
"Tuan, kalau ada telfon dari oma, gimana?" teriak Jun yang terus menatap tuanya berjalan menjauh darinya.
"Biarkan saja. Bilang kalau aku lagi berduaan dengan Yeri dan gak mau di ganggu. Dia pasti senang." ucap Arga sembari mengibaskan tangannya. Sebelum dia melangkah jauh dari pandangan Jun.
"Tuan…"
Jun menghela napasnya.
Kenapa tuan selalu menghindar darinya. Padahal dia sangat cantik dan pintar. Mereka juga pasangan serasi. Tetapi kenapa sekarang tuan berubah? Gumam Jun. Ia segera menghubungi Lucas untuk bilang pada agar wanita itu tidak bertemu dengan oma.
Dan Arga dia terus menggerutu tetap langkah selakl mengumpat kesal. Rasa kecewa dalam hatinya amat sangat besar. membuat dirinya sangat benci dengan Felicia. Meski dia cantik, tapi tak pernah menghargai perasaan seseorang laki-kaki yang benar-benar tulus padanya.
Arga menghembuskan napas kasarnya. Menghentikan langkahnya tepat di depan pintu apartemennya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Di saat seperti ini tiba-tiba dia muncul. Apa dia sudah bosan di Amerika. Dan bukanya dia juga sudah punya kekasih baru di sana." gerutu Arga sedikit kesal padanya. Ingin sekali dia menemuinya. Tetapi rasa kecewanya teramat besar membuatnya seakan tak sudi menatapnya lagi.
"Arrggg…Sialaan.. Kenapa juga wanita itu pulang segala. Aku kira dia sudah meninggal." gumam Arga, pikirannya kacau seketika saat mengingat tentang masa lalunya. Wanita cantik yang pernah jadi cinta pertamanya. Dan di saat dia mulai tak tertarik denganya. tiba-tiba dia datang lagi.
Feliona wanita cantik berambut lurus sepunggung itu, dengan baju casual yang sering dia pakai. Dia adalah mantan kekasih Arga. Dia meninggalkan Arga di saat laki-kaki itu sangat mencintai dia. Tetapi dia pergi begitu saja tanpa sebab. Dan semua orang menatapnya sebagai pasangan yang sangat serasi.
Feliona itu terkenal sebagai wanita cantik, dan pintar. Dan keluarga Arga semula sangat menginginkan dia jadi menantunya. Tetapi saat Arga bilang kalau dia sudah putus. Semua hubungan berakhir. Dan Feliona sangat dekat dengan oma. Dan keluarga Lainnya yaitu adiknya Gio.
Kedatangan dia lagi sangat meresahkan baginya. Yang kini mulai hidup baru dengan seseorang. Arga juga mulai tertarik dengan wanita itu. Meski belum merasakan cinta yang sesungguhnya seperti pertama kali bertemu dengan Feliona.
Dalam satu tarikan napasnya. Arga membuka pintunya perlahan. Ia berjalan masuk ke dalam apartemennya. Dia hanya diam tertunduk, duduk di sofa tanpa menatap ke arah Yeri sama sekali.
Yeri menatap ke arah Arga bingung. Laki-laki itu terlihat muram setelah bertemu dengan Jun. Bahkan dia jauh lebih pendiam. Tak ada suara sama sekali keluar dari bibirnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Yeri. "Apa ada pikiran yang mengganggu kamu?" Yeri mencoba untuk memberanikan diri bertemu dengannya.
"Gak ada apa-apa." jawab jutek Arga masih tak fokus menatap ke arah Yeri sama sekali. Meski kini dia berpakaian seksi. Pandangan matanya tak melirik sedikitpun ke arahnya.
Yeri mengerutkan bibirnya, sedikit memainkan bibirnya. Tadi dia menggodaku, sekarang dia tak tergoda olehku sama sekali. Yeri… Yeri. Kenapa kamu terlalu bodoh mau menyerahkan kesucian kamu demi dirinya. lagian dia siapa? Kamu juga gak tahu dia suka dengan kamu atau tidak. Semoga saja aku bisa berpikir lebih kritis lagi sekarang.
"Apa ada masalah?" tanya Yeri lagi.
"Gak ada!"
"Kenapa kamu diam?" tanya Yeri memastikan.
"Lagi malas bicara!"
Sifat nyebelinya masih tetap sama saja. Dia gak bisa berubah sama sekali. Dan hampir saja aku terbujuk olehnya. Gerutu Kesal Yeri.
Yeri yang mulai kesal. Dia bangkit dari ranjangnya. Berjalan menuju ke lemarinya. Segera ganti baju secepat kilat. Dan Arga masih saja tak melirik ke arahnya. Dia masih diam, menyandarkan kepalanya di sofa dengan merentangkan ke dua tangannya di sampingnya.
"Kalau ada masalah bilang saja. Setidaknya ada tempat berbagi."
"Apa yang harus aku ceritakan. Aku gak mau juga kamu ikut campur. Udah lebih baik kita tidur." Arga bangkit dari duduknya.
Dan mulai berjalan menuju ke ranjangnya, berbaringkan tubuhnya. Dan sekarang pikirannya udah mulai kacau. Ia mencoba untuk tetap tenang.
"Tidurlah di bawah." ucap Arga..
Yeri mengerjapkan matanya tak percaya. "Aku di bawah?" tanya Yeri memastikan.
"Iya."
__ADS_1
Yeri menarik napasnya dalam-dalam. Dia segera berdiri. Menuju ke lemarinya. Mengambil selimut dan kasur lipat miliknya. Selesai semua, ia membaringkan tubuhnya segera. Meski sedikit kesal denganya. lagian dia diam tanpa sebab. Dia jutek tanpa sebab lagi.
"Mimpi indah!" ucap Arga lirih.
Matahati terbit begitu cepatnya dari biasanya. Eh. Tidak ternyata sama saja. Meskipun terik matahari menembus jendela kaca ruanganya. Yeri tetap saja, belum membuka matanya, ia masih ngantuk. Dia bahkan belum menatap ke depan saat semuanya sudah sadar dan mengejar ke inginnya. Sementara Yeri masih berbaring dengan sempurna di ranjangnya.
Melewati begitu singkat. Bulan sudah berganti sinar terang sang mentari pagi yang amat sangat menyilaukan matanya. Wajah cantik itu terlihat bebas terkenal hembusan matahari yang menembus langsung dari kaca ke wajah Yeri.
"Sekarang jam berapa," gumam Yeri. Ia meraih jam tangan di meja sampingnya. Ke dua matanya mengkerut saat melihat jarum jam sudah menunjukan pukul 6.30.
"Emmm… Arga.." ucap Yeri, ia segera duduk. Sembari ke dua tangannya ke atas. Memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Baru beberapa hari dia keluar. Tulangnya seakan rontok.
Ke dua matanya yang semula menyipit. Seakan enggak untuk terbuka semuanya. Ia mencoba menoleh menatap ke arah ranjang. Ke dua matanya melebar seketika Saat ranjang itu terlihat kosong.
Eh.. Bentar. Gimana bisa aku tidur di ranjang. Bentar-bentar.. Kenapa ku jadi bingung. Jadi aku tadi setengah sadar. Gak tahu kalau aku sudah di sini. Terus kemana Arga? Apa dia sudah pergi?
Yeri menatap ke bawah. Ia tak melihat Arga di sana. Pandangan matanya berkeliling menatap sekitar kamar itu. Tak ada siapapun juga.
"Arga… Kamu di mana?" tanya Yeri apartemen miliknya terlihat kosong. Tak ada uang meneaninya. semenjak gak ada. "Sebenarnya apa yang terjadi pada Arga. Kenapa dia juga pergi tanpa pamit. Biasanya dia itu meminta Yeri. Tapi sekarang tidak dan entah kemana.
Yeri bergegas berdiri. Ia berlari mencoba melihat semua jas milik Arga. Dan beberapa kemeja hanya ada satu yang di ambil. Karena Yeri juga yang membereskan barang-barang Arga. Dia hafal sekali Arga bawa baju apa saja. Dan bawa jas atau dasi warna apa saja.
Yeri menghela napasnya. Dia segera ke kamar mandi. Membasuh tubuhnya yang terasa lengket. Ia segera mandi secepat kilat. Dan segera bersiap ke kantor.
"Mungkin dia sudah berangkat lebih dulu. Ke kantornya.
Yeri yang terburu-buru. Ia memakai sepatu pantofel hitam sembari berjalan. Ia meraih tas dan jam tangan. Dengan segera dia berlari keluar dari apartemen miliknya. Entah sejak kapan, dia merasa begitu nyaman berada di apartemen. Dari pada harus tinggal di rumah. Apalagi keluarga Arga tidak begitu suka dengannya. Hanya oma hang perhatian pada Yeri.
__ADS_1
Bahkan dia sengaja menyiapkan apartemen itu untuk Arga dan Yeri tinggal sementara. Dia menyiapkan semua, Agar Yeri bisa lebih dekat dengan Arga. Oma segera menginginkan cucu dari Yeri. Dia ingin melihat anak Arga sebelum menutup matanya. Satu keinginan yang membuat Arga sedikit bimbang apa yang harus di lakukan olehnya.