Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Mulai Dekat


__ADS_3

Arga mengusap ke air mata yang menetes di ke dua mata Yeri. "Jangan nangis cengeng."


Yeri menatap wajah Arga. "Cengeng? Siapa yang cengeng?"


"Kamu, gitu saja nangis. Lagian kamu masih punya ayah. Dan kamu bisa foto dengannya kapan saja." ucap Arga.


"Tapi…"


"Tapi kamu terlalu jelek saat di foto." Ejek Arga, tertawa kecil mengusap ujung kepala Yeri.


"Kamu seperti anak kecil tahu gak." lanjutnya.


Dia tersenyum? Apa aku gak salah lihat. Dia tadi benar-benar tersenyum. Kenapa dia sangat tampan.


Yeri mendorong dada Arga, menjauh darinya. "Jangan seenaknya bilang aku jelek."


"Emang jelek," pekik Arga tajam. Menarik ke dua alisnya bersamaan.


"Dasar nyebelin! Nyebelin! Nyebelin!" pekik Yeri memukul dada Arga berkali-kali. Merasa Geram Arga memegang ke dua pergelangan tangan Yeri. Mendorong tubuhnya bersandar di pagar balkon.


"Bisa diam?" umpat Arga, meninggikan suaranya. Ia mendekatkan wajahnya. Dengan tubuh semakin tertarik menempel padanya. Merasa was-was. Yeri menarik tubuhnya ke belakang. Sesekali ia melihat ke bawah. Lantai yang begitu tinggi. Membuatnya merinding takut. Yeri memejamkan matanya.


Apa dia akan mendorongku? Atau aku akan berakhir sampai di sini, padahal kisah cintaku belum ada endingnya. Pekik Yeri, memegang sangat erat pagar balkon.


Arga menatap ke arah Yeri. Ia tersenyum tipis. Saat melihat wanita itu begitu ketakutan. Merasa sudah puas ngerjain dia. Arga memegang pinggang Yeri, menariknya ke depan, membuat tubuh mereka memutar, ke depan. Saling menempel, masuk dalam dekapan hangat.


Yeri hanya diam memejamkan matanya. Tubuhnya bergetar hebat. Dan berpikir dia akan jatuh di bawah.


Kanapa aku belum jatuh? Apa gedungnya terlalu tinggi? Atau aku jatuh terlalu lambat? Em… jangan-jangan aku di selamatkan sosok malaikat tampan seperti yang di drama itu.


Ke dua mata Arga tak mau lepas menatap wajah Yeri. Setiap gerak-gerik wajahnya, ia selalu memperhatikan secara detail. Tangannya semakin memegang erat pinggangnya. Membuatnya tak bisa berkutik lagi.


Kalau dia malaikat, bolehkan aku menciumnya. Biar dia bisa jadi manusia nanti. Dan terus dia pergi bersamaku. Yeri terus menggerutu dalam hatinya. Tingkahnya yang begitu polos membuat pikirannya seperti anak kecil. Ia menguntupkan bibirnya, sedikit manyun ke depan, seakan sudah ingin mencium Arga. Dengan cepat laki-laki itu mendorong dahi Salsa dengan telunjuk tangannya.


"Jangan seenaknya mau cium orang," bisik Arga tepat di telinga Yeri.


Merasa tak asing mendengar suara itu. Yeri membuka matanya lebar. Ia menatap ke arah Arga, terdiam sejenak. Merasakan tangan Arga berada di pinggangnya.


"Aaaaa…. Kenapa kamu memegangku." teriak Yeri, menarik tubuhnya menjauh dari Arga. Ia menutupi dadanya dengan ke dua tangannya.


"Tadi apa yang kamu lakukan?" pekik Yeri.


"Emangnya aku mau melakukan apa?" tanya Arga memastikan.


"Ya, mana aku tahu. Em.. Siapa tahu.. Kamu.. eh. Kamu tadi menciumku?" ucap Yeri gugup. Merasa sangat malu ia memalingkan wajahnya.


Yeri kenapa kamu bodoh sekali. Lagian apa dia tadi menciumku. Bukanya aku yang hampir saja mencium dia tadi. Ah.. Ini sangat memalukan. Benar-benar memalukan. Aku gak habis pikir dengan bibirku ini. Gerutu Yeri menghentikan gerakkan kakinya lirih.


"Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Arga memastikan. Ia melangkah dua langkah ke depan, menepuk pundak Yeri.

__ADS_1


Apa.yang harus aku lakukan di depannya sekarang. Aku sangat malu.


"Yeri? Kamu kenapa?" tanya Arga ke dua kalinya.


Yeri menarik napasnya dalam-dalam, ia menundukkan kepalanya memutar tubuhnya.


"Ya, sudah aku mau pergi." ucap Arga.


Yeri mengangkat kepalanya cepat. "Em.. Kamu mau pergi kemana?" tanya Yeri sedikit khawatir."


"Ponselnya gimana?"


"Nanti aku perbaiki!"


"Sekarang!" decak Yeri.


"Iya! Nanti aku akan perbaiki. Dan tenang saja..Soal data kamu." ucap Arga melangkahkan kakinya pergi. Melambaikan tangan ke arah Yeri.


"Eh… Bentar!" ucap Yeri, mengatupkan bibirnya, berlari kecil mendekati Arga.


Arga menghela napasnya kesal, memutar matanya malas. "Apa,lagi, Yeri?" tanya Arga.


"Kamu mau kemana?" tanya Yeri tubuhnya mengikuti setiap langkahnya pergi.


Yeri apa yang kamu tanyakan.. Kenapa kamu bertanya itu berulang kali. Lagian sudah kelas dia mau pergi. Gerutu Yeri, mengumpat pada dirinya sendiri. Ia merasa malu dengan apa yang udah dikatakannya.


"Mau pergi." jawab Arga, berjalan mengambil jaketnya, dan kembali lagi, menatap ke arah Yeri. Namun, dia sengaja menjaga jarak dengannya.


"Ke pesta teman."


"Teman siapa? Apa kamu punya teman di sini? Dan di mana dia tinggal? Apa oma juga tahu tentang teman kamu? Teman kamu wanita atau laki-laki, kalau wanita dia cantik gak? Dan sebaliknya kalau laki-laki apa dia tampan." cerocos Yeri tidak ada hentinya. Ia mengedip-ngedipkan matanya memasang wajah seperti anak kecil yang memelas.


"Kenapa matamu?" tanya Arga mengerutkan keningnya, sedikit menatap aneh Yeri.


"Mataku?" Yeri memegang ke dua matanya.


Ada apa dengan mataku? Apa tadi aku salah?


"Dasar aneh!" ucap Arga.


"Eh.. Aku gak aneh.. Lagian tadi pertanyaan aku belum di jawab. Kalau sudah di jawab pergilah."


"Pertanyaan apa, aku tak jelas cara bicara kamu cepat gak ada titik, komanya.


Yeri mengatupkan bibirnya kesal. "Ya, udah. Kamu pergi kemana?" tanya Yeri sedikit kesal.


"Kamu gak tahu, jadi lebih baik sekarang kamu diam. Dan jaga rumah." pekik Arga, memegang ke dua bahu Yeri.


"Aku boleh ikut kamu," gumam Yeri, mengatupkan bibirnya. Ia tertunduk takut.

__ADS_1


Arga menatap setiap gerak-gerik Yeri. Seketika ia menghela napasnya kasar.


Pikirannya mulai kacau saat menikah dengannya. Dia tak bisa berkutik sama sekali, apalagi Yeri ada tameng berat. Yaitu oma nya.


Kenapa dia tidak. istirahat atau gimana? Dia selalu saja membuat aku merasa muak.


"Kenapa.kamu diam? Nama teman kamu siapa? Apa oma juga tahu."


"Gak ada hubungannya dengan oma, jadi jangan sampai kamu beri tahu dia. Kalau sampai oma tahu. Aku tidak akan memaafkan kamu." ancam Arga.


"Gak perduli. Aku ingin bilang pada oma jika kamu bertemu wanita lain." ucap Yeri tak terasa mulutnya tiba-tiba mengeluarkan ucapan tak terduga itu.


Arga mengerutkan keningnya. Ia sedikit tertunduk, menatap ke arah Yeri sangat dekat. Membuat hembusan napasnya saling berpacu.


"Maksud kamu?" tanya Arga.


"Lupakan saja, aku ikut." ucap Yeri, lalu dia segera memalingkan wajahnya malu.


Yeri.. Apa yang kamu katakan? Gimana bisa aku ikut denganya? Apa dia akan mengajakku? Lagian kamu juga tidak tahu dia pergi kemana?


Arga berdiri sempurna, memasukan ke dua tanganya di dalam saku. Dengan ke dua mata birunya itu menatap setiap gerak-gerik wajah istrinya.


"Emm… Baiklah, kamu boleh ikut. tapi kamu harus ganti baju. Jangan pakai baju seperti ini." ucap Arga, melangkahkan kakinya pergi.


Yeri membalikkan kepalanya menatap Arga sudah hampir membuka pintu apartemennya.


"Bentar, kenapa kamu meninggalkanku?" tanya Yeri.


"Aku tunggu kamu di bawah, lagian kalau di dalam. Apa aku boleh lihat kamu ganti baju?" jawab Arga tanpa menoleh ke belakang. Ia memegang gagang pintu, lalu membuatnya secara perlahan.


Yeri menundukkan kepalanya. Ia benar-benar sudah malu ke sekian kalinya. Rasa gugup saat berbicara padanya membuat dirinya sangat malu, semalu malunya.


Yeri segera ganti baju. Ia membuka lemarinya menatap baju yang cocok untuk dirinya. Tak hentinya dia membolak-balikan beberapa baju, mencobanya di depan cermin. Lalu melemparnya di ranjang.


"Kenapa semua bajuku jelek-jelek!" gumam Yeri kesal.


"Emm… Kata Arga tadi mau pergi ke rumah teman. Ya, sudah lalu baju seadanya saja lagian juga gak terlalu penting, kan." gumam Yeri, ia memakai baju asal. Menggunakan rok span pendek, dengan baju tangtop terbuka sedikit tubuhnya. Lalu memakai jaket levis lengan panjang menutupi tubuhnya.


Merasa sudah rapi. Yeri berlari keluar dari apartemen.


Sampai di lantai parkiran mobilnya. Dia memutar matanya mencoba mencari di mana Arga sekarang.


"Tit… Tit…"


Suara keras klakson itu mengejutkannya. Yeri mengerutkan keningnya. Dan berlari menuju ke mobil Arga.


Setiap perjalan suasana mobil nampak sangat hening. Arga terlalu fokus mengemudi mobilnya. Dan Yeri hanya mencengkeram jari-jari tangannya sendiri. Ia tak berani memulai pembicaraan lebih dulu. Sesekali Yeri melirik ke arah Arga. Menatap wajah laki-laki itu dari samping.


Wajah yang begitu dingin, jutek, nyebelin? tapi di balik itu semua, ternyata punya banyak sekali kepribadian. Saat dia tersenyum. Dan saat dia di marahin oma nya. Dia begitu lugu seperti anak kecil. Tapi ketampanan di wajahnya tak pernah pudar. Dia selalu mandi di setiap moment.

__ADS_1


Ke dua mata Yeri tak lepas menatap wajah Arga. Mengamati setiap sudut wajahnya. Hidungnya, alis tebalnya membuat dia sangat iri. Dengan mata tajam berwarna biru itu terlihat begitu tampan. Bibir seksi yang sedikit menggoda. Seorang laki-laki idaman para wanita.


__ADS_2