
Felicia menatap ke arah Yeri. Pandangan matanya tertuju pada sekujur tubuhnya. Dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. "Gak usah bohong padaku Arga. Aku gak semudah itu di bohongi. Dan aku yakin kalian hanya pura-pura, kan. Hanya untuk menyakitiki." ucap Felicia menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia tak bi,sa terima jika Arga sudah menikah.
"Aku gak mau, jika kamu menikah dengannya. Dan satu lagi aku tetap tidak percaya dengan pernikahan kamu. Aku tahu kamu sangat mencintai aku. Dan gak mungkin berpaling dari wanita lainya." Felicia mencengkeram lengan jasnya. menarik nariknya frustasi. "Kamu bohong, kan. Bilang padaku Arga. Jika kamu hanya pura-pura. Kamu tidak cinta dengannya. Bilang Arga… Jangan diam saja.. Aku mau kejujuran darimu."
Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada Arga. Membuat Yeri bingung dengan apa yang di lakukannya.
Arga tersenyum tipis. Menarik tangan Felicia, dan sedikit mendorong tubuhnya menjauh darinya. "Terserah kamu percaya atau tidak. Tapi sepertinya aku sudah melupakanmu. Dan kamu gak ada sama sekali di hatiku. Sekarang lebih baik kamu pergi." bentak Arga keras. Membuat Yeri yang dalam dekapannya terkejut. Baru kali ini dia terlihat sangat marah.
Yeri menatap wajah Arga. Terlihat wajah yang penuh kekesalan. kemarahan, ke dua matanya bahkan mulai berkaca-kaca. Setelah puas menatap Arga. Yeri menatap ke arah Felicia. Air mata perlahan sudah mulai menetes di ke dua matanya. Ia masih belum percaya jika Arga sudah menikah.
"Oke! Kamu boleh mengusirku. Tapi aku akan tetap mencari kamu. Aku ingin menunjukan jika aku tak salah. Dan aku tetap setia sama kamu." ucap Felicia kecewa. Air mata sudah terurai membasahi pipinya. Dan tubuh Arga seketika gemetar, melihat air mata itu jatuh di ke dua mata Felicia. Dia tak sanggup menatapnya, dia tak sanggup melihatnya menangis. Dan perasaanya masih sama . Ia tak pernah tega melihatnya menangis. Dan ingin selalu mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.
Sebenarnya ada apa dengan Aga dan wanita ini. Apa dia? Emm… Dia mantan pacarnya? Atau kekasihnya? Dari ke dua matanya menunjukan hal cinta di antara mereka berdua. Tapi kenapa juga Arga membentaknya?
"Aku pergi. Makasih! Makasih kamu telah membuat aku menjadi seperti ini. Dan kamu yang melukaiku sekarang dengan pernikahan palsu ini. Dan kamu bilang aku yang menyakiti kamu." Felicia menarik sudut bibirnya tipis. "Bye…" Felicia mencoba untuk tetap tersenyum meski dalam hati dia sangat hancur.
Wanita itu melangkahkan kakinya pergi. Meski dalam hati Arga ingin sekali memeluknya. mendekapnya dan meminta dia untuk tetap ada di sisinya. Tetapi apa yang di lakukannya dulu membuat dia semakin marah jika bertemu dengannya. Penghianatan yang membuat semua kehidupannya hancur.
Suara pintu tertutup begitu kerasnya. Membuat Yeri yang semula hanya diam ia terkejut. Lalu memegang dadanya.
"Ada apa dengan dia? Kenapa dia marah begitu menakutkan?" gumam Yeri.
Perlahan tangan Arga mulai merenggang dari bahunya. Ia melepaskan pelukannya. Dan memalingkan wajahnya. Air mata perlahan mulai menetes dari ke dua matanya. Dia tak mau jika Yeri tahu, jika dia menangis. Di depan dia Arga mencoba selalu terlihat dingin.
"Oh, ya. Gimana? Soal dokumen yang aku berikan tadi?" tanya Yeri.
Arga mengusap ke air mata dengan jari tangannya. Ia menarik napasnya dalam-dalam, dan mencoba untuk tidak meneteskan air mata lagi. Setelah merasa lega, Arga berjalan ringan menuju kursi kerjanya.
"Sekarang kamu pergilah!" pinta Arga tanpa menatap ke arah Yeri.
__ADS_1
"Tapi aku di sini ingin bilang sesuatu."
"Aku bilang pergi, pergi! Jangan membantahku. Bentak Arga, membuat Yeri melangkahkan menghentakkan langkahnya untuk mendekati Arga.
"Kamu membentakku?" tanya Yeri gugup. Ia tak menyangka jika Arga juga membentaknya. Tadi di depan wanita itu dia terlihat sangat lengket dengannya. Dan sekarang dia mengusirku. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Yeri menelan ludahnya susah payah. Ia menatap wajah Arga yang seakan terus berpaling padanya. Melihat pipinya basah. Ia yakin jika laki-laki itu sedang menangis. Entah apa yang di pikirannya. Tapi Yeri tahu, jika hatinya sedang terluka.
Yeri menarik napasnya dalam dalam, menahannya, laku mengeluarkan secara perlahan. "Baiklah, aku akan pergi." ucap Yeri.
"Dan jika memang kamu suka dengannya. Kenapa juga kamu malah menyakiti dia. Dan membiarkan dia pergi. Kenapa kamu tidak mengejarnya." pekik Yeri sok tahu.
"Kamu jangan mengajariku. Kamu gak tahu perasaanku. Lebih baik sekarang kamu diam dan pergilah. Aku ingin sendiri."
"Jangan pernah bohongi perasaan kamu. Memang semuanya tahu jika perasaan laki-laki yang tulus saat dia meneteskan air mata hanya demi seorang wanita yang paling di cintainya.
Yeri hanya tersenyum tipus, menarik ujung bibirnya. "Kejarlah dia." ucap Yeri. Sebelum wanita itu pergi dari hadapannya.
Arga yang semula tak mau menatap ke dua wanita di hadapannya tadi. Ia mulai mengangkat kepalanya saat suara pintu tertutup terdengar di telinganya.
"Arrgggg….. Kenapa semuanya seperti ini. Kenapa di saat aku mulai bahagia dia datang padaku, kenapa?" teriak Arga, wajahnya terlihat sangat emosi, ke dua tangannya mengobrak abrik meja di sampingnya.
Brakk… Brakk..
Suara tumpukan dokumen itu terjatuh ke lantai.
"Dia membuat kepalaku sangat pusing. Dia membuat aku hatiku berantakan." teriak Arga, memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. ia menjatuhkan tubuhnya bersandar di kursi kerjanya.
Ke dua matanya terpejam, mencoba mengatur emosinya yang mulai tak bisa di kontrol.
__ADS_1
Sedangkan Jun yang semula ingin masuk, langkahnya terhenti di depan pintu. Ia mengurungkan niatnya saat mendengar tuanya marah. Jika dia masuk sama saja cari mati. Saat marah Arga ingin selalu sendiri. Dia gak mau di ganggu oleh siapapun.
Jun menatap ke arah Yeri yang berdiri tak jauh darinya. Dia terdiam menatap ke arah pintu. Mendengar kemarahan Arga membuat wanita itu bergidik takut. Sekujur tubuhnya gemetar seketika. Wajah yang semula selalu tersenyum, berubah menjadi sebuah ketakutan baru yang di rasakannya.
Apa aku harus berbuat sesuatu padanya. tanya Yeri dalam hatinya.
"Lebih baik kamu menjauh dari sini. Jangan sampai tuan tambah marah jika kamu mendengar dia meluapkan emosinya. Dia tak suka di ganggu.
"Ada apa dengannya?" tanya Yeri.
"Aku gak bisa cerita di sini. Nanti pulang kerja. Kamu temui aku di taman. Jam 7 malam. Dan aku akan cerita kenapa tuan bisa seperti ini. Tapi jangan cerita pada siapapun termasuk tuan Arga sendiri. Dia tidak mau kisahnya di ceritakan pada semua orang."
Yeri tersenyum tipis menatap ke arah Jun. "Tapi sepertinya gak usah. Aku ingin dia cerita sendiri nantinya. Entah itu sekarang, atau sampai dia merasa lega."
"Kamu yakin?" tanya Jun memastikan. "Tuan tidak mudah cerita masalahnya pada siapapun. jika bukan pada orang yang sangat tulus dia cintai." lanjutnya.
Seketika Yeri terbungkam saat mendengar orang yang paling di cintai. Dia sadar jika Arga tak suka dengannya. Di bandingkan dengan dirinya Felicia jauh lebih cantik, pintar, dan dia bisa segalanya. Sedangkan dirinya hanya wanita biasa yang sedikit gila. Dia juga tak terlalu pintar. Dan hanya pintar mencari masalah dalam kehidupannya. Dia bisa lepas dari masalah itu hanyalah sebuah keberuntungan baginya.
"Ya, udah aku pergi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." ucap Yeri, segera berlari pergi meninggalkan Jun. Entah kenapa hatinya merasa sangat sakit. Ia ingin kebagian sejadi jadinya.
jun hanya menghela napasnya. Dia menatap ke arah Yeri sembari menggelengkan kepalanya. "Tuan Arga di kelilingi oleh para wanita cantik. Sementara diriku satu saja tak ada yang dekat denganku." gumam Jun, menghela napasnya lagi, sedikit frustasi.
Jun membuka sedikit pintu ruangan Arga. Melihat tuanya masih memegang kepalanya Dengan ke dua mata terpejam. Ia langsung menutup pintunya kembali. Dan memilih untuk segera pergi meninggalkan ruangan Arga.
"Dari pada cari masalah dengan, tuan Arga. Lebih baik aku pergi saja." ucap Jun, tak berapa lama dia sudah pergi menjauh dari depan ruanganya.
"Sekarang apa yang harus kau lakukan? Apa aku harus menemui Felicia. Atau aku hanya Diam dengan penuh amarah seperti ini. Tapi rasa sakit hatiku masih belum terobati. Aku masih dendam padanya." gumam Arga, rahangnya mulai menegang, Wajahnya seketika memerah, dengan ke dua tangan mengepal, ia memukul meja kerjanya begitu keras.
"Aku benci dengan kehidupan cinta yang membuat kepalaku terasa ingin pecah." gumam Arga tak hentinya terus menyesali semuanya.
__ADS_1