
Arga dengan begitu panjangnya mengucapkan ijab kabul. Meski hanya beberapa keluarga yang datang. Dan, rekan kantornya. Dia tidak mengundang banyak orang. Dirinya sengaja agar tidak ada yang tahu lebih banyak tentang istrinya.
Suara tepuk tangan terdengar saat saksi bilang sah. Oma, tersenyum tipis. Dia menghela napasnya beberapa kali. Oma tersenyum bahagia. Akhirnya bisa melihat cucu kesayangannya itu menikah.
Setelah pernikahan selesai. Yeri mengecup punggung tangan Arga. Dan, Arga memberikan kecupan di kening Yeri begitu lembutnya. Seketika menghentikan detak jantung Yeri untuk sesaat. Arga berbisik pelan pada Yeri. "Ingat, lakukan sesuai dengan baik. Aku tahu, kamu pintar sekali berakting. Bahkan, kamu bisa menjadi kekasih bayaran dengan baik."
"Tenang saja, anggap saja ini pekerjaan yang penting untukku. Aku bisa dengan mudah melakukannya."
Arga tersenyum tipis. Kedua mata menatap para tamu yang datang. Arga bangkit dari duduknya. Berjalan menemui para tamu dari pihak keluarga. Mereka saling berbincang satu sama lain. Arga sengaja membaurkan Yeri berdiri sendiri dengan wajah bingung. Sementara Oma juga masih berbincang dengan keluarga. Melihat Yeri tampak kebingungan Gio mendekatinya. Menepuk pundak Yeri.
"Kakak ipar!" panggil Gio.
Yeri menoleh seketika. "Gio, ada apa?" tanya Yeri.
"Kenapa kamu hanya diam? Kamu bisa gabung dengan kak Arga. Kamu juga harus kenal semua orang yang ada disini. Lagian semua yang ada disini itu keluarga!" kata Gio. Dia berdiri tepat di samping Yeri.
Yeri mencubit kesal pinggang Gio. "Maksud kamu apa? Kamu mau perlakukan aku di depan keluargamu? Kamu dan kakakmu sama saja," kesal Yeri.
Gio meringis menahan sakit. Dia mengerjapkan kedua matanya bingung. "Bentar, memangnya ada yang salah dengan apa yang aku katakan?" tanya Gio heran.
"Nggak, ada!"
"Lalu, kenapa kamu marah?" tanya Gio.
Yeri mengerutkan bibirnya. Dia menatap tajam ke arah Arga yang masih tidak pedulikanku. "Aku boleh pergi, gak?" tanya Yeri.
"Kemana?"
"Ke kamar sebentar, lagian acara sudah selesai. Aku ingin tidur!" kata Yeri.
"Tapi, bukanya masih ada tamu. Keluarga juga masih berkumpul, Yeri."
__ADS_1
Yeri hanya diam. Tanpa menjawab pertanyaan dari Gio. Yeri mengangkat menarik taunya ke atas. Dia berjalan menjauh dari para tamu.
"Yeri, kamu mau kemana?" tanya Gio. Dia berlari mengejar Yeri.
"Memangnya, kamu mau kemana?" tanya Gio.
"Sudah, aku bilang aku tidur. Kamu bilang sama mereka. Aku capek, aku mau istirahat. Biarkan saja mereka terus berbincang dengan keluarga kalian. Aku juga mau melanjutkan tidurku lagi." gerutu Yeri. Tanpa menghentikan langkahnya.
"Yeri, tapi bagaimana jika kaka Arga tahu. Terus dia marah padamu."
"Aku tidak peduli lagi." kesal Yeri.
"Baiklah!" Gio menghentikan langkahnya. Dia mengangkat tangan kanannya. Melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam menunjukan pukul 11 malam.
"Mungkin memang sudah saatnya tidur!" kata Gio.
Gio berdesis pelan. Dia membalikkan badannya kembali bergabung dengan yang lainya. Membiarkan Yeri masuk ke dalam kamar.
**
Arga tidak tidur di kamarnya. Dia memilih tidur di kamar Gio. Meskipun harus tengah malam menyelinap di kamar Gio saat oma sudah tertidur. Dia tidak mau tidur bersama Yeri, dia takut jika khilaf nantinya tidur berdua dengan Yeri.
Saat semuanya sedang sarapan pagi di ruang makan. Orang tuanya juga baru saja sampai tadi pagi. Mereka balik bekerja lagi. Setelah sarapan. Bukannya bahagia, Arga bahkan hanya diam saja. Dia makan sembari menahan kekesalannya.
“Dimana istrimu?” Tanya Sarah mama Arga. Memulai pembicaraan, memecahkan keheningan di antara mereka. Dia baru saja pulang dari luar negeri. Orang tua Arga penasaran bagaimana istrinya. Secantik, sepintar apa nantinya. Atau, dia dari kalangan atas mana. Keluarga Arga dari dulu tidak pernah suka jika Arga salah pilih wanita. Beberapa kali Sarah menjodohkan Arga dengan wanita anak dari temannya. Seorang pengusaha muda yang cantik dan sukses dalam bisnis desain baju, bahkan dia punya perusahaan kontruksi sendiri.
Arga tahu sifat mamanya. Dia bersikap datar, dan melanjutkan makannya. “Mungkin dia masih di kamarnya,” ucap Arga. Tanpa menatap ke arah Sarah.
“Ini jam berapa? Seorang wanita angun kesiangan. Apa dia tidak tahu malu. Dia datang ke rumah ini bukan untuk tidur saja,” geram Sarah. Dia menghela napasnya kesal. Meraih satu gelas air, meneguknya perlahan. Perlahan meredakan kekesalan dalam dirinya.
“Memangnya kenapa? Mungkin memang dia capek, wajar saja dia masih tidur.” Saut Oma.
__ADS_1
Melly berdengus kesal. Melirik menatap ke arah Oma Melly. “Oma, sudah, deh, jangan membela menantu baru itu. Lagian dia hanya orang biasa,” Sarah memutar matanya malas mengatakan kenyataan itu.
“Dia bukan standar keluarga kita. Lagian asal-usulnya juga tidak jelas. Bagaimana jika dia anak penjahat? Kita juga tidak tahu, kan?”
Arga yang semula sedang menikmati makannya. Dia meletakan sendok dan garpunya di atas piring. Menghentikan makannya.
“J angan ikut campur terlalu jauh,” kata Arga. Dia bangkit dari duduknya. Menggerakkan kepalanya pelan menoleh ke arah Sarah.
“Aku tahu, jika kamu tidak pernah sama sekali peduli dengan duniamu. Tapi, apa kamu pernah memikirkan kebahagiaan anakmu. Sampai kapanpun mama tidak akan pernah setuju aku menikah dengan siapa saja.”
“Dan, ingat jangan bawa wanita itu masuk lagi ke rumah ini. Aku sudah punya istri. Kenapa tidak Gio yang mama jodohkan.”
“Eh.. Apa? Aku? Nggak, Nggak! Siapa juga yang mau di jodohkan. Aku juga tidak mau. Lebih baik aku tidak dijodohkan. Aku bisa cari sendiri.” Sarah menggeram kesal mendengar anaknya yang selalu menolak apa yang di perintahnya.
“Kalian berdua sama saja. Kalian tidak bisa di atur.”
“Semua tegantung, mama.” Arga mendorong kursinya ke belakang. Dia segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang makan itu.
Sarah melirik ke arah suaminya, yang sedari tadi dia hanya diam, tanpa pedulikan ucapan istrinya.
“Biarkan memilih pasangan mereka sendiri,” ucap Lukman.
Sarah mengerutkan keningnya. Amarahnya semakin memuncak. “Papa dukung mereka?” Tanya Sarah. “Ini kebiasaan anak selalu dimanja.” Geram Sarah. Dia mengatupkan bibirnya kesal. Oma Melly hanya diam, menggelengkan kepalanya. Melihat menantunya itu yang memang tidak pernah akur dengan anak-anaknya.
**
Arga berniat untuk bertemu Yeri. Dia membuka pintu kamarnya. Kedua mata itu tertuju pada seorang wanita yang masih berbaring di ranjangnya. Arga menghela nafasnya. Dia berusaha untuk tetap santai menghadapi Yeri. Arga melangkah dengan sangat hati-hati. Memalankan langkah kakinya. Agar tidak mengganggu Yeri yang masih tertidur pulas di ranjangnya.
"Hmm.. Huuaaamm." Yeri menguap sangat lebar. Dia menutup bibirnya dengan telapak tangan kanannya. Lalu, meriah guling di sampingnya. Memeluk sangat erat. Dan, kembali tertidur. Seakan kedua mata itu enggan sekali terbuka.
"Sialan, kenapa dia jadi seenaknya berada di rumah ini?"
__ADS_1