
"Akhirnya selesai juga.." ucap Yeri menarik ke dua tangannya ke atas, merenggangkan ototnya yang seketika menegang akibat terlalu fokus bekerja.
Ia melirik jam tangan coklat yang melingkar ditangannya. "Kenapa sudah malam? Pantas saja Angel pulang duluan tadi." Yeri beranjak berdiri.
Semua pekerjaan sudah selesai. Dan Yeri sudah bersiap untuk pulang. Dia yang sedang sibuk merapikan meja kerjanya seketika terkejut saat mendengar suara hentakan kaki terdengar ringan, sedikit pelan, melangkah mendekatinya.
Tubuh Yeri seketika gemetar takut. Ia menoleh ke samping kanan dan kiri. Tak melihat siapapun di sana.
Kenapa tadi Angel pulang duluan. Sekarang aku harus pulang sendiri. Dan tadi… Tadi suara langkah siapa? Apa di kantor ini ada hantu?
Yeri mengusap lehernya, ia berdiri tegap, mencoba menoleh ke belakang. Meski lehernya seakan terasa sangat berat. Untuk menoleh, keringat dingin mulai bercucuran.
"Siapa di belakangku." tanya Yeri. Melihat sosok.laki-laki di depannya, tepat di depan wajahnya dengan badan sedikit menunduk, mengikuti tinggal badan Yeri. Spontan Yeri menarik tubuhnya ke belakang. "Arga…"
"Apa?" tanya Arga, memegang pinggang Yeri. Menariknya masuk ke dalam dekapannya.
"Jangan terlalu ke belakang, kalau kamu jatuh. Aku juga yang susah." ucap Arga, mencubit manja hidung mungil Yeri. Wanita itu mengerutkan bibirnya, menarik tangan Arga dari hidungnya.
"Sakit, tahu.."
Arga hanya tersenyum tipis. Ia melepaskan pinggang Yeri. "Ayo pulang," ajak Arga, membalikkan badannya.
"Pulang saja duluan."
Arga mengangkat tangannya, menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukan pukul 7 malam. "Apa kamu masih mau di sini?" tanya Arga tanpa menatap ke belakang lagi. Ia tersenyum tipis sembari melihat wajah Yeri yang begitu panik ketakutan.
Yeri hanya diam. Dia takut jika Arga akan membawanya ke suatu tempat. Dan marah-marah karena kejadian hari ini. Aku bekerja di perusahaan adiknya.
"Kalau kamu gak.mau pulang sekarang. Oke! Menginap saja disini." ucap Arga, sembari menarik jas miliknya, membuatnya semakin rapi. Arga menoleh ke arah Yeri.
"Di sini banyak sekali hantunya, apalagi di sana. Pernah ada yang melompat dari gedung. Terus ada juga yang……" Yeri spontan menutup.mulut Arga, agar tidak berbicara lebih banyak lagi. Ke dua matanya berkeliling melihat sekitarnya. Bulu kuduk Yeri mulai berdiri, ia memeluk tangan Arga.
"Aaaaa….." teriak Yeri yang merasa sudah tak aman berada di sana. Dia menarik tangan Arga berlari keluar dari kantor.
"Maaf, tuan, ada apa? Kenapa anda lari-lari?" tanya pak satpam, menghampiri Arga.
"Di sana, ada.. hantu." ucap Yeri terpatah-patah… Sembari mengatur napasnya yang udah hampir habis.
Arga dan pak satpam tertawa terbahak-bahak. Membuat Yeri menatap ke arah mereka bingung. Wajahnya linglung seketika, menatap ke arah Arga, dan bergantian menatap ke arah satpam.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Yeri kesal.
"Mana ada hantu, saya sudah puluhan tahun bekerja disini."
"Tapi kata Arga… di dalam pernah ada yang bunuh…."
"Oo.. Itu…." gumam pak satpam melirik ke arah Arga lebih dulu. Dan di berikan sebuah kode gerakan dari tangannya.
"Itu hanya mimpi…" ucap Arga, berjalan melewati Yeri, menyenggol bahunya keras.
Ingin sekali rasanya mengumpat di depan Arga… tapi rasanya dia hanya bisa diam. Yeri berdengus kesal, mengepalkan ke dua tangannya? lalu menghentikan kakinya, dengan posisi siap.melayangkan beberapa pukulan sekali ke punggung Arga.
"Cepat masuk?" pinta Arga, membuka pintu mobilnya.
"Iya, bawel." Pekik Yeri. Seketika membuat laki-laki di depannya itu berdengus kesal, menajamkan pandangan matanya. Yeri mengangkat ke dua hatinya ke atas, sembari meringis. menatap tatapan tajam Arga.
"Jangan marah gitu,nanti kalau kamu sering marah bisa cepat tua." gumam Yeri masuk ke dalam mobilnya. Yeri yang gak fokus, dahinya hampir saja kebentur atas mobil, dengan sifat Arga melindungi dahi, meletakan tangannya tepat di dahi Yeri.
"Kalau jalan hati-hati." ucap Arga. "Dan satu lagi, aku lebih tua darimu. Tapi aku terlihat lebih muda darimu juga. Sekarang lihatlah ada, kerutan di bawah mata kamu semakin banyak." mendorong dahi Yeri dan melangkah kakinya masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Yeri segera menatap kaca spion, ke dua tangannya memegang pipinya. Sedikit menarik-narik wajahnya yang terlihat kusam.
"Aaa… Kenapa ada kerutan di mataku?" pekik Yeri.
"Diamlah, kalau kamu masih berteriak di sini. Aku buang kamu dari tempat duduk itu." ancam Arga.
"Dasar nyebelin!" Yeri menghentakkan kakinya kesal. Dan masuk ke dalam mobilnya, mengikuti Arga.
"Kenapa gak jalan-jalan?" tanya Yeri yang masih kesal dengan Arga.
Arga menatap tajam ke arah Yeri, pandangan matanya menatap tubuh Yeri sekilas. Ia beranjak dari duduknya, memakaikan sabuk pengaman menyilang di tubuhnya.
Yeri terdiam, ke dua matanya tak berhenti berkedip. Wajahnya terlihat pucat pasi, saat melihat Arga begitu dekat dengan tubuhnya. Ia sedikit menarik punggungnya ke belakang. Ia takut laki-laki itu sampai menutupnya.
"Sudah, lain kali pakai sendiri. Atau kamu memang ingin aku pakaikan sabuk pengaman." ucap Arga tepat di wajahnya, ke dua mata mereka saling bertemu. Terkunci, dalam diam.
Kenapa aku tak bisa berhenti terus menatapnya. Kenapa aku merasa ke dua mata indahnya itu menarikku untuk selalu melihatnya. Tatapannya, membungkam mulut cerewetku, melumpuhkan tubuhku seketika, Jantungku berpacu seakan, sedang menguji adrenalin. kini tubuhnya perlahan mulai terbius, tertarik ingin sekali mendekat.
Oh.. Tuhan.. Kenapa aku merasa dirinya sangat sempurna.. Kalau di lihat-lihat. Memang dia lebih tampan dari pada Gio. Dia begitu sempurna. Bibirnya yang mungil, alis tebalmya, dengan mata biru menatap tajam sampai menusuk ke dalam hatiku.
Arga menyentuh dahi Yeri dengan telunjuk tangannya. Ia mendorong dahinya, hingga bersandar di kursi.
"Jangan terlalu menatapku berlebihan." tegas arga, yang mulai fokus menjalankan mobilnya keluar dari parkiran kantornya.
Yeri hanya diam, bibir mungil wanita itu mengernyit, di putarya penuh kekesalan. Lalu memalingkan wajahnya acuh.
Di setiap perjalanan Yeri hanya diam. Seakan mulutnya malas untuk berbicara padanya. Dan ke dua matanya menatap ke arah kaca mobil. Melihat suasana di luar yang begitu ramai.
"Ehem…" desis Arga.
Yeri hanya diam mengabaikan panggilan Arga.
"Aku punya nama," ucap Yeri tanpa menoleh ke belakang.
"Emang aku bilang kalau kamu gak punya namal?" jawab Arga tak mau kalah kesalnya.
Yeri berdengus kesal. "Ada apa?" tanyanya, yang masih membelakangi Arga.
Merasa kesal, Arga kembali diam, fokus mengemudi mobilnya hingga berhenti di sebuah toserba di ujung jalan.
"Kenapa berhenti?" tanya Yeri bingung.
"Turunlah!"
"Enggak, aku gak mau turun di sini." Yeri melipat ke dua tangannya di atas dadanya, mengerutkan bibirnya.
"Turun gak?"
"Enggak!" pekik Yeri tak mau kalah.
Braakkk.. Suara pintu mobil tertutup membuat Yeri sontak terkejut. Arga menutup pintu mobilnya kasar.
Apa laki-laki itu sedang gangguan otak? Umpat Yeri dalam hatinya.
Arga berjalan memutari depan mobilnya. Laku membuka pintu mobil Yeri. Membuka paksa sabuk pengaman yang kini di pegang erat ke dua tangan Yeri. "Aku gak mau turun. Lagian aku gak mau kalau kamu tiba-tiba ninggalin aku disini. Aku gak tahu tempat pulang."
Arga membuka paksa sabuk pengaman milik Yeri. Saat sudah terbuka, ia menarik lengan Yeri keluar paksa. Dari mobilnya. "Bisa gak kalau lebih manis dikit. Lebih lembut gitu?" ucap Yeri, menarik turunkan alisnya.
Yeri kembali masuk ke dalam.mobil, seketika Arga memeluk erat pinggangnya. Mengangkat wanita itu keluar dari mobilnya. Lalu menutup kembali pintu mobil. hitam miliknya.
__ADS_1
"Aaa.. Turunkan aku! Apa yang kamu lakukan?" Yeri mencoba menurunkan tubuhnya.
"Apa? Udah, sekarang lebih baik diam saja." pekik Arga sedikit membentak Yeri.
"Lagian siapa juga yang mau menurunkan kamu di sini. Terus aku tinggal. apa kamu gak bisaa tulisan di depan." ucap Arga sedikit meninggikan suaranya.
Yeri mengenyitkan wajahnya malu. Ia sedikit memalingkan wajahnya dari pandangan Arga. "Kenapa aku begitu bodohnya." gumam Yeri dalam hatinya. Tanpa di sadari Arga sudah berjalan lumayan jauh darinya.
"Eh… Tunggu!" teriak Yeri, berlari mengikuti Arga masuk ke dalam toserba.
Yeri mengambil kereta dorong. Dia mengambil beberapa snack untuknya. Arga datang menghampirinya. Mengambilkan semua snack di tempatnya. "Eh… Kenapa sih, kamu nyebelin banget. Eh.. Aku mau nyemil. Lagian juga aku gak minta padamu." ucap Yeri, menatap tajam Arga.
"Lihatlah tubuhmu!" ucap Arga.
Yeri menatap sekujur tubuhnya dari ujung kaki, hingga dadanya. Tak ada yang aneh di tubuhnya sama sekali.
"Apa?"
"Tubuhmu sudah terlalu gemuk. Arga menarik lengan Yeri, mengangkatnya ke atas. Lihatlah lemak ini."
"Apa? Aku gemuk? Masak begitu cepatnya aku gemuk? Dan kenapa aku bisa gemuk?" rengek Yeri. Arga memalingkan tubuhnya. Dan kembali berjalan untuk mengambil beberapa bahan makanan, buah-buahan Serta daging. Kali ini dia ingin buat stik. Jadi sengaja memilih daging sendiri.
Sedangkan Yeri, ia hanya bisa menelan ludahnya saat melihat beberapa camilan yang seakan terus berteriak untuk ingin di beli.
"Arga.." panggil manja Yeri.
Arga menguntupkan bibirnya menatap ke arah Yeri.
"Apa?"
Yeri tersenyum semanis mungkin. "Emm. Apa boleh aku minta, itu.. tuh.." Yeri menunjuk ke arah cemilan di atas. Di balas dengan pelototan tajam Arga.
"Satu saja!"
"Enggak!"
"Ayolah, satu saja?" ucap Yeri memegang ke dua lengan arga, menarik-nariknya.
"Satu saja, janji aku akan kurangi makanan ringan nanti."
Arga mendorong dahi Yeri dengan telunjuk tangannya. "Perbanyak makan buah, biar otak kamu sekalian sehat. Gak bodoh!" sindir Arga. Ya, memang Arga selalu menganggap wanita itu terlalu bodoh. Gimana tidak, tingkahnya seperti anak kecil. Dan di setiap pekerjaan selalu gak ada yang beres.
Yeri menguntupkan bibirnya, ia tertunduk. "Ya, udah kalau memang gak boleh. Aku juga gak minta. Dasar nyebelin." ucap Yeri memalingkan wajahnya, menarik sudut bibirnya kesal.
Arga menghela napasnya. Ia mengambil beberapa cemilan sekaligus. Meletakan ke dalam ranjang.
"Cepat jalan," pinta Arga.
"Enggak, mau. Kamu nyebelin." umpat Yeri. Yang masih diam membalikkan badannya.
"Ya, udah!" Arga mendorong kertasnya. Dan mengambil beberapa minuman. Serta bahan makanan lainya. Karena stok di rumah juga sudah menipis. Dan dia juga ingin wanita itu belajar masak."
"Kamu tahu gak kalau aku sebel sama kamu." pekik Yeri. Tanpa di sadari Arga sudah tak ada di belakangnya. "Kamu itu benar-benar buat aku ke…." Yeri menghentikan ucapannya saat melihat tak ada Arga di belakangnya.
"Di mana dia?" gumam Yeri, wajahnya memutar mencari Arga di segala arah.
"Apa dia sudah pulang? Tapi kenapa gak ajak aku." gumam Yeri.
"Argaa…" Yeri berlari memutar beberapa rak makanan, serta snack yang berjejeran membuat tangannya seakan ingin sekali mengambilnya.
__ADS_1