Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Meluapkan emosinya


__ADS_3

Yeri pulang ke rumah apartemen miliknya. Dia tak henti terus mengumpat kesal. Di setiap langkahnya Sampai di depan apartemennya. Yeri membuka pintunya. Menutupnya kembali, berjalan dengan langkah sempoyongan melemparkan tubuhnya di atas ranjangnya.


"Aku benci dengannya! aku benci!" pekik Yeri kesal. Ia memukul berkali-kali ranjangnya. Lalu membalikkan tubuhnya. Tidur tengkurap menyembunyikan wajahnya.


"Kenapa juga aku punya perasaan pada seorang yang sama sekali tidak punya hati." gumam Yeri semakin menenggelamkan wajahnya di atas ranjang. Ke dua tangannya mencengkeram erat sperei miliknya membentuk sebuah gumpalan. meluapkan emosinya yang semakin membakar hatinya.


"Apa yang ingin kamu katakan sekarang?" gumam Yeri pada dirinya sendiri. "Kamu tahu.. jika kamu mencintai orang yang, salah, Yeri. Kamu sekarang terluka. Dan dia tak perduli."


"Kamu dipermalukan di depan semua orang. Bahkan tanpa rasa bersalah sedikitpun dari raut wajahnya.


"Bahkan, dia juga tidak mengejar kamu." lanjutnya.


Yeri tertegun sejenak saat dia memikirkan gimana bisa? dia tadi bermain making love dengan Arga.


"Argg… Aku benar-benar gila!" gerutu Yeri mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Kamu terlalu bodoh, Yeri. Gimana bisa kamu di jadikan bahan mainan dia. Dan tadi.. Tadi…" Yeri terdiam, dia membalikkan badannya lagi, membayangkan gimana dirinya begitu menikmati saat tangan Arga menjamah tubuhnya. Dan hal itu paling memalukan yang dia rasakan saat ini. Belum pernah sama sekali dirinya seperi itu. dan Arga-lah yang pertama kali membuat dia bergairah.


Yeri menarik bantal di sampingnya. Menutupi wajahnya. "Yeri… Kamu memalukan… Kamu memalukan.. aku gak bisa bayangkan ekspresi wajahku tadi.. Pasti sangat memalukan" gumam Yeri berteiak di dalam dekapan bantalnya agar tak terdengar keluar.


"Enggak! Aku gak boleh seperti ini terus." gumam Yeri. Ia mengerutkan keningnya mengingat jika lehernya tadi di kecup Arga. Dia melemparkan bantalnya dan segera beranjak berdiri. Berjalan menuju ke kaca miliknya. Ia melihat lehernya yang di penuhi berkas merah di kanan dan kiri. Bahkan tepat di bawah dagunya.


"Ini.. bekas ini… Kenapa gak bisa hilang. aku benci.. Benci dengan semua ini" gumam Yeri kesal, mengusap berkali-kali belas itu. Meski dia tahu bekas itu tak bisa hilang meski terus di gosok olehnya.


"Menjijikkan. Ini sangat menjijikkan!" gumam Yeri.


Ia menghela napasnya. Kali ini tak hanya sudah benar-benar kacau. Dengan segera dia berjalan menuju kamar mandi. Melepaskan semua baju kantor miliknya. Dan mulai merendam tubuhnya di air hangat dalam bathup. Ia memejamkan matanya, merasakan air hangat itu perlahan mulai merasuk dalam pori-pori kulitnya.


"Sepertinya aku harus menyegarkan otakku. Dan setelah ini pergi. Agar tak bertemu dengannya. Lagi. Lagian aku kesal. Kenapa juga dia marah padaku di depan semua orang. Dan di kantor dia hanya bermain denganku dan Cia. Gimana bisa aku begitu mudahnya di sentuh." gumam Yeri. Mulai menyadarkan kepalanya di atas bathup. Ia mulai menikmati air hangat itu. Menyergarkan tubuh dan otaknya yang kini di penuhi banyak masalah.


-----


Selesai berendam. Yeri segera pakai baju. Selesai pakai baju. Ia meraih ponselnya di atas meja. Dan segera keluar dari apartemennya. Dia berjalan tanpa tujuan. Hingga taksi tiba-tiba berhenti tepat di sampingnya. Dan terpaksa dia segera naik ke dalam taksi.


"Mau kemana, non." tanya sang sopir taksi.


"Entahlah, pak. Jalan saja dulu." ucap Yeri.


"Jalan kemana ini?"

__ADS_1


"Terserah pak," ucap Yeri. Wajahnya terlihat kosong. Pandangan matanya tak fokus.


Yeri yang dari tadi terus diam. Bahkan hingga sopir itu sudah keliling kota tiga kali. Dia belum juga menentukan tujuannya. Jarum jam menunjukan pukul 7 malam. Terbesit dalam pikiran Yeri untuk pergi ke suatu tempat.


"Pak, berhenti di bar." ucap Yeri.


"Di club malam, non?" tanya sopir itu memastikan


"Iya.." jawab datar Yeri.


"Apa non, ada masalah?" tanya sang sopir lagi.


"Iya, pak. Lagi banyak pikiran." ucap Yeri.


Mobil taksi itu berhenti tepat di sebuah club malam. Dan ternyata tak jauh dari kantornya. Hanya berjarak 10 menit perjalanan. Yeri yang tak sadar. Dia segera keluar begitu. Berjalan masuk ke dalam club malam. Semua mata tertuju padanya. Wajah cantik Yeri membuat para laki-laki hidung belang mengincarnya. Setiap lenggok tubuhnya terlihat begitu sempurna bagi tatapan seorang laki-laki. Dia berjalan menuju ke meja bar.


Duduk sendiri di bar, sembari memesan beberapa minuman sekaligus.


"Minum apa?" tanya seorang penjaga bar.


"Minuman yang pas untuk wanita." jawab Yeri.


"Baiklah! Sepertinya kamu sedang galau." ucap penjaga bar itu.


"Berikan minuman seadanya dulu. Satu botol." ucap Yeri.


"Kamu yakin?" tanya penjaga bar itu memastikan.


"Iya.. Aku yakin. Cepat berikan!" pintanya sedikit memaksa.


"Baiklah!" penjaga bar itu memberikan satu botol minuman tepat di depan Yeri. Dia juga membuka minuman itu. Yeri yang tak sabar segera kerjanya meneguknya langsung tanpa gelas. Hingga dia habis setengah botol.


Braakkk..


Yeri meletakkan botol itu sangat keras di atas meja bar. "Dasar nyebelin!" gumam Yeri.


"Aku gak akan tinggal diam. Dan aku akan membalasnya." gumam Yeri lagi. Dia meneguk minumannya lagi meluapkan emosinya hingga habis tak tersisa sama sekali.


Yeri memesan satu botol lagi. Dan satu gelas minuman khusus yang di pesan olehnya. Dengan kadar alkohol 50%. Ke dua mata Yeri sudah mulai menyipit. Tetapi, wanita itu tetap bersikukuh untuk tetap minum lagi dan lagi. Pikirannya terasa sudah melayang.

__ADS_1


Ia mengambil ponselnya dan seger menghubungi Angel untuk datang bersamanya. Setidaknya menemani dia minum.


"Yeri… Ada apa?" tanya Angel. Menyela berbicara lebih dulu. Suara bising di club malam terdengar sampai di telinga Angel.


"Temani aku!" ucap Yeri.


"Yeri… kamu di mana? Dan kenapa suaranya Sangat ramai?" tanya Angel panik.


"Aku di club malam." ucap Yeri suaranya sedikit serak. Dan pelan.


"Yeri… Kamu di club mana? Kamu sama siapa sekarang."


"Emmmm…." Yeri tak kuat lagi berbicara dia menutup telfonnya. Dan kepalanya menyadari di meja bar.


"Arga… Kamu memang bedebah." teriak Yeri. Di beranjak berdiri. Dia berjalan dengan senyum sumringah. Tubuhnya terlihat sempoyongan menarik di bawah lampu gemerlap warna warni dan pastinya suara musik DJ yang terdengar begitu keras. Wanita itu meluapkan emosinya dengan sebuh jogetan kegiatannya di tengah-tengah kerumunan para laki-laki.


beberapa laki-laki mulai menggodanya. Dan mulai menikmati musik dj dengannya. Yeri yang tak sadar. Dia hanya menikmatinya. Salah satu laki-laki memegang pinggangnya. Menariknya dalam dekapannya. Sembari terus menikmati musik itu.


Yeri mencoba mendorong tubuh laki-laki itu. Namun dekapannya semakin erat. Tubuhnya yang terasa sudah sangat lemas. Hingga dirinya lunglai dalam dekapannya. Beberapa laki-laki menyentuhnya tubuhnya.


"Sialan! Jangan sentuh aku!" ucap Yeri.


Laki-laki itu membawa tubuh Yeri menuju ke lantai atas. Di sebuah kamar. Dan ini kesempatannya untuk menikmati tubuhnya.


"Jangan menggodaku. Aku tidak mau kamu hanya memanfaatkan wanita sepertiku." Yeri berusaha mendorong tubuh Arga menjauh darinya.


"Aku tidak mau lagi dekat denganmu." Air mata Yeri tak bisa tertahankan lagi. Dia mengingat semua betapa sakitnya Yeri saat dia tahu. Arga melakukan itu lebih dulu bersama wanita lain. Dia merasa sangat kecewa dengan Arga. Hatinya begitu sakit. Bagaimana bisa Arga melakukan dengan wanita lain. Tanpa memikirkan perasaannya. Bahkan di kamar mereka berdua.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Arga.


"Bukannya kamu sudah berhubungan dengan Cia?" Yeri meninggikan suaranya.


"Siapa yang berhubungan denganya?" Arga meninggikan suaranya.


"Jangan pura-pura lagi. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kalian begitu menikmati. Bahkan saat aku pergi. Kamu juga masih melajutkan hubungan itu. Apa kamu puas sekarang." Yeri meninggikan suaranya. Dia tidak mau kalah dengan Arga.


"Jika kamu ingin kembali pada Cia. Mulai sekarang, perjanjian itu di batalkan."


"Tidak bisa! Aku tidak akan membayar pengobatan ayahmu. Jika kamu membatalkan semuanya sbeelum kontrak berakhir. Maka kamu harus mengembalikan semua uang yang sudah aku keluarkan untukmu."

__ADS_1


Yeri terdiam. Dia tidak bisa apa-apa lagi. Dirinya ingat dengan ayahnya. "Arrggg..." teriak Yeri. Sembari mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Sekarang, lakukan saja. Apapun yang terjadi. Jangan ada cinta di antara kita. Itu sudah perjanjian dari awal. jadi jangan pernah berpikir jika aku akan mencintaimu," ucap Arga. Bibir dan hatinya berkata berbeda.


__ADS_2