
Arga tersenyum, ia mengangguk anggukkan kepalanya saat melihat punggung Yeri. Terbesit dalam pikirannya sebuah rencana agar Yeri terus menatap ke depan.
Arga memegang tali bra milik Yeri. Menariknya lalu melepaskan membuat bunyi yang begitu keras.
"Aww---" rintih Yeri, rahang Yeri menegang seketika. Seakan otot lehernya tertarik. Ia menoleh perlahan, memelotot tajam ke arah Arga. Hembusan napas berat di campur dengan emosi yang menggebu, Yeri menatap tajam ke arah Arga.
"Argaa….." teriak Yeri, memegang tali bra belakangnya yang terlepas.
"Gimana ini…." pekik Yeri. Ia menarik kedua alisnya ke atas, dengan tatapan tajam seakan menantang. Dia terlihat sangat bingung, mencoba untuk meraih bra miliknya. Tapi ia membenarkan bra miliknya. Dan di sisi lain ia takut jika Arga akan mengintipnya.
"Sakit… Apa yang kamu lakukan." tanya Arga mengusap kakinya. Dengan pandangan mata sesekali fokus pada jalanan di depannya.
"Rasain… " Yeri mencoba untuk mengabaikannya.
"Arga….." teriak Yeri kesal. Saat Arga melirik sekilas bagian dadanya lagi. Di sambut dengan pelototan tajam darinya.
"Tutup matamu."
"Kalau aku tutup mata. Gimana nyetir mobilnya."
"Entahlah."
"Jangan melirik ke arahku. Atau aku akan perban matamu." ancam Yeri kesal.
"Kalau bisa perban silahkan, baby. Aku ijinkan." goda Arga. Menarik turunkan alisnya bersamaan.
Sampai di apartemen milik oma. Yeri belum turun dari mobilnya. Ia masih sibuk membenarkan miliknya. Merasa tak tega, Arga menghela napasnya. menatap ke arah Yeri. Yang mencoba untuk membenarkan bra miliknya. Tangan arga meraba punggung Yeri dari balik kain yang menutupi tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan, dasar mesum!" pekik Yeri.
"Diamlah!" ucap David, menarik baju Yeri ke atas paksa. Terlihat jelas bagian buah milik Yeri. Membuat matanya melotot.
"Maaf-maaf, aku gak sengaja." ucap Arga.
Yeri menggeram kesal. Ia mengeluarkan napas kasarnya. menatap tajam ke arah Arga, dengan ke dua tangan menutupi dadanya.
"Argaa…" teriak keras Yeri. Membuat telinga Arga mengkerut seketika. Gimana tidak, teriakannya menggema dalam mobil. Dan bisa-bisa gendang telinganya pecah gara-gara dia."
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Yeri kesal.
"Maaf! Aku gak sengaja. Lagian aku hanya ingin membantu kamu." ucap Arga.
"Gak perlu." Yeri segera membenarkan lagi bajunya.
"Diamlah, aku hanya bantu kamu. Memangnya kamu mau nanti jalan masuk ke apartemen. Dan dalaman kamu lepas." ucap Arga. Membuat Yeri terdiam seketika.
Melihat Yeri terdiam, Arga membenarkan bra milik Yeri. Selesai, Arga mendekatkan wajahnya di telinga Yeri. Hembusan Nafasnya membuat Yeri bergidik geli seketika.
"Yeri... Panggil Arga. Belum menurunkan bajunya. Arga menarik tangan Yeri menatap ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Yeri jutek. Dia baru menyadarkan dirinya dari lamunannya. Bahkan Yeri tidak merasa jika Arga membenarkan bra miliknya.
Arga menyentuh dagu Yeri. Mengusap lembut dagu manisnya. Perlahan wajahnya mulai mendekat, belum sempat mendaratkan sebuah kecupan di bibir Yeri. Wanita itu mendorong tubuh Arga menjauh darinya. merapikan kembali bajunya dan mencoba keluar dari mobil lebih dulu.
"Dasar pria mesum!" pekik Yeri, melotot tajam. Dia membuka pintu mobilnya. Dan melangkahkan kakinya turun. Lalu menutupinya kembali. Sementara Arga hanya diam menatap kepergiannya.
Arga mengerutkan keningnya bingung.
__ADS_1
Siapa yang mesum? Bukanya aku suaminya? Dia kenapa dia bilang aku mesum? Memangnya Salah, suami minta sebuah kecupan manis. Atau hanya sekedar sentuhan sedikit saja.
Arga bergegas keluar dari mobilnya. Saat melihat Yeri memaksakan kakinya terus berjalan menyeret masuk ke dalam apartemen. Arga berlari mengejar Yeri. Tapi dia tak bisa mengejarnya. Baru mau mengejar, ia menabrak seseorang. Dan sempat di caci maki olehnya. Saat Arga sudah minta maaf, dia kembali mencari Yeri. Tetapi, ia sudah tidak ada di pandangan matanya.
"Yeri.. Tunggu." Arga memegang lengan Yeri mencegahnya pergi.
"Yeri tunggu… " gumam Arga, mencoba mengatur napasnya. Menegang pintu Lift. Belum sempat masuk Yeri sudah mendorong tubuhnya menjauh dari lift. Yang perlahan pintunya mulai tertutup.
"Apa?" jawab Yeri malas. Ia masuk ke dalam lift lebih dulu. Membiarkan Arga yang masih berdiri dan mencoba untuk mengejarnya. Tetapi tak lama Arga memutuskan naik ke lantai tunggal. Dan segera menuju ke arah Lift. Untuk naik ke lantai 10 Lagian bisa patah tulangnya jika harus naik sampai ke lantai 10.
"Syukurin.. Memangnya siapa suruh melawanku." Yeri menarik sudut bibirnya sinis.
Yeri atau lift dengan seorang laki-laki yang sedikit tua. Ia tak hentinya terus menatap tubuh Yeri. Bahkan laki-laki itu selalu mendekat ke wajahnya, dan semakin mendekat. Membuat Yeri terpojok.
"Hai…" sapa laki-laki itu.
Yeri mencoba untuk tetap tenang. "Iya.."
Sebuah sentuhan tak terduga di paha Yeri yang terekspos bebas. Membuat Yeri geram dan langsung menginjak kaki laki-laki itu dengan kaki kirinya.
"Aww….." teriaknya kesakitan.
"Rasain… Makanya jadi laki-laki jangan mata keranjang." pekik Yeri. Pintu lift sudah terbuka. Dia segera berjalan masuk ke dalam apartemen.
"Tak lama Arga yang berlari menaiki tangga. Dan dia segera naik lift dari lantai 3. Dan sampai di lantai 10. Arga segera barlari menghampiri Yeri yang sudah ingin membuka pintunya.
Napasnya masih tersendak sendak, ia mencoba untuk meraih tangan Yeri. Dan di tepis oleh wanita itu.
"Ada apa lagi?" tanya Yeri memutar tubuhnya malas.
Arga memegang pundak Yeri. Menarik tubuhnya, membuat Yeri terjatuh ke dua kalinya dalam dekapan tubuhnya. Ke dua mata mereka tertuju kesekian detik.
"Arga…."
"Apa, sayang!" ucap Arga, tersenyum tipis.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya kesal Yeri. Merengek seperti anak kecil Memukul-mukul lantai dengan ke dua tangannya.
"Kalau senyum, biar aku terlihat lebih tampan." ucap Arga, menarik salah satu alisnya ke atas. Dan bukanya menolong Yeri. Arga masuk ke dalam apartemennya lebih dulu. Meninggalkan Yeri tetap di depan pintu.
"Eh… Kenapa dia masuk lebih dulu." kata Yeri. Dia mencoba untuk berdiri. Kakinya yang masih terasa sakit, membuatnya tak bisa langsung berdiri sempurna. Ia mencari tembok untuk berpegangan, dan beranjak berdiri.
"Yeri…" panggil Arga.
"Apa?" jawab jutek, penuh kekesalan pada Arga.
"Kamu marah?"
Sebenarnya ingin aku melakukan malam pertama dengan kamu. Tapi aku ragu. Ragu dengan perasaanku. Dan takutnya nanti kamu malah menolaknya. Aku juga yang malu sendiri nanti.
"Kenapa malah diam?" gumam Yeri.
"Gak apa-apa, udah cepat mandi. Aku juga mau mandi." gumam Arga.
Yeri menguntupkan bibirnya . Ia mengamati setiap gerak gerik wajah Arga. "Apa ada hal yang penting?" tanya Yeri lagi.
"Gak ada, memangnya kenapa?" tanya Arga.
__ADS_1
"Emm… Gak apa-apa." Yeri hanya tersenyum tipis. Baju yeri yang masih basah. Bahkan air masih menetes dari bajunya hingga jatuh ke lantai di mana dia berdiri.
Sreeeettt…. Aaaa…
"Yeri…" dengan sigap Arga menompang tubuh Yeri yang hampir saja jatuh ke belakang.
"Kalau jalan hati-hati, apa kamu sengaja mau aku tolong." gumam Arga, menarik ke dua alisnya bertaut bersamaan.
Yeri berdiri tegap, ia menatap tajam ke arah Arga. "Apa katamu? Memangnya siapa juga yang mau kamu tolong."
"Tadi apa?"
"Gak sengaja." gertak Yeri. Sembari menarik bibirnya sinis.
"Gak sengaja tapi keterusan." ucap Arga, memutar matanya.
Yeri menoleh dekat, dengan tangan menunjuk wajah Arga. Rahangnya menggertak seketika. Lalu perlahan menurunkan telunjuk tangannya tepat di wajah Arga. "Eh.. Apa yang kamu bilang?" tanya Yeri tajam.
"Kalau gak mau nolong ya, udah. Biarkan aku jatuh. Lagian aku juga gak butuh bantuan kamu." tegas Yeri. "Dasar nyebelin!"
"Kenapa kamu marah."
"Kalau gak gara-gara kamu. Gak mungkin juga aku marah." gumam Yeri, mulai menurunkan nada suaranya. Ia menarik napasnya Dalam-dalam mencoba mengatur emosinya.
"Dasar. .."
"Kenapa?" gumam Yeri.
"Aku mau pulang." gumam Arga. Membiarkan Yeri jalan sendiri.
"Aw-- sakit." rintih Yeri. Ia mencoba melangkahkan kakinya. Namun, tetap saja gak bisa di paksakan.
"Kaki gak apa-apa, kan?" tanya Arga, sok perduli padanya.
Udah, sana pergi. Aku gak mau nanti kamu menolongnya hanya karena aku lemah. Atau cuma cari alasan saja." Yeri mendoring tubuh Arga menjauh darinya. Merasa sangat kesal Arga menatap tajam Yeri. Berjalan ringan mendekatinya. Kesekian detik, tubuh Yeri sudah terangkat, Arga mengangkat tubuh Yeri meletakkan di atas pundaknya. Seperti menggendong satu karung beras.
"Arga… Turunkan, aku!" pinta Yeri, tak hentinya dia terus meronta ronta.
"Diam saja."
"Enggak! Aku gak akan tinggal diam kalau kamu gak turunkan aku." pekik Yeri.
"Dasar bawel!"
"Siapa yang bawel."
"Kamu, lah. Siapa lagi." jawab Arga tak mau kalah.
"Bawel juga terserah aku, lagian mulut-mulutku, kenapa juga kamu yang repot. Kalau gak suka ya, udah. Tinggal diam saja beres. Dan jangan banyak tanya."
Merasa kesal Arga, menguntupkan bibirnya kesal. Memutar otaknya untuk memikirkan cara gimana bisa dapatkan sesuatu yang membuatnya sangat bahagia menggoda dia nantinya. Arga tersenyum saat melihat paha mulus Yeri di sampingnya. Arga mengangkat tangannya sedikit ke atas, dia sebagai ingin memegang pahanya, mengusapnya lembut.
"Kurang ajar, Arga. Apa yang kamu lakukan." tanya Yeri, memberontak. Ia tak hentinya terus memukul-mukul ke dua kaki dan tangannya.
"Nikmati saja." ucap Arga sedikit menahan senyumnya.
"Enak saja. Jangan cari kesempatan, Arga." Geram Yeri. Bukanya baikan lagi Yeri semakin tambah marah denganya. Laki-laki terus saja menggodanya.
__ADS_1
"Awaas saja.."
"Oh, ya. Nanti aku ingin bilang sesuatu padamu."