
Setelah bertemu dengan oma dan ayahnya. Yeri. Ia kembali ke apartemennya setelah belanja beberapa stok makanan untuk Arga nanti.
"Gio, apa kamu tahu, Arga sudah pulang atau belum?" tanya Yeri, melirik ke arah Gio yang masih sibuk mengemudi mobilnya.
"Emm.. sepertinya dia sudah pulang. Lagian asistennya Jun, dia sudah ada di apartemen."
"Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Yeri bingung.
"Karena aku…" Gio memalingkan wajahnya, mencari jawaban yang tepat untuknya.
"Aku apa?"
"Emm.. Aku itu tadi.. Iya. Aku tadi mencari Lucas. Dan katanya dia juga di sana. Jadi aku perintah dia untuk pulang."
"Oo.."
"Hah… Aku gak boleh tahu, lebih baik diam. Lagian kakak juga kenapa pulang secepat itu. Aku ingin lebih lama dengan dia. Tapi dia gak begitu menanggapi. Gumam Gio, melirik sekilas ke arah Yeri.
-----
Setengah jam perjalanan jarak antara rumah sampai di sebuah apartemen mewah di pusat kota. Gio menghentikan mobilnya sampai di depan. Laki-laki itu melepaskan sabuk pengaman milik Yeri.
"Kamu masuk sendiri saja, aku masih ada urusan sekarang." ucap Gio beralasan. Sebenarnya dia gak mau dulu bertemu kakaknya.
Yeri mengangkat kepalanya, menatap Gio. Lalu tersenyum tipis. "Iya, makasih."
Yeri membuka pintu mobilnya, belum sempat melangkahkan kakinya. Tangan Yeri seakan menyangkut sesuatu di belakangnya.
"Bacalah pesanku, aku ingin tahu jawaban kamu nanti."
"Tentang apa?" Yeri menoleh cepat, ia mengerutkan keningnya bingung.
"Sudahlah, baca. Dan aku tunggu jawaban kamu nanti malam. Jangan sampai telat."
"Memangnya kamu tunggu aku di mana?"
"Di taman apartemen belakang. Aku tunggu di sana. Jam 11 malam. Dan ingat datanglah sendiri. Jika kamu tidak mau kena masalah dengan kakakku, dia itu super duper bawel." ucap Gio, tersenyum, mengusap rambut Yeri.
Yeri memutar bibirnya. Dia mencoba memutar otaknya, memikirkan apa sebenarnya maksud dari Gio. Dari kemarin dia selalu membahas itu. Dan dirinya juga tak tahu isi pesan itu. Apa pernyataan cinta? Atau hanya pesan singkat biasa?
"Aku gak mau bertemu dengan laki-laki lain apalagi tengah malam. Dan aku sudah menikah, jangan berpikiran aku wanita gampangan yang bisa gonta-ganti pria. Karena itu tidak mungkin. Lebih baik aku setia pada satu orang meski di sakiti dari pada suka dengan laki-laki lain selain suamiku." jelas Yeri.
Gio menarik tangan Yeri hampir saja bibirnya mendarat dengan sempurna di bibir Yeri. Dengan cepat wanita itu menutup bibir Gio. Ke dua mata mereka saling tertuju dalam diam. Mata tajamnya itu menusuk ke dalam hatinya. Ingin sekali marah dan kesal padanya. Tapi tatapan itu seakan meluluhkan hatinya.
__ADS_1
Yeri.. Ingatlah. kamu sudah punya suami. Meski suamimu tak pernah menganggap kamu. Atau hanya suami pura-pura. Tapi setidaknya kamu harus bisa jaga diri jamu. Jangan mudah di lecehkan oleh laki-laki playboy seperti dia.
"Jangan bodoh!" ucap Yeri mendorong tubuh Gio menjauh darinya. Wanita berambut panjang sepunggung itu, melangkah keluar dari mobil Gio. Lalu menutup kembali pintu mobilnya. Dengan perasaan kesal, Yeri berjalan masuk ke dalam apartemen menuju ke kamarnya.
Dasar nyebelin! Gimana bisa dia mau menciumku? Apa dia gak tahu tata krama dengan istri kakaknya. Yeri berjalan tak berhenti dia terus menggerutu samar. Sembari meluapkan isi hatinya.
"Non, Yeri." sapa Lucas.
"Iya.." jawabnya jutek, dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Perasaan kesalnya membuat dia tak sadar jika Arga sebenarnya sudah kembali.
Yeri menatap ruangannya nampak sangat kosong, ia melempar tasnya di atas ranjang. Lalu menjatuhkan tubuhnya yang seakan mau rontok itu di atas ranjang lembut itu.
"Hari ini benar-benar menyebalkan." gumam Yeri, menatap atap langit kamarnya.
Yeri terdiam teringat tentang ucapan Gio tadi. Dia yang begitu penasaran. Dengan segera beranjak berdiri mencari ponselnya di laci-laci kamarnya.
"Ini dia… sebelum Arga tahu pesanku. Lebih baik aku lihat dulu dan hapus semua pesan ini." gumam Yeri.
Eh… tapi kenapa juga di hapus. Lagian dia juga tak mungkin cemburu. Dan tidak mungkin juga dia selalu ingin tahu, dengan kehidupanku." gerutu Yeri.
Yeri memegang ponselnya dengan cepat dia mencari pesan beberapa minggu lalu tentang Gio. Dan ke dua matanya melebar saat melihat isi pesan itu. Dan tanpa dia sadari dia sudah memberikan jawaban 'iya' tanpa tahu maksudnya.
Maukah kamu jadi pacar bayaranku selama 1 bulan. Dan aku akan memberikan lebih dari yang kamu inginkan.
"Pesan apa ini? Lagian dia punya pacar banyak? Dan masih cari pacar bayaran? Atau jangan-jangan dia mau cari korban lagi untuk pacar selanjutnya?" Yeri membaringkan tubuhnya lagi di atas ranjang. "Kali ini dia benar-benar sangat capek. Ia memejamkan matanya. Tiba-tiba telinganya menjadi sangat tajam, ada suara pintu terbuka. Dan langkah kaki ringan keluar dari dalam kamar mandi.
"Hah.. Hah.. siapa?" teriak Yeri, seketika dia tersadar dari tidurnya.
Yeri menelan ludahnya, saat melihat pemandangan di depannya. Dada yang terbentuk itu membuat matanya tak bisa berkedip. Tubuhnya terlihat sangat bugar seakan dia selalu fitnes.
"Aahh… Apa yang kamu lakukan di sini." teriak Arga, memalingkan tubuhnya.
"Dan jangan lihat-lihat."
Yeri memalingkan wajahnya kesal. "Lagian siapa juga yang lihat. Hanya dada kotak-kota gitu saja banyak di luaran sana."
Arga melirik ke arah Yeri. Dia membalikkan badannya lagi, berjalan ringan mendekati Yeri.
"Bilang saja kalau kamu suka," gumam Arga. Suaranya sangat dekat dengan telinganya. Membuat Yeri menoleh seketika. Ke dua matanya seakan mau copot dari kerangkanya. Melihat tubuh Arga tepat di depan matanya. Yeri menelan ludahnya susah payah. Dia menahan rasa ingin menyentuh badannya, an bersandar lembut di dada bidangnya. Pasti akan terlihat sangat nyaman.
Arga menarik tangan Yeri berdiri. Membuat tubuh Yeri tertarik kasar, hingga ke dua tangannya berada di pundak Arga, dengan bibir hampir saja menyentuh bibir Arga. Ke dua mata mereka saling beradu. Getaran hatinya mulai tersentuh, bergetar begitu hebatnya, mengaduk-aduk perasaan, bahkan jantungnya tak mau di tahan lagi.
Arga memegang pinggang Yeri, menariknya masuk ke dalam dekapannya. "Apa kamu suka dengan penampilannya seperti ini?" tanya Arga, menatap usaha Yeri sangat dekat, hanya berjarak dua telunjuk tangannya.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan sekarang. Tatapannya mau membunuhku. Aku gak bisa berbuat apa-apa, sekujur badanku terasa kaku. Ke dua kaki dan tanganku tak mau bergerak sama sekali. Mulutku seakan terkunci sangat rapat jika berhadapan dengannya. Aku selalu tak bisa menolaknya jika dia ingin memeluk.
"Jangan pikir kamu itu sempurna. Dan bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan " ucap Arga, melirik ke arah ponsel lama yang pernah di buangnya. Arga, melempar tubuh Yeri ke belakang, dengan cepat dia mengambil ponsel Yeri di atas ranjangnya.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Arga tajam.
"Aku tidak menyembunyikan apapun." jelas Yeri.
"Tidak mungkin, lagian ini ponsel lama kamu. Dan pasti kamu mengambilnya saat aku pergi."
"Enggak! Sudah sini . Kembalikan."
"Tidak akan," Arga menarik tangannya ke atas? Dan Yeri yang lebih pendek darinya tak bisa menjangkau. Ia melompat-lompat mencoba meraih ponselnya.
"Aku coba buka pesannya." ucap Arga. Menarik turunkan alisnya menggoda.
"Jangan!" teriak Yeri, ia mencoba meraihnya, dan. Brukk..
Tubuh Yeri terjatuh tepat di atas tubuh Arga. Ke dua tangannya tak sengaja menyentuh dada bidang Arga. Seakan membiusnya untuk menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.
Kenapa badanku terasa tertarik ingin bersandar di dadanya. Apa karena aku terobsesi. Atau…
Yeri menghentikan ucapannya. Ia memejamkan matanya, dengan kepala di atas dada Arga.
"Aku sangat nyaman berada di sini." gumam Yeri. Membuat Arga mengerutkan keningnya, menatap Yeri bingung.
Kenapa dia seenaknya tidur di atas tubuh orang. Tapi dia terlihat manis juga jika tidur.
Arga menyentuh hidung mungil Yeri. Mengamati setiap lekuk wajah Yeri yang begitu cantik saat tertidur.
"Heh… Jelek!" pekik Arga.
Yeri membuka matanya. "Ada apa?" gumam Yeri malas membuka matanya.
"Cepat buka matamu, lihatlah! Apa yang kamu lakukan."
Yeri mencoba membuka matanya lebar. "Aahh… Apa yang kamu lakukan padaku ucap Yeri beranjak berdiri menutupi dadanya.
Arga memalingkan wajahnya. "Aku gak ada nafsu sama sekali menyentuhmu." ejek Arga.
"Apa yang kamu lakukan padaku?" tanya Yeri.
"Harusnya aku yang tanya padamu? Apa yang kamu lakukan padaku. Kamu berbaring di atas tubuhku. Menyentuh dadaku." jelas Arga menggebu, dia beranjak duduk, tersenyum tipis menatap wajah Yeri yang begitu panik.
__ADS_1
Yeri memutar bola matanya. Mencoba mengingat kembali apa yang terjadi.
Apa benar aku tadi yang menyentuhnya. Terus kenapa aku jadi bodoh gini. Ah.. Yeri.. Jangan terlihat seperti wanita murahan. Tapi.. Iya.. tubuhku terasa sangat nyaman di depannya.. Enggak, enggak! Aku tak boleh berpikir seperti itu.