
Arga membawa Yeri pergi ke sebuah Vila miliknya yang jauh dari rumahnya.
Dia segera mengangkat tubuh basah Yeri keluar dari mobilnya, berjalan masuk dengan langkah terburu-buru.
“Bi!! Siapkan kamar!!” ucap Arga.
“Iya tuan!!”
“Bentar!! Tapi sepertinya gak jadi, dia di kamar ku saja!!” Arga membalikkan badannya, wajhanya yang nampak panik dan cemas mondar-mandir kebingungan di depan kamarnya.
Kalau dia bangun nanti dia kira aku mesum!! Lebih baik siapkan kamar saja!!
“Tapi kasihan dia juga sudah ke dinginkan. Sebaiknya di kamar aku!!” oceh Arga yang masih terlihat bingung.
Dua pembantu setianya itu, yang selama ini selalu mengurus vila kosong miliknya itu.
“Udah bii… aku bawa ke kamarku saja. Kalian siapkan baju,” ucap Arga yang langsung membuka pintunya.
“Baju siapa tuan? Kalau baju saya nanti kegedean.” jawab Bi Inem.
“Pakai baju saya gimana tuan,” saut bi Cici pembantu yang terlihat seumuran dengan Arga.
“Terserah pakai baju siapa saja. yang penting dia gak ke dinginan. Dan sekalian pakaikan bajunya nanti,” jelas Arga.
Para pembantu Arga bergegas pergi, dan segera menyiapkan apa yang di minta Arga.
“Bukan maksud aku mempermalukanmu!!” gumam Arga, mengusap wajahnya cantik Yeri, dia menyentuh bibir mungilnya, mengusap setiap lekuk bibir atasnya, memutar ke bawah dengan ibu jarinya.
“Bibir yang sangat menggoda!!” ucap Arga sembari tersenyum tipis.
“Permisi tuan!!” ucap bi Cici yang tiba-tiba masuk membuatnya terkejut, dan langsung menarik tangannya yang masih menyentuh bibir Yeri.
“Iya, ada apa?” tanya Arga sembari melirik ke belakang.
“Ini bajunya, apa aku gantikan sekarang?”
“Iya, cepat gantikan!”
“Baik tuan!!”
Arga beranjak pergi, berjalan masuk ke kamar mandi, ke dua tangannya memegang pinggiran wastafle, sembari menatap wajahnya di depan kaca.
“Apa yang akh pikirkan. kenapa aku bisa perduli dengannya? Padahal aku tidak pernah tertarik sama sekali dengan wanita” decak kesal Arga, memukul kaca di depannya. Dia melihat bayangan yang membuatnya merasa sangat menyedihkan. Di tempat yang sama, vila yang sama kenangan itu tiba-tiba muncul.
Saat kekasihnya memeluknya dari brlakang, sembari menyikat giginya bersama.
“Argg… Kenapa ingatan itu tidak bisa di luapakan!!” decak kesal Arga, segera menyalakan membasuh wajahnya.
“Aku harus buktikan jika aku tidak lagi perduli dengannya!!”
Arga membalikkan badannya, ia berdiri di depan pintu kamar mandi, sembari memegang knop pintu yang sudah siap di putarnya.
--------
“Tuan Arga tumben banget bawa wanita ke Vila?” bisik bi Inem, pembantu yang sudah hampir 20 tahun bekerja dengannya, saat Arga masih kecil.
__ADS_1
“Iya, sepertinya Tuan Arga sekarang tumbuh normal!!”
“Padahal dulu aku kira dia jadi Gay, setelah putus dengan kekasih lamanya!!”
“Husstt… Jangan bahas mantanya. Nanti kamu bisa di cincang-cincang oleh tuan Arga!”
Arga yang mendengar itu, perlahan membuka pintunya dan melangkahkan kakinya keluar.
“Apa yang kalian bicarakan? Emang banyak orang yang bilang aku gay?” tanya Arga tepat di hadapan bi Inem dan Cici.
Mereka saling membenturkan sikunya, hanya diam menunduk memegang tangannya cemas.
“Gak usah takut? Aku gak marah pada kalian?”
“Emm… I-iya t-tuan!!” ucap bi Inem gugup
“Nyonya besar yang sering mengira jika Tuan Arga Gay, karena belum pernah sama sekali bawa wanita pulang ke rumah dan mengenalkan pada orang tua, tuan.”
“Baik! Kalian pergilah sekarang. Semua sudah selesai, kan?” tanya Arga mengalihkan pembicaraannya.
“Sudah, tuan!!” ucap bi Cici.
“Saya permisi dulu” sambung Bi Inem, tangan kirinya menyenggol siku kanan bi Cici. Memberi kode untuk bergegas keluar.
“Bi, siapkan makanan. Dan buatkan air jahe hangat!!!”
“Baik tuan!!”
Merasa semua sudah pergi, Arga menutup pintu kamarnya. Dia kembali duduk di samping ranjangnya. Menatap wajah yang begitu polos.
Suara dering ponsel berbunyi dengan nyaringnya. Arga segera mengambil ponselnya dan mengangkat telepon entah dari siapa.
“Tuan ada kabar baru lagi?” suara yang sangat familiar itu mudah di tebal oleh Arga.
“Ada apa?”
“Sebenarnya gadis itu punya ayah yang terbaring sakit di rumah sakit. Dan sekarang dia kerja setiap hari untuk menjadi kencan bayaran. Demi menghidupi dirinya sendiri dan ayahnya yang butuh biaya banyak!!”
“Makasih infonya!!” jawab singkat Arga, mengakhiri panggilannya.
Arga memandang setiap ukiran lekuk wajah cantik Yeri.
------
“Emmm… Kepalaku kenapa pusing!!” Yeri megang kepalanya. Dia memutar matanya melihat ruangan yang sangat berbeda dari rumahnya.
“Apa aku sudah di surga?” tanya Yeri.
“Di surga rumahku,” ucap Arga mendekatkan wajahnya.
“Wuaa… Kamu siapa, cabul!!” Teriak Yeri melihat wajah Arga sangat dekat membuatnya kaget.
spontan Yeri mendorong tubuh Arga.
Arga menautkan ke dua alisnya, “Cabul katamu?”
__ADS_1
“Iya, laki-laki cabul!!”
Yeri mencoba menarik tubuhnya untuk duduk bersandar di kepala ranjang itu.
Arga menunjuk wajah Yeri dengan telunjuk tangannya, sembari mengertakkan giginya kesal, ia melemparkan tangannya ke bawah kesal. "Emm… Awas jangan bicara itu lagi Jika kamu tidak ingin aku melakukannya seperti yang kamu pikirkan!!
“Kenapa kamu di sini?” tanya Yeri menatap kesal Arga. Dengan padangan mata melebar semakin lebar saat Arga membalas tatapan tajamnya.
“Jangan panggil aku, cabul!!” jelas Arga. “Aku yang menolong kamu tadi, kalau bukan karena aku kamu pasti masih tergeletak di jalan. Terus kamu di ganggu oleh para preman mengangkat tubuh kamu, gimana?”
Yeri menghela napasnya. “Mendekatkan wajahnya!!”
“Gak ada preman yang akan berani denganku!!” ucapnya tegas.
Krukkkk… Krukkk…
“Suara apa itu?” tanya Arga menahan senyumnya.
Perut oh perut… Kenapa kamu berbunyi di saat seperti ini. Yeri mengusap perutnya yang terasa sudah sangat lapar, dari tadi pagi belum makan sama sekali.
“Di sini ada apa?” tanya Arga, jeari-jarinya mengusap lembut bibir Yeri.
“Gak ada apa-apa!!” Yeri menepis tangan Arga.
“Baiklah!!” Arga tersenyum licik, seketika membuat Yeri menarik tubuhnya ke belakang.
“Kamu mau apa?” tanya Yeri. Dan Arga masih terus merangkak ke atas ranjangnya. Dna beranjak berdiri. Dia segera mengangkat tubuh Yeri.
“Turunkan aku!!” Yeri sontak terkejut, dia memukul dada bidang Arga berkali-kali.
“Diamlah!! Jangan banyak bergerak atau bicara, jika satu kali kamu bergerak, berarti sama dengan satu kali kecupan!!” ucap Arga.
Yeri tertegun seketika, ia menarik ke dua alisnya ke atas. Salah satu mata kirinya mengernyit. Mencoba mencerna apa yang di katakan Arga, saat dia mulai paham, Yeri menutup mulutnya rapat-rapat dengan ke dua tangannya.
Arga tersenyum, berjalan ringan menuju ke ruang makan.
“Bi, semua sudah siap?” tanya Arga.
“Sudah tuan!!” jawab kompak dua pembantunya itu.
Arga menurunkan tubuh Yeri, “Duduklah!!” ucap Arga.
“Kita makan?” tanya Yeri sangat antusias melihat berbagai makanan lezat di depannya.
“Makan…!!” belum selesai berbicara Arga sudah di buat geleng-geleng kepala, meliahat Yeri yang makan begitu lahapnya.
“Pelan-pelan kalau makan!!” Arga duduk tepat , dia hanya bisa menelan salivanya, susah payah. Melihat wanita itu makan seperti orang yang benar-benar kelaparan.
“Aku lapar!!” jawab Yeri dengan mulut yang masih di penuhi makanan.
“Bentar!!” Arga bernajak berdiri, mendekatkan wajahnya, ke dua mata mereka tertunu beberapa detik, lalu menjilat sisa nasi yang menempel di ujung bibir Yeri.
“Apa yang kamu lakukan?” ucap Yeri mendorong tubuh Arga, membuatnya duduk kembali di kursinya.
“Ada sisa nasi di bibir kamu. Nanti dia akan menangis kalau tidak di makan!!”
__ADS_1
“Jangan alasan!! Pasti kamu cari kesempatan.” ucap kesal Yeri yang melanjutkan makanya lagi. “Dasar laki-laki cabul!!” lanjutnya lirih