
Melihat mereka yang semakin mesra. Yeri merasa tak bisa tenang lagi. Kedua mata Yeri menatap ke arah Arga dan Skema. Bahkan mereka saling berpegangan tangan. Kedua mata mereka saling tertuju. Merasa tidak nyaman dengan tatapan itu Yeri. Terbesit dalam pikiran Yeri untuk membaut masalah pada Arga Dia tersenyum tipis, dan segera berjalan menghampiri Arga.
"Hai, tuan Arga." sapa Yeri. Dia berjalan pelan menghampiri Arga Sembari melambaikan tangan ke arahnya. Senyuman manis terukir di bibirnya Wanita di samping Arga mengerutkan keningnya Dia melirik ke arah Yeri. Dan, Arga bergantian.
"Apa kamu kenal dia," tanya Sella.
"Aku adalah teman dekatnya," Yeri duduk di samping Arga. Dia duduk berdekatan dengannya. Arga mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak tahu apa yang harus di katakan. Dalam hati hanya bisa menggeram kesal. Rasanya ingin sekali menutup mulut Yeri.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Sella.
"Kalian teman dekat?" tanya Arga.
"Iya, aku teman dekat. Aku sangat dekat. Bahkan kita juga tidur..." Yeri bekum smepat melajutkan ucapannya , sontak Arga spontan menutup mulut Yeri dengan telapak tangannya seolah dia tahu apa yabg akan di katakan oleh Yeri pada Sella. Arga berbisik pelan pada Yeri.
"Jangan ceritakan semuanya," ucap Arga lirih. Sembari menahjran amarahnya.
"Kenapa?" tanya Yeri Mengeraskan suaranya. Membuat Arga salah tingkah. Dia takut jika kekasihnya itu tahu tentang pernikahannya dengan Yeri. Apalagi dirinya sama sekali tidak pernah bertemu. Ini adalah pengalaman pertamanya bertemu kembali dengan Sella.
"Kenapa?" tanya Sella. "Apa yang kalian bicarakan?"
Arga melirik ke belakang. Dia tersenyum tipis. Menunjukan gigi putihnya.
"Kita tidak bicara apa-apa, tadi cuma bilang masalah kerjaan."
"Nggak, maksud aku yang dia katakan tadi. Soal tidur. Memangnya kalian tidur bersama?" tanya Sella.
Yeri mengerjapkan kedua matanya. Dia menatap bingung ke arah Sella.
"Hmmm... Gini, sebenarnya itu," Yeri tersenyum tipis.
"Jangan dengarkan apa yang dia katakan. Aku bahkan tidak pernah tidur dengannya. Dia hanya ingin menggodamu, lukamu saja.
"Kenapa dia panggil kamu tuan?" tanya Sella. dia perlahan mulai curiga dengan Arga.
**
"Besok aku akan temui kamu,"
"Tapi, aku ikut," ucap Yeri.
"Kenapa kamu ikut?" tanya Arga. Dia menarik tangannya dari pelukan Yeri.
"Nah, kita kan selalu bersama." jawab Yeri yang seketika mem air Arga ingin sekali menutup mulutnya drngan perban.
"Besok, aku akan pindah ke rumah baru. Jika kamu , kamu bisa tinggal disana. Bagaima?" tanya Arga.
"Tidak perlu, aku akan sering datang kesana. Tapi, aku tidak bisa tinggal di rumahmu. Banyak sekali pekerjaan hang harus aku lakukan."
"Kamu kerja?" tanya Arga.
"Iya, aku bekerja di butik. Disini aku hanya desain baju, kami tahu aku begitu sibuk. Jadi jika ada waktu luang. Aku akan pergi sendiri rk rumah kamu."
"Bagaimana kabar ibu?" tanya Sella.
"Mama terus mencarimu. Dia tidak berhenti bertanya,"
"Aku juga sangat merindukannya. Nanti bawa aku bertemu dengannya."
"Aku sangat bahagia sekarang." Selalu memeluk erat kedua pinggang Yeri
**
keesokan harinya
Yeri menggaruk kepalanya, yang sebenarnya tak terasa gatal. Dia menatap ke samping. Melihat temannya Angel menatap kagum suaminya. Rasanya ingin sekali kesal. Tapi dia juga sadar. Hanya istri bayaran. Jadi gak berhak kesal atau cemburu pada siapapun. Karena itu sudah jadi konsekuensiku nanti jika sampai aku patah hati, terluka, atau suka dengannya.
"Huffftt… Bisa jaga jarak gak?" gumam Yeri, menarik dua sudut bibirnya mengukirkan sebuah senyuman manis.
Wanita berwajah cantik bersih itu memalingkan wajahnya, matanya berkeliling manatap sekitarnya. semua pegawai melihat ke arahnya. Mungkin di pikiran mereka, kenapa anak baru bisa dekat dengan seorang boss. Atau mereka berpikir aneh-aneh lagi. Ah.. Gak tahu.. Dia juga gak begitu perduli dengan pikiran mereka atau ejekan mereka. Dia sudah kenyang menerima cacian dan makian orang berhari hari.
Apalagi si pria dingin itu. Dia juga rasanya benar-benar menyebalkan. Dan ingin sekali marah setiap hari jika menatap wajahnya.
Yeri mengerutkan bibirnya, lalu mendekatkan wajahnya. "Heh.. Kenapa kamu di sini?" tanya Yeri lirih. Sembari melirik temannya yang masih berdiri di belakang Arga. Apalagi temannya itu tidak berhenti mengagumi suaminya.
"Memangnya kenapa?" tanya Arga.
"Aku sedang kerja. Jadi jangan ganggu aku." decak kesal Yeri.
__ADS_1
Arga terkekeh kecil. "Apa kamu bilang? Kerja apa? Memangnya ada kerja dalam.mimpi." ejek Arga, meraih dokumen di bawah tangan Yeri.
"Bukan urusan kamu." pekik Yeri, ia sengaja berbicara memelankan suaranya. Sembari menatap tajam Arga. Meraih dokumen di tangannya.
"Lebih baik, anda sekarang pergi. Aku gak mau tahu lagi. Cepat pergi."
"Kamu berani mengusir suami kamu?" tanya Arga, meraih dagu Yeri, menariknya sedikit ke atas.
"Aku ingin lihat seberapa beraninya kamu mengusirku. Atau kamu sendiri saja yang gak mau pergi dari sini." gumam Arga.
"Kenapa aku harus pergi." tanya Yeri mengerutkan keningnya bingung.
"Karena kamu seharusnya kerja di perusahaanku. dan aku sudah siapkan semuanya. Sementara kamu, kenapa kamu pindah haluan dan bekerja di sini. Apa kamu sengaja buat cemburu suami kamu?"
"Memangnya kamu cemburu?" tanya Yeri dengan nada sedikit mengejek.
"Menurut istriku gimana? Apa kamu gak kangen denganku, jika kerjamu saja jauh dariku. Kalau aku dekat dengan wanita lain, berduaan di kantor."
Yeri menarik dua sudut bibirnya. Mengukirkan sebuah senyuman tipis di wajahnya. "Oo.. Oke, oke, silahkan." ejek Yeri, menarik kompak ke dua alisnya ke atas.
Arga semakin mendekatkan wajahnya, bahkan kini jarak mereka hanya satu telunjuk tangan dari wajahnya. Hembusan napas mereka saling berpacu. Mereka saling kenatap, dengan pandangan mata terkunci.
"Apa kamu.."
"Sssttt…" Arga menutup bibir Yeri dengan telunjuk tangannya.
Hampir saja bibir Arga menempel tepat di bibirnya. Dengan cepat Yeri mengumpulkan semua kemampuannya mendorong tubuh Arga menjauh darinya. Hingga punggungnya terbentur kursi.
"Gimana? Enak gak?" tanya Yeri.
Arga menatap tajam ke arah Yeri yang terus menertawakannya.
"Ikut aku!" ucap Arga. Meraih tangan Yeri, bangkit dari duduknya. Menariknya pergi, entah dia akan membawa Yeri kemana. Tanpa banyak bicara, Arga semakin mempercepat jalannya.
"Apa kamu gak bisa jalan lebih pelan."
"Kenapa?" tanya jutek Arga, melirik sekilas.
"Gak apa-apa, sih." jawab Yeri sedikit kesal, menarik sudut bibirnya tipis.
Dasar nyebelin! Emangnya aku barang main seret gitu aja. Lagian barang aja gak boleh di seret harus di gendong. Apalagi wanita? kalau di gendong bisa lebih romantis dikit.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Arga.
"Atau kamu lagi mengumpat padaku dalam hati."
"Jangan sok ganteng. Lagian siapa juga yang mengumpat. Aku hanya bilang , jika kamu laki-laki resek sekaligus nyebelin." ejeknya, membuat semua pegawai yang melintas di sampingnya menatap ke arahnya bingung. Berbagai pertanyaan muncul di otak mereka tentang siapa sebenarnya Yeri. Pegawai baru yang bisa membuat seorang Ceo jatuh cinta.
Arga berdengus kesal, tanpa banyak tanya, ia mengangkat tubuh Yeri. Dalam hitungan detik saja tubuhnya melayang.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Yeri kesal. Memukul berkali-kali dada Arga.
"Bisa diam gak? Kamu bikin ribut di kantor orang." gumam Arga melangkahkan kakinya pergi menuju ke ruangan Gio.
Semua pegawai bersorak menatap ke arah Yeri dan Arga. Merasa sangat malu, Yeri mengernyitkan wajahnya, menutup rapat matanya, sembari memegang erat ke dua lengan Arga. Mencengkeram sangat erat. Untung saja dia bawa jas kalau tidak kuku tajam Yeri pasti menancap di lengannya.
"Kamu bisa turunkan aku enggak?" ucap Yeri memelankan suaranya. Dan Arga sama sekali tidak perdulikanya. Dia terus berjalan hingga sampai di depan ruangan Gio.
"Kalau kamu masih banyak bicara. Aku tidak akan segan-segan menyakitimu." Arga mendorong pintu ruangan Gio hingga menimbulkan bunyi sangat keras. Arga menurunkan tubuh Yeri. Tepat di depan Gio.
"Sekarang kamu diam," bisiknya.
Yeri menutup mulutnya mengangkat kepalanya tinggi-tinggi menunjukan pada Arga jika dia sudah tutup mulut. Ia menarik lengan Arga. Mencoba berbicara dengan nada tak di pahami sama sekali oleh Arga. Gimana tidak, Yeri benar-benar tak mau buka mulut saya bicara.
"Sekarang Kamu ingin apa?" tanya Arga. "Jangan buat aku tambah emosi, buka mulutmu."
Yeri hanya diam menggelengkan kepalanya. Arga yang merasa kesal sendiri. Ia memegang ke dua pipi Yeri, sedikit mencengkeram pipinya dengan tangan kanan memegang bibirnya.
"Kalau kamu gak mau bicara, aku akan cium kamu sampai kamu gak bisa bicara beneran." ancam Arga, membuat ke dua mata Yeri terbelelak seketika. Ia menelan ludahnya susah payah. Ke dua mata tajam mereka saling beradu.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Gio bingung. Arga mengangkat tangannya ke depannya. Menunjukan telapak tangannya. Memberi kode pada Gio untuk tetap diam di tempatnya. Jangan ikut campur urusannya.
"Duduklah," ucap Arga, mendorong tubuh Yeri hingga dia duduk di atas sofa.
Dasar nyebelin. Apa sebenarnya yang dia inginkan. Kenapa dia begitu kasar padaku. Atau jangan-jangan dia mau membuat aku merasa sangat malu. Dan sekarang aku ingin marah, tapi pada siapa? Marah pada siapa? Kesal dengan siapa? Karena aku yang memulai masuk ke dalam kandang singa jantan yang menakutkan.
"Diamlah di sini,"
__ADS_1
"Kenapa kamu begitu kasar dengan orang, Arga." suara lemah dan sedikit keras itu membuat Arga dan Gio saling menatap, lalu kompak menatap ke depan. Ke dua kata mereka melebar. Yeri tersenyum tipis saat melihat oma. Dia pasti di bela mati-matian jika ada dia.
"Oma.. Kenapa oma datang ke simi?" tanya Gio gugup.
"Gak apa-apa, hanya ingin berada di ini."
"Gio, bukannya kamu pergi sekarang?" tanya Oma.
Gio mengerutkan keningnya. "Pergi kemana, oma?" tanya Gio bingung.
"Cepat ke perusahaan Arga. Dan sekarang Arga akan di sini."
"Apa oma?" Gio menatap ke arah Arga.
"Apa kamu gak mau" tanya Arga.
Gio mengedipkan matanya gak percaya. Dia bisa berada di perusahaan inti dari keluarganya. Bisa mengelolanya seperti Arga itu yang jadi impian Gio selama ini.
"Aku mau,"
"Kalau mau, sekarang ke sana. Dan ingat jangan membuat oma kecewa.. Itu perusahaan keluarga turun menurun. Jadi kamu juga harus bisa belajar di sana. Gimana cara membesarkan perusahaan ini menjadi lebih besar seperti Morgan group." jelas Oma.
Yeri hanya diam, ia hanya sebagai pendengar. Meski mendengarkan saja dia gak paham apa sebenarnya yang mereka bicarakan. Dan lebih memilih untuk diam dari pada ikut campur urusan mereka.
"Sudah sekarang cepat kembali ke Morgan group." tegas oma pada Gio.
Dengan senang hari Arga merelakan sementara morgan group pada adiknya. dan lebih memilih di sana.
"Oma, apa ini karena Yeri?" tanya Gio. "Kalau memang iya, kenapa dia gak bekerja di sana saja?" lanjutnya.
Arga menoleh menatap Yeri. "Yeri, gimana apa kamu mau bekerja di perusahaan Arga?"
"Apa… Enggak! Aku ingin kerja di sini dulu. Lagian Yeri juga butuh belajar dari bawah oma."
Arga menatap ke arah Yeri, dia berjalan menghampirinya. Lalu duduk manis di sampingnya.
Oma tersenyum mendengar ucapan Yeri. "Baiklah, kalian semua sudah dengar. Sekarang Gio, kamu pemilik Morgan selama 1 bulan."
"Kenapa hanya satu bulan oma?"
"Kenapa juga kamu banyak tanya?" bentak oma, seketika membungkam Gio.
"Iy. Iya.. Oma, aku pergi sekarang." Ucap Gio melangkahkan kakinya pergi.
"Kak selamat bersenang senang." sapa Gio pada Arga, menari menarik ke dua alisnya dan tangan kanan terangkat ke atas. Dan hanya di balas dengan senyum tipis olehnya.
"Aku bingung!"
"Bingung kenapa?"
"Kenapa Gio pergi? Jadi sekarang siapa Ceo di sini."
"Suami kamu sendiri." timpal oma.
"Apa oma?" Yeri melirik ke arah Arga.
Astaga… naga.. Apa yang bisa aku lakukan jika dia boss di sini. Apa sebenarnya yang terjadi. Aku pusing, dah.. Gak tahu lagi, sekarang terserah mereka. Yang penting sekarang aku mau bekerja.
"Yeri.. Antar Oma keluar dari kantor ini " ucap Oma berjalan menghampiri Yeri.
"Baik oma," tegas Yeri bangkit dari duduknya.
"Dan nanti kalau Arga kasar padamu. Bilang pada oma. Aku jitak kepala nanti."
"Siap oma, pasti."
Setelah oma pergi dari kantor. Yeri mulai kembali bekerja. Sampai jam istirahat dia langsung menarik tangan Angel ke kantin. Perutnya yang sudah lapar terus teriak minta makan. Dan sementara Arga selalu menghubungi ponselnya. Yeri hanya menatap.layar ponselnya lalu mengabaikannya di atas meja sebelum dia melesat pergi ke kantin.
Arga mencarinya di meja kerja. Tak mendapati Yeri di sana. Bahkan dia duduk di kursi Yeri.
"Di mana dia?" gumam Arga, ia menatap meja Yeri. Ada sebuah kertas di sana. Arga menarik kertas itu. Seketika ia menatap tajam, sembari mengeluarkan napas kasarnya melihat gambar Arga begitu jelas. Hanya lingkaran dan bibir besar. Hidung besar, tubuh besar tapi ke dua kaki dan tangannya kecil.
"Gambar babi siapa ini?" umpat Arga kesal.
Ada sebuah tulisan yang semakin membuat Arga semakin menggeram kesal.
Babi ini membuat aku kesal. Kenapa juga dia selalu marah gak jelas. Dasar jelek nyebelin. Aku ingin marah padanya. Tapi dia berkuasa. Ah… Aku bejek bejek tuh wajahnya. jadi kepingan.
__ADS_1
"Dasar kurang ajar. Memangnya aku seperti babi?" pekik Arga semakin kesal.