
"Hari ini, kamu boleh pergi kemana sana. Kamu bisa belanja kebuthanmu!" ucap Arga.
"Aku?" Yeri memincingkan matanya. Jari telunjuk tangan kanannya menunjuk wajahnya sendiri.
"Aku gak salah dengar, kan?" tanya Yeri memastikan.
"Tidak!" ucap Arga.
"Aku boleh minta temenin Gio untuk belanja?"
"Mau kencan dengannya?" tanya Arga. Dia melangkah pelan mendekati Yeri. Menatap kedua mata Yeri sangat lekat.
"Ingat, jangan pernah berbicara tentang apapun di rumah ini soal pekerjaanmu. Jika orang tuaku tahu, mereka pasti akan marah!"
"Memangnya kenapa?" tanya Yeri. Dia membalas tatapan mata Arga. Menarik kedua alisnya. Melangkah satu langkah lebih dekat. Dengan kedua tangan bersendekap.
"Kamu takut jika mereka tahu siapa aku?"
"Ingat perjanjian kita. Jangan bertindak gegabah. Jika sampai kamu bertindak gegabah. aku tidak akan segan-segan menyakitimu. Ingat itu!" tegas Arga. Menekankan suaranya dengan nada emosi.
"Jaga aturan yabg ada di rumah ini. Jangan membaut peraturan sendiri. Bukan karena kamu wanita aku tidak bernai menyakitimu," geram Arga. Wajahnya memerah menahan amarahnya pada Yeri.
Arga menghela napasnya. "Oke, oke, aku akan merahasiakan semuanya. Jangan khawatir." Yeri menepuk pundak Arga dua kali.
"Jangan terlalu tegang, santai saja. Nikmati permaianan kita. Aku akan berakting dengan baik, sayang." goda Yeri. Sembari tersneyum menggoda.
Yeri berakting dengan baik kali ini. Dia mengedipkan salah satu matanya. Dengan tubuh gemulai. Menggoda Arga yang ada di depannya. Yeri menyentuh dagu Arga.
Arga memegang lengan tangan Yeri di atas kepalanya. Mencegahnya untuk menyentuhnya lebih jauh. "Jangan menggodaku!" Arga mencengkeram lengannya semakain erat.
Yeri tertawa kecil. "Arga, Arga. Jangan sok alim deh, kamu gak ingat bagaimana kamu perlakukan aku di depan umum. Bagaimana saat pesta di rumahmu. Kamu mempermalukan aku di depan semua orang!" ucap Yeri. Dia menarik sudut bibir. Menatap aneh pada Arga.
"Kenapa Kamu seolah lupa, tuan Arga." Yeri menarik kedua kelopak matanya ke atas bersamaan. Kamu tahu, aku dan kamu memang berbeda. Kamu dari kalangan atas. Sementara aku hanya wanita biasa. Anak ornag miskin yang tidak punya apapun. "
"Aku melakukan pekerjaan ini. Jika aku tidak butuh uang. Tidak mungkin aku menjual harga diriku sendiri. Semua demi kesembuhan ayahku. Dan, kamu beraninya mempermainkanku." ucap Yeri. Dia melangkah lebih dekat. Hanya berjarak satu langkah dari Arga.
"Ingat, tuan Arga. Jangan sok, deh. Aku juga tidak mau dengan Anda. Jangan jual mahal. Kamu sama saja murahan! Lagian, siapa yang memulai duluan memaksa aku untuk menikah dengan Anda, apa anda lupa? Atau, aku akan mengingatkan semuanya kembali."
Arga perlahan melepaskan tangan Yeri. Menjatuhkan kembali tangannya. Dia hanya menghela napasnya. Memalingkan pandangan matanya acuh.
__ADS_1
"Aku sudah menbawayrmu sesuai drngan apa yang kamu minta."
"Dan, kamu memaksa aku. Memohon acara aku mau," ucap Yeri. Seolah mengingatkan semuanya.
"Aku ingat, bagaimana aku melakukan itu." kata Arga. Yeri memincingkan matanya bingung.
"Melakukan apa?" tanya Yeri yang tiba-tiba pikirannya kosong. Dia tidak tahu apa yang di katakan Arga.
Arga memegang kepala Yeri dengan kedua tangannya. Menariknya lebih dekat. Kecupan lembut beberapa detik mendarat di bibir mungil Yeri. Kedua mata Yeri terbelalak sempurna. Kedua mata itu menatap sangat dekat mata Arga. Hembusan napasnya saling beradu satu sama lain.
"Apa yang kamu lakukan!" Yeri mendorong tubuh Arga.
"Bukannya itu yang kamu mau?" tanya Arga.
Yeri menyulitkan ujung matanya. "Apa katamu?" ucap Yeri.
"Dari tadi kamu membahas masa lalu. Bilang saja jika kamu menginginkan itu," ucap Arga.
Yeri mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.
"Udah, aku mau pergi!" Yeri berusaha mencari alasan agar bisa pergi dari Arga. Yeri mendorong bahu Arga yang menghalangi jalannya.
"Kenapa? Aku bisa pergi dengan sopir." tanya Yeri.
"Udah, gak usah bawel. Sekarang kita pergi." Arga meraih lengan tangan Yeri.
"Kemana?" tanya Yeri bingung.
"Beli keperluan yang kamu butuhkan. memangnya kamu tidak mau merubah penampilan. Ingat, kamu itu istri Ceo. Harus berpenampilan rapi. Elegan, dan juga terawat. Jangan seperti ini."
"Kenapa juga harus seperti itu?" tanya Yeri. "Aku harus pergi bersama denganmu. Aku juga tidak pernah sama sekali ingin pergi denganmu." Ucap Yeri. Menarik sudut bibirnya tipis.
"Mana uangnya, aku bisa pergi sendiri."
Arga hanya diam. Dia tanpa mau berdebat dengannya. Arga menarik tangan Yeri segera keluar dari kamarnya. Kebetulan mama Arga belum berangkat arisan sosialnya seperti biasanya.
"Eh.. Tunggu!" Mama arga menghentikan langkah mereka. Yeri menatap aneh pada wanita paruh baya yang berpenampilan begitu modis. Bagkan lebih darinya. Yeri mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.
Mama Arga terdiam. Dia mengerutkan keningnya. Menatap dari ujung kaki sampai ujung kepala menantunya itu. Tatapan mata itu menyipit Dengan senyum tipis mengejek penampilan Yeri.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, Arga. Kamu menikah dengannya? tanya mama Arga.
"Kenapa kamu menikah dengan wanita seperi ini. Apa kata geman-teman mama. Bagaimana jika mereka melihat penampilannya. Astaga..." mama Arga terlihat begitu gerah. Dia menghela napasnya beberapa kali.
"Arga, kamu bisa tidak rubah penampilannya. Tapi, setidaknya tidak membuatku malu." ucap Arga.
"Kenapa harus malu?" tanya Yeri.
"Tante, saya bisa berpenampilan sepeti tante. Bahkan jauh lebih cantik saya."
"Otak kamu juga cantik?"
"Otakku tidak secantik tante. Tapi, hatiku yang cantik. Jangan melihat orang dari sampulnya. Judul boleh jelek. Tapi, isi di dalamnya penuh makna kehidupan!" ucap Yeri menarik salah satu alisnya mengejek Mama Arga.
Mama Arga hanya diam. Dia hanya bisa menelan ludahnya. Menatap tajam ke arah Yeri. "Kamu berani dengan saya?" tanyanya.
"Saya tidak bernai dengan orang yang lebih tua. Saya menghargai anda. Tapi, jika anda tidak bisa menghargai saya sebagai menantu tante. Kenapa juga saya menghargai anda."
"Mama lebih baik pergi," pinta Arga.
"Kamu mengusir mama?" tanya Arga.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Arga. Dia menatap tajam mamanya.
Arga menghela napasnya. "Maaf!" ucap Arga lirih.
Mama Arga membulatkan bibirnya. Dia terkejut dengan jawaban dari anak kesayangan nya.
"Astaga, apa yang kamu katakan? Kamu berani dengan mama hanya karena membela wanita ini."
"Mama, Arga tidak mau berdebat. Masih banyak urusan!" Arga kembali menarik tangan Yeri untuk segera pergi dari sana.
Arga berjalan menuju ke mobil yang sudah di siapkan tepat di depan pintu rumah oleh sang sopir. Arga membukakan pintu untuk Yeri. Membaurkan dia masuk sendiri. Dan, segera Arga berlari memutar depan mobil. Masuk ke dalam mobil. Dia sengaja mengemudi sendiri menemani Yeri.
**
"Besok, adik sepupuku datang. Kamu harus bertingkah baik padanya. Apalagi, dia membawa calon suaminya. Mungkin akan tinggal selama beberapa hari."
"Pacarnya juga?" tanya Yeri.
__ADS_1