Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Jatuh cinta


__ADS_3

Ckleekk….


Suara pintu terbuka membuat Arga seketika menghentikan pekerjaannya. Suara langkah kaki terlihat berbeda. Dia tahu itu bukan Jun maupun Yeri. Merasa dirinya sangat yakin jika itu adalah Felicia. Arga tak mau menatap ke arahnya sma sekali. Dan melanjutkan pekerjaannya.


"Hai… Arga.. Apa kabar?" suara tak asing di telinga Arga. Membuat laki-laki itu mengangkat kepalanya sekilas. Suara Felicia sangat berbeda dari yang biasanya. suaranya lebih lembut, membuat Arga tertarik untuk meliriknya sekilas. Ia memalingkan wajahnya saat tahu siapa wanita di depannya.


Wanita cantik dengan rambut bergelombang panjang sepunggung, berjalan masuk ke dalam ruangannya. Dia berjalan melenggak lenggok seperti seorang model internasional. Dengan tas di lengannya, dan gaun merah yang sangat elegan, pas di tubuhnya. Wajah cantik itu begitu sempurna, Felicia yang dia ketahui dulu sekarang berubah 90 derajat jauh lebih cantik dan fashionable. Meski berpakaian gaun itu tak sopan di kantor. Tapi dia hanya ingin melihat Arga dan membawanya jalan-jalan.


Aura kecantikan wajahnya lebih terpancar, kulit bersih sekujur tubuhnya membuat para laki-laki menatapnya pasti akan tergiur tak hentinya mengeluarkan air liurnya. Namun berbeda dengan Arga. Dia sudah terlanjur kecewa dengannya. Dia yang semula tergila-gila dengan Felicia, sama seperti laki-laki pada umumnya. Dan dari persaingan yang sangat ketat, hanya dia yang bisa memenangkan hati Felicia waktu mereka masih SMA. Perlahan perasaan itu berubah menjadi sebuah kebencian yang sudah tertanam sangat dalam bertahun tahun dalam hatinya.


Hanya Arga kini yang mau mengacuhkan wanita cantik di depannya. Bahkan dia tak mau meliriknya sama sekali.


"Ada apa?" tanya jutek Arga.


"Aku kangen, padamu. Bukanya kita sudah lama tidak bertemu." Wanita itu berjalan mendekatinya. Dan duduk di ujung meja tepat menatap ke arah Arga. Dengan tangan memegang bahunya, dan dia mulai menggodanya merapikan kerah kemejanya. menarik dasinya sedikit ke atas.


"Kamu tahu gak, kalau selama ini aku selalu memikirkanmu. Tapi aku gak perduli apapun yang tarjadi. Dan sekarang aku sudah jadi artis dan model internasional. Aku kembali lagi padamu."


Arga menarik sudut bibirnya. "Jadi kamu ninggalin aku hanya karena karir kamu?" Arga memalingkan wajahnya jijik.


Felicia menyentuh dada Arga. "Jangan sentuh aku!" Arga menarik tangan Felicia melemparnya ke sembarang arah dengan sangat kasar. Wanita itu tidak marah, dia hanya menatap ke arah Arga. Ia tahu semua salahnya. Tetapi dia juga punya alasan tersendiri.


"Aku tidak akan menyentuhmu. Jika nanti siang kita makan berdua." ucap Felicia. Dengan tatapan mata menggodanya.


"Makan saja sendiri." Arga masih tetap saja jutek. Dia lebih fokus dengan kerjaannya dari pada wanita di sampingnya yang terus mencoba menggodanya dengan berbagai cara. Dan dia tetap saja mengacuhkannya.


"Arga… Kamu masih marah?" tanya Felicia basa basi.

__ADS_1


"Soal apa?" tanya Arga. "Dan kenapa juga aku harus marah? Aku gak berhak marah. Lagian kamu dan aku sudah gak ada hubungan lagi. Dan masa lalu biarkan itu berlalu. Sekarang aku punya masa depan sendiri.


Felicia menundukkan kepalanya. Ia mencoba mengatur napasnya dalam-dalam. Menerima hatinya yang terluka dengan sambutan dari Arga saat pertama bertemu.


"Kalau gak ada yang di bicarakan lagi, aku pergi!" ucap Arga bangkit dari duduknya.


Felicia beranjak berdiri tegap, memegang lengan Arga. "Jangan pergi!" ucap Felicia.


"Kenapa?" ke dua mata Arga masih enggak menatap ke arah Felicia.


Wanita itu memeluk erat lengan Arga. "Aku mau minta maaf," ucap lirih Felicia.


 


Yeri yang terburu-buru ingin segera memberikan sebuah dokumen pada Arga.


belum sempat menutup mulutnya. Yeri yang baru ingin masuk ke dalam ruangan Arga terkejut melihat tuanya sedang berduaan dengan wanita di dalam.


Napas Yeri seketika sesak, jantungnya tak bisa berdetak normal. Kenapa aku melihat mereka sedikit jeles. Seakan dibuat tali melilit hatiku.


Kenapa hatiku merasa sangat sakit? Apa aku ada kelainan hati? Tapi sepertinya keluargaku tidak ada penyakit kelainan hati. Tapi kenapa dengan hatiku saat ini. Ah.. entahlah.. aku juga bingung dengan hatiku sendiri.


Yeri menepuk nepuk dadanya berkali-kali. Ia mengangkat kepalanya, menahan air mata yang ingin menetes tanpa sebab.


Yeri mencoba untuk tersenyum. "Maaf, sepertinya aku mengganggu kalian."


Arga menatap ke arah Yeri. Wajahnya mengkerut melihat ekspresi wajah Yeri yang terlihat berbeda dari biasanya. Merasa penasaran dengan dirinya. Arga melepaskan tangan Felicia di lengannya. Mendorong tubuh dia menjauh darinya. dan segera berjalan dengan langkah ringan mendekati Yeri.

__ADS_1


"Maaf! Jangan marah padaku. aku tadi gak sengaja, soalnya mau menyerahkan berkas ini." ucap Yeri tertunduk, ia hanya mengangkat berkas itu mengulurkan pada Arga. Dengan badan menunduk 45 derajat.


Yeri membalikkan badannya perlahan, dia baru melangkah satu langkah ke depan. Tangan Arga meraih pergelangan tangannya. Mencegah dia keluar lagi dari ruangannya.


"Kamu gak boleh pergi!" ucap Arga.


"Tapi…."


Arga menutup bibir Yeri dengan telunjuk tangannya. "Sssttt… Jangan banyak bicara lagi. Ikuti apa kataku." bisik Arga.


"Kamu tetaplah di sini. Dan biarkan wanita di belakang itu pergi."


Felicia, menghela napasnya, ia menarik bawah bibirnya semakin masuk ke dalam sela-sela giginya. Mencoba menahan rasa tangis yang ingin sekali keluar membasahi pipinya. Dan rasa rindu yang berlebih di balas kontan dengannya sekarang. Meski dirinya sudah tahu. gak mungkin kalau balikkan dengan mantan. Hati Felicia merasa tersayat sayat, saat melihat Arga dekat dengan wanita yang baru di telinga tadi. Dan Felicia juga tak begitu kenal padanya.


"Biarkan dia pergi. Dan kamu tetap di sini temani aku."


"Tapi aku…"


"Kamu jangan pernah bilang sesuatu lagi. Atau kamu ingin mengejarnya. Biarkan dia. Tapi jika kamu mau memberi tahu jika dia gimana nantinya."


"Tapi… "


Arga memegang pergelangan tangannya. Menarik tubuh Arga masuk ke dalam. Dan mengabaikan Felicia yang masih diam berdiri di sana. Ia hanya bisa menatap Arga yang sedikit acuh padanya.


Felicia hanya diam menatap tajam ke arah Yeri. "Arga… Gimana kalau nanti kita makan. Atau kali saja." rengek Felicia, berjalan menghampiri Arga lagi. Ia tahu kalau Arah mengacuhkannya, tapi Dia tetap saja ingin mendekatinya.


"Apa kamu gak tahu kalau aku sudah punya istri." jawab Arga, meraih bahu Yeri. Memeluknya dalam dekapannya. Seolah dia menunjukan jika Yeri adalah istrinya. Semua orang tahu, Yeri adalah istri Arga. Tapi, baru kali ini Yeri merasa bangga jika dia bisa mendapatkan pengakuan dari Arga.

__ADS_1


Bahkan sebelumnya belum pernah. Dia selalu acuh tak acuh padanya. Pernikahan kontrak rasa sepeti pernikahan nyata. Diam-diam saling memperhatikan dan cemburu. Yeri menghela napasnya. Dia tertunduk, menahan rasa bahagia dalam dirinya.


__ADS_2