Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Perhatian kecil


__ADS_3

Apa tadi Arga sudah memakannya. Karena itu makanan aku buatnya terburu-buru sekaligus itu makanan pertama yang aku buat semoga saja dia suka. Setidaknya aku bisa mengambil hatinya nanti. agar dia tak terlalu marah-marah lagi. Gumam Yeri penuh percaya diri. Dia berjalan masuk ke dalam kantor.


Ini makanan kedua kalinya. Meskipun kemarin makanan yang aku buatkan gagal. Setidaknya sekarang, aku bisa memberikan dia makan. Ini pasti lebih enak. Aku sudha belajar resepnya seharian. Tidak mau gagal lagi untuk kesekian kalinya.


Yeri sudah menyiapkan semuanya. Dia memberikan bekal untuk suaminya. Terbesit dalam pikirannya untuk pergi ke kantor suaminya. Meskipun suaminya tidak pernah pedulikannya. Tapi, Yeri berusaha untuk menjadi istri yang baik. Dia tahu awal baik akan menjadikan kebiasaan buruk untuk dirinya dan Arga nanti. Yeri sadar dirinya hanya sebatas pernikahan kontrak. Apa salahnya jika dirinya peduli dengan Arga.


Dengan penuh semangat. Yeri membawa satu kotak bekal. Berjalan keluar dari rumahnya. Dia menunggu taksi lumayan jauh dari rumahnya.


Hari ini dia harus naik taksi sendiri. Meski menikah dengan orang kaya. Bahkan dirinya tak terlihat kaya. Arga juga begitu, dia membiarkan dirinya untuk berjalan sendiri mencari taksi tanpa harus susah payah mengantarnya. Tapi itu sudah keinginan Yeri. Lagian dia juga tak mau di antar olehnya. Takut jika dia tahu tempat kerjanya. Maka laki-laki gila itu terus datang menemuinya.


Tak hentinya Yeri berjalan cepat dan terus menatap jam tangan coklat yang melingkar di tangannya. Dia memastikan jika tidak telat untuk mengantarkan makanan. Yeri tidak mau jika Arga makan di luar. Dalam hati Yeri terus menggerutu tak jelas.


"Astaga.. Aku sudah terlambat sekarang. Kalau gini caranya bisa di depak aku dari perusahaan ini." Yeri berlari terburu-buru, ia berkali-kali melihat jam di tangannya yang sudah telah 15 menit dari perjanjian awal di pesan email yang di kirimkan padanya.


"Kenapa pikiranku jadi gak tenang begini. Apa sekarang Arga sedang marah karena masakan aku.. ah.. Lupakan saja dia. Marah atau enggak, itu gak begitu penting. Lagian dia tiap hari juga marah-marah gak jelas." gerutu Yeri kesal.


Yeri berlari terburu-buru sembari membenarkan sepatunya. "Jika aku tak segera masuk ke dalam. Bisa di pecat kalau seperti gini. Apa yang harus aku lakukan." gumam Salsa gemetar takut seketika saat dia sampai di sebuah ruangan manajernya. Ia berjalan maju mundur saat berhadapan dengannya. Kali ini pasti dirinya benar benar sangat marah. Lagian hari pertama kali dia melanggar aturan yang di buat oleh pada perusahaannya. Dan gimana kalau di keluarkan? Hah… Yeri memejamkan matanya. Dirinya mencoba untuk menenangkan hatinya. Ia menarik napasnya berkali-kali. Namun tetap saja belum bisa santai, dan tenang.


Karena ini hari pertama kerja. Dia juga belum tahu semua manajer dan Ceo perusahaan itu.


Yeri masih mencoba mengatur napasnya kembali. Menarik dalam-dalam, menahannya, lalu mengeluarkan secara perlahan.


"Lebih baik sekarang tenang dulu. Jangan sampai pikiran negatif mengganggu kamu." gumam Yeri memberi semangat dirinya sendiri. Dalam satu tarik napasnya, Yeri mengetuk pintu itu secara perlahan.


"Masuklah!" pinta manajernya.


Dengan penuh ragu, Yeri memegang gagang pintu. Ia melihat tangannya bahkan bergetar, perlahan membuka pintu ruangan itu. Ia melangkah satu langkah ke depan masuk ke dalam. Lalu menutupnya kembali. Setelah sudah tertutup rapat. Yeri berjalan dengan sangat hati-hati mendekati manajernya.

__ADS_1


"Apa kamu yang namanya Yeri?" tanya orang itu mengangkat kepalanya. Wajahnya nampak sangat datar saat mata itu menembus ke dua matanya.


Dia benar-benar menakutkan? Kenapa dia bisa jadi manajer di sini?


Yeri menghembuskan napasnya kasar. "Iya, aku Yeri." jawabnya mencoba santai.


"Kamu pergilah ke ruangan Ceo. Karena kamu terlambat hari ini. Dia meminta kamu datang ke sana sendiri. Ingat, sopanlah, jangan membuat masalah dengan CEO kita." ucap laki-laki itu.


"Matilah kamu.. Sudah terlambat saat pertama kali bekerja. Aku yakin jika kamu pasti di keluarkan."


Kata-kata itu seketika menusuk jantungnya. Bagaimana bisa dirinya terlambat saja di keluarkan langsung nantinya


"Baiklah! Saya permisi dulu." Yeri menundukkan kepalanya. Berjalan keluar dari ruangan itu. Dia belum bisa tenang jika belum bertemu CEO dan meminta maaf telah terlambat. Pasti bisa merubah segalanya nanti.


Tubuh Yeri semakin gemetar tak tenang. Pikirannya campur aduk , antara takut, khawatir, dan gugup. Dia berjalan dengan pandangan kosong. Sembari melirik sekilas di mana ruangan CEO. Tak butuh berjalan lama. Yeri sampai di depan ruangan CEO.


Yeri mengeluarkan senyumnya semanis mungkin. Merasa sudah siap, ia mulai mengetuk pintunya perlahan.


"Masuklah," pinta seorang dari dalam.


"Baik." Yeri membuka pintunya. Ia menundukkan kepalanya, berjalan masuk, lalu menutupnya kembali rapat.


"Kenapa kamu terlambat?" suara serak seorang laki-laki membuatnya merasa aneh. Aneh karena dirinya terlihat begitu familiar di telinganya. Yeri yang masih tertunduk, berjalan mendekat sembari mencengkeram jari-jarinya sendiri. Menghilangkan rasa ragu pada dirinya.


"Maaf, pak!" ucapnya lugu.


"Angkat kepalamu?" pinta tegas laki-laki di depannya. Meski tak melihatnya saja dia begitu tegas dan sepertinya menakutkan.

__ADS_1


Yeri menarik napasnya, merasa sudah lega ia mengangkat kepalanya menatap ke arah seorang Ceo di depannya. Kursinya memutar ke belakang, membuat wajah laki-laki itu tak begitu jelas.


"Duduklah," pinta laki-laki itu lagi.


"Jika kamu mau menemani aku. Maka aku tak akan memecat kamu." ucap laki-laki itu sontak membuat Yeri melebarkan matanya.


"Apa maksud kamu?" tanya Yeri bingung.


Kursi itu memutar perkara, seorang laki-laki di balik kursi itu. "Temani aku," ucap nya lagi. Hingga mereska slaing berhadapan.


"Kamu?"


Ke dua mata Yeri terbuka lebar, ia tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Yeri mencubit erat ke dua tanganya. Merasa sakit ia kembali menatap ke depan. Seketika membuat Yeri sontak jantungan. Gimana tidak, sosok tampan itu adalah Gio. Laki-laki kecil yang selalu buat dia marah.


"Kenapa terkejut?" tanya Gio, bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Yeri.


"Apa kamu pemilik perusahaan ini?" tanya Yeri memastikan.


"Iya… Apa kamu terkejut melihatnya." Gio duduk di atas meja, sembari menatap ke arahnya.


"Gimana tawaran aku? Apa kamu malam ini mau menemaniku, lagian kamu sudah menemani kakak aku kemarin malam, kan. Sekarang giliran aku." Gio memegang dagu Yeri yang masih gemetar ketakutan.


"Singkirkan tangan kamu." pekik Yeri menepis tangan Gio.


"Jika aku tidak mau gimana?"


"Terserah kamu," gerutu Yeri kesal.

__ADS_1


__ADS_2