Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Saling goda


__ADS_3

Saat makan malam. Hanya ada oma, Arga dan Yeri. Mereka saling berbincang satu sama lain. Bahkan Oma sudah langsung membahas tentang keturunan. Membuat Yeri menelan ludahnya semakin gugup.


"Bagaimana? Kalian siap punya rencana buat cicit untuk oma?" tanya Melly.


Kedua mata Yeri melebar sempurna. Dia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Melihat wajah yang sangat berharap padanya.


"Tapi, oma."


"Tidak, ada tapi-tapian" kesal Melly.


"Gimana bisa aku punya anak? Aku tidak mungkin berhubungan dengannya." Yeri melirik ke arah Arga. Dia menggelengkan kepalanya. Mengerjapkan kedua matanya. 


"Nggak! Nggak! Aku tidak mau, ini di luar perjanjian." kata Yeri, bergumam dalam hatinya. 


"Apa yang kamu pikirkan?"  tanya Arga. Dia menautkan kedua alisnya. Melihat tatapan Arga. Wajah Yeri memerah malu seperti kepiting rebus. Dia memalingkan pandangan matanya. Dan, mulai melanjutkan makannya lagi. Tanpa memperhatikan Arga. Sesekali Yeri melirik ke arah Arga. Laki-laki itu masih saja menatap ke arahnya. 


"Kamu mau punya anak?" tanya Arga. 


"Uhuk ... uhuk ..  " Yeri tersentak makanan yang belum selesai dia kunyah. 


"Kamu gak papa?" Arga segera meraih satu gelas minuman. Memberikan pada Yeri. Membantunya untuk minum. 


Yeri segera meneguk minumannya sampai habis tak tersisa setetes air pun. Oma melihat kedekatan mereka sangat menggemaskan. Membuat dirinya merasa terhibur. 


"Anak muda memang menggemaskan saat-saat pacaran," ucap Oma. Menggelengkan kepala pelan. Menahan senyumannya. 


Yeri melebarkan matanya, menginjak kaki Arga. "Aw-" rintih Arga. 


"Apa yang kamu katakan?" Yeri menekankan suaranya pelan. 


"Kenapa?" tanya Arga. 


"Ini tidak ada di perjanjian," bisik Yeri. 


"Memangnya kenapa?" Arga menarik salah satu alisnya. Menatap Yeri dengan tatapan menantang. Yeri menghela napasnya, dia menarik narik ujung bibirnya masuk ke dalam. Sembari berdesis pelan. Kepalanya pusing harus berhadapan dengan laki-laki menyebalkan seperti Arga. 


"Aku tidak mau punya anak?" tajam Yeri, menekankan nada suaranya. 


Arga menahan tawanya.  "Yeri, Yeri, Kamu itu bodoh atau pura-pura bodoh?" tanya Arga. 


Yeri menelan ludahnya. Memutar matanya malas. 


"Tidak ada juga yang mau punya anak denganmu," bisik Arga tepat di telinga kiri Yeri. 

__ADS_1


"Jangan berbisik, sudah makan dulu. Nanti dilanjut. Kalian kalau mau bermesraan nanti saja, jangan di depan oma. Oma jadi iri pada kalian," ucap Oma mengangkat tangannya menunjuk Yeri dan Arga. 


"Baik, oma." Yeri memasang wajah seriusnya. 


Dia masih sempatnya melirik tajam ke arah Arga. 


"Soal anak, oma sudha menyiapkan bulan madu yang indah buat kalian. Kalian tinggal pilih mau pergi ke negara mana?" 


"Uhuk... Uhuk.. " kedua kalinya Yeri tersentak makanan. Dia begitu terkejut mendengar kata bulan madu dari Oma. 


Sepertinya oma belum tahu. Anaknya tidak mencintaiku. Bagaimana bisa aku bulan madu. Astaga, sampai kapan aku harus berpjra-pura seperti ini. Bisa gila aku disini. Aku masih muda, tidak mau punya anak. Gerutu Yeri dalam hatinya. 


"Yeri, kamu beneran gak papa? Kamu sudah dua kali tersendak? Kamu sakit?" tanya Oma khawatir. 


Yeri memasang senyum manisnya. "Tidak, oma! Aku hanya terkejut saja mendengar kata bulan madu," ucap Yeri tertunduk. 


"Memangnya kenapa? Kamu tidak mau bulan madu?" tanya Oma. 


Yeri terdiam seketika. Dia berdosis pelan. Mengerutkan wajahnya. Dia bingung harus berbicara apa lagi. Dia tidak tahu harus bilang apa lagi. Arga juga sepertinya tidak peduli Dia tidak mau membantuku menjawab pertanyaan oma-nya.  


Arga hanya diam, makan sambil menahan tawanya melihat tingkah Yeri. 


"Yeri, jika kamu kurang sehat. Lebih baik istirahat saja. Atau , jika kamu sudah kenyang. Sudah jangan di makam. Takutnya perut kamu tidak bisa kampung makanan terlalu banyak," kata Oma. Dia menepuk punggung tangan kanan Yeri yang berada di atas meja. 


"Shitt!" kesal Yeri. 


"Sakit, lo ya?" tanya Yeri. 


"Otakmu rada-rada tidak beres. Sepertinya perlu di servis. Apa perlu service otak. di jamin mantul," ucap Yeri, sembari tersenyum paksa. 


Arga meletakkan sendok dan garpu di atas piring. Dengan posisi tengkurap. Menunjukan jika di sudah selesai makan. Dan, tidak mau nambah lagi. "Kamu mau pijat kepalaku?" Arga meraih tangan Yeri. Meletakkan di atas kepalanya. 


Yeri bergidik geli. Dia menarik tangannya kembali. "Ih, apa, sih. Gak jelas! Siapa juga yang mau pijat kepalamu. Aku cuma mau menawarkan servis anti gagal. Pakai paku dan  palu," ucap Yeri. Sembari menahan tawanya. 


"Kamu pikir aku kuntilanak?" kesal Arga. 


"Kalau kuntilanak perempuan. Kalau laki-laki apa?" tanya Yeri. 


"Kentongan," jawab Arga polos. Oma tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari Arga. Begitu juga Yeri. Dia tertawa sangat keras. Hingga perutnya terasa sangat sakit. 


"Hahaha.. Kamu memang rada-rada, ya!" ucap Yeri. Tak bisa berhenti tertawa. Sampai kedua matanya tertutup terus mengeluarkan air. 


"Kepentingan bukanya yang bisa di pos ronda?" tanya Yeri. "Tapi, sejak kapan ada kunti laki-laki?" tanya Yeri. Dia mencoba menahan tawanya. Begitu juga oma. Dia berusaha meneguk minumannya.  

__ADS_1


"Yeri, kamu pikir aku bodoh. Udah, deh. Dasar gadis aneh!" 


Yeri menggerak kesal. "Kamu yang aneh!"


"Kamu juga aneh!" balas Arga. 


"Kamu!" 


"Kamu!" tegas Arga tak mau kalah. 


Yeri mengerutkan bibirnya. Dia bertingkah seperti anak kecil yang sedang meminta jajan.Yeri melipat kedua tangannya diatas dadanya. Memalingkan pandangan matanya acuh. 


"Sudah! sudah! Oma tidak bisa berhenti tertawa. Oma mau ke kamar dulu, kalian lanjutkan saja." Oma berusaha berdiri. Dia masih terus tertawa. Badannya yang sedikit encok membuat Oma tidak bisa berdiri tegak. Yeri yang melihat oma kesulitan. Dia bangkit dari duduknya. Menghampiri Oma, memegang lengan tangan Oma. Membantunya untuk berdiri. 


"Oma, aku bantu ke kamar, ya?" tanya Yeri. 


"Tidak usah, kalian lanjutkan saja candaannya," kata Oma. Tangan kiri oma memegang pinggangnya yang terasa sakit. Maklum di usia yang sudah tidak muda lagi. Oma sering sekali sakit punggung. 


"Tidak, oma! Aku bantu oma, dulu." Tangan kanan Yeri memegang lengan tangan kanan oma. Tangan kiri memeluk punggung Oma dari belakang. Menuntun Oma perlahan untuk berjalan menuju ke kamarnya. 


"Aduh, duh! Sakit!" rintih Oma. 


"Pelan-pelan, oma. Jangan buru-buru," ucap Yeri. 


Arga terus menatap Yeri. Dia tersenyum tipis melihat Yeri yang begitu perhatian dengan oma-nya. Baru kali ini ada wanita yang sangat dekat dengan Oma. Bahkan bisa membaut Oma tertawa lagi. 


"Oma jarang sekali tertawa. Tapi, kenapa bersama Yeri. Oma bisa tertawa lepas. Dia sepertinya sangat bahagia." Arga terus bergumam dalam hatinya. Kedua mata itu tidak berhenti terus menatap kemana Yeri melangkah membawa oma-nya. 


Arga tidak berhenti tersenyum. Dia kembali mengingat bagaimana Yeri bercanda dengannya. Dan, kali ini dia menemukan gadis gila yang bisa membuatnya tertawa. 


"Aku bisa menemukan gadis gila seperti dia. Lama-lama aku juga bisa jadi gila sama dengannya." kata Arga. 


Yeri mengantarkan Oma ke dalam kamarnya. Dia.membantu Oma untuk berbaring lagi di ranjangnya. Mengangkat perlahan kedua kaki Oma ke atas ranjang. Yeri membantu Oma mengambil obat dan air. 


"Oma, minum obat dulu." ucap Yeri. 


"Yeri, oma mau tanya," ucap Oma. 


"Tanya apa, oma?" Yeri duduk di samping ranjang Oma. 


"Kamu beneran pacaran dengan Arga?" tanya Oma. 


Yeri terdiam seketika. Dia menelan ludahnya kasar. Dia bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


__ADS_2