Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Sifat menyebalkan arga


__ADS_3

“Eh… Bentar, kenapa.kamu bawa aku ke sini?” tanya Yeri bingung. Dia keluar dari mobilnya denga pandangan mata memuat melihat sekelilingnya. Sebuah kantor yang amat sangat besar. Dengan para pegawai yang sudah berdiri di pintu masuk menyambut kedatangan seorang ceo muda.


“Ikut aku,” Arga menarik lengan Yeri.


“Aku ada urusan. Mau pergi dulu,” ucap Yeri beralasan. Dia mencoba untuk pergi.


“Engga! Kamu ikut aku dulu,”


“Selamat datang, tuan.”


“Selamat datang,”


Para pegawai Arga semua menunduk. Menyambut kedatangannya.


"Iya, " jawab Arga singkat, sembari menarik lengan Yeri masuk ke dalam. Para pegawai melihat Yeri dengan tatapan bingung, ada juga yang menatapnya tidak suka. Yeri mencoba untuk tersenyum ramah di depan mereka.


“Jangan banyak senyum, memangnya mereka butuh senyuman kamu?” kata Arah seketika membuat Yeri terdiam.


“Memangnya kenapa?” ucapnya, menarik lengannya, laku menghentikan langkahnya.


“Aku gak mau pergi,” ucapnya kesal, seperti anak kecil yang lagi ngambek. Yeri melipat ke dua tangannya bersedekap, dengan bibir sedikit manyun.


“Dasar aneh,”


“Kalau aneh, kenapa kamu mau jadi istriku,” ucap keras Yeri, seketika membuat apra pegawai yang melintas menatap ke arahnya.


Tidak ada para pegawai Arga tahu jika Arga telah menikah. Meski hanya pura-pura. Membuat desas desus mulai terjadi di antara para pegawai.


Arga memegang lengan Yeri, mencengkeramnya erat. “Aw---” rintih Yeri.


“Kenapa kamu kasar dengan wanita;” umpat kesal Yeri.


“Jangan bicara seenaknya di kantor. Kalau kamu tidak mau terjadi apa-apa dengan ayah kamu,” bisik Arga mengancam.


Yeri berdengus kesal. Ingin sekali dia marah. Tetapi dia ingat tentang ayahnya hanya bisa membuatnya harus tetap bersabar. Yeri menarik napasnya dalam-dalam. Lalu mengeluarkan secara perlahan. Merasa sudah lega, dia mengangkat kepalanya menatap wajah Arga yang terlihat sangat menakutkan, membuat Yeri menelan ludahnya kasar. Dia melipat ke dua tangannya lagi di atas dadanya.


“Oke,Baiklah… Aku diam!” Yeri menarik sudut bibirnya tipis. Dengan pandangan ke segela arah.


“Jangan berani macam-macam denganku,” ancamnya lagi.


“Baik… tuan muda!” jawab Yeri pelan dengan nada mengejek.


“Sekarang ikut aku,” ajak Arga.


“Gak mau,”


“Ikut gak?”


“Enggak!”

__ADS_1


“Kenapa kamu seperti anak kecil,”


“Aku gak perduli, lagian aku gak mau ke kantor kamu.” ucap Yeri meninggikan suaranya, saat melihat para pegawai menatap ke arahnya bingung. Yeri seketika menutup mulutnya rapat-rapat.


“Udah buruan jalan,” bentak Arga.


“Aku bilang enggak, ya, enggak!” tegas Yeri bersikukuh.


Merasa kesal, Arga mengangkat tubuh Yeri, Alan bridal style berjalan dengan langkah cepat.


“Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku… Arga… Turunkan aku!” decak kesal Yeri tidak berhenti memukul dada bidang Arga. Tetapi, tetap saja wajah Arga terlihat sangat datar, seakan pukulan Yeri tidak ada apa-apanya.


Arga berjalan masuk ke dalam lift. Bukanya menurunkan Yeri. Dia tetap bersikukuh mengangkat tubuh Yeri tanpa membiarkan kakinya menyentuh lantai


“Turunkan aku!” ucap Yeri.


“Kenapa kamu diam, turunkan aku cepetan…”


“Diamlah!” bentak Arga. Seketika membuat mulut Yeri terbungkam seketika. Wajahnya terlihat sangat menyeramkan. Lebih menyeramkan dari pada melihat singa kelaparan. Dia hanya bisa diam, dengan tubuh dan jantung yang tidak berhenti bergetar.


Sialan kenapa aku harus tunduk pada laki-laki ini. Kenapa aku menurut saja apa yang di katakan dia. Gumam Yeri dalam hatinya.


Yeri memalingkan wajahnya, mencoba menghindari tatapan tajam Arga yang seakan menusuknya hatinya.


“Jangan menatap seperti itu,” ucap Yeri.


“Kenapa?”


“Aku gak tanya kamu suka atau enggak. Di sini wilayah aku Jadi apapun semua keputusanku. Entah aku menatap tajam kamu aku gak perduli. Dan kamu harus menurut gak boleh banyak protes.” jelas Arga, menunduk menatap Yeri. Ke dua mata mereka saling tertuju.


Tatapannya kenapa membuat hatiku sangat leleh. Sebenarnya dia sangat tampan. Tapi apalah daya. Aku gak bisa berbuat apa-apa lagi. Sifatnya bikin aku kesal.


Lift terbuka. Arga segera keluar menuju ke ruangan yang sudah tertulis papan nama kecil di depan pintunya ‘ceo Arga’. Arga membuka perlahan dengan kakinya. Dan melangkahkan kakinya masuk ke ruangan yang begitu kuas.


Yeri baru pertama kali masuk ke ruangan kerja seorang ceo. Dia hanya bisa menatap kagum begitu luasnya ruangan kerja Arga.


“Apa kamu mau menggendongku terus?” tanya Yeri, menarik ke dua alisnya ke atas.


“Enggak,”


“Kalau begitu turunkan aku,”


"Arga menurunkan begitu saja tubuh Yeri, membuat gadis itu jatuh ke lantai.


"Aw--- "


“Sakit!” rintih Yeri, mengusap pantatnya yang terasa kesemutan di buatnya.


“Apa kamu gak bisa turunkan aku baik-baik,” Arga sok acuh pada Yeri, an beranjak duduk di kursi kerjanya.

__ADS_1


“Bukanya kamu tadi minta di turunkan,” kata Arga. “Lagian salah sendiri tidak bilang kalau surih pelan-pelan turunkannya.”


“Ih… dasar neyebelin,” decak kesal Ywri, sembari meringis kesakitan.


“Aw--- pantatku sakit,” gumam Yeri, tanpa di perdulikan sama sekali oleh Arga.


Yeri tersenyum dalam hatinya. Seakan dia punya cara untuk mengadu acktingnya.


“Aw— sakit… Aduh… Sakit, perlu di bawa ke rumah sakit ini.” Yeri mencoba mengeluarkan berbagai gaya sakit, tetap saja tidak di gubris oleh Arga.


“Aduhh… Sakit!!” rintihnya, sembari meringis kesakitan, Yeri menyipitkan matanya melihat Arga yang tetap saja tidak perduli. Dia meraih map berkas di depannya. Lalu membukanya tanpa sepatah kata lagi keluar dari bibirnya.


Tuh batu kurang ajar banget, sih. Udah tahu salah. Udah gak mau tolong. Gak minta maaf lagi. Awas saja. Aku tidak akan tinggal diam.


“Kalau kamu merasa sakit, lebih baik ngesot saja. Dan keluar dari ruanganku. Kemudian minta tolong pegawai antar kamu ke rumah sakit.” ucap Arga tanpa menatap ke arah Yeri. Pandangan matanya masih tertuju ke arah dokumennya.


“Memangnya aku suster ngesot,” decak kesal Yeri.


“Kalau mau jadi susterngesot gak apa-apa. Lagian kenapa kamu masih di situ, cepat berdiri.”


“Gak mau,”


“Terserah,”


“Apa kamu gak ada niat bantuin aku berdiri,”


“Enggak!” jawab datar Arga, menutup dikumennya. Dan melemparnya ke depan mejanya.


“Duduk saja di situ jangan bergerak.”


“Ih… dasar ngeselin…” umpat kesal Yeri, beranjak berdiri, sembari memegang pinggang dan pantatnya yang masih terasa sakit.


“Tuh, bisa berdiri sendiri. Jangan manja,” umpat Arga.


Yeri mengepalkan tangannya, sembari menggeram kesal. Seakan ingin sekali melayangkan kapalan tangannya ke kepala Arga.


Tik… Tok… Tok…


Suara ketukan pintu, membuat Yeri menarik tangannya lagi. Menyembunyikan kepalan tangannya di belakang punggungnya.


“Apa yang kamu lakukan?”


Yeri memutar matanya, dengan bibir bersiul kecil. “gak melakukan apa-apa,” jawab Yeri.


“Ada tamu, tuh!”


“Permisi, tuan ada tamu!”


“Masuk!”

__ADS_1


Suara pintu terbuka, seketika membuat Yeri segera berlari untuk duduk di sofa. Seakan rasa sakitnya tiba-tiba hilang. Matanya melebar di saat melihat siapa yang datang.


__ADS_2