Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Selalu menggodaku part 2


__ADS_3

Arga segera menyuapi lagi satu sendok demi sendok. ke dua mata Cia tak lepas dari wajah Arga. Dia tak mau kehilangan orang yang di sayang. Meski hubungannya terus di terpa badai yang amat kuat. Dia tak mau lagi mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu.


Setelah selesai makan dan minum susu. Cia Memegang tangan Arga. Seakan tak mau lepas dari Arga.


"Aku mau pergi. Ada urusan di kantor." ucap Arga beranjak berdiri. Ia memelankan suaranya.


"Aku ikut." ucap Cia.


Arga menghela napasnya. Mencoba untuk tetap sabar menghadapinya. Bukanya dia tak mau Cia ikut. Tapi jika oma tahu. Akan lebih berbahaya lagi dari skandal.


"Aku ke kantor bukan pergi jalan-jalan." ucap Arga.


"Aku bisa bantu kamu."


"Gak perlu. Aku bisa menanganinya sendiri." gumam Arga menarik tangannya dari cengkeraman Cia.


"Cia harusnya kamu sadar. kamu yang pergi dariku. Kamu juga yang membuat aku terpuruk. Sekarang kamu tiba-tiba datang tanpa alasan. Dan tak semudah itu keluargaku mau menerimanya. Karena semua sudah berlalu." jelas Arga.


"Dan satu lagi. Kalau aku sudah menikah. aku tidak akan pernah berhubungan dengan wanita lain lagi. Skandal itu jadi pelajaran atas kebodohanku yang tergoda olehmu." pekik Arga membuat Cia terdiam seketika. Ia menggerakkan rahangnya. Ke dua tangannya mengepal sangat erat. Seakan ingin sekali melayangkan sebuah pukulan pada dirinya sendiri.


"Apa yang kamu katakan? Aku gak mau kamu pergi. Aku gak mau!" teriak Cia.


Arga beranjak duduk kembali di ranjangnya. Memegang ke dua bahu Cia. "Sekarang kita punya kebahagian masing-masing.Dan aku punya kebahagian sendiri. Aku harap kamu tahu itu. Dan semoga saja kamu bisa menikah dengan orang yang tulus mencintai kamu nantinya. Dan berikan apa yang ingin kamu berikan itu pada suami kamu nanti. Karena dia yang berhak buka aku." ucap Arga. menarik tubuh Cia dalam dekapannya. Ia mengusap punggungnya.


"Hiksss… Hiks.. Aku gak bisa begitu mudah melupakanmu."


"Dulu kamu bisa begitu mudah melupakanku. Dan selama 4 tahun kamu pergi tanpa kabar. Dan saat aku ke sana ingin melihatmu. Kamu sudah bahagia dengan teman kamu. Tanpa memerlukan aku lagi. Yang hanyalah sandaran hati yang di inginkan saat di butuhkan." Arga melepaskan pelukannya. Mengusap rambut Cia.

__ADS_1


"Jangan sedih." ucap Arga. Jari tanganya mengusap air mata yang terus jatuh dari ke dua matanya.


"Sekarang kita punya kehidupan masing-masing."


"Maafkan aku." ucap Cia.


"Aku sudah melupakannya. Tetapi tetap saja. aku gak bisa kembali lagi denganmu." Harga beranjak pergi


"Kamu mau kemana?" tanya Cia. Memegang tangan Arga dengan ke dua tangannya.


"Aku akan pergi sebentar. Dan kali ini. Aku ingin bilang Pada semua media. Agar nama kamu bersih nanti." ucap Arga. Ia melepaskan tangan Cia.


"Sekaranglah, hiduplah lagi dengan normal. Jangan hanya karena masalah kecil membuat kamu merasa terpuruk." Arga mengusap ujung kepala Cia. Membuat wanita itu seketika tersipu malu. Wajahnya memerah. Seakan hatinya mulai tersentuh dengan setiap apa yang di katakan Arga.


"Tapi… Apakah kamu mau satu hal. Sebelum kamu pergi?" tanya Cia. Suara lembut itu membuat Arga menghentikan langkahnya. Cia beranjak berdiri. Dan berdiri tepat di depan Arga.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Arga menatap wajah Cia.


Cia hanya diam, ia melayangkan sebuah kecupan lembut di bibir Arga. Membuat ke dua mata Arga terbelalak terkejut. Dia hanya diam, tanpa membalas kecupan Cia. Cia mendorong tubuh Arga berjalan semakin ke belakang. Membuat Tubuh Arga terjatuh tepat di atas ranjang. Dan Cia tak melepaskan sama sekali kecupannya. Meski Arga tak memaksanya. dia begitu ganasnya mengecup Arga.


"Maaf!" Arga mendorong tubuh Cia, dan berbaring di sampingnya.


"Menjauhlah dariku" ucap Arga.Ia beranjak berdiri. Mengusap bibirnya bekas dari kecupan Cia.


"Sekarang kamu sudah puas. Dan lebih baik. Dan segeralah pakai baju. Dan setidaknya tubuh kamu tertutup. Aku tidak suka." ucap Arga. Sebelum ke dua kakinya melangkah pergi meninggalkan Cia yang masih berbaring di ruanganya. Wajahnya penuh kekesalan. Dan baru kali ini Arga menolak untuk bermesraan dengannya. Meskipun begitu Cia tetap saja. Tak terima. Dia ingin membalas semuanya. Tapi tidak secara terus terang. Dia bermain santai. Mengikuti arus.


Ckleekk….

__ADS_1


Suara pintu terbuka membuat Arga seketika menghentikan pekerjaannya. Suara langkah kaki terlihat berbeda. Dia tahu itu bukan Jun maupun Yeri. Merasa dirinya sangat yakin jika itu adalah Felicia. Arga tak mau menatap ke arahnya sma sekali. Dan melanjutkan pekerjaannya.


"Hai… Arga.. Apa kabar?" suara tak asing di telinga Arga. Membuat laki-laki itu mengangkat kepalanya sekilas. Suara Felicia sangat berbeda dari yang biasanya. suaranya lebih lembut, membuat Arga tertarik untuk meliriknya sekilas. Ia memalingkan wajahnya saat tahu siapa wanita di depannya.


Wanita cantik dengan rambut bergelombang panjang sepunggung, berjalan masuk ke dalam ruangannya. Dia berjalan melenggak lenggok seperti seorang model internasional. Dengan tas di lengannya, dan gaun merah yang sangat elegan, pas di tubuhnya. Wajah cantik itu begitu sempurna, Felicia yang dia ketahui dulu sekarang berubah 90 derajat jauh lebih cantik dan fashionable. Meski berpakaian gaun itu tak sopan di kantor. Tapi dia hanya ingin melihat Arga dan membawanya jalan-jalan.


Aura kecantikan wajahnya lebih terpancar, kulit bersih sekujur tubuhnya membuat para laki-laki menatapnya pasti akan tergiur tak hentinya mengeluarkan air liurnya. Namun berbeda dengan Arga. Dia sudah terlanjur kecewa dengannya. Dia yang semula tergila-gila dengan Felicia, sama seperti laki-laki pada umumnya. Dan dari persaingan yang sangat ketat, hanya dia yang bisa memenangkan hati Felicia waktu mereka masih SMA. Perlahan perasaan itu berubah menjadi sebuah kebencian yang sudah tertanam sangat dalam bertahun tahun dalam hatinya.


Hanya Arga kini yang mau mengacuhkan wanita cantik di depannya. Bahkan dia tak mau meliriknya sama sekali.


"Ada apa?" tanya jutek Arga.


"Aku kangen, padamu. Bukanya kita sudah lama tidak bertemu." Wanita itu berjalan mendekatinya. Dan duduk di ujung meja tepat menatap ke arah Arga. Dengan tangan memegang bahunya, dan dia mulai menggodanya merapikan kerah kemejanya. menarik dasinya sedikit ke atas.


"Kamu tahu gak, kalau selama ini aku selalu memikirkanmu. Tapi aku gak perduli apapun yang tarjadi. Dan sekarang aku sudah jadi artis dan model internasional. Aku kembali lagi padamu."


Arga menarik sudut bibirnya. "Jadi kamu ninggalin aku hanya karena karir kamu?" Arga memalingkan wajahnya jijik.


Felicia menyentuh dada Arga. "Jangan sentuh aku!" Arga menarik tangan Felicia melemparnya ke sembarang arah dengan sangat kasar. Wanita itu tidak marah, dia hanya menatap ke arah Arga. Ia tahu semua salahnya. Tetapi dia juga punya alasan tersendiri.


"Aku tidak akan menyentuhmu. Jika nanti siang kita makan berdua." ucap Felicia. Dengan tatapan mata menggodanya.


"Makan saja sendiri." Arga masih tetap saja jutek. Dia lebih fokus dengan kerjaannya dari pada wanita di sampingnya yang terus mencoba menggodanya dengan berbagai cara. Dan dia tetap saja mengacuhkannya.


"Arga… Kamu masih marah?" tanya Felicia basa basi.


"Soal apa?" tanya Arga. "Dan kenapa juga aku harus marah? Aku gak berhak marah. Lagian kamu dan aku sudah gak ada hubungan lagi. Dan masa lalu biarkan itu berlalu. Sekarang aku punya masa depan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2