, sembari menunggu santai Yeri


Sesekali dia melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah menunjukan pukul 07 pagi. Dirinya bahkan sudah ada janji dengan seseorang jam 8 pagi nanti.


Arga juga belum sadar jika dirinya juga mau ke kantor. Lucas dan Jun sudah menunggu di luar. Tapi mereka belum juga keluar. Dua asisten itu nampak mengekspresikan wajahnya berbeda. Lucas terlihat sangat santai sedangkan Jun tidak tenang. Jun Dan Hans. Dua asistennya itu memang sangat akrab dengan Arga. Dia tahu semua apa yang di inginkan tuanya. Dan apa yang di rencanakan tuannya.


"Apa semalam mereka melakukannya?" tanya Jun membuat Lucas menoleh, mengerutkan keningnya bingung.


"Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, hanya saja penasaran. Kenapa mereka jam segini belum juga keluar dari kamarnya."


"Biarkan mereka menikmati harinya." bisik Lucas. Laku berdiri tegap menatap ke arah pintu. Dia sengaja untuk menjaga Arga. Jika dia pergi nantinya. Sama saja jika dirinya setor nyawa pada oma Arga.


"Oo.. ya, sudah!"


Sepertinya Lucas tahun ada yang di sembunyikan Jun padanya.


Yeri yang sudah selesai bersiap. dia berlari keluar dari kamar mandi. baukan dirijya sudah memakai make up natural dengan bibir merah muda cocok untuk style-nya saat ini.


"Kamu benar pergi?""


"Iya, lah. Ini hari pertama aku kerja sebagai peserta magang di sana."


Arga mengangguk anggukan kepalanya sok paham. Ya, tapi memang kenyataannya dia sangat paham.


"Kenapa kamu gak magang di tempatku."


"Gak mau, lagian di kantor kamu itu. Banyak orang keras kepala, terus nanti aku di marahin habis-habisan. Mending cari aman."


Arga berdengus kesal. "Apa kamu bilang" tanya Arga, berjalan menghampiri Yeri.


"Memangnya kamu magang di mana?" tanya Arga memastikan.

__ADS_1


"Di perusahaan, Mix group. Di sana juga tidak kalah bagus dengan perusahaan kamu."


Arga terkekeh kecil. "Sejak kapan kamu di sana?"


"Sejak hari ini?"


"Apa oma, yang mrmbawa kamu di sana?" Arga bangkit dari duduknya. "Gak mungkin kamu begitu mudahnya bisa masuk di perusahaan besar."


"Maksud kamu?" tanya Yeri bingung. "Kamu meragukan kemapuanku?"


"Iya…"


"Aku itu mahasiswa paling pintar di kampus."


Arga terkekeh kecil. Seakan dia tak percaya dnegan apa yang di katakan Yeri.


"Memangnya kamu bagian apa?" tanya dengan nada sedikit mengejek.


"Maksud kamu?"


"Emm.. Sudah lupakan saja. Gak penting."Arga melirik jam tangan rolex di tangannya.


"Jam 7.30 menit. Aku juga harus pergi ke kantor." lanjutnya.


Yeri segera memakai sepatu pantofel wanita berwarna hitam dengan buru-buru. Dia sudah hampir terlambat. Sampai sana bisa di maki habis-habisan nanti.


Setelah memakai sepatunya. Yeri berjalan terburu-buru menuju ke pintu. Ia teringat sesuatu. Seketika dirinya membalikkan badannya. Menatap ke arah Arga.


"Oya? jangan lupa sarapan. Aku sudah buatkan makanan untuk kamu di atas meja makan." ucap Yeri sebelum dirinya menghilang dari sana.


Arga menatap ke arah meja makan. Dia ia melihat makanan di meja. Dengan air putih di atas meja.


Arga tersenyum tipis. Melangkahkan kakinya menuju ke meja makan. Dia sudah siap untuk makan hari ini. Lagian perutnya juga sangat lapar. Soal janjian. Nanti bisa di undur, lah, sedikit saja.

__ADS_1


"Aku gak nyangka jika dia bisa masak? Tapi kenapa dia kemarin wanita bertemu di rumahnya. Hanya makan mie instan. Dan itupun.. Hah.. Gak bisa di bayangkan lagi. Rumahnya begitu berantakan. Nasib beruntung dia bisa tinggal di sini." gumam Arga, memggelengkan kepalanya. Ia tak bisa pikirkan rumah begitu berantakan seperti kapan pecah.


Arga mulai menikmati makanan yang ada. Ia baru menelannya seketika memuntahkan kembali makanan itu. "Ini makanan apa? Apa dia mau meracuniku?" pekik Arga, ia segera meraih air putih di mejanya. Meminumnya hingga setengah gelas panjang itu.


"Yeri…." decak kesal Arga. Dirinya benar-benar kesal, mencengkeram erat gelasnya. Mungkin bisa pecah kalau terlalu lama.


"Udah buang-buang waktu ku makan makanan gak enak ini. Kenapa dia masak sangat asin? Kalau memang sengaja dia meracuniku. Awas saja nanti kamu pulang. Aku akan kasih pelajaran buatmu."


"Jun…" teriak Arga, membuat Jun yang mendengarnya berlari masuk ke dalam apartemen Arga.


"Tolong sekarang, bilang pada tamu kita. Jika aku akan segera datang. Mungkin sedikit telat 5 menit. Aku mau mandi dan bersiap."


"Baik, tuan! Tapi, tuan apa tidak makan dulu."


Arga menatap ke arah makanan di meja. "Kalau kamu mau makan, silahkan. Aku gak selera makan itu." Arga bangkit dari duduknya berjalan menuju kamar mandi. Dan Jun masih berdiri di meja makan.


"Aku makan saja, lagian ada makanan gratis." Perutnya yang terasa lapar. Dia mencoba.makanan sisa tuannya itu. Bukanya kenyang, dengan susah payah. Meski butuh perjuangan mematikan untuk menelan satu sendok makanan itu sangat sulit. Tenggorokannya Jun mencoba meraih air putih. Di meja hanya ada sisa air putih tuanya. Merasa belum lega. Ia meraih buah apel lalu mengigitnya. Terasa lega tenggorokannya saat makan buat apel itu. Ia menarik napasnya dalam-dalam.


"Pantas saja tuan tidak mau makan ini, makanan ini benar-benar sangat asin." gumam Jun yang langsung berlari pergi dari apartemen Arga. Dia merasa sudah kapok mencoba masakan tadi.


"Itu tadi masakan Yeri atau tuan muda? Kenapa bisa asin seperti itu? Apa sengaja mau buat yang makan mati?" gerutu Jun sebelum menutup pintunya kembali.


Yeri yang mendengarnya. Dia mengerutkan bibirnya. Sembari berjalan pelan mendekati Jun.


"Apa masalahku separah itu?" tanya Yeri.


Jun meenggeram kesal. Dia tidak habis pikir dengan istri tuannya saat ini. Jun menggelengkan kepalanya. Menatap lekat kedua mata Yeri. "Masakan anda sangat luar biasa. Lebih baik anda rasakan sendiri. Bagaimana sangat luar biasanya masakanmu!" ucap Jun. Sembari tersneyum tipis pada Yeri dan segera melangkahkan kakinya pergi.


Yeri masih mengerjapkan matanya bingung. Dia melirik ke arah Jun pergi. Sbeelum laki-laki itu menghilang dari ruang makan. Yeri segera mencicipi makannya. Satu sendok saja sudah membaut tenggorokannya kaku. Dia berusaha menelan makanan itu. Tetap saja tak bisa.


"Hueekk.." Yeri memuntahkan lagi makannya.


"Pantas saja, semua tidak suka dengan makanan. Ternyata makanannya terlalu enak. Sampai aku sendiri hampir mati makanya." gerutu Yeri. Dia menghela napasnya beberapa kali. tubuhnya seketika lemas. Yeri beranjak duduk meletakkan tangannya di atas meja.

__ADS_1


"Bagaimana caranya aku bisa masak. Kalau begitu terus bisa gila aku. Arga memintaku terus masak. Bahkan aku sendiri tidak bisa." gerutu Yeri. Mengerutkan bibirnya. Mencoba ubtuk mencari cara lain. Agar dirinya bisa masak.


__ADS_2