
Semua pegawai bersorak menatap ke arah Yeri dan Arga. Merasa sangat malu, Yeri mengernyitkan wajahnya, menutup rapat matanya, sembari memegang erat ke dua lengan kekar tangan Arga. Mencengkeram sangat erat. Untung saja dia bawa jas kalau tidak kuku tajam Yeri pasti menancap di lengannya.
Yeri menyembunyikan wajah memerah miliknya di balik jas hitam milik Arga.
"Kamu bisa turunkan aku enggak?" ucap Yeri memelankan suaranya. Dan Arga sama sekali tidak perdulikanya. Dia terus berjalan hingga sampai di depan ruangan Gio.
"Turunkan aku!" Yeri menggekrkan kedua kakinya Dia memukul dada bidang Arga beberapa kali.
"Aku teriak jika kamu tidak aku turunkan aku."
Arga menghentikan langkahnya. "Sudah aku bilang, jangan banyak bicara. Diamlah," geram Arga. Jika kamu mau turun. Silahkan, tapi jangan ganggu aku lagi. Aku hanya bantu kamu, lagian aku juga tidak tertarik denganmu dada rata." ledek Arga. tanpa menatap ke arah Yeri.
Yeri menghenduskan napasnya kesal. " Kamu bilang apa? Dada kecil?" Yeri mengerutkan bibirnya kesal.
"Turunkan aku sekarang, atau aku aka lompat?"
"Lompat saja, jika kamu mau. Aku juga tidak permasalahkan. Jika terjadi apa-apa. Aku tidak mau menanggung pengobatan ayahmu. Apalagi jika kamu terluka. Itu bukan tanggunganku." ucap santai Arga.
"Sialan!" umpat kesal Yeri. Mendengar kata Ayahnya. Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sekarang yang paling penting baginya adalah ayahnya. Dia ingin melihat ayahnya sehat. Tidak peduli cara yang di lakukan salah.
"Kalau kamu masih banyak bicara. Aku tidak akan segan-segan menyakitimu." Arga mendorong pintu ruangan Gio hingga menimbulkan bunyi sangat keras. Arga menurunkan tubuh Yeri. Tepat di depan Gio.
"Sekarang kamu diam," bisiknya.
Yeri menutup mulutnya mengangkat kepalanya tinggi-tinggi menunjukan pada Arga jika dia sudah tutup mulut. Ia menarik lengan Arga. Mencoba berbicara dengan nada tak di pahami sama sekali oleh Arga. Gimana tidak, Yeri benar-benar tak mau buka mulut saya bicara.
"Sekarang Kamu ingin apa?" tanya Arga. "Jangan buat aku tambah emosi, buka mulutmu."
Yeri hanya diam menggelengkan kepalanya. Arga yang merasa kesal sendiri. Ia memegang ke dua pipi Yeri, sedikit mencengkeram pipinya dengan tangan kanan memegang bibirnya.
"Kalau kamu gak mau bicara, aku akan cium kamu sampai kamu gak bisa bicara beneran." ancam Arga, membuat ke dua mata Yeri terbelelak seketika. Ia menelan ludahnya susah payah. Ke dua mata tajam mereka saling beradu.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Gio bingung. Arga mengangkat tangannya ke depannya. Menunjukan telapak tangannya. Memberi kode pada Gio untuk tetap diam di tempatnya. Jangan ikut campur urusannya.
"Duduklah," ucap Arga, mendorong tubuh Yeri hingga dia duduk di atas sofa.
Dasar nyebelin. Apa sebenarnya yang dia inginkan. Kenapa dia begitu kasar padaku. Atau jangan-jangan dia mau membuat aku merasa sangat malu. Dan sekarang aku ingin marah, tapi pada siapa? Marah pada siapa? Kesal dengan siapa? Karena aku yang memulai masuk ke dalam kandang singa jantan yang menakutkan.
"Diamlah di sini,"
__ADS_1
"Kenapa kamu begitu kasar dengan orang, Arga." suara lemah dan sedikit keras itu membuat Arga dan Gio saling menatap, lalu kompak menatap ke depan. Ke dua kata mereka melebar. Yeri tersenyum tipis saat melihat oma. Dia pasti di bela mati-matian jika ada dia.
"Oma.. Kenapa oma datang ke simi?" tanya Gio gugup.
"Gak apa-apa, hanya ingin berada di ini."
"Gio, bukannya kamu pergi sekarang?" tanya Oma.
Gio mengerutkan keningnya. "Pergi kemana, oma?" tanya Gio bingung.
"Cepat ke perusahaan Arga. Dan sekarang Arga akan di sini."
"Apa oma?" Gio menatap ke arah Arga.
"Apa kamu gak mau" tanya Arga.
Gio mengedipkan matanya gak percaya. Dia bisa berada di perusahaan inti dari keluarganya. Bisa mengelolanya seperti Arga itu yang jadi impian Gio selama ini.
"Aku mau,"
"Kalau mau, sekarang ke sana. Dan ingat jangan membuat oma kecewa.. Itu perusahaan keluarga turun menurun. Jadi kamu juga harus bisa belajar di sana. Gimana cara membesarkan perusahaan ini menjadi lebih besar seperti Morgan group." jelas Oma.
"Sudah sekarang cepat kembali ke Morgan group." tegas oma pada Gio.
Dengan senang hari Arga merelakan sementara morgan group pada adiknya. dan lebih memilih di sana.
"Oma, apa ini karena Yeri?" tanya Gio. "Kalau memang iya, kenapa dia gak bekerja di sana saja?" lanjutnya.
Arga menoleh menatap Yeri. "Yeri, gimana apa kamu mau bekerja di perusahaan Arga?"
"Apa… Enggak! Aku ingin kerja di sini dulu. Lagian Yeri juga butuh belajar dari bawah oma."
Arga menatap ke arah Yeri, dia berjalan menghampirinya. Lalu duduk manis di sampingnya.
Oma tersenyum mendengar ucapan Yeri. "Baiklah, kalian semua sudah dengar. Sekarang Gio, kamu pemilik Morgan selama 1 bulan."
"Kenapa hanya satu bulan oma?"
"Kenapa juga kamu banyak tanya?" bentak oma, seketika membungkam Gio.
__ADS_1
"Iy. Iya.. Oma, aku pergi sekarang." Ucap Gio melangkahkan kakinya pergi.
"Kak selamat bersenang senang." sapa Gio pada Arga, menari menarik ke dua alisnya dan tangan kanan terangkat ke atas. Dan hanya di balas dengan senyum tipis olehnya.
"Aku bingung!"
"Bingung kenapa?"
"Kenapa Gio pergi? Jadi sekarang siapa Ceo di sini."
"Suami kamu sendiri." timpal oma.
"Apa oma?" Yeri melirik ke arah Arga.
Astaga… naga.. Apa yang bisa aku lakukan jika dia boss di sini. Apa sebenarnya yang terjadi. Aku pusing, dah.. Gak tahu lagi, sekarang terserah mereka. Yang penting sekarang aku mau bekerja.
"Yeri.. Antar Oma keluar dari kantor ini " ucap Oma berjalan menghampiri Yeri.
"Baik oma," tegas Yeri bangkit dari duduknya.
"Dan nanti kalau Arga kasar padamu. Bilang pada oma. Aku jitak kepala nanti."
"Siap oma, pasti."
Setelah oma pergi dari kantor. Yeri mulai kembali bekerja. Sampai jam istirahat dia langsung menarik tangan Angel ke kantin. Perutnya yang sudah lapar terus teriak minta makan. Dan sementara Arga selalu menghubungi ponselnya. Yeri hanya menatap.layar ponselnya lalu mengabaikannya di atas meja sebelum dia melesat pergi ke kantin.
Arga mencarinya di meja kerja. Tak mendapati Yeri di sana. Bahkan dia duduk di kursi Yeri.
"Di mana dia?" gumam Arga, ia menatap meja Yeri. Ada sebuah kertas di sana. Arga menarik kertas itu. Seketika ia menatap tajam, sembari mengeluarkan napas kasarnya melihat gambar Arga begitu jelas. Hanya lingkaran dan bibir besar. Hidung besar, tubuh besar tapi ke dua kaki dan tangannya kecil.
"Gambar babi siapa ini?" umpat Arga kesal.
Ada sebuah tulisan yang semakin membuat Arga semakin menggeram kesal.
Babi ini membuat aku kesal. Kenapa juga dia selalu marah gak jelas. Dasar jelek nyebelin. Aku ingin marah padanya. Tapi dia berkuasa. Ah… Aku bejek bejek tuh wajahnya. jadi kepingan.
"Dasar kurang ajar. Memangnya aku seperti babi?" pekik Arga semakin kesal. Tatapan mata itu menajam. Seolah dia ingin sekali mencabik-cabik mulut Yeri.
"Enak saja dia bilang aku babi. Jika aku bertemu dengannya nanti. Aku akan tunjukan babi sebenrnya seperti apa." geram Arga. Sembari menarik sudut bibirnya tipis. terpikirkan dalam benaknya sebuah cara agar dia membalas ucapan Yeri padanya.
__ADS_1