Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Menggoda


__ADS_3

"Kamu tidur dimana?" tanya Yeri.


"Jelas di kamarku," ucap santai Arga. Kedua matanya berkeliling melihat seisi rungan itu. Dia menyakinkan dirinya sendiri jika itu benar kamar miliknya.


"Kamu kenapa masuk ke kamarku?" tanya Arga.


"Memangnya mana kamarmu?" tanya Yeri menantang.


"Ini, kamarku!" kata Yeri penuh percaya diri.


Arga memegang tangan Yeri. Tangan kanan memegang ujung kepala Yeri. Lalu memutar kepalanya ke samping.


"Lihatlah!" pinta Arga


Yeri terdiam, dia menatap ujung ruangan itu tidak ada meja rias miliknya. Yeri terdiam, dia mengerutkan bibirnya. Sembari berpikir dalam hatinya. Dia berdesis pelan. Tertunduk malu.


"Bagaimana?" tanya Arga.


"Ternyata aku yang salah kamar. Sekarang, Aku harus pergi dari sini. Sebelum laki-laki itu menyentuh tubuhku." Yeri bergumam dalam hatinya. Pikirannya melayang membayangkan apa yang terjadi. Bella memeluk tubuhnya sendiri. Bergidik n


geli saat membayangkan bagaimana Arga menyentuh dirinya.


"Jangan berpikir kotor!" Arga mendorong dahi Yeri dengan telunjuk tangannya. "Pergilah ke kamarmu. Besok, kamu ikut aku ke kantor." ucap Arga.


Yeri mengerutkan bibirnya. Dia menghela napasnya kesal. "Iya," jawabnya jutek. Yeri membalikkan badannya. Dengan terpaksa Yeri pergi dari kamar Arga. Dia melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Arga sendiri.


"Tunggu!" suara lantang Arga menghentikan langkah kaki Yeri.


"Jangan lupa menutup pintunya jika kamu sudah keluar," ucap Arga. Yeri membungkam bibirnya. Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi. Dirinya hanya bisa pasrah dengan semua keadaan.


Yeri mengerutkan wajahnya. Wajahnya memerah malu. "Astaga, bagaimana bisa akh salah kamar." Yeri memukul kepalanya pelan beberapa kali. Dia, berjalan dengan langkah terburu-buru masuk me dalam kamarnya.


Yeri menutup pintunya. Dia menghela napansya lega. "Jika aku terus seperti ini terus, aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Jantungku semakain Hari semakin aneh. Apa yang harus aku lakukan," gerutu Yeri. Dia melangkahkan kakinya perlahan. Menjatuhkan tubuhnya terlentang di atas ranjang. Dengan kedua tangan terangkat ke samping. Merenggangkan kedua kakinya. Sembari memejamkan kedua matanya.


Tok... Tok.. Tok...


Yeri yang semula ingin tertidur. Seketika kedua matanya terbuka lebar. Yeri menggerak kesal. Dia beranjak dari ranjangnya. Tanpa suara wnaita itu langsung membuka pintua.

__ADS_1


"Aku hanya bilang tidurlah lebih awal. Besok kita akan menikah!" ucap Arga.


"Besok?" kedua nata sayu itu berubah dala. waktu hitungan detik. Bola mata hitam itu hampir saja keluar dari kerangkanya.


"Kenapa harus besok?" tanya Yeri bingung.


"Orang tuaku akan segera pulang dari luar negeri. Aku mau kita segera menikah lebih dulu. Jika mereka semua tahu aku menikah denganmu. Maka mereka pasti akan marah!" jelas Arga. Dia teringat sesuatu. Kedua nata itu mengamati sekelilingnya. Dia mendorong tubuh Yeri masuk ke dalam kamar.


"Eh.. Kamu mau apa?" tanya Yeri. Dia berusaha melawan Arga. Namun, laki-laki itu mendorong tubuhnya. Menutup pintu kamarnya sangat rapat.


"Sstt... Diamlah," pinta Arga.


"Jangan-jangan kamu mau cari kesempatan?" tanya Yeri. Kedua matanya menajam seketika. Yeri menarik sudut bibirnya sinis.


Arga memincingkan salah satu matanya.


"Cari kesempatan apa?" tanya Arga bingung.


Yeri menarik salah satu alisnya ke atas. Kedua mata mengamati benda yang ada di sekitarnya. Dia melangkah ke samping kiri. Jemari tangan kirinya berusaha meraih pot bunga. Menyembunyikan di belakang punggungnya.


"Kamu mau menyentuhku?" tanya Yeri. "Jangan pikir kamu bisa menyentuhku. Aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh tubuhku."


Arga menghela napasnya. Dia terkekeh kecil mendengar ucapan Yeri. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Yeri heran.


"Kamu tidak punya kaca?" tanya Arga. Dia melirik ke arah kaca sampingnya.


"Lihatlah, di tempat make up-mu. Ada kaca besar. Kamu bisa ngaca dulu di sana." Arga menarik tangan Yeri mendorong tubuhnya hingga berdiri di depan cermin. Kedua nata Yeri menyipit melihat sekujur tubuhnya. Tidak ada yang aneh pada dirinya.


"Memangnya ada yang aneh?" tanya Yeri.


"Lihatlah, dadamu terlalu datar. Tubuhmu tidak ada seksinya. Kamu selalu berpikir jika aku a akan menyentuhmu. Lalu apa yang aku sentuh darimu, baby." Arga tidak hentinya trus tertawa. Kedua mata itu menatap dari ujung kaki sampai ujung kepalanya perlahan. Mengamati setiap lekuk tubuhnya.


Arga menepuk punggung Yeri.


"Brengs*k. Apa yang kamu lakukan?" tanya Yeri menepis tangan Arga.


"Hanya bagian belakang yang besar. Sepenuhnya tidak ada yang membuatku tertarik!" goda Arga.

__ADS_1


"Aku kesini bicara baik padaku. Kamu pikir aku akan menyentuhmu. Meskipun kamu buka baju sekarang di depanku. Aku juga tidak tertarik." ucap Arga. Dia memutar matanya. Tidak berhenti terus merendahkan Yeri.


Yeri mengerutkan bibirnya. Dia mencengkeram sangat erat. Pot di dalam genggaman tangannya sangat erat.


Yeri mengigit bibir bawahnya. Dia tersenyum simpul. Berjalan pelan mendekati. "Kamu bilang, jika kamu tidak tertarik denganku," ucap Yeri. Dia menatap dengan tatapan menggoda.


Arga menghentikan tawanya. Dia terdiam seketika. Melihat tatapan aneh Yeri yang membaut dirinya mulai gugup.


"Memangnya kenapa?" tanya Arga. Dia mengerutkan matanya, melihat Yeri menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.


Arga memegang lengan tangan Yeri. Mengambil paksa pot di belakang punggung Yeri.


"Lepaskan, kan!" ucap Yeri.


"Lepaskan apa?" tanya Arga. "Kamu mau menyakiti suamimu?" tanya Arga. Menarik kedua alisnya ke atas secara bersamaan. Yeri berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Arga. Dia menggerakkan tubuhnya. Berusaha ingin menendang tubuh Arga. Namun dengan cepatnya. Dia menghindar lebih dulu.


Arga menyurutkan tubuh Yeri. hingga kedua kaki menempel di pinggir meja.


"Jangan melemparkan ini," Tubuh Arga sangat dekat dengan Yeri. Kedua mata mereka saling tertuju. Dengan kedua tangan di atas kepalanya.


Kedua mata mereka saling tertuju. Arga menatap wajah Yeri yang mulai memerah malu. Dia sengaja menggodanya. Mendekatkan semakain dekat tubuhnya.


"Jangan terlalu dekat, bukannya kamu hilang tidak akan menggodaku?"


Yeri bukanya takut. Dia semakain menantang. Kedua mata itu menatap lekat kedua mata Arga. Dia balik menggoda Arga. Tatapan mata Yeri berhasil membaut Arga terdiam. Hingga keadaan berbalik. Yeri mendorong tubuh Arga yang diam. Dia mendorong tubuh itu hingga berhasil jatuh di atas ranjang. Yeri berada di atas tubuh Arga. Dia menarik sudut bibirnya tipis.


"Kamu pikir aku tidak bisa menggodamu?" tanya Yeri.


"Aku bisa menggodaku, lebih dari ini sayang?" ucap Yeri. Dia beranjak berdiri. Melepaskan kancing kerah kemejanya. hingga terbuka sedikit, Yeri berjalan pelan mendekati Arga lagi. Dia berusaha merangkak ke atas tubuh Arga. Dengan cepat Arga memutar tubuh Yeri. Membalikkan posisinya. Tubuh Yeri di basah tubuh Arga.


"Jangan menggodaku," ucap Arga.


"Kamu pikir dengan tubuhmu ini aku tergoda?" tanya Arga.


Yeri menarik kerah baju Arga mendekat. Dia mendekatkan wajahnya hanya berjarak dua telunjuk tangan. Hembusan napas mereka saling beradu satu sama lain.


"Aku akan menggodamu, sampai kamu bertekuk lutut denganku," tegas Yeri.

__ADS_1


__ADS_2