
Setelah bertemu oma Arga, Yeri hanya diam sembari duduk santai di sofa. Dia memikirkan gimana jadinya jika punya anak. Apalagi dia dan Arga belum menikah sungguhan. Jika dalam beberapa bulan nanti dia tidak menikah? Dan oma terus tanya anak padaku, aku harus jawab apa. Pikiran itu melayan-layang di otaknya.
Yeri menggerutu sendiri duduk di sofa kamarnya, dengan kepala menyandar di atas sofa, pandangan maganya tertuju pada atap langit kamarnya.
“Semua akan menjadi rumit, apa yang harus aku kulakukan?” lanjutnya, beranjak duduk tegap, sembari menghela napasnya kasar.
“Lagian di mana juga, tuh, laki-laki batu? Apa dia lupa? Apa yang dia katakan?” gumam Yeri lirih. Menghela napasnya, menatap sekelilingnya.
Yeri tertawa kecil, “Hidup serba mewah di sini, pasti akan membuat aku tambah bersemangat. Aku gak perlu lagi kerja. Dan tinggal minta uang dengannya. Untuk bayar kuliah, dan kebutuhan aku.”
Tap! Tap!
“Dasar wanita uang, di pikirannya hanya uang. Tapi aku gak akan tinggal diam, kamu meminta uang lebih padaku. Maka aku akan meminta lebih padamu” ucap Arga sembari senyum tipis penuh rencana.
Langkah kaki ringan itu terdengar berjalan mendekati Yeri menepuk pundaknya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Arga.
Kedatangannya membuat Yeri terkejut, sontak dia melompat dari duduknya sedikit menarik tubuhnya ke samping kari. Menatap was-was wajah Arga yang berdiri tepat di belakangnya.
“Apa kamu tidak bisa masuk ketuk pintu dulu” umpat kesal Yeri.
“Kenapa aku harus ketuk pintu?” Arga menautkan ke dua alisnya. “Lagian ini kamar aku, dan juga ingat kita tidur berdua. Agar oma aku percaya jika kamu adalah istri aku”
“Kenapa aku harus tidur dengan kamu,” Yeri beranjak berdiri, mengerutkan bibirnya sembari memutar matanya malas. Gadis itu menarik dasi yang menggantung di lehernya Arga.
“Ingat, Tuan Arga yang terhormat. Jangan coba-coba melecehkanku,” decak Yeri lirih. “Dan ingat batasan kita,” Yeri semakin mendekatkan wajahnya, dengan tangan menarik dasi Arga semakin ke depan. Ke dua mata mereka saling bertemu ke sekian detik.
“Apa kamu mencoba mendekatiku” Bisik Arga mendekatkan wajahnya, hembusan napas mereka saling beradu sesaat dan Yeri yang menyadari arga semakin menggodanya, dia mendorong tubuhnya ke belakang.
“Terserah apa katamu, aku mau mandi!!” Yeri mengibaskan tangannya ke depan. Mengabaikan senyum menggoda Arga.
“Silahkan mandi!!” pinta Arga, membalikkan badannya dan menjatuhkan tubuhnya di king size miliknya.
Yeri mengerutkan keningnya, menatap Arga yang berbaring terlentang. “Apa kamu sudah mengurus pengobatan ayah aku?” tanya Yeri.
Arga menarik tubuhnya untuk duduk tegap, “Tenang saja, aku sudah melunasi semua biaya rumah sakit. Dan besok kamu bisa bawa ayah kamu ke sini. Dan kamu bisa merawatnya sendiri. Dan sekaligus aku sudah menyewa suster dan dokter untuk merawatnya nanti,”
Maya Yeri berkaca-kaca, dia menggelengkan kepalanya tak percaya, berjalan pelan menuju ke king size milik Arga, dengan langkah terheran-heran. “Apa kamu yakin? Kamu tidak bohing, kan? Kamu serius? Dan kamu benar baya mengijinkan ayah aku tinggal di sini?” berbagai pertanyaan menghujani Arga.
__ADS_1
Arga hanya tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya. “Dan sekarang aku mau istrirahat, apa kamu mau menemaniku,” tanya Arga, membaringkan tubuhnya, menarik tangan Yeti yang tepat berdiri di sampingnya. Hingga jatuh tepat dalam dekapan hangat tubuhnya.
“Makasih!!” ucap Yeri, menatap dalam ke dua mata Arga, kemudian memeluk tubuhnya sangat erat tanpa sadar, rasa senang, sedih, dan tak menyangka jika Arga ternyata begitu baik padanya.
Arga mengusap lembut rambut Yeri, “Udah-udah sekarang kamu cepat mandi. Setelah itu temui oma,”
Yeri beranjak berdiri, “Oke!!” dirinya semakin bersemangat menjalani hari penuh pura-pura hanya demi kesembuhan ayahnya. Dia segera pergi ke kamar mandi, membasuh tubuhnya secepat kilat. Dan keluar hanya dengan menggunakan handuk yang menutup dada hingga pahanya.
“Kamu mau ganti baju di sini?” tanya Arga, menarik bibirnya saat melihat bodi seksi Yeri yang terpapang di depannya. Dia hanya bisa menelan ludahnya menahan keinginan hasratnya yang begitu menggoda.
Yeri berdengus kesal, dia mencoba tersenyum senyaman mungkin pada Arga yang masih berbaring di ranjangnya.
“Anda boleh keluar sekarang,” ucap Yeri.
“Kamu memerintahku untuk keluar?” Arga beranjak berdiri.
“Iya, apa kamu tidak mau keluar. Atau aku akan pergi dari sini,” Yeri mengambil baju di lemarinya, melangkahkan kakinya pergi. Dan Arga melompat dari ranjangnya. Berdiri tepat di depan Yeri mencegahnya pergi.
“Minggir,” Yeri mendorong tubuh Arga hingga terjatuh di sofa.
Yeri masuk ke dalam.kamar mandi, dengan segera dia memakai baju. Selesai memakai baju dia beranjak keluar menemui oma. Dengan langkah terburu-buru. Dia berlari menuju ke ruang tamu. Langkahnya terhenti saat melihat oma yang sekarang sedang duduk di sofa ruang keluarga sendiri sembari menyantap buah-buahan di atas meja.
“Oma!!” panggil Yeri.
"Kenapa kamu di sini, lebih baik kamu temui Arga sekarang dia menunggu di depan.
Yeri mengerutkan keningnya semakin dalam.
Tadi dia menyuruhku untuk datang menemui oma dan sekarang oma bilang aku di minta menemuinya. Gumamnya menggeram kesal.
“Sudah pergilah!!” pinta oma.
“Tapi oma…”
“Cepat, jangan biarkan suami kamu menunggu lama,”
“Baik, oma!” ucap Yeri menguntupkan bibirnya kesal, berjalan dengan langkah terburu-buru. Tak hentinya Yeri terus mengumpat kesal dalam hatinya.
__ADS_1
“Kenapa kamu lama sekali?”
“Kamu mau ajak aku kemana?” tanya Yeri kesal.
“Kita belanja baju? Aku gak mau istri aku pakai baju lusuh, dan ingat kamu istriku sekarang. Jadi kanu harus menuruti suami kamu,” Arga tersenyum membukakan pintu mobil, mempersilahkan Yeri untuk masuk ke dalam.
“Makasih!!” jawabnya dengan senyum terpaksa.
“Sama-sama, istriku!!” ucap Arga lembut. Membuat Yeri yang mendengarnya bergidik geli.
“Jangan bicara seperti itu, geli!!”
“Kamu gak suka?” tanya Arga yang masih berdiri tepat di depan pintu, dia mendekatkan wajahnya, menyentuh dagu Yeri.
“Istriku!!” ucapnya lirih, bibir tipis laki-laki itu menempel pada Yeri tanpa dia sadari, entah sejak kapan dia mengecupnya.
“Arga!!” bentak Yeri mendorong tubuh Arga menjauh darinya, dan. Dukkk…
Kepala Arga terbentur atas pintu mobilnya, “Sakit!!” decaknya menajamkan pandangan matanya.
“Maaf!!” gumam Yeri mengernyitkan wajahnya.
“Sudah cepat masuk!!” ucap Yeri tegas.
“Sebenarnya yang jadi suami siapa? Kenapa dia malah berani melawannya bahkan memerintahku.”
“Pakai sabuk pengaman kamu,” Arga beranjak mendekatkan tubuhnya memakaikan seat belt miliknya menempel di tubuh Yeri.
“Sudah!!” ucap Arga mengangkat kepalanya, ke dua mata mereka saling bertemu.
Deg!
Jantungnya seakan berhenti berdetak satu ketukan saat melihat wajah Arga terlalu dekat dengannya.
“Apa yang aku rasakan. Ini baru pertama kali dalam hidup aku bisa menatap dekat laki-laki,”
“Cantik!!” ucap Arga lirih, seketika Yeri yang mendengarnya mengerutkan keningnya semakin dalam. “Maksud kamu apa?” tanyanya.
__ADS_1
Arga menggelangkan kepalanya, “Lupakan!!” jawabnya datar.