Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Jutek lagi


__ADS_3

"Enggak, oma. Mungkin dia hanya kecapekan saja. Jadi dia sedikit jutek." ucap Yeri beralasan. Meski dalam hati dia sebenarnya tahu, kenapa Arga seperti itu. Pasti karena wanita yang di ditemuinya tadi. Yaitu Felicia. Dia wanita cantik yang sekarang membuat hatinya bimbang.


"Arga kamu gak makan?" tanya Oma.


"Enggak!" teriak Arga dari dalam kamarnya.


"Ya, sudah. Lebih baik kamu istirahat saja." sambung Yeri sok perhatian padanya.


Merasa tak ada jawaban dari Arga. Yeri segera menyiapkan makanan yang di bawa oleh oma tadi. Dengan segera mereka makan bersama. "Yeri… Aku harap kamu bertahan dengannya. Bagaimanapun sikapnya nanti. Jangan pernah pergi ninggalin dia." ucap Oma.


"Tapi.. aku."


Oma menepuk bahu Yeri.


"Sudahlah, jangan pake tapi-tapian. Tetap saja, kamu harus tetap bersama dengannya. Dan memberikan oma sebuah cucu yang sangat tampan atau sangat cantik. Mau gak mau sampai kalian terpisah nantinya."


"Tapi oma, kalau aku dan Arga belum siap gimana?" tanya Yeri. Sembari mulai memakan makannya yang sudah di siapkan di atas meja.


"Gak masalah! Lagian juga oma maunya kalian punya cucu tidak bulan ini. Tapi bulan berikutnya dan berikutnya lagi." ucap Oma, yang sebenarnya dia sudah tidak sabar. tetapi dirinya yakin jika oma juga akan selalu mendukungnya. Sedangkan Arga kini hanya bisa diam di sana. Tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya.


Apa yang harus aku lakukan. Gimana jika suatu saat, Arga meninggalkan aku. Lalu pergi dengan wanita itu? Apa oma juga akan setuju. Dan mereka akan menikah. Terus sekarang aku gimana? Apa hubungan aku akan berakhir begitu saja. Dan ayahku? Dia juga belum sadar.


Yeri sebenarnya sangat ingin sekali cerita pada Arga. Tetapi gimana bisa dia cerita. Rasanya ingin sekali aku meluapkan wajah jelek Arga dari pikiranku. Tetapi orang tuanya juga lebih memilih untuk diam.


Selesai makan oma segera beranjak pergi, dan mulai berpamitan pada Yeri. Yeri mengantar oma keluar dari apartemennya. Merasa sudah tidak ada di dalam kamarnya. Yeri menatap jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam.


Yeri menghela napasnya. "Kenapa jarum jam begitu cepatnya. Dia sekarang sudah malam. Aku juga belum mandi."


"Dan sekarang ternyata sudah terlalu malam." gumam Yeri. Yang mulai melepaskan sepatunya. Yang ternyata ia lupa masih terpakai di telapak kakinya.


Apa Arga sudah tidur? Kenapa dia hanya diam tanpa suara. Atau dia mana, dia sekarang? gumam Yeri. Ia menarik napasnya sejenak, lalu mengeluarkan secara perlahan. Dengan langkah ringan Yeri berjalan masuk ke dalam kamarnya. Ke dua matanya melebar saat tak mendapati Arga disana.


"Arga.." panggil Yeri, namun tak ada jawaban darinya.


Yeri terdiam seketika. Pemandangan di sekitarnya hanya ranjang kosong. Dan Arga tak ada di sana. Entah di mana, tuh, orang pergi. Atau mungkin masih di kamar mandi.


"Yeri… apa kamu di kamar?" teriak Arga.


"Kenapa?" jawab cepat Yeri.


"Ambilkan aku handuk." pinta Arga mengeraskan suaranya dari kamar mandi.

__ADS_1


Yeri tersenyum, memegang dadanya mengusapnya berkali kali.. Ah.. mendengar suaranya membuat dia bernapas lega.


"Ternyata dia ada di kamar mandi." gumam


Yeri yang masih mengusap dadanya. Semula dia sangat khawatir laki-laki itu pergi kemana. Sekarang sudah mendengar suaranya Saja sudah merasa sangat lega.


"Yeri… cepetan!" pinta Arga. Sedikit mengeraskan suaranya.


"Iya… Iya.. bawel." Yeri segera mengambil handuk Arga. Dan berjalan. menuju ke arah kamar mandi.


Tok.. Tok…


"Bukalah pintunya." ucap Yeri.


Arga mengambil handuknya saja dari tangan Yeri lalu menutup pintunya kembali. Merasa penasaran dengan apa yang dikatakan Arga di dalam kamar mandi. Yeri mencoba mendengar apa pembicaraan dirinya. Suara pintu terbuka seketika mena Yeri terkejut, ia mencoba untuk berlari, bukannya berlari ia menabrak kursi panjang tanpa pegangan dan sandaran itu. Dia tergelincir dan terjatuh berguling ke lantai.


"Aww---" rintih Yeri memegang pinggangnya.


Dan Arga menajam kan ke dua matanya. Berjalan mendekat ke arah Yeri. Tubuh bugarnya terlihat jelas. Arga hanya mengenakan handuk kecil yang menutupi pinggang sampai lututnya. "Apa yang kamu lakukan tadi?" tanya Arga.


"Emm… Aku… Aku…" Bibir Yeri gemetar seketika. Ia mencoba untuk berdiri tegak di lemari di belakangnya. Arga semakin berjalan mendekatinya. Dan Yeri yang semakin gugup, dia berjalan ke belakang hingga tubuhnya tepat duduk di lemari dengan model modern. Ia mencoba untuk pergi. Dan Arga mengunci langkahnya dengan ke dua tangan menompang tubuhnya di samping badannya, dengan kedua tangan memegang lemarinya. menatap ke arah Yeri yang terlihat gemetar ketakutan.


Yeri meringis menunjukan gigi putihnya. "Hehe.." kekeh Yeri.


"Emm… aku.. Emm… Sepertinya… Gak ada apa-apa." gumam Yeri gugup. Dia mengernyitkan wajahnya mencoba untuk keluar, dengan cepat Arga menarik tangannya lagi. Membuat dia tetap diam berada di depannya.


"Emmm… Kau harus.. pergi.." ucap Yeri terpatah-patah. Tersenyum tipis, lalu ia menarik tubuhnya ke bawah. Mencoba merangkak melewatinya. Bukanya bisa pergi. Arga menurunkan tubuhnya juga menatap ke arahnya.


Sialan laki-laki ini kenapa membuat aku gugup. Apa dia gak mau melepaskanku. Padahal aku tadi gak ngintip. Tapi cuma sedikit… Ah.. entahlah.. Aku juga gak tahu.. kenapa dia agresif begini.


Arga menarik dagu Yeri. "Apa yang kamu lakukan di bawah. Apa sekarang kamu mulai suka mengintipku?" tanya Arga.


"Ngintip? Ih.. Siapa juga yang mengintipmu."


"Terus kenapa kamu duduk di bawah. Apa sengaja kamu mengintip handukku kak?" gumam Arga, menarik ke dua alisnya ke atas.


"Eh… Aku gak suka mengintip. Dasar nyebelin." gumam Yeri, beranjak berdiri lagi.


Arga beranjak berdiri lagi. Mengikuti setiap gerakan Yeri. "Kamu mau kemana?" Arga mendekatkan tubuhnya, membuat Yeri menarik tubuhnya sedikit ke belakang.


"Jangan dekat-dekat!" ucap Yeri memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Arga menarik dagu Yeri menatap ke arahnya.


"Apa yang kamu lakukan tadi, Yeri." ucap Arga lirih. "Apa kamu sekarang sudah mulai berani menggodaku. Atau kamu.." Arga mendekatkan wajahnya. Yeri mengedip, ngedipkan matanya saat melihat ke dua kata Yeri tepat berada di depannya.


"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Yeri.


"Aku mau ambil ini." Arga mengambil tumpukan kemeja tepat di belakang Yeri.


"Oo… Iya…"


Kenapa aku pikir jika Arga akan menciumku. Apa tadi aku sudah gila. Ah.. pikiran kotor ini selalu membayangiku. Gumam Yeri.


"Ya sudah aku aku pergi." ucap Yeri.


"Kemana?" Arga meraih pergelangan tangan Yeri tanpa menoleh ke arahnya.


Yeri yang terkejut, spontan dia tergelincir terjatuh menarik tangan Arga. Membuat ke duanya terjatuh bersamaan. Dengan posisi Arga di atas tubuh Yeri. Bibirnya mendarat sempurna di bibir Yeri.


Ke dua mata mereka saling tertuju. Membuat Yeri hanya terdiam menatap ke arahnya.


Apa apaan ini? Kenapa dia menciumku? Astaga? Kenapa aku jadi gugup seperti ini. aku gak bisa berbuat apa apa lagi. Aku takut.


"Eh… Apa yang kamu lakukan?" tanya Yeri mendorong tubuh Arga menjauh darinya.


Arga beranjak berdiri. Tanpa di sadari handuk yang dikenakan melorot sontak membuat Yeri yang tak sengaja melihatnya berteriak sangat kencang.


"Aaaaaaaa…." teriak Yeri menutup ke dua matanya dengan telapak tangannya. Dan salah satu tangannya menunjuk ke arah Arga.


Arga menatap ke bawah, ia segera menarik kembali handuknya menutupi pinggang sampai lututnya.


"Udah cepat pergi sana." pekik Arga.


"Kamu yang pergi. Lagian aku mau mandi." gumam Yeri tanpa berani menatap ke arah Arga.


"Ya, udah mandi sana. Pantas saja dari tadi bau banget." ejek Arga mengerutkan keningnya.


"Iya… aku mandi sekarang." gumam Yeri, menarik ke dua alisnya ke atas. "Apa.kamu mau mencium bau badanku." gumam Yeri, mencoba mendekatkan tubuhnya. Arga mengerutkan hidungnya. Ia mendorong tubuh Yeri menjauh.


"Udah pergi sana, mandi!" gumam Arga. Mendorong tubuh Yeri masuk ke dalam kamar mandi.


"Sebentar saja, kamu temani aku sini."

__ADS_1


"Yeri…" geram Arga.


Yeri tersenyum tipis. Melihatkan gigi putihnya.


__ADS_2