Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Rayuan Pelakor 2


__ADS_3

Cia menarik napasnya dan bertekat untuk lebih berani dengannya.


“Iya.. Maaf!” ucap Cia menundukkan kepalanya. “Tetapi jika kamu mau pergi silahkan. Biarkan aku di sini sendiri sekarang.” Gumam Cia, melepaskan sabuk pengaman yang menyilang di dadanya. Dan segera membuka pintu mobilnya. Belum sempat melangkahkan kakinya keluar. Arga memegang pergelangan tangan Cia.


“Jangan pergi sendiri.” Ucap Arga.


“Apa kamu mau menemani aku.” tanya Cia, menoleh ke arah Arga. Ke dua matanya terlihat berkaca-kaca, dia memasang wajah memelasnya agar Arga mau pergi dengannya. Setidaknya mengenang masa lalu bersama.


Arga tertunduk, ia bingung mau bilang iya. Tapi oma dia pasti menunggunya nanti dengan Yeri. Dan oma pasti akan marah padaku. Kalau dia marah, sudah seperti gunung yang mau meletus. Tetapi di sisi lain, dia juga tak bisa tinggalkan Cia sendiri di tempat sepi seperti ini. Dia juga tidak mau kejadian yang sama akan terulang kembali waktu SMA.


“Aku gak bisa biarkan kamu pergi sendiri.”


“Kenapa?” tanya Cia mencoba untuk tersenyum tipis.


“Apa kamu ingat dulu. Bagaimana kamu selalu di goda oleh laki-laki setiap kamu melangkah. Dan aku tidak mau itu terjadi lagi.”


Cia mengerutkan ujung matanya. Ingin rasanya dia berteriak kegirangan. “Tapi bukannya kamu masih marah padaku?” tanya Cia.


“Iya... memang aku masih marah. Tapi aku juga masih peduli dengan kamu.” Tegas Arga. Membuat Cia terdiam seketika. Dia tidak menyangka jika Arga masih perduli dengannya. Meskipun dia terlihat sangat dingin. Tapi setidaknya hatinya tetap sama dan tak pernah berubah.


“Apa kamu masih suka denganku?” tanya Cia.


“Aku sudah gak punya banyak waktu lagi. Istriku pasti sekarang sedang menungguku. Dan tolong segera turunlah. Setelah itu aku akan antar kamu pulang nantinya.” Ucap Arga mengalihkan topik pembicaraan. Dia bergegas turun dan di susul Cia yang langsung turun. Dia tak mau melihat Arga marah lagi nantinya.


Arga berjalan lebih dulu, menuju ke tepi danau. Melihat pemandangan sekitar yang begitu indah. Danau itu masih sama. Di saat mereka pertama kali berada di sana.


“Arga.. Apa kamu masih ingat tentang kita dulu?” tanya Cia, berjalan mendekati Arga. Dan melangkahkan kakinya tepat di samping Arga.


“Itu sudah tidak perlu di ingat lagi. Kita sudah punya masa depan masing masing.” Ucap Arga jutek. Tanpa menatap ke arah Cia.


Mendengar ucapan Arga, Cia tertegun seketika. Ia menarik bibirnya masuk ke dalam. Mencoba untuk menahan air mata yang sudah terbendung di kantung matanya.


“Apa yang kamu katakan? Itu tidak akan membuat aku merasakan kembali lagi dalam masa lalu.” Lanjut Arga. Ucapanya semakin menusuk hati Cia.Ia memalingkan wajahnya, tak kuasa lagi menahan air matanya. Perlahan air mata itu mulai menetes begitu derasnya. Saat Arga sudah tak mau lagi mengingat lagi tentang masa lalunya. Bagaimana dengannya, setiap waktu selalu teringat tentang dirinya. Meskipun pekerjaannya sekarang jadi artis dan model . Dia bahkan masih terus memikirkan cintanya.


“Cia... lebih baik, kita hidup dengan cerita baru kita masing masing. Mungkin memang kita tidak di takdirkan bersama. Dan kamu juga harus tahu, kalau aku sudah punya istri.”


“Apa kamu suka dengan istri kamu?” tanya Cia, dengan segera dia mengusap air mata yang menetes di pipinya dengan punggung tangannya. “kalian menikah bukan karena paksaan, oma, Kan? Bukan karena oma ingin kamu segera menikah. Dan kamu terpaksa menikahi dia. Hanya untuk menuruti apa kata oma?”


Arga menatap tajam ke arah Cia. “Memangnya kenapa? Meski aku tidak suka dengannya, setidaknya dia bisa menghargai aku dari pada kamu. Aku bisa perlahan suka dengan nya. Jika kita terus bersama. Dan dia memang bukan wanita cantik seperti kamu. Tapi dia masih punya attitude yang baik.” Jelas Arga menggebu. Sedikit meninggikan suaranya.


“Apa kamu tahu, jika aku tidak benar-benar cinta sama dia. Tapi aku juga perduli dengannya.” Tegas Arga lagi. Setiap ucapanya selalu menusuk di hatinya. Hatinya terasa terluka tanpa darah.


“Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Tapi kamu harus tahu satu hal. Di mana kita dulu pernah berjanji di sini. Di tempat itu. Kamu dan aku melakukan permainan pernikahan, dan saat itu kamu janji akan menikahi aku.”


“Itu hanya permainan. Tidak harus di bawa ke dalam kenyataan.”


“Makasih atas jawabannya.Sekarang aku bisa pergi.” Ucap Cia, berjalan menuju ke jembatan yang hanya setengah menuju ke danau. Arga yang berpikiran negatif, dia segera berjalan mengikuti Cia pergi. Langkahnya terhenti saat Cia hanya duduk diam menggantungkan ke dua kakinya, membiarkan ujung kakinya menyentuh air danau.


“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Arga.

__ADS_1


“Aku hanya ingin berenang.”


“Apa kamu gila Jangan akhiri hidup kamu karena cinta.”


Cia mengerutkan keningnya. Ia mengangkat kepalanya menatap ke arah Arga. “Apa kamu lupa jika aku jago berenang. Dan aku gak mungkin pura-pura tenggelam. Dan tak mungkin juga aku bunuh diri.” Gumam Arga.


“Cepat pulang, aku akan antar kamu sekarang.” Arga menarik tangan Cia. Dan wanita itu bersikukuh tetap diam di tempat.


“Cia.. Ayo pulang.” Arga berjalan semakin mendekati Cia. Wajah Arga yang terlihat sangat serius dia hanya diam. Tersenyum menatap ke arah Arga, membuat laki-laki itu bingung. Dan memutuskan untuk menarik tangan Arga, hingga terjatuh tepat ke danau. Dan Cia menceburkan dirinya setelah Arga terjatuh.


“Kamu ingatkan gak, kita pernah seperti ini sebelumnya?” tanya Cia. Meraih kedua tangan Arga, memegangnya sangat erat.


“Iya, aku tahu.” Jawab Arga. Mencoba untuk segera kembali ke jembatan kayu itu. Cia memeluk tubuhnya. “Jangan pergi.” Ucap Cia, semakin mempererat pelukannya.


“Lepaskan, Cia.”


“Enggak.. Aku ingin di sini bersama dengan kamu. Kamu ingat saat pertama kali kamu mengambil first kiss, milikku.”


Arga terdiam, ia mulai mengingat kembali kenangan bahagia berdua dengan Cia saat remaja. Dan waktu itu mereka terlihat sangat bahagia. Kemanapun selalu bersama.


Arga melepaskan pelukan Cia, ia memegang ke dua pipi Cia. Mengusap air mata yang menetes di pipinya.


“Aku bilang jangan menangis lagi.” tegas Arga. Ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir Cia. Cia hanya diam mengedipkan matanya tak percaya. Cia membalas kecupan Arga, memeluk tubuhnya sangat erat. Membuat kecupan itu berubah menjadi kecupan panas. Arga menyentuh ke dua milik Cia, membuat gaun yang di kenakan Cia itu terbuka di dalam air.


“Arga...” gumam Cia. Arga hanya diam, ia mengecup leher Cia, perlahan kecupan itu turun sampai ke dadanya. Membuat suara ******* keluar dari bibir Cia.


“Apa ini yang kamu inginkan?” tanya Arga. Menghentikan aksinya. Dia segera membantu Cia memakai bajunya. Wanita itu menolak, dan memeluk semakin erat tubuh Arga.


“Tidak, aku sudah ada janji dengan oma. Dan istriku pasti akan menungguku. Sekarang lebih baik kita pergi. Aku juga gak mau, jika kamu sakit. Hanya karena berendam di sini.


Arga melepaskan pelukannya. Dia segera beranjak dari danau itu. Dan Cia hanya diam menatap Arga.


“Nanti datanglah ke pesta ku. Aku gak mau jika kamu gak datang nantinya.”


“Jika istriku meminta aku datang, maka aku akan datang dengannya.”


“Apa kamu harus bersama dengan istri kamu.” Cia memegang ke dua kaki Arga yang duduk di atas jembatan kayu. Arga mengangkat tubuh Cia dan duduk di sampingnya.


“Diamlah di sini. Jangan berendam lagi.” Tegas Arga. Cia duduk mengigil kedinginan di sampingnya. Ia menyandarkan kepalanya di atas pundak Arga. Merasa tak tega, ia mendekap tubuh Cia dari samping, ia menyentuh dagunya. Melihat bibirnya gemetar, sembari tersenyum tipis mengarah padanya.


“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Arga.


“Aku ingin kamu menciumku lagi?” ucap Cia, mendekatkan wajahnya.


“Meski untuk yang sat kalinya tak masalah.”


Arga hanya diam, ia menyentuh dagu Cia, menariknya sedikit ke atas. Dengan penuh rasa ragu. Arga mengecup bibir mungil Cia. Cia tak mau kehilangan kesempatan lagi. Dia membalas kecupan itu semakin panas.


“Maaf, sepertinya kita harus pergi.” Lagi-lagi Arga mengakhiri semuanya.

__ADS_1


Arga beranjak berdiri, ia mengangkat tubuh Cia, berjalan ala bridal style menuju ke mobilnya.


“Bukannya aku menolaknya. Tapi banyak wartawan yang mungkin akan mengincar kamu.”


Cia tersenyum. Kali ini perlahan dia mulai bisa mengingatkan lagi hati Arga. Hati yang dulu jadi miliknya. Dan sampai sekarang akan tetap jadi miliknya. Cia mengalungkan tangannya di leher Arga. Ke dua matanya tak lepas menatap wajah tampan Arga.


“Makasih, sayang.” Ucap Cia, menyandarkan kepala di atas dada Arga.


“Jangan berterima kasih. Ini memang tanggung jawabku sebagai laki-laki pada seorang temannya. Tapi bukan sebagai kekasih lagi.


Arga meletakan tubuh Cia di kursi depan mobilnya. Dengan segera dia masuk ke dalam mobilnya. Dan mulai menyalakan mesin mobil.


“Arga...” panggil manja Cia.


“Ada apa lagi?” tanya Arga tanpa melirik sama sekali ke arah Cia. Tubuh seksi wanita itu terekspos bebas di sampingnya. Cia memang sengaja melihatkan tubuhnya. Untuk menggoda Arga. Dia tau Arga tidak pernah sama sekali tidur dengan wanita. Dia hanya bercinta. Tetapi tak pernah melakukannya.


“Jangan bodoh.” Ucap Arga.


Cia meraih tangan Arga, memeluknya sangat erat. “Cia lepaskan.”


“Tidak akan,” Cia memegang pipi Arga, menariknya agar menatap ke arahnya. Cia mengecup bibir Arga lagi. Mengulum bibirnya. Arga hanya diam, ia tak bisa menolaknya. Hati kecilnya merasa sangat senang dengan apa yang di lakukan mantan pacarnya itu. Sebuah kecupan pengobat rindu yang sudah sangat lama. Kali ini dia ingin terus seperti ini. Tak mau lagi banyak masalah. Ataupun banyak rintangan cinta untuknya. Tetapi semua takkan mungkin terjadi. Karena itu hanyalah sebuah khayalan bagi Arga. Sekarang Arga sudah punya kehidupan baru.


Cia melepaskan kecupannya, ia memegang ke dua pipi Arga. Kali ini saja. Aku ingin merasakan making out lagi bersama kamu.” Cia meraih tangan Arga untuk memegang pinggangnya.


“Apa yang kamu katakan?” tanya Arga.


“Aku tahu kamu tak mungkin tidak tergoda olehku.” Cia melanjutkan kecupannya. Arga yang semula terdiam dia mulai membalasnya. Sebuah kecupan lembut begitu ganasnya. Ke dua tangan Arga mulai menjamah semua tubuh Cia. Membuat wanita itu mendesah pelan. Meski hanya making out. Sama seperti yang dia lakukan dulu. Seakan sudah menjadi kebiasaan Arga padanya. Dia tak mau melakukan dengan Cia jika tidak menikah dengannya.


Helaian kain itu mulai terlepas. Cia memeluk erat tubuh Arga. “ Kamu sekarang masih percaya dengannku. Aku tidak pernah melakukannya dengan laki-laki lain. Jika seperti ini kamu percaya jika aku masih menjaga kesucianku untuk kamu.” Bisik Cia, mengecup leher Arga.


“Aku hanya ingin menikah dengan kamu. Dan semoga kamu bisa menerimanya nanti.” Gumam Cia. Arga hanya diam. Tiba-tiba dia teringat tentang Yeri. Dengan segera ia melepaskan tangannya dari tubuh Cia. Dan mulai duduk sempurna menatap ke depan. Tanpa menatap lagi ke arah Cia.


“Sekarang pakailah jaket mu. Bajumu basah, dari pada kamu kedinginan.” Ucap Arga, yang mulai menjalankan mobilnya.


Cia hanya bisa diam. Ia mentap aneh pada Arga, lalu tersenyum tipis. “Setidaknya kamu masih bisa seperti dulu lagi bersamaku, sayang.” Gumam Cia dalam hatinya. Ia tersenyum tipis, tak hentinya terus menatap ke arah Arga. Dengan tangan segera meraih jaketnya tebal dan menutupi tubuhnya.


“Sekarang beri tahu rumah kamu di mana?” tanya Arga mulai sedikit jutek lagi.


“Iya..” Cia yang terlihat sudah bahagia lagi. Ia memegang erat jaketnya. Dan mulai menunjukkan arah di mana dia tinggal. Di sebuah rumah mewah yang tak jauh dari sana. Ya, Cia memang ingin bisa melihat danau itu setiap saat. Dia memutuskan untuk membeli rumah mewah tak jauh dari danau.


Sampai di rumahnya banyak wartawan yang berdiri di depan rumahnya. Cia menatap takut saat ingin turun dari mobil.


“Cepat turunlah. Aku gak punya banyak waktu lagi. Istriku sudah menungguku.”


“tapi...” Cia menatap ke arah para wartawan.


“Kamu bisa lari dan langsung masuk ke dalam rumah.” Arga membawa mobilnya masuk ke dalam garasi mobil Cia. Dan segera membuka pintu mobilnya.


“Sudah cepatlah berlari. Bukannya di samping itu ada pintu masuk.” Cia tersenyum ke arah Arga.

__ADS_1


“Makasih.” Ucapnya dan langsung turun, berlari masuk rumahnya dari pintu garasi. Para wartawan yang berdiri di depan rumahnya melihat itu segera berlari mencari berita. Namun mereka gagal dan hanya mendapati mobil hitam Arga yang kini mulai melaju dengan kecepatan tinggi keluar dari halaman rumahnya.


“Semoga saja mereka tidak menyebarkan gosip nantinya.” Pekik Arga dalam mobilnya. Dia menguntupkan bibirnya kesal. Dengan segera Ia meraih ponselnya di atas dashboard mobilnya. Untuk menghubungi Jun asistennya.


__ADS_2