Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Ketahuan


__ADS_3

Setelah pernikahan sudah selesai. Semuanya berjalan dengan lancar. Kehidupan Arga sekarang mulai berubah. Mau tidak mau dia harus satu kamar dengan Yeri. Tapi, itu hanya formalitas saja. Dia tidur di kamar adiknya. Arga masih belum bisa satu kamar dengan Yeri. Dia merasa gugup dengannya. Awal dirinya sangat terobsesi dengan Yeri. Namun kini jadi sebaliknya. Dia sama sekali tidak peduli dengan Yeri. Dia hanya ingin melihatnya saja. Sesuai perjanjian yang tertera. Tidak akan saling menyentuh satu sama lain.


"Cepat panggil, Gio" ucap Oma meminta bantuan Hans asisten Arga. Oma selalu saja curiga dengannya. Beberapa hari menikah. Tapi, dia sering sekali saat pagi melihat Arga keluar dari kamar Gio masuk ke dalam kamarnya.


Hans membentuk kamar Gio beberpa kali. Tanpa memanggil namanya. Dia tahu jika mendengar suaranya. Pasti tuan Gio tidak akan mau keluar.


"Siapa?" tanya Arga. Tanpa sadar, dia membuka pintu kamar Gio.


"Ada apa?" tanya Arga. Perlahan mengangkat kepalanya.


"Hans, ada apa?" tanya Arga terkejut.


"Gak, papa, tuan!" jawab Hans gugup.


"Ada apa denganmu?" Arga terlihat curiga dengan Hans yang tiba-tiba gugup.


"Eh.. I-itu, tuan.. Emm.. Ada..." ucapan Hans terhenti. Kepamaha menunduk. Kedua bola mata melirik ke samping. Seolah memberikan tanda isyarat padanya. Arga mengerutkan keningnya bingung. Perlahan melirik ke samping. Kedua mata nya melebar sempurna. Saat melihat Oma sudah berada di depan matanya.


"Astaga, Oma, kenapa oma ada disini?" tanya Arga. Dia berjalan pelan mendekati oma Melly.


"Kenapa kamu tidak temui Yeri hari ini. Kalian sudah menikah. Kenapa kamu masih membiarkan Yeri tidur sendiri?" tanya Oma meninggikan suraya.


"Oma, aku hanya mampir ke kamar Gio sebentar. Karena ada urusan. Dia minta tanganku untuk mengerjakan tugasnya. Udah, itu saja."


"Tapi kenapa sampai pagi?" tanya Oma memelototkan kedua matanya.


Mendengar alasan dari Arga cucunya. Sama sekali tidak bisa menyakinkan diri ya.


Arga menghela napasnya. "Astaga, Oma jelas itu pasti kecapekan aku tidur di kamarnya. Lagian aku juga baru menikah tidak usah buru-buru, buat anak, Oma." ucap Arga terus menciba untuk menjelaskan.


"Oma tahu sendiri. Aku pulang kerja jam berapa. Terus, gio meminta bantuan untuk mengerjakan tugas." Arga masih terus berusaha menyakinkan oma Melly.


Oma menganggukan kepalanya satu kali. Seolah paham dengan apa yang di katakan Arga. Tapi, dirinya masih belum percaya dengan cucunya. Oma masih menciba cari tahu kebenarannya.


"Panggil, Gio, sekarang." pinta Oma.

__ADS_1


Hans dan Arga saling melirik. "Arga, panggil Gio sekarang?" Oma masih terus berusaha untuk tetap tenang.


"Dia sudah tidur, Oma!" ucap Arga.


"Hans, masuk kedala.. Cari dimana Gio."


"Oma, udah, deh. Ini sudah malam. Lebih baik oma tidur saja." ucap Arga.


"Gak, aku mah pastikan jika apa yang kamu katakan benar," ucap Oma.


Arga berusaha tenang. "Oma, udah, aku antar oma ke kamar sekarang. Aku juga mau balik ke kamar Yeri." Arga menuntun tangan oma untuk segera pergi.


"Tapi, aku mau bicara dengan, Gio."


"Oma, udah, Gio sudah pergi. Lebih baik sekarang Oma tidak bicara apapun lagi. Balik ke kamar dan tidur. Oma bisa tanyakan pada Gio besok pagi." jelas Arga.


"Oke, baiklah! Awas kamu berbohong." kata Oma.


"Tidak, Oma!" Arga mengantarkan Oma sampai ke kamarnya. Dia membantu oma ubtuk berbaring di kamar sendiri.


Arga drngan terpaksa harus menurut apa yang oma katakan. Dia kembali ke kamar Yeri. Masuk ke dalam kamar itu. Kedua maya itu tertuju pada Yeri yang suddah berbaring di atas ranjang. Drngan selimut tebal membungkus tubuhnya.


Arga memilih untuk tidur di sofa. Meskipun terasa ngantuk. Dia tidak mau menganggu tidur Yeri. Arga memeluk tubuhnya sendiri di sofa.


**


Keesokan harinya. Jarum jam sudah menunjukan pukul 6 pagi. Cahaya matahari sudah menampakkan sinarnya. Arga bangun lebih dulu. Dia melirik ke arah Yeri. Menggelengkan kepalanya saat meluaht Yeri masih berbaring di ranjangnya. Arga beranjak berdiri. Melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ranjang.


Arga menarik selimut yang masih membungkus tubuh Yeri.


"Isshh.. Apa, sih!" kesal Yeri. Dia menarik kembali selimutnya.


"Kenapa kamu jam segini belum juga bangun?" tanya Arga.


"Kenapa? Terserah aku mau bangun jam berapa?" Kesal Yeri. Yang masih memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Terserah kamu? Lebih baik sekarang, kamu pergi dari rumah ini. Jangan buat aku malu. Keluargaku datang, dan kamu kasih tidur." Arga menarik kembali selimut Yeri.


Yeri menggeram kesal. Dia menghela napasnya kasar. Terpaksa membuka matanya, mendengar ocehan Arga membuat telinganya terasa sangat gerah. Yeri mengeluarkan napas dari sela-sela bibir yang terbuka.


"Ada apa?" tanya Yeri.


"Di perjanjian tidak ada larangan untuk bangun kesiangan. Kenapa kamu bawel sekali." Yeri melemparkan bantal tepat mengenai wajah Arga. Dia kembali melanjutkan tidurnya.


Arga hanya bisa diam. Dia memejamkan kedua matanya beberapa detik. "Sudahlah lebih baik kamu bereskan bajumu. Kita pindah rumah!"


"Terserah!" ucap Yeri. Dia hanya mengangkat kepalanya. Dalam waktu beberapa detik saja. Arga berhasil meredakan emosi dalam dirinya.


"Baiklah, jika kamu tidak keluar sekarang. Aku tidak akan membayar uang perawatan ayahmu. Aku akan cabut semua peralatan yang di gunakan." ancam Arga. Dia melemparkan kembali bantal di tubuh Yeri. Dia membalikkan badannya, duduk di atas sofa.


Kedua nata Arga tertuju pada Yeri yang masih terbaring di ranjang. Dia bahkan tidak pedulikan Arga meskipun dirinya mengancam.


"Kamu yakin tidak peduli?" tanya Arga.


"Terserah, jika kamu batal melakukannya. Maka aku akan membatalkan pernikahan. Lebih baik aku cari laki-laki lain." ancam balik Yeri.


Arga menggerakkan giginya kesal. Dia menghela napasnya beberapa kali. Kali ini Yeri benar-benar menguji kesabarannya. Baru saja menikah sudah membuat ulah. Arga berusaha untuk tetap sabar. Jika dirinya marah. Terdengar sampai telinga nenek. Pasti dia akan marah. Tidak, bisa bayangkan lagi bagaimana jika Oma marah.


Arga bangkit dari duduknya. Dia tidka mau banyak bicara lagi. Arga membiarkan Yeri berada di dalam kamar. Kedua kaki jenjang itu melangkah dengan sangat santai. Penuh dengan gaya, Arga melirik ke samping. Dia melihat Yeri yang masih saja titidur.


"Bangunlah, itu lebih baik." kata Arga. Di Menghela napasnya. Dan, beranjak duduk manatap Yeri .


"Iya, aku bangun sekarang ," kata Yeri.


Yeri membuka matanya. Dia menyipitkan matanya beberapa detik. Melihat ke arah pintu yang terdengar tadi sudah tertutup kembali. Yeri melebarkan matanya. Saat dia tahu jika Arga sudha keluar. Dalam hati ingin melompat kegirangan. Akhirnya Yeri bisa bernapas begitu leganya sekarang. Dia bisa bebas di kamar. Dirinya memang tisak suka jika ocehan Arga yang selalu mengiyakan.


Yeri info bebas sehari tampa Arga. Tanpa harus mengingatkan lagi ini itu,.


"Kemana dia?" tanya Arga. Dia merasa begitu aneh dengannya. Yeri menghela napasnya beberapa kali. Menjauhkan tubuhnya di atas ranjang. Kedua nata menatap ke atap langit kamarnya.


Yeri bangkit duduknya. Dia segera berdiri. Mengingat lagi jika dirinya tidak berada di tempat yang salah. Dia harus lebih menyesuaikan diri.

__ADS_1


__ADS_2