
"Jun, sapa Yeri sudah berada di rumah oma" tanya Arga. Pada Jun, dari balik telfon.
"Belum tuan, dia belum datang. Bukanya tadi, dia sama Lucas?" tanya Jun dari balik telfon.
"Iya.. tapi apa memang dia belum juga sampai? kemana Dia? Gak mungkin jika dia keluar dari tadi belum juga sampai." jawab Arga memutar matanya mencoba mengingat kembali apa yang di perintahkan pada Yeri.
Sepertinya aku tidak memerintahkan dia. Tapi kenapa dia lama? Jangan-jangan…
Arga melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 10 pagi.
"Jun… Coba cari tahu di mana dia sekarang? Dan kenapa dia belum juga sampai. Kalau perlu susul dia di apartemennya. Dan satu lagi. Jangan bilang pada oma." tegas Arga.
"Memangnya saya harus bilang apa, tuan. Saya juga tidak pernah cerita semua pada, oma."
"Baiklah! Cepat cari tahu dia." Ucap Arga. "Dan Lucas, apa dia juga sudah datang?"
"Baik, tuan! tapi Lucas belum datang juga. Mungkin mereka masih di jalan." jawab jun dari balik telfon. Dan Arga segera mematikan ponselnya. Ia melemparinya kesal di kursi sampingnya. Arga kembali fokus dengan jalan di depannya, ia melaju dengan kecepatan sedang.
"Sialan! Kenapa dia pergi tidak bilang padaku? Atau jangan-jangan mereka kencan bersama? lagian Lucas itu laki-laki tampan dan dia seumuran denganku." ucap Arga mencengkeram erat setir mobilnya. Dalam hati kecilnya dia merasa sangat emosi saat tahu Yeri belum datang.
Dan dia merasa sedikit ada getaran cemburu yang menyelimuti hatinya.
"Ini juga, kenapa oma cari asisten yang tampan. Bahkan dia juga masih muda. Kenapa tidak cari asisten tua saja. Dan Yeri lebih aman. Tidak akan berpaling dariku. gerutu Arga.
"Bentar! Kenapa juga aku khawatir dengannya? Dan kenapa juga aku cemburu. Lagian dia itu siapa? Enggak! Enggak! Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak akan mau suka dengannya. Tidak… Aku tidak mau ini terjadi." gumam Arga, mencoba menyadarkan hatinya. Meski di bibirnya dia berkata tidak. Di hatinya masih terselip rasa kesal.
__ADS_1
Arga menarik napasnya dalam-dalam. ia mulai fokus lagi dengan jalan di depannya. Ke dua matanya tertuju pada mobil oma yang berada di depannya.
"Itu bukanya mobil oma? Dan kenapa ada di situ?" tanya Arga dia melintas melewatinya. Mencoba melihat berhenti dimana mobil itu.
"Ini Perawatan wajah? memangnya keriput oma bisa kembali jika perawatan wajah segala. Dan di samping juga salon. Mungkin rambut putih oma itu di lurusin. Atau jangan-jangan oma memang ingin. kembali muda." gerutu Arga sembari terkekeh kecil. Otaknya mulai menayangkan penampilan oma yang berbeda nantinya.
Merasa penasaran. Arga melanjutkan mundur dan masuk ke dalam parkiran. "Bentar! Kenapa juga aku ingin tahu urusan oma. Lebih baik aku pergi saja. Kalau oma tahu aku basah kuyup gini. Dia pasti akan curiga. Apalagi jika aku bertemu dengan Cia tadi. Dia pasti marah padaku." gerutu Arga. Ia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobilnya.
Arga sambil duduk sempurna menatap ke depan. Dengan tangan memegang setir mobilnya. "Lebih baik aku pulang dulu dari pada aku cari masalah." gerutu Arga. Dia segera memutar mobilnya dan kembali keluar dari parkiran mobil itu.
Lucas yang tahu jika itu mobil tuan Arga. Dia mencoba untuk berlari mengikutinya. Tapi usahanya nihil. Arga melaju dengan kecepatan tinggi.
Tak lama Arga sampai di rumah mewah milik oma. Dia berjalan dengan langkah ringan masuk ke dalam rumah itu. Dengan santainya dia berjalan menuju ke kamar. Tanpa sadar jika oma duduk santai di atas sofa menunggu kehadirannya dengan Yeri.
"Mau kemana kamu?" suara yang tak asing itu membuat Arga menghentikan langkahnya seketika.
"Kenapa baju kamu basah?" tanya Oma tajam. Dia beranjak berdiri. Berjalan menghampirinya. Ke dua matanya mulai mengamati setiap tubuh Arga. Bajunya basah dengan sedikit berantakan. membuat pikiran oma jadi salah paham seketika.
"Eh.. Oma," Arga tersenyum tipis. "Emm.. Tadi itu.. aku.. aku tadi sedang menolong orang oma?" ucap Arga beralasan.
"Tapi aku gak yakin? Memangnya benar apa yang kamu katakan? Jika kamu bohong aku gak mau tinggal diam nantinya." gerak Oma.
Arga tersenyum, meraih ke dua tangan oma. "Enggaklah oma, masak cucu kamu yang tampan ini bohong. Lagian juga aku hanya menolong orang oma. Jadi gak masalah, kan? Lagian juga itu baik oma."
"Gak masalah jika yang kamu tolong bukan orang yang pernah kamu sukai dulu." sindir oma membuat Arga melebarkan matanya. Oma menarik tangannya, melipat di atas dadanya.
__ADS_1
"Ingat, Arga. Kamu sudah di sakiti olehnya. Dan kamu malah dekat lagi dengan dia. Apa kamu gak sadar? Kamu itu laki-laki bodoh atau gimana?" tajam Oma meninggikan suaranya.
Dan untuk kesekian kalinya. Arga hanya bisa diam. Ia tertunduk.
"Gimana bisa, oma tahu? Apa ada orang yang memberi tahu oma. Atau jangan jangan oma mengirimkan mata-mata untuk melihat gerak gerik aku?" gumam Arga dalam hatinya.
"Arga.. aku tanya padamu sekali lagi. Jika kamu masih ingin melihat oma. Turuti apa kata oma. Jangan kembali lagi dengannya." ucap oma membuat Arga mengangkat kepalanya mendengarkan setiap apa yang oma ucapkan.
"Oma, gimana oma bisa tahu?" tanya Arga memastikan.
"Oma juga lihat kamu mengantarkan dia pulang." tegas oma.
"Tidak ada yang tidak tahu bagi oma. Jadi jangan beraninya kamu coba bohongi oma. oma tidak suka jika kamu mencoba membohongi oma lagi. Hanya karena ingin dekat dengan wanita pelacur itu."
"Oma dia bukan pelacur."
"Kalau bukan pelacur, terus apa panggilan nya." tanya Oma menajam.
Oma juga sangat kesal dengan wanita itu. Dia juga sangat kecewa dengannya. Di saat Arga ingin mengajak dia menikah. Ingin memberi kejutan dia, sampai rela pergi ke Amerika. Dan saat cucunya itu, bertemu dengan Cia berciuman dengan laki-laki lain. Bahkan seakan tubuhnya di obral sana sini di sebuah club malam.
Saat itu Arga pulang dengan keadaan mabuk berat. Dan tiga hari dia tidak sadar. Dia benar-benar sudah terpuruk. Hanya karena seorang wanita itu. Oma yang melihat kondisi cucunya. Dia seketika marah pada Cia. Dan mencari tahu semua tentangnya di sana. Hingga oma tahu kebenarannya. Dia mengirimkan uang pada Cia. Untuk menjauhi Arga. Dia sudah tidak butuh wanita penghibur seperti dia.
"Oma, sudah, jangan bahas dia lagi. Lagian aku juga tidak mau lagi bahas dia. Sudah aku mau mandi. Dan jika Yeri datang nanti oma beri tahu aku." ucap Arga datar. Wajahnya sedikit kesal dengan oma-nya. Saat menghina Cia. Ada rasa tidak terima orang yang pernah mengisi hatinya itu di hina. Meski sudah menaburkan luka. Tapi dia juga sudah menaburkan kebahagian dulunya.
Arga melangkahkan kakinya pergi meninggalkan oma. Tanpa berkata apa apa lagi. Dan oma hanya diam berdiri menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa dia selalu saja bodoh karena cinta. Apa Arga sudah di butakan oleh cinta, wanita ****** itu?" gumam Oma. Dia tak mau tinggal diam. Oma berjalan meraih ponselnya dan segera menghubungi seseorang untuk membuat Cia tahu rasa. Bukanya hanya menghancurkan karirnya saja.