Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Rencana hamil2


__ADS_3

Oma berkacak pinggang. Kedua matanya melotot tajam. Seolah dirinya siap untuk menerkam cucu kesayangannya itu. Kedua bola mata hampir saja lepas dari kerangkanya. Sementara Arga hanya meringis menunjukan gigi putihnya.


Arga seketika menutup mulutnya rapat-rapat. Berhadapan dengan oma. Membuatnya selalu cari mati saja. Dan Arga tak bisa sekarang jika melawan dengan omanya. Dan berujung dia selalu mengikuti apa yang oma katakan. Dari dirinya yang selalu pergi bersama. Dan selalu juga dapat malu jika oma bahas cucu dan pernikahan dulu sebelum dia menikah dengan Yeri.


"Udah, sekarang kamu diam Jangan katakan apa-apa. Kalau aku belum ajak bicara kamu." tegas oma.


"Iya, oma." Arga beranjak berdiri. Dia segera duduk di samping Yeri. Menempelkan sikunya. Memberi kode padanya agar tidak bicara macam-macam dengan oma."


Yeri yang menggertakkan giginya kesal. Dia menyikut keras ke siku Arga yang gak bisa diam dari tadi.


"Sakit tahu.." umpat Arga lirih.


"Salah sendiri." jawab Yeri. Memalingkan wajahnya, menatap tajam ke arah Arga.


"Emmm.. Cia itu siapa, ya, oma?" tanya Yeri pura-pura tidak tahu.


"Jadi kamu belum tahu?" tanya oma. Menghela napasnya lega. Sembari mengusap dadanya.


"Untung saja kalau kamu gak tahu." ucap Oma.


"Emm…. Apa yang ada di video oma?" tanya Yeri sontak membuat Arga Dan oma menoleh bersamaan ke arahnya.


Arga menginjak keras kaki Yeri ke dua kalinya.


"Aww----" rintih Yeri.


"Kamu kenapa?" tanya Oma.


"Dia menginjakku, oma." ucap Yeri menunjuk ke arah Arga. Oma menguntupkan bibirnya kesal. Dan membalas sebuah injakan keras di kaki Arga.


"Shhiiitt.... Sakit, bodoh." gumam Arga. Ia mengira jika yang menginjaknya Adalah Yeri.


"Bodoh, katamu?" pekik Oma.


Arga mengangkat kepalanya. Menatap oma sudah memelotot tajam di depannya. Dengan ke dua tangan berkacak pinggang.

__ADS_1


"Hehe.. Oma. Enggak, oma salah dengar. Tadii aku bicara sama diriku sendiri oma. Aku yang terlalu bodoh." ucap Arga mengelak. lalu menelan ludahnya berkali-kali hingga melegakan tenggorokannya.


Oma kembali duduk di samping Yeri. dia mencoba mengatur napasnya agar tidak terbawa emosi oleh cucunya yang tak hentinya terus membuatnya kesal.


"Yang kamu maksud tadi tentang video apa?" tanya Oma.


"Video… Perpisahan sekolah oma. Kemarin aku sama Yeri melihat Video perpisahan sekolahku." saut Arga.


"Aku bicara dengan Yeri." tajam Oma


Merasa sudah lega, Arga mendekatkan duduknya tepat di samping Yeri.


"Jangan bicara bodoh. Kalau sampai oma tahu dia marah padaku. Dan kamu. Terus ayah kamu di usir juga gimana?" gumam lirih Arga. Mendekatkan wajahnya.


"Iya.. Aku tahu.. Kamu diam saja makanya." geram Yeri. "Ini kaki kamu. Mau di singkirkan atau aku akan injak ganti nanti." ancam Yeri.


"Iya, bawel. Kamu itu sama saja seperti oma. Sama-sama bawel." gerutu Yeri.


"Yeri, apa benar yang dikatakan Arga tadi. Kalau kamu tadi lihat vidio perpisahan sekolahnya. Gak yang lain kan?" tanya Oma memastikan.


"Arga… Aku tidak bicara dengan kamu. Kenapa juga kamu yang sewot. Udah duduk saja diam di situ. Jangan banyak bicara lagi." pekik Oma.


"Apa, ya. Maksud oma bilang seperti itu tadi? Apa jangan-jangan oma sudah tahu tentang vidio Arga. Kalau tahu, oma menikahkan mereka. Aku juga yang terpikir. Sekarang apa yang harus aku lakukan. Sepertinya aku harus mengalihkan pembicaraan ini. Gerutu Yeri.


Yeri menarik napasnya dalam-dalam. Dalam satu tarikan napasnya. Wanita itu mulai memikirkan ide agar oma tidak tanya tentang itu lagi.


"Oma… Aku mau ikut program hamil boleh?" tanya Yeri sontak membuat Arga mengerutkan keningnya bingung. Dan Oma hanya menatap ke arah Yeri. Waja yang semula tegang. Berubah tersenyum dalam hitungan detik saja.


Shhiittt… Apa yang aku katakan tadi.. Kenapa mulutku bisa berbicara seperti itu. Dasar Yeri.. Kenapa kamu bodoh gak mikirin dulu setiap ucapan kamu itu membawa malapetaka bagiku. Gumam Yeri, mengernyitkan wajahnya.


"Yeri… Kamu yakin?" tanya oma memastikan. ia memegang ke dua tangan Yeri. Ya, raut wajah oma terlihat sangat bahagia Dia benar-benar sangat bahagia. Wajahnya begitu memancarkan aura kebahagian bagi seorang nenek yang sudah menginginkan cicit untuknya.


Sedangkan Arga. Dia hanya bingung. Menarik sudut bibirnya dengan ekspresi wajah menunjukkan kekesalannya.


Dia bingung dengan apa yang sudah di katakan. Wanita di depannya. Antara harus bahagia atau marah? Gimana bisa otaknya di racuni dengan program hamil. Berhubungan dengannya saja tidak? Dan sekarang? Dia mau hamil? gila apa.. Aku gak habis pikir dengan apa yang di otaknya. Apa otaknya sudah ke geser.

__ADS_1


Arga menatap ke arah Yeri, lalu menyapa ke arah Oma bergantian. Seketika ia menelan ludahnya susah payah. Saat oma menatap ke arahnya penuh gimana kemarahan.


"Ahh… terserahlah!" desah Arga kesal.


"Gimana bisa aku ikut program hamil? Astaga.…" gerutu Yeri dalam hatinya. Sembari melirik ke arah Arga. Dibalas dengan pelototan tajam olehnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tadi benar-benar gak habis pikir dengan bibirku. Kenapa aku bisa asal ceplos gitu saja. Gak mikir perasaan semua orang, apakah kalau oma tahu yang sebenarnya." ucap Yeri dalam hatinya.


"Hai… kalian berdua kenapa diam. Itu bagus kalau mau ikut program hamil. Jadi kamu sudah mau punya anak? Gak apa-apa, kalau kalian sepemikiran sama oma. Oma juga ingin punya cucu. biar bisa di gendong kemana-mana." ucap oma antusias.


Yeri dan Arga yang tersenyum tipis menatap ke arah Oma. Meski senyum itu terlihat sangat terpaksa. Tapi setidaknya melihat oma bisa lupa sejenak dengan Cia. Dan kembali lagi tersenyum. Itu sudah membuat Arga dan Yeri merasa sangat senang.


"Karena kalian ikut program kehamilan. Satu kalian harus sering berhubungan badan. Ya, setidaknya satu minggu 3 atau 4 kali atau lebih juga yak masalah."


"Gila apa?" gerutu Arga memalingkan wajahnya.


"Makanya.. aku suruh kamu dan Arga minum obat. Biar kalian kuat."


"Udah, deh. Oma jangan obat terus." sambung Arga. "Udah.. Sekarang aku sama Yeri mau pergi ke ruangan ayahnya. Kalau bicara terus kapan juga aku bisa bermesraan dengannya." ucap Arga. Memegang tangan Yeri. Menariknya untuk berdiri.


"Iya... Udah, cepat sana pergi. Aku gak sabar tunggu cucu dari kalian." Ucap Oma.


Arga menggenggam tangan Yeri. berjalan menjauh dari oma. Dan menuju ke ruangan ayahnya.


"Apa kamu setuju dengan apa yang aku katakan tadi?" tanya Yeri. Menarik tangan Arga.


Arga melangkah mendekat ke arah Yeri. Ke dua mata mereka tertuju. Yeri yang takut Arga akan bertindak bodoh lagi. Ia berjalan mundur sampai punggungnya bersandar ke tembok. Braakk….


Suara tangan Arga memegang tembok samping telinga Yeri. Membuat wanita itu mengkerut seketika.


"Jangan pikir aku setuju dengan ide gila kamu. Enggak!" gumam Arga mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan.


"Aku juga tidak menyuruh kamu untuk setuju. Lagian aku tadi hanya menyelamatkanmu dari video skandal kamu yang tadi." gerutu Yeri kesal. Mendorong tubuh Arga menjauh darinya.


"Dan ingat. Aku juga tidak minta kamu mau berhubungan dengan kamu. Aku juga tidak akan mau. Tidak akan mau!" tegas Yeri semakin menajamnya ucapannya. Yeri melangkahkan kakinya. Mendorong tubuh Arga menjauh darinya.

__ADS_1


Arga hanya bisa diam.Menatap wajah Yeri yang terlihat sangat kesal. Dia tidak tahu kenapa. Tadi dia sekarang terlihat sangat berbeda.


__ADS_2